
Tangan Aeri sudah melayang untuk mengetuk pintu, sebelum ia mendengar pembicaraan antara atasannya dan Sehun yang membawa-bawa namanya.
"Aku benar, kan? Kau pergi karena kau melihat Aeri datang, kan?"
Brak!
Aeri tersentak kaget mendengar gebrakan kuat dari dalam. Sebenarnya Aeri tiada niat untuk menguping, tetapi ia penasaran dengan namanya yang masuk dalam pembicaraan antara dua lelaki tersebut.
"Diam! Kau tidak tahu apapun mengenaiku!"
"Karena aku mengenalmu, aku mengetahui ini."
Selama beberapa detik, Aeri tidak mendengar pembicaraan apa-apa lagi. Aeri pun kembali melayangkan tangannya untuk mengetuk, namun urung dikala ia mendengar Sehun angkat bicara lagi.
"Kau bodoh dan egois Zeha!"
"Apa ...?!"
"Kau mulai mencintai Aeri--"
"Tidak!" Zeha terdengar menyangkal cepat.
"Aku tidak pernah dan tidak akan pernah mencintainya! Gadis bodoh itu hanya salah satu mainanku Sehun. Sama seperti wanita-wanitaku di luar sana. Tidak ada yang special dari gadis seperti Aeri. Wanita itu semua sama. Hina!" Zeha berujar lantang dan penuh penekanan. Semuanya jelas di telinga Aeri. Gadis itu kontan menunduk dengan manik berembun. Bibirnya tertarik miris.
"Wanita yang pernah aku cintai hanya Jinha, Shin Jin Ha!"
Jadi selama ini Zeha hanya menganggapnya mainan yang bisa perlakukan seenaknya? Semua bantuan dan kelembutan yang kadang terlihat itu hanya kedok agar ia betah bersama lelaki itu? Kedok yang berhasil menjeratkan Aeri dalam perasasaan yang tak ingin Aeri akui saat ini. Aeri tidak mencintai lelaki itu, tidak. Tapi, kenapa ia merasa kecewa, sedih dan marah?
"Gary ... tolong kau bawa masuk ini, ya. Katakan Tuan Sehun yang meminta ...." Aeri menyerahkan nampan berisi dua cangkir kopi pada Gary yang kebetulan berjaga di depan pintu
"Aku ada kerjaan lain ... Terima kasih Gary." Setelah itu, Aeri pun membawa tungkainya dalam langkah yang lebar, hatinya terasa sesak dan sakit.
Gary hanya menatap kepergian Aeri dengan ekspresi yang sulit ditebak sebelum ia mengetuk pintu yang langsung diperintahkan untuk masuk.
"Aku tidak pernah memintah kopi Gary!"
"Nona Aeri yang meminta pada saya untuk membawa ini masuk, katanya Tuan Sehun yang meminta," jelas Gary menyentak Zeha.
Detak jantung Zeha tiba-tiba memicu, ia takut jika apa yang ia bicarakan dengan Sehun didengar oleh gadis kecil itu. Hati Zeha merasa gelisah.
"Jadi, kenapa bukan dia saja yang mengantarnya? Kenapa dia menyerahkannya padamu?" Tanya Zeha dengan perasaan harap-harap cemas. Ia harap Aeri tidak mendengar apapun.
"Tadi tiba-tiba saja nona Aeri memberikan ini pada saya, lalu segera pergi," jelas Gary.
Sehun tersenyum sinis melihat kecemasan yang terlihat jelas di wajah dingin Zeha. Tidak mencintai? Omong kosong, pikir Sehun. "Aeri pasti telah mendengar semuanya ... Itukan yang kau harapkan? Kau tidak mencintainya, lalu apa yang kau cemas, kan?"
Zeha menatap memicing ke arah Sehun yang telah mulai menikmati kopi buatan Aeri. Apa yang Sehun katakan itu benar. Untuk apa ia mencemaskan gadis bodoh itu? Aeri mau mendengarnya atau tidak, itu bukan urusannya.
"Kau salah ...." Zeha turut menyentuhkan bokongnya pada sofa tepat di hadapan Sehun. Menyilangkan kaki seraya meraih cangkir kopi yang telah Gary sajikan. "Aku bukan mencemaskannya, tapi sebaliknya, aku senang dia mendengarnya, biar dia tahu diri bahwa dia itu hanya sebuah barang yang aku permainkan!"
"Keras kepala," bisik batin Sehun. "Kau benar-benar tidak punya hati seperti iblis," desis Sehun.
Zeha mengabaikan, ia hanya memfokuskan atensinya untuk menikmati secangkir kopi buatan Aeri yang terasa begitu nikmat di lidahnya. Ya, Zeha memang egois. Hati dan pikirannnya tidak sejalan. Di saat hati tidak ingin berkata seperti demikian, pikirannya pula mendesaknya untuk mengatakan hal yang bukan berasal dari hatinya. Dan karena keegoisan Zeha yang tinggi, maka apa yang diperintahkan oleh otaknya pun menjadi pemenangnya.
Zeha tidak ingin mengakui rasa khawatir yang ia rasakan pada Aeri. Egois bukan? Yang Zeha tahu, wanita hanyalah mainan dari rasa bencinya.
"Jadi conferencepers ini untuk membersihkan namamu dari berita itu?" Tiba-tiba Sehun angkat bicara setelah hening beberapa menit.
"Ternyata kau begitu pintar menerka ...."
"Apa maksudmu?! Dalam berita itu juga terselit dan bahkan fotoku juga terpampang. Jadi, sudah tentu itu akan meninggalkan pengaruh buruk jika aku tidak melakukan sesuatu," tegas Zeha.
Sehun hanya menganggukkan kepalanya. "Aku pikir kau melakukan ini untuk membersihkan nama Aeri. Aku dengar gadis itu mendapat banyak hinaan dan cacian karena berita sialan tersebut."
"Dari tadi kau hanya membicarakan Aeri, atau jangan-jangan kau menyukainya?" Zeha memicing tajam.
"Tidak salahkan? Dia gadis baik dan cantik. Sebrengsek apapun lelaki itu, dia pasti inginkan wanita yang baik-baik juga."
"I-iya tidak salah," sahut Zeha terlihat tidak terima walau tersembunyi baik dalam wajah dinginnya.
"Lagian aku yang pertama bertemu dengannya. Yang paling penting, aku juga pernah berciuman--"
"Sehun!" Bentak Zeha tiba-tiba mengagetkan Sehun. Kepalanya panas mendengar kenyataan yang tak ingin ia terima. "Berhenti membicarakan gadis itu!"
Sangat jelas bukan? Jelas bahwa Zeha benar-benar telah meletakkan Aeri dalam hatinya, tetapi lelaki itu tidak ingin mengakui mengingat benci yang lebih mendominasi dan keegoisan.
Sedangkan Aeri, dengan hati yang terluka ia menyibukkan diri dengan melakukan pekerjaannya. Wajah lembut itu dipaksa untuk menampilkan seulas senyum walau Aeri sangat ingin menampilkan kesedihan dan keperihan yang ia rasakan saat itu. Bahkan Aeri harus menebalkan muka saat pandangan orang-orang padanya masih sama seperti sebelumnya.
Tapi bersedih pun untuk apa? Itu tidak akan merubah fakta bahwa Zeha hanya menganggapnya sebagai mainan. Aeri mendesah mengingat hal itu. Hatinya terasa semakin sakit. Padahal mereka tidak memiliki hubungan apapun.
"Aeri apa yang kau lakukan?"
Aeri terlonjat kaget sehingga secara terpaksa roti yang berada dalam mulutnya tertelan secara paksa. Aeri yang saat itu duduk di salah satu bangku yang berada di kantin menoleh, ia kenal dengan suara tersebut.
"Yohun? ... Seharusnya aku yang bertanya seperti itu ...."
Lelaki itu hanya cengengesan menampakkan sederet gigi putihnya sembari menjatuhkan bokong pada bangku di hadapan Aeri sebelum tiba-tiba gadis itu cegukan, membatalkan niat Yohun untuk duduk.
"Minum air." Yohun menyerahkan air pada Aeri dengan cemas.
"Ini heikk karena kau heikk menga-heikk-getkanku heikk!"
"Maaf ... aku tidak tahu akan jadi seperti ini," sesal Yohun semakin cemas dikala cegukan Aeri tidak berhenti juga walau telah meminum air. "Oh, iya aku hampir lupa." Seketika Yohun mengedarkan pandangannya memindai seisi kantin. Tidak ada banyak orang di sana karena belum waktunya lagi untuk makan siang.
Yohun kembali melihat ke arah Aeri yang cegukannya semakin parah. "Aeri izinkan aku?"
"Heikk!" Aeri mengangguk dalam cegukannya. Dadanya sudah terasa sakit karena cegukan yang tidak kunjung reda walau bagaimanapun banyaknya air ia minum.
Yohun segera mengambil gelas yang berisi air disaat Aeri malah memukul-mukul dadanya. "Jangan memukul, itu akan menyakitimu." Yohun menahan tangan itu seraya memasukkan air ke dalam mulut, lalu ia mendekatkan wajahnya ke wajah Aeri.
"Apa yang kalian lakukan?!"
Bibir yang hampir bersentuhan itu kembali menjauh melihat Zeha mendekat dengan wajah dingin mematikan membuat Aeri segera membuang wajah, ia tidak ingin bertemu pandang dengan tatapan mengintimidasi Zeha.
"Aeri kau baik-baik saja?" Sehun yang berada di samping melihat cegukan parah yang membuat wajah lembut Aeri memerah.
Aeri tidak bisa menjawap, ia hanya menganggukkan kepalanya. Cegukan itu benar-benar menyiksanya. Zeha hanya melirik sinis tidak peduli dengan keadaan yang di alami sang sekretaris.
"Disaat cegukan pun kalian ingin berciuman?" Tanya Zeha dengan alis terangkat bahkan bibirnya tersenyum miring. "Memalukan!" Gumamnya sengaja mendengarkannya pada Aeri. Ia melirik pada wajah yang tersiksa itu melalui ekor mata.
"Tuan Yohun yang terhormat, anda datang ke sini bukan untuk bermesraan, kan? Jadi tolong jaga sikap kalian!" Kata-kata tajam Zeha lagi lagi menusuk hati Aeri, tapi Aeri tidak peduli. Ia ingin kesengsaraan itu segera berakhir.
"Cepat minum air Aeri." Sehun yang panik segera memberikan air pada Aeri.
"Cegukan itu tidak akan hilang hanya dengan meminum air," jelas Yohun mengabaikan ucapan Zeha.