
"Aeri... hari ini aku ada pertemuan di London, kan?" Tanya Zeha melewati meja kerja Aeri. Langkahnya tegas masuk ke dalam ruangan setelah memberi pelajaran ringan pada keempat karyawannya tadi.
Dengan langkah tergopoh, sang sekretaris sontak mengikuti dari arah belakang.
"Benar tuan. Hari ini pada pukul 20 waktu barat di restauran Twinkle. Besoknya, anda akan melakukan syuting mengenai makanan tradisional Korea yang telah berkembang seiring waktu," terang Aeri, melihat pada ipad yang dipegang.
"Sebentar lagi aku akan berangkat bersama Gary...."
"Ehh?" Suara yang terdengar bingung itu keluar secara refleks, menarik atensi Zeha yang sibuk pada file-file yang akan di bawah.
Zeha menatapnya dengan alis yang terjungkit naik. Aeri bukan apa, ia hanya merasa aneh. Bukankah seharusnya ia juga mengikuti Zeha ke London sebagaimana tugasnya?
Zeha yang mengerti pun menjawap. "Kau di sini saja, mengurus perusahaan."
"Apa?!" Aeri mendelik kaget. Yang benar saja atasannya itu menyerahkan tanggungjawap sebesar itu padanya? "T--tapi?"
"Kenapa?" Zeha mendekat. "Kau menolak?" Berjalan semakin mendekat hingga membuat Aeri kontan membawa tungkainya mundur.
"Ti--tidak... hanya saja ak--"
"Hanya saja apa?" Zeha mengunci tubuh kecil Aeri dengan tubuhnya. Satu tangannya tersimpan rapi dalam kantong, sedang satunya lagi bertengger tepat di samping wajah lembut itu. "Kau tidak bisa?" Ujarnya bergumam.
Aeri menyengir kuda. "Anda tahu sendiri bahwa aku tidak mendapat pelajaran lanjut, lalu bagaimana aku bisa mengurus perusahaan anda ini ...?" jelas Aeri. Sungguh ia tidak berani. Apalagi sekarang banyak dari staf atasannya itu tidak menyukainya, terutama karyawan wanita.
"Haruskah aku mengajarimu?" Bisik Zeha dalam jarak yang menyesakkan Aeri. Bibir lelaki itu saja nyaris mengenai bibirnya jika tidak terus ia elak dengan membawa kepalanya terus bergerak. Itupun sang atasan tetap mengikuti gerakannya.
"Tidak!" Tolak Aeri cepat. Ia takut yang dimaksud dari sang atasan berbeda dari yang sebenarnya. "Aku akan berusaha sebaik mungkin." Ia mendorong menjauh tubuh kekar itu, membuat Zeha tersenyum samar.
"Bagus!" Lelaki itu pun berbalik membuat Aeri bernapas lega. "Aku akan pergi sekarang," cetusnya kemudian, setelah mendengar Gary mengetuk pintu. Ia pun menyerahkan tas yang berisi file-file penting pada Gary saat lelaki itu telah masuk.
"Ingat, jaga baik-baik perusahaan ini. Jika terjadi sesuatu, hukumanmu akan membuatmu tidak bisa berjalan!" Ancam Zeha seraya membawa tubuh beranjak pergi.
Dalam kepala, Aeri kontan terbayang kedua kakinya akan potong oleh Zeha. Ia menggeleng keras, ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Tunggu tuan!" Kakinya mengejar Zeha yang telah keluar dari ruangan.
Zeha berdesis, namun tetap menghentikan langkahnya. "Ada apa?" Tanyanya setelah Aeri telah berdiri dihadapannya. Sebelumnya, ia sempat memerintahkan pada Gary untuk pergi menunggunya di parkiran.
Gadis itu tampak memberikan sesuatu yang berada dalam bekas-bekas berukuran kecil pada Zeha. Lelaki itu menatapnya bingung.
"Apa ini?" Pertanyaan itu terdengar begitu dingin menyapa telinga Aeri.
"Salep untuk mengobati bibir tuan," sahut Aeri membungkam Zeha. Tadi, dalam diam Aeri sempat memerhatikan luka kecil pada bibir Zeha. Itu terlihat masih basah dan harus terus diobati. "Tuan akan berada di sana sampai lusa, jadi tuan harus membawa ini agar luka pada bibir anda lekas sembuh."
Zeha terkesima dengan perhatian Aeri. Menatap lekat kedua bola mata itu secara bergantian. Dapat ia rasakan sekretarisnya itu meletakkan benda itu pada tapak tangan miliknya. Ia tidak yakin apakah perhatian itu tulus atau hanya sekedar ingin menarik perhatian sama seperti wanita yang ia kenal diluar sana.
Benarkah saat gadis itu mengatakan bahwa ia memperhatikannya?
Sret!
Tapi ia tidak peduli. Yang pasti ia merasa tenang diperlakukan sedemikian oleh Aeri. Tangannya refleks mencekal pergelangan Aeri yang telah beranjak melewati tubuh saat ia baru tersadar kembali. Lalu sebelah tangannya dengan gerakan seolah slow motion, ia selitkan pada tengkuk Aeri dan mendaratkan kecupan mendadak yang membuat mata indah itu membulat sempurna. Kecupan dengan sedikit ******* halus di akhiri oleh Zeha.
Untuk pertama kalinya lelaki itu mengucapkan terima kasih padanya untuk apa yang telah ia lakukan. Ia tidak sedang bermimpikan? Benar-benar bodoh. Padahal dua kata itu tidak ada romantisnya. Kenapa ia harus bersemu. Bibirnya tersenyum tipis seraya membalikkan tubuh.
Dalam lif, garis lurus bibir Zeha terus melengkung pada kedua sudutnya. Salep yang berada di pegangan tangan ia genggam dengan erat, seolah itu hadiah yang berharga dari sang kekasih.
"Mungkinkah dia berbeda?" Gumamnya menatap intens salep yang diberikan Aeri.
Namun demikian, hati yang telah begitu membenci wanita tidak mudah lagi untuk diluluhkan. Perhatian yang Aeri berikan belum cukup membuat hatinya terbuka. Baru sedikit dari bagian hatinya yang tersentuh. Cinta yang ia miliki hanya untuk sang ibu yang telah tiada. Hanya wanita yang bergelar ibunya itu saja yang tidak pernah meninggalkannya walau kini kenyataannya lain.
Ia tidak akan membiarkan siapapun lagi menghianati dirinya. Ia yakin suatu hari nanti Aeri pasti akan pergi dan menghianatinya walau mereka tidak memiliki hubungan apapun.
Tetapi, bukankah gadis itu kekasihnya?
Tidak. Itu hanya hiburan tanpa ada niat dalam hati. Bagaimana bisa? Sedang gadis itu belum mengisi setengah dari hati gelapnya. Dalam sekejap wajahnya kembali dingin. Tiada lagi semburat rasa senang di sana. Ia juga menyimpan begitu saja salep pemberian Aeri ke dalam saku jas yang ia kenakan.
Lantas ia meraih ponsel, lalu menelpon Sehun yang dalam hitungan detik tersabung di sebarang sana.
"Aku ingin kau mengawasi Aeri," ujarnya langsung to the point. Membuat Sehun yang tengah sebuk di ujung sana mengernyit bingung.
"Apa-apaan kau ini? Apa maksudmu?"
"Aku akan pergi ke London untuk dinas. Jadi, selama aku tidak di sini kau tolong tengok-tengokkan Aeri karena aku memintanya untuk mengurus perusahaan. Kalau ada yang tidak dia mengerti ajari. Apa kau faham tuan Sehun?" Sindir Zeha yang membuat sahabatnya itu tersenyum miring.
Walau begitu, ada sisi dalam hati Zeha yang ingin mempercayai dan mengatakan bahwa Aeri tidak sama seperti wanita-wanita diluar sana, bahkan dengan Shin Jin Ha sekalipun. Kenyamanan yang ia rasakan disaat bersama Aeri membuatnya teringat akan sang ibu.
"Kalau soal itu kau tidak perlu khawatir. Aku tidak akan sekedar menengok dan mengajari, aku akan langsung mempraktekan agar tubuh Aeri terus terasa hangat," tutur Sehun di ujung sana dengan nada yang membuat Zeha menggeram. Apalagi perkataan yang dilontarkan.
"Dia bukan ******-jalangmu yang bisa kau sentuh seenaknya!"
Sehun mengernyit di sana. "Apa maksudmu tuan Zeha? Otakmu itu memang penuh dengan pikiran kotor." Ia pun tertawa keras membuat rahang Zeha mengeras walau merasa bingung.
"Yang aku maksud adalah penghangat ruangan tuan Zeha hahaha." Sekali lagi Sehun tertawa penuh kemenangan. Lagi-lagi jika berkaitan dengan Aeri sahabatnya itu akan termakan jebakan. "Memangnya apa yang kau pikirkan hah? Apa yang ******? Hahaha."
"Terserah kau saja!"
Tut tut tut.
Panggilan pun Zeha putuskan secara sepihak. "Sialan!"
ʜᴀʟʟᴏ ʀᴇᴀᴅᴇʀs sᴇᴛɪᴀ ᴄᴇʀɪᴛᴀ...
ᴀᴋʜɪʀɴʏᴀ sᴇᴛᴇʟᴀʜ sᴇᴋɪᴀɴ ʟᴀᴍᴀ ᴀᴜᴛʜᴏʀ ᴘᴜɴ ᴋᴇᴍʙᴀʟɪ.
ᴜɴᴛᴜᴋ ʏᴀɴɢ sᴇʙᴇsᴀʀɴʏᴀ ᴀᴜᴛʜᴏʀ ᴍɪɴᴛᴀ ᴍᴀᴀғ ᴋᴀʀᴇɴᴀ ʙᴇɢɪᴛᴜ ʟᴀᴍᴀ ʙᴀʀᴜ ᴅᴀᴘᴀᴛ ᴋᴇᴍʙᴀʟɪ ᴍᴇʟᴀɴᴊᴜᴛᴋᴀɴ ᴄᴇʀɪᴛᴀ ɪɴɪ...
sᴇᴛᴇʀᴜsɴʏᴀ, ᴛʜᴏᴡᴀ ʜᴀʀᴀᴘ, ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴍᴇɴʏᴜᴋᴀɪ ɴᴏᴠᴇʟ ɪɴɪ..
sᴇᴋɪᴀɴ ᴛᴇʀɪᴍᴀ ᴋᴀsɪʜ.