
Menggantikan sang atasan mengurus perusahaan sungguh menguji kesabaran dan keteguhan Aeri. Baru setengah hari mengambil alih membuatnya ingin menghilang saja. Bukan karena banyaknya pekerjaan. Aeri adalah seseorang yang cekap dalam menangkap pelajaran. Dalam sekejap ia bisa mengerti semua yang berkaitan tentang bisnis.
Di sini yang membuatnya tidak nyaman iaitu, karena banyaknya karyawati yang tidak menyukainya berkaitan dengan berita tersebut. Menurut mereka, Aeri tidak lebih seperti seorang ****** di luar sana. Setiap mereka mendapat perintah dari Aeri, mereka hanya tidak bisa menolaknya karena hal itu sama saja dengan mereka menolak perintah dari sang atasan. Jadi mau tidak mau mereka tetap harus menuruti walau hati terus memaki dan menghina sekretaris dari sang atasan.
Mau bagaimana lagi, walaupun berat, Aeri tetap harus datang ke kantor hari ini menggantikan sang Presdir yang baru akan pulang besok hari.
Sejenak Aeri menarik napas dalam sebelum membawa kakinya masuk menapak ke dalam lobi. Menguatkan hati agar tidak tersakiti walau sebenarnya itu tidak mungkin. Sekuat apapun ia mencuba tetap saja hatinya begitu mudah terbawa suasana.
Ia berdiri di depan lif, menunggu benda persegi itu terbuka sebelum satu suara masuk ke dalam pendengaran.
"Ouh, jadi ini cleaning service yang menjadi sekretaris karena menjual tubuhnya?" Ujar wanita tersebut melipat tangan di dada.
"Maaf ... kalau tidak tahu apa-apa, tolong jangan asal bicara," sahut Aeri memberanikan diri. Ia tidak ingin terus diinjak-injak atas perbuatan yang tidak pernah ia lakukan.
"Tidak mungkin hujan kalau tidak ada awan mendung, kan? Sama halnya dengan ini. Dari mana datangnya cerita jika tidak ada yang pernah melihatnya?" Wanita itu tersenyum miring menyadari Aeri terdiam. "Kalau aku jadi kau, aku akan langsung pergi dan menghilang. Kau sungguh tidak tahu malu, ya?"
"Aku tidak melakukan apa-apa, kenapa harus malu?" Aeri menyahut berani, ia balas menatap wanita di sampingnya itu. "Terus kau, apa kau pernah melihat aku menjual tubuh? Tidak pernah, kan?" Kali ini Aeri balik mempertanyakan wanita tersebut.
"Siapa pun bisa membuat cerita yang tidak berdasar hanya karena benci atau iri pada seseorang. Aku bahkan juga bisa mengatakan bahwa kau juga menjual tubuh, semua orang bisa melakukannya."
"Tidak perlu sok suci. Semua orang kenal siapa kau sebenarnya." Wanita yang tidak diketahui namanya itu mendekat selangkah. "Karena kau temanku di keluarkan dari perusahaan ini!"
"Itu kesalahannya karena tidak becus dalam bekerja, hanya mengurus urusan yang tidak seharusnya ia urus. Itu bukan salahku."
"Kau...."
Hampir saja tangan wanita itu mengenai wajah Aeri jika saja Sehun tidak datang tepat waktu dan menangkap tangan itu di udara membuat wanita itu menahan napas.
"Ada masalah apa sehingga kau ingin menamparnya?" Sehun bertanya dingin.
"Ti-tidak ada Tuan," sahutnya tidak berani menatap wajah dingin itu. Ia segera menunduk dan berlalu dari sana.
Di J'Foodies siapa yang tidak mengenal Sehun--sahabat baik dari atasan mereka? Silap-silap apa yang terjadi akan dilaporkan oleh Sehun pada Zeha jika ia berani melawan.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Sehun cemas setelah wanita itu berlalu.
"Iya aku baik-baik saja," sahut Aeri tersenyum lembut. Lalu menatap lelaki itu bingung. "Kak Sehun kenapa ada di sini? Tuan Zeha tidak ada jika kakak ingin bertemu dengannya."
Sehun tertawa seraya ikut membawa tubuh memasuki lif menuju lantai tertinggi mengikuti Aeri. "Tidak. Aku hanya diminta oleh atasanmu itu untuk mengawasi dan mengajari jika ada yang tidak kau mengerti." Sehun mendekatkan bibir pada telinga Aeri, dan berbisik. "Dia takut, kau akan mengacaukan perusahaannya."
Aeri berdecih. "Jika takut kenapa menyerahkan padaku untuk diurus? Sedang dia bisa meminta pada Tn. Jeon untuk memantau selama dia pergi--ehh!" Aeri melirik takut pada Sehun. Ia telah terlepas bicara, bisa habis jika Sehun memberitahu pada Zeha.
"Jangan khawatir aku tidak akan beritahu padanya." Seakan mengerti kekawatiran Aeri, ia pun menyahut. "Semua aman terkendali."
Aeri tertawa menanggapi ucapan yang terkesan bercanda itu. Apalagi kernyitan mata genit yang dilayangkannya, benar-benar terkesan lucu.
"Kalau ada hal yang tidak kau mengerti, kau bisa bertanya padaku."
Saat itu mereka telah ada di ruangan Zeha. Seperti biasa, Aeri akan membersihkan ruangan tersebut sebelum memulai pekerjaannya. Sehun bak anak yang terus mengikuti induknya.
"Benar? Jika benar aku akan pergi sekarang karena aku ada urusan lain selepas ini," terang Sehun merasa cemas. Zeha memintanya untuk mengawasi Aeri tapi ia malah ada hal lain.
"Iya. Kak Sehun bisa pergi. Aku tidak apa-apa," Aeri menyahut, meyakinkan Sehun.
"Kalau ada yang tidak kau mengerti jangan lupa untuk menelponku kapan saja, kau mengerti?" Ia bersiap untuk pergi. "Ini nomorku." Sehun menuliskan nomor miliknya pada sebuah kertas, lantas menyerahkan pada Aeri. "Ingat untuk telepon."
"Iya ...."
"Aku pergi."
"Hmm," Aeri hanya berdehem sebagai jawapan. Ia memindai seisi ruangan itu setelah Sehun tidak terlihat lagi. "Ini tidak akan sempat. Aku akan minta tolong pada Yuri saja." Bersamaan dengan itu, ia pun membawa tungkainya keluar.
Sehun mengecek waktu pada arloji yang melingkar dipergelangan sembari membawa tubuh keluar dari lif yang baru saja terbuka. Masih ada waktu yang tersisa sebelum pertemuan yang telah dijanjikan. Maniknya memindai seisi lobi, mencari sosok gadis yang ia yakini bekerja di perusahaan Zeha.
"Hari itu aku melihatnya memakai seragam cleaning service," Sehun bergumam pada diri sendiri. Kaki terus melangkah mencari keberadaan sosok tersebut. Sebelum sudut bibirnya tiba-tiba tertarik.
"I got u."
Kontan langkah kaki mengambil langkah besar, ia ingin segera menemui gadis yang saat itu sedang membersihkan dinding kaca yang menjulang tinggi--tubuh itu membelakanginya.
Setelah beberapa langkah lagi Sehun membuat tungkai berjalan dalam kesunyian, tidak ingin jika gadis itu mengetahui keberadaannya.
Berdiri tepat di belakang sang gadis yang tampaknya benar-benar tidak menyadarinya. Sehun menunduk, mendekatkan wajah pada leher jenjang yang terekpos karena rambut yang diikat. Leher putih mulus itu seolah terus memanggilnya saat terus ia tatap.
Sehun menutup mata, menikmati harum yang menyegarkan saat ia mengendus tengkuk bagian belakang sang gadis yang membuatnya tenang.
"Jangan bergerak!" Bisik Sehun membuat tubuh itu menegang. Bagaiman tidak tegang jika Sehun membuat tangannya seperti pistol lalu, ia todongkan pada pinggang itu. Tentu saja hal itu otomatis membuat sang gadis takut, bukan?
Cup!
Barulah setelahnya, ia mendaratkan kecupan dengan bibir yang sengaja dibuka pada leher putih bersih sang gadis, membuat tubuh yang telah menegang semakin menegang dengan napas yang tertahan. Banyaknya orang di sana tidak dapat menghentikan seorang Sehun dari aksi nakalnya.
"Aku merindukanmu."
Yuri mengernyit. Ia memang baru beberapa kali bertemu dengan seorang lelaki, namun itu tidak membuat Yuri sulit untuk mengenali suara dari lelaki tersebut. Hampir saja Sehun membuat tanda kissmark di sana jika tidak cepat gadis itu berbalik.
"Kau?!" Refleks tangannya bergerak menutup bekas ciuman itu.
"Ya, aku Sehun," sahut Sehun dengan santainya.
"Apa yang kau lakukan di sin--"
"Yuri!"
Dengan gerakan cepat Yuri menengok dari balik tubuh tegap Sehun. Matanya membulat melihat Aeri berjalan mendekat. Tidak! Aeri tidak boleh bertemu dengan Sehun, sebelum ia memberitahu pada temannya itu bahwa ia ada kenal seorang lelaki brengs**.
"Ikut aku!"