The President'S Crazy

The President'S Crazy
part. 82



Satu titik merah tepat berada diatas jantung Zeha. Debaran jantung Aeri meningkat pesat. Tubuhnya bergatar seraya memaksa tubuh segera berlari. Aeri sangat yakin laser tersebut berasal dari bidikan sniper John.


"Tidak!"


Dorr! 


Bagai dihantam petir, tubuh itu menegang dengan mulut terbuka tidak percaya. Waktu seolah berhenti, mata itu langsung tidak berkedip, menatap lurus ke hadapan.


Seperti disiram air dingin, hati langsung mengusai seluruh tubuh dan mindah. Menyadari bahwa ia tidak sanggup jika kehilangan sosok itu.


Semua kenangan yang mereka lalui bersama berputar begitu saja bagai sebuah kaset rosak dibenak. Seketika hatinya dibutakan oleh penghianatan yang pernah diterima sehingga ketulusan yang selama ini mengalir tanpa pamrih hilang dalam bayang-bayang kegelapan. Mengira apa yang ditunjukkan dan diucapan hanyalah bualan semata, dan hanya karena rasa iba terhadapnya.


Ingin mengeluarkan air mata dari manik yang senantiasa terlihat dingin itu, tetapi tidak bisa, air mata seolah tidak berani merendahkannya saat itu. Saat walaupun melihat tubuh itu jatuh ke dalam dekapannya sesaat setelah timah panas itu melesat dengan cepat.


Tubuh tegap Zeha terdorong ke belakang disaat mendapat tekanan mendadak. Ia termangu dalam keterkejutan. 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢? ... 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢?!


"****! Brengsek!" John mengumpat kesal dari kejauhan. Ia segera beranjak meninggalkan tempatnya itu. Sekarang jika ia tidak berhasil kabur maka nyawanya akan melayang.


John tahu ia tidak akan pernah berhasil melawan Zeha, namun ia tetap saja melakukannya. Berbagai cara telah dilakukan, termasuk dengan rencana yang saat ini telah gagal total.


Secarap perlahan tubuh Aeri merosot ke bawah dengan darah pekat membasahi mulutnya. Peluruh itu mengenai tepat pada bagian kiri Aeri dari belakang.


Detik itu Zeha baru tersadar dari hantaman besar tersebut. Ia ikut merosot dengan menahan tubuh itu dari terhempas ke tanah. Wajah bengis dan kejam yang tadi diperlihat pada Aeri kini berubah seratus delapan puluh derajat.


Tubuh Aeri bergetar dalam pangkuan Zeha. Manik itu terlihat sayu menatap lurus ke arah Zeha. Ia sungguh merasa lega lelaki yang berada di hadapannya saat ini selamat. Aeri tersenyum samar yang tertangkap oleh manik helang Zeha.


"Kau memang wanita bodoh!" tukas Zeha dengan suara bergetar, namun lembut. Tangan yang tadi menodongkan pistol, kini menyeka aliran bening yang menganak sungai di pipir Aeri.


"Kenapa kau melakukannya? Kau bahkan hampir mati di tanganku bodoh!" bentak Zeha kecil. Bibirnya mulai melengkung jelek.


Aeri tersenyum lembut, menampilkan senyum terbaik yang ia miliki walau bagian bibirnya dipenuhi darah segar.


"A-aa--aku mi-minta maa-f Tu-tu--tuan--!"


"Ssh! Jangan banyak bicara! Gary!" teriak Zeha memanggil Gary. Ia lupa bahwa ia memrintahkan Gary untuk menyerang mansion John tadi bersama anak buahnya yang lain.


"****!" Zeha mengumpat kesal saat tidak mendapati siapa-siapa di sana. Mengapa harus disaat seperti ini? Zeha kembali menemui wajah Aeri kala mendengarnya kembali mengeluarkan darah.


"Bertahanlah! A-aa--aku...." Bahkan Zeha sendiri tidak tahu harus bagaimana. Ia menjadi buntu karena tidak ingin kehilangan Aeri.


"T-tuan aku h-ha-harap eugk hidup ba-ba--bahagia."


Zeha menangkap tangan kecil yang bertengger diwajahnya itu. "Aku akan bahagia bersamamu, jadi kau harus selamat. Jangan pergi untuk kedua kalinya, kau mengerti?!"


Aeri kembali tersenyum lemah. Betapa hangatnya ia mendengar perkataan itu. "T-tuan aku men... cintai... mu...," ujar Aeri bagai bergumam, membuat Zeha terpaku seribu bahasa dalam keterkejutan. Tangan itu terlepas bersama hilangnya kesadaran Aeri.


"Tidak! Jangan tidur! Apa kau mendengarkanku?!" tanpa sadar akhirnya lihuid bening yang seakan takut-takut keluar sedari tadi akhirnya keluar membasahi pipi yang selalu terlihat dingin dan bengis itu.


Zeha menggoncang tubuh lemah Aeri yang tak sadarkan diri, lalu ia bawa masuk dalam dekapannya. Ini kedua kalinya ia merasakan perasaan seperti ini. Yang pertama saat ibunya sakit. Perasan takut ditinggal, dan takut kehilangan.


"Zeha... Apa kau akan terus seperti ini dan membuatnya mati? Sekarang dia harus segera di bawah ke rumah sakit," tukas suara yang sangat dikenal Zeha itu. Ia membawa kepalanya berbalik.


"Ayah?!" Sungguh sesuatu yang tidak terduga oleh Zeha. Bagaimana bisa ayahnya berada di tempat tersebut?


(𝙵𝚕𝚊𝚜𝚑𝚋𝚊𝚌𝚔)


"Bagaimana Taehoon?"


"Malam ini Zeha sepertinya akan melakukan sesuatu yang besar."


"Sesuatu yang besar?" Tn. Jeo memijat dagu sembari bersandar pada sandaran kursi kerjanya.


"Zeha sepertinya akan melakukan penyerangan."


Mendengar itu Tn. Jeon kontak beranjak berdiri. Ia tidak lagi menanyakan penyerangan apa yang akan dilakukan oleh sang anak. Yang kini memenuhi pikirannya adalah, ia harus melindungi Zeha dan tidak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya.


"Iya...," sahut Taehoon sudah menebak bahwa Tn. Jeon akan berkata seperti demikian.


"Bagus. Sekarang mari kita pergi.


(𝙵𝙻𝙰𝚂𝙷𝙱𝙰𝙲𝙺 𝙴𝙽𝙳)


"Tidak perlu banyak tanya Zeha. Sekarang kita harus menghantar Aeri kerumah sakit."


Seketika Zeha menatap wajah pucat Aeri yang berada dalam pangkuannya. Ia mengecup lama alis itu. Hingga akhir, Zeha terus saja menyakiti hati kecil gadis tersebut. Menghina bahkan merendah, namun kini gadis itu malah mengorbankan tubuh kecilnya demi melindungi tubuh besar dan berototnya.


Cinta inikah yang Zeha ragukan? Kini penyesalan itu barulah benar-benar menyesakkan dadanya.


"Aku serahkan Aeri pada ayah. Tolong selamatkan dia." Zeha menyerahkan Aeri yang berada dalam gendongannya pada Taehoon.


"Kau tidak ikut?" Tn. Jeon bertanya cemas.


Tubuh dengan segala kemurkahan yang tertahan itu berbalik, menatap bagai serigala mengincar mangsa. Aura bengis nan dingin yang terpancar seolah bisa membekukan sejauh mata memandang.


"Aku harus menagih darah yang telah dikeluarkan dari tubuh Aeri!"


Wajah tampan itu bebalik. Dalam sekelip mata tatapannya berubah lembut dan sendu. "Selamatkan dia untukku."


"Hati-hati nak," ujar Tn. Jeon membuat Zeha menoleh padanya. Suara bergetar Tn. Jeon membuat Zeha tersenyum kecil.


"Jika dengan keselamatanku bisa menyelamatkan Aeri, maka aku akan selamat."


"Baiklah, kami pergi dulu. Aeri harus segera ditangani," timpal Taehoon.


Mereka berdua pun segera berlalu dari sana dengan langkah tergesa. Atensi Zeha baru teralihkan setelah kenderaan sang ayah melaju dengan membawa tubuh tak berdaya Aeri.


Zeha menatap mansion John dengan wajah datar terkesan dingin. Dengan langkah tegas, ia melangkah masuki mansion tersebut.


Bunyi tembakan saling bersahut-sahutan terdengar memekakkan telinga, tapi itu langsung tidak menghentikan tungkainya bahkan sekalipun para anak buah John menyerangnya. Timah panas langsung melesat menembusi kepala, dada ataupun jantung. Zeha tidak ingin membuang tenaga dengan melawan tikus-tikus kecil yang tidak ada apa-apanya.


Tap tap tap


Zeha menaiki tangga dan langsung dihadapkan dengan Jiha. Wanita yang pernah menjadi kekasihnya itu berlari ke arahnya seolah ingin memeluk tubuhnya. Tetapi sebelum itu, ujung pistol Zeha lebih dulu mengenai tepat tengah dahi wanita tersebut.


"Z-Zeha?" Jiha menciut melihat tatapan tajam tak berbelas kasih Zeha. Pancaran mata itu seolah tidak pernah mencintainya. Ia seakan wanita asing yang tak pernah di kenal sebelumnya.


"Z-Zeha aku mo-mohon jangan b-b--bunuh aku. Aku akan menjadi budakmu jika perlu. A-aku mohon jangan--"


"Bahkan menjadi budakku pun kau tidak layak!" Jiha kontak menelan susah salivanya. Dinginnya suara Zeha membuat tubuhnya bergetar.


"T-tidak--"


Dor!


Peluru itu menembusi kepala Jiha. Zeha hanya menatap sekilas pada tubuh yang jatuh tergeletak saat nyawa meninggalkan raga.


Gary mendekat dengan berlari. "Tn. John terus berusaha melarikan diri dengan melawan para anak buah Tuan."


"Di mana dia?"


"Di balkoni Tuan."


Tanpa menunggu lagi, Zeha membawa langakah menuju balkoni yang dimaksud Gary. Bibirnya menyungging keji melihat lelaki itu bertarung dengan hebatnya.


Tangan Zeha yang memegang pistol membidik bagian kaki John dari jarak yang sedikit jauh, dan...


Dor!