The President'S Crazy

The President'S Crazy
part. 54



Setelah semua masalah conferencepers selesai, Zeha langsung meminta Gary untuk mengantarnya menuju rumah sakit di mana ayah Aeri di rawat. Entah mengapa Zeha merasa harus menemui ayah dari gadis yang ia permainkan hatinya. Itulah yang ia yakini.


Kaki Zeha melangkah tegas menuju ruang rawat Tn. Kwon. Kedatangannya tidak di ketahui oleh lelaki paru baya itu. Biarlah kedatangannya itu seolah suatu kejutan dari kekasih sang anak.


Sebenarnya kunjungan itu Zeha lakukan untuk mengatakan yang sebenarnya pada Tn. Kwon bahwa ia dan Aeri sesungguhnya bukan pasangan sesungguhnya. Apa yang ia katakan hari itu hanyalah satu kebohongan yang tidak disengajakan oleh Zeha.


Tok tok tok.


Setelah ketukan ketiga Zeha membuka pintu. Ia dapat melihat ayah Aeri bersandar santai dengan tubuh setengah duduk sembari melihat-lihat majalah hiburan yang disediakan di setiap ruangan. Perhatian lelaki tua itu sontak teralih dengan kedatangannya.


"Eh, Tuan Zeha ...." Tuan Kwon terlihat senang dengan kedatangan Zeha. "Datang sendiri saja? Tidak bersama Aeri?" Tuan Kwon tampak celingak-celinguk mencari keberadaan sang puteri.


"Oh ...." Zeha tampak canggung mendapat pertanyaan tersebut karena dia tidak menduga lelaki paru baya itu akan menanyakan anaknya. "Aeri ada pekerjaan yang harus dia kerjakan di perusahaan," dalih Zeha mengusap rahang.


"Ouh..." seketika Tuan Kwon tersenyum. "Apa pekerjaan yang Aeri lakukan bisa diterima? Maksudnya apakah dia becus dalam menjalankan tugasnya?"


"Anda jangan cemas, Aeri bisa dihandalkan dalam setiap pekerjaan yang saya perintah, lagian dia cekatan dalam mempelajari setiap hal baru yang dijelaskan," jelas Zeha tidak mengada. Aeri memang sangat bisa dihandalkan. Ya, walaupun kadang kala begitu lelet dan membuat kesal, namun setiap pekerjaan yang dilakukan Aeri benar dan tidak pernah ada kesalahan.


"Syukurlah jika seperti itu ... kalau begitu jangan berbicara begitu formal dengan saya, panggil saja ayah seperti Aeri memanggil, lagian Tuan Zeha ini, kan kekasih dari Aeri putri saya," tutur Tuan Kwon dengan wajah lembut khas seorang ayah.


Zeha terdiam dengan bibir tersenyum kikuk, ia tidak tahu harus bagaimana memberi tanggapan akan permintaan lelaki paru baya di hadapannya itu.


"Duduklah Zeha, kenapa hanya berdiri ... jangan begitu kaku jika bersama dengan ayah." Zeha semakin dibuat canggung kala Tuan Kwon membahas dirinya ayah dengan Zeha.


Untung saja Zeha begitu pandai menyembunyikan setiap ekspresi wajah yang ia keluarkan. "Terima kasih ... a-a--ayah." Ya, ampun sangat sulit sekali bibirnya itu untuk ia gerakan.


"Bagaimana khabar anda beberapa hari ini--eh!" Zeha baru tersadar bahwa ia tersalah memanggil ayah Aeri dengan sebutan 'anda'. Tuan Kwon hanya terkekeh melihat kegugupan Zeha.


"Tidak apa, biasakan saja .... iya, beberapa hari ini ayah baik-baik saja, cuman masih dalam masa pemulihan."


"Syukurlah jika seperti itu." Zeha bersungguh saat menanyakan khabar ayah dari sekretarisnya itu. Tiada niat untuk sekedar basa-basi saja.


Tiba-tiba keheningan menyapa. Zeha merasakan kecanggungan yang menyiksanya. Sebelumnya Zeha belum pernah sekalipun merasa suasana yang seperti ini, namun dengan masuk ke dalam hidup Aeri tanpa sengaja membawanya melalui pelbagai suasana yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bahkan membuat Zeha lupa akan tujuan awal atas kunjungannya itu.


"Kalau bisa ayah tahu, apa yang membuat kamu mencintai Aeri?" Tanya Tuan Kwon mengagetkan Zeha yang sedang melamun.


"Hm ...." Zeha tampak kesulitan untuk menjawap pertanyaan Tuan Kwon. Zeha merasa bingung harus bagaimana menjawap pertanyaan itu.


"Susah ya, pertanyaannya?"


"Tidak." Bodohnya Zeha malah menyahut cepat pertanyaan itu. "Sebenarnya aku tidak tahu mengapa aku bisa menyukai Aeri. Gadis itu lelet, bodoh dan kadang suka membuatku emosi," jujur Zeha mengenang sikap Aeri hingga tidak sadar bahwa ia sedang berbicara dengan ayah dari gadis yang ia katai bodoh. "Tapi, perhatian dan kecemasan yang terlihat di matanya, juga terlihat dari tindakkan tanpa sadar membuatku terus melihat padanya."


Itu bukanlah suatu kebohongan lainnya yang Zeha ada-adakan, itu murni dari hati tanpa ada dalih-dalihnya. Semua kebenaran yang ia rasakan pada Aeri. Ketawa Tuan Kwon yang pecah membuat lamunan sesaat Zeha buyar dan kembali ke kenyataan. Ia baru teringat bahwa tadi ia telah mengatakan Aeri bodoh dan lelet di hadapan Tuan Kwon.


"Ma-maksudku ...."


"Aku senang mengetahui kamu menyukai Aeri seperti itu. Aeri itu hatinya sangat lembut, perhatian dengan orang sekitarnya, walaupun hatinya disakiti berulang kali, dia tetap berbuat baik pada orang tersebut," tukas Tuan Kwon tiba-tiba menceritakan keperibadian Aeri yang Zeha benarkan dalam hati.


"Waktu sekolah dulu, Aeri pernah dikurung dalam WC selama satu hari satu malam karena kebaikannya membuat sesetengah temannya merasa jengkel padanya. Karena kejadian itu, dia menjadi takut pada kegelapan. Ayah ingin melapor tindakan tidak bermoral itu, tapi Aeri melarang. Apa yang dia katakan saat itu 'mungkin mereka tidak sengaja."


"Benar-benar gadis yang bodoh," Zeha berbisik dalam hati. Kejadian beberapa hari lalu, di mana Aeri terkurung dalam WC perusahaannya terngiang dibenaknya.


"Anakku yang malang," Tuan Kwon bergumam. "Aeri juga pernah dipergunakan untuk merampas perusahaan ayah oleh ayah-nya Yohun. Lelaki sialan itu memerintahkan Yohun untuk mendekati Aeri demi tujuan busuknya itu. Aeri yang tidak mengerti apa-apa saat itu malah menyukai Yohun karena kebaikan yang tidak tulus lelaki itu. Hingga ayah jatuh sakit dan perusahaan pun jatuh ke tangan keluarga Yohun." Sebutir lihuid bening jatuh membasahi pipi rapuh Tuan Kwon.


"Karena kejadian itulah Aeri tidak ingin dekat dengan lelaki lagi, dia memiliki trauma. Yohun hampir saja merenggut kesuciannya dalam keadaan mabuk." Zeha sentak, kepalanya reflek menoleh cepat pada ayah Aeri. Sekarang Zeha mengerti mengapa waktu itu Aeri tampak begitu takut dengan keberadaan Yohun.


"Mengetahui Aeri menjalin hubungan denganmu membuatku kaget dan senang," tutur Tuan Kwon seraya melihat pada Zeha. "Jadi ayah harap kau bisa membahagiakan Aeri. Sewaktu ibunya pergi, dia hampir satu minggu tidak keluar kamar karena merasa kehilangan. Tidak lama setelah itu ayah tiba-tiba masuk rumah sakit membuat anak malang itu terpaksa bekerja keras untuk membiayai perobatan ayah selama di sini."


Zeha menyesal telah mengatakan Aeri sama saja seperti wanita matre yang menginginkan uang hanya untuk kesenangannya. Uang yang pernah Aeri pinjam darinya ternyata untuk membiayai ayahnya di rumah sakit. Zeha mengepal tangannya kesal, ia merasa dirinya begitu bodoh. Buta karena rasa benci yang mendarah daging terhadap wanita.


"Aeri gadis yang baik. Ayah memujinya bukan karena dia anak ayah, tapi itulah kenyataannya. Jika Aeri menyukai seseorang, maka dia akan setia pada lelaki itu hingga maut memisahkan kecuali jika dia hanya dipermainkan."


•••


Tangan Zeha menari lincah di atas keyboard komputer. Matanya yang jeli melihat setiap laporan yang masuk melalui email. Ucapan Tuan Kwon terus terngiang di dalam benaknya, menghentikan jari-jemari itu.


Kepalan tangannya tiba-tiba menghantam meja yang dipenuhi oleh berkas-berkas. Ingin rasanya Zeha pergi menemui Yohun dan menghajar lelaki itu bahkan jika perlu Zeha melenyapkannya. Ternyata wajah tampan yang terlihat baik itu tidak kalah bejat dengan dirinya.


Bahkan Zeha tidak pernah sekalipun memperkosa seorang wanita sekalipun ia begitu membenci mereka. Tetapi sepertinya Yohun telah menyesal dan sepertinya lelaki itu juga memiliki perasaan pada Aeri dan kembali ingin mengejar Aeri. Zeha tersenyum miring. Sesuatu yang telah ia sentuh, tidak akan mungkin ia berikan pada orang lain.


Zeha melirik jam yang melingkar pada lengannya. Ia sedikit kaget saat mengetahui hampir beberapa menit lagi waktu akan menunjukkan pukul 5 sore. Zeha pun segera berkemas dan meninggalkan ruangannya sebelum tiba-tiba ponselnya berdering.


"Hallo," sapa Zeha dingin tanpa menghentikan tungkainya menuju lif.


"Kau tidak pulang?" Taehoon bertanya di seberang.


"Kau tau aku malas pulang, kak."


"Beberapa hari lagi, hari peringatan ibu. Kalau bisa saat itu kita harus berkumpul."


"Lihatlah, jika aku tidak sibuk."


"Usahakan, ya?"


"Aku matikan!"


Tit tit tit.


Zeha mendesah napas panjang seraya menyugar kasar rambutnya kebelakang hingga merusak tatanannya. Ia selalu malas jika diajak untuk mendatangi mansion sang ayah. Bukan benci, Zeha cuman kesal dan setiap melihat wajah sang ayah, ia selalu teringat akan kesedihan sang ibu karena perbuatan ayahnya.