
Bukan Yuri tidak menyadari. Sejak Aeri bekerja sebagai sekretaris Zeha, sahabatnya itu terlihat begitu banyak beban pikiran, selain itu selalu saja tidak turun kerja, selalu saja ada absennya, dan begitu juga seperti hari ini. Apakah sahabatnya itu memiliki masalah?
Aeri banyak berubah. Sekurangnya itulah yang Yuri rasakan. Biasanya, jika memiliki masalah, Aeri pasti mengatakan padanya, tetapi sejak sebulan ini, Aeri tidak pernah menceritakan keluh kesah, betapa berat hari yang dilaluinya. Mereka hanya berbicara kosong dengan sesekali Aeri bertanya soal neneknya.
Yuri merasa kehilangan seorang sahabat yang baik. Apalagi sekarang Aeri tidak seprofesi dengannya. Aeri berada jauh di lantai teratas bersama sang atasan.
"Kenapa tadi dia tidak bekerja, ya?" gumam Yuri seraya meraih ponsel yang tersimpan rapi dalam kantong untuk menelpon sang sahabat.
Tidak perlu menunggu lama, sebelum Aeri mengangkat panggilan itu. "Ternyata kau sudah melupakanku Aeri.. "
Aeri tersenyum kecil di seberang. Ia mengerti mengapa Yuri berkata seperti itu. "Jangan bicara seperti itu, kau tahu aku tidak mungkin melupakanmu, kan?"
"Lalu, kenapa kau tidak pernah ingin berbicara padaku?" Yuri mengeluarkan semua yang ia rasakan, sembari membawa tungkai menuju rumah setelah dari supermarket.
"Apa maksudmu, Yuri? Bukannya aku pernah berbicara padamu? Apa lagi yang perlu aku bicarakan?"
"Kau berubah Aeri."
"Berubah seperti mana?" Aeri lagi-lagi tersenyum. Yuri terkesan aneh. Padahal dirinyalah yang tidak menyadari perubahan yang Yuri rasakan.
"Kau merahasiakan semua masalah yang kau hadapi, kau tidak cerita padaku. Kau tidak meminta pendapatku lagi seperti biasanya. Ini yang kau tanya berubah apa?"
Aeri terdiam. Mulutnya mengatub rapat. Ia tidak menyangkah bahwa Yuri akan menyadarinya. Jadi, apa sebaiknya Aeri mengatakan semua yang ia lalui sekarang? Tapi, Aeri tidak ingin Yuri khawatir tentang dirinya.
"Yuri...."
"Atau kau tidak percaya padaku lagi?"
"Tidak, bukan begitu," sahut Aeri cepat.
"Lalu?"
"Aku hanya tidak ingin kau cemas."
"Jadi benar kau memiliki masalah.... "
Aeri menggigit bibir. Ia masuk ke dalam perangkap Yuri.
"Aku akan menceritakan padamu nanti, ya? Sekarang aku harus menutup telpon."
"Apa kau mencuba melarikan diri, hmm?"
"Tidak. Aku janji akan menceritakan padamu, okay."
"Kau telah berjanji, ingat itu."
"Iya, aku janji."
"Baiklah kalau begitu. Jaga dirimu."
"Iya kau juga.. Aku tutup. "
Tut tut tut.
Yuri menatap layar ponselnya lamat. Ya, sekurang-kurangnya ia sedikit merasa lega setelah berbicara dengan Aeri. Aeri tidak berubah sedikit pun, tapi Aeri mencuba menutup dirinya dari Yuri karena masalah yang dihadapinya. Itupun karena Aeri tidak ingin ia khawatir. Itulah yang Yuri tangkap dari pembicaraan mereka tadi, tetapi Yuri tidak menyalahkan Aeri. Ya, mungkin saja Aeri belum siap untuk mengatakan masalah yang ia hadapi pada orang lain, sekalipun itu sahabatnya sendiri.
"Ehh?!" Yuri mengernyit aneh dengan tungkai yang refleks terhenti, namun sedetik kemudian, Yuri segera berlari masuk ke dalam rumah setelah melihat pintu rumahnya terbuka, padahal tadi ia telah menutupinya. Mobil yang terparkir di depan terasa familiar, tapi Yuri tidak ingat di mana pernah melihatnya.
"Nek!" seru Yuri cemas begitu saja menginjakkan kaki masuk ke dalam rumah. Dan ternyata apa yang terlihat oleh matanya adalah, neneknya sedang bersenda gurau bersama Sehun sambil menonton. Dengan mulut mengunyah ringan, memakan cemilan keripik kentang. Keduanya kontan menoleh kearah kedatangan Yuri.
"Kau sudah pulang, cu?"
"Iya, nek. Tapi, Yuri kan sudah pesan jangan buka pintu sebelum Yuri datang.... "
"Dia bilang bahwa dia kekasih kamu sayang," sahut nenek.
Otomatis Yuri melirik tajam pada Sehun yang menatapnya dengan senyum tipis di bibir. 𝘌𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘯𝘺𝘢. Yuri mengerling kesal, semakin membuat Sehun tersenyum.
"Bagaimana jika dia hanya berbohong?"
"Melalui suara, nenek bisa membedakan mana yang sedang berbohong dan mana yang sedang berkata jujur."
"Ya, nenek memiliki kemampuan itu." Yuri membawa tubuhnya malas ke arah dapur. "Berhenti memberi nenekku makan cemilan seperti itu!" tukas Yuri dingin seraya berlalu.
Rasa kesal yang ia rasakan pada Sehun mengenai waktu itu masih belum hilang lagi. Dan kini lelaki penggoda itu malah muncul di rumahnya. Anehnya, dari mana Sehun tahu keberadaan rumahnya? Apa mungkin Sehun menyelidikinya?
"Yuri.... Tidak baik seperti itu," timpal nenek, merasa tidak enak akan perilaku Yuri terhadap Sehun.
"Tidak apa, nek. Aku lebih suka dia seperti itu padaku," Sehun menyahut. Sebelah matanya ia kerlingkan pada nenek hingga membuat wanita tua itu tersenyum. "Aku izin menyusul Yuri, ya, nek."
"Iya, pergi dan bujuklah dia."
"Siap nek." Sehun menyahut dengan mantap. Meletakkan tangan sebelah kanan di atas kening bak tentera yang memberi hormat pada atasan, semakin membuat nenek tertawa dengan kekonyolannya. Nenek geleng kepala melihat Sehun menuju dapur.
Sehun menyandar dengan bersedekap dada pada kusen pintu, menatap dengan bibir menyungging tipis punggung Yuri yang tampak bergerak karena berkutat pada bahan dapur, menyiapkan makan malam untuknya dan sang nenek.
"Apa yang kau lakukan?"
Tungkai yang mendekat itu kontak terhenti kala mendengar pertanyaan yang tak terduga dari Yuri. Jujur Sehun sedikit kaget. Ia menyangka Yuri tidak menyadari kehadirannya.
"Yang aku lakukan?" Sehun mengernyit bingung, kembali melanjutkan langkah mendekati sang pujaan hati.
"Bagaimana kau bisa menemui rumahku? Aku tidak pernah mengatakan padamu." Yuri melirik tajam pada Sehun yang baru saja menyandarkan punggung pada sisi meja tepat di samping Yuri. "Kau .... menyelidiki aku?"
"Menyelidiki mu?"
"Jangan pura-pura bodoh Sehun!"
"Ya ampun galak amat sih." saking gemasnya pada Yuri, Sehun sampai mencubit pipi putih itu. "Aku tidak menyelidiki mu, aku hanya mengikuti mu waktu itu.... "
"Ap--emp!"
Sehun tidak tahan lagi melihat bibir itu. Sedari tadi ia ingin ciumanya kala Yuri terus menginterogasinya.
"Kau!" Yuri sampai kehilangan kata-katanya melihat Sehun hanya cengengesan setelah melepas tautannya. "Ada nenek, breng--mp!"
Sekali lagi Sehun menjatuhkan bibirnya pada milik Yuri. "Sekali lagi kau mengeluarkan kata-kata seperti itu maka ...." dengan sengaja Sehun menggantung ucapan, sembari mendekatkan wajah dengan pandangan menemui bibir ranum Yuri.
"Menjauhlah!" refleks Yuri mendorong jauh tubuh Sehun. Wajahnya merona bak tomat.
Sontak detik itu juga ketawa Sehun pecah, semakin membuat rona di wajah Yuri menyembrut keluar.
"Pergilah, kau menggangguku!"
"Haha... Okay, aku akan berhenti.... "
"Tidak perlu. Sekarang kau pergi! Aku tidak ingin melihatmu!"
Sehun hanya tersenyum menanggapi sikap Yuri yang begitu kasar padanya. "Kau masih marah soal waktu itu?"
"Aku tidak ingin membahasnya!"
"Kan, aku sudah katakan bahwa aku tidak menggodanya. Kami bertemu hanya waktu itu dan tidak pernah lagi."
"Lala lalala.... Aku tidak dengar apapun lalalalala...." Yuri bersenandung, mengabaikan ucapan Sehun.
"Ckk!"
Srek!
"Ahk!" Yuri berteriak kecil disaat Sehun tiba-tiba menarik tangannya sehingga tubuhnya terhempas pada bagian depan tubuh Sehun.
Dengan terus bersandar pada pinggir meja, Sehun memeluk erat pinggang Yuri. Pandangan mereka terkunci satu sama lain dengan Yuri memasang wajah kaget.
"A--apa yang kau lakukan?!"
"Bukankah kau tidak ingin mendengar ku?"
"Lepas! Bagaimana jika nenek melihat apa yang kita lakukan?" Yuri memberontak dalam dekapan Sehun.
"Aku juga tidak mendengarmu." Sehun membalas ucapan Yuri. Bahkan ia semakin mengeratkan pelukan pada pinggang ramping itu, membuat Yuri kesusahan untuk memberontak, dan akhirnya terpaksa berhenti.
"Sehun!" Yuri mengerang kesal. Memukul bahu Sehun sakin geramnya dirinya.
"Kau yang seperti ini semakin membuatku ingin menciummu, Yuri...."
Yuri mendelik kaget mendengar perkataan lelaki yang sedang mendekapnya itu. "Ka--!"
Terlambat sudah. Bibir Sehun sudah mendarat di atas bibir Yuri dengan indah. Tetapi hanya tempelan, tanpa ada gerakan. Pandangan mereka terkunci dengan manik Yuri yang membulat sempurna, seperti akan keluar dari tempatnya. Sehun memang lelaki gila, pikir Yuri. Beraninya ia melakukan hal mesum di rumahnya. Ada neneknya lagi.
Melalui pandangan mata, Yuri berkata 'apa yang kau lakukan, sialan?!' Namun, Sehun hanya memainkan alisnya turun naik memancing emosi Yuri.
Tepat saat Yuri ingin protes, dan membuat jarak agar ciuman yang hanya sekedar tempelan itu terlepas, detik itu juga Sehun membuka mulut, meraup bibir Yuri dalam ******* lembut yang berhasil menggagalkan Yuri.
Sehun mulai menikmati milik Yuri dalam ******* kecil yang mulai menghayutkan Yuri ke dalamnya. Hingga secara perlahan, namun pasti, Yuri mulai membalas. Bahkan maniknya tertutup, hanyut dalam cumbuan yang Sehun cipta.
𝘈𝘬𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘨𝘪.
"Sehun... nenek." Tidak berlangsung lama, disaat Yuri tiba-tiba melepaskan tautan itu tanpa mencipta jarak yang banyak. Bahkan dikala itu Sehun masih sempat mengemut bibir bawah Yuri yang terbuka.
"Nenek tidak akan lihat... dia sedang menonton," lirih Sehun terus menatap bibir itu. Sedangkan Yuri terus mengelak dikala Sehun ingin kembali menemui bibirnya.
"Yuri, kau harus tahu bahwa hanya dalam waktu sekejap kau berhasil memenuhi hatiku, kau berhasil membuatku merasa gila jika tidak segera menemui mu. Bibirmu membuatku candu."
"Omong kosong!" tukas Yuri merona malu. Kata-kata Sehun selalu terkesan vulgar. "Kau hanya mempermainkan aku, sama seperti kau mempermainkan wanita di luar san--"
Cup!
Ciuman singkat itu menghentikan ucapan Yuri. Jujur, Sehun merasa emosi mendengar Yuri berkata demikian. Ya, mungkin dulu ia suka bermain wanita, tapi itu tidak berlaku pada Yuri. Mau itu saat pertama bertemu ataupun sekarang. Sedetikpun Sehun tidak pernah menganggap Yuri sama seperti wanita jala** di luar sana.
Sehun membawa wajah, mendekat pada telinga Yuri. Membisikkan sesuatu yang membuat sang wanita bergeming dalam dekapannya.
"Aku ingin memiliki mu." Sehun mengecup singkat telinga itu sebelum kembali menemui wajah yang terpaku itu. "Dari dulu hingga detik ini, kau satu-satunya wanita yang aku inginkan dalam hidupku. Aku akui bahwa aku suka bermain wanita dan menghabiskan malam yang panjang bersama mereka di atas kasur, tapi mereka hanya hiburan."
Mendengar kata 𝚑𝚒𝚋𝚞𝚛𝚊𝚗, membuat sudut bibir Yuri kontan tertarik miring. "Kau sungguh brengsek ternyata."
"Eh!" dalam sekali angkat, Sehun berjaya memindahkan Yuri, duduk di atas meja, lantas kembali mengecup bibir itu.
"Bukankah aku katakan jika kau memaki maka kau mendapat hukuman? .... Ya, aku memang brengsek, tapi tidak padamu."
Dengan gerakan kilat, Yuri mengecup pipi Sehun, membuat lelaki itu termangu dengan manik membesar. Sulit percaya dengan apa yang baru saja Yuri lakukan.
"Terima kasih karena menghargai ku," cicit Yuri menunduk. Ia sangat bersyukur karena diperlakukan seperti itu oleh Sehun.
"Jika begitu, tidak seharusnya kau menciumku seperti itu." Sehun tersenyum nakal, membuat Yuri merasa was-was, menarik wajah.
"Seharusnya seperti ini...."
Seperti seharusnya, Sehun pun mencium bibir Yuri dengan intens. Semula Yuri merasa kaget, namun itu hanya sesaat sebelum ia ikut membalas sesaat setelah tersenyum samar dalam ciuman Sehun.
Mereka pun saling bergumul sehingga menggunakan lidah, saling membelit. Kedua tangan Yuri telah mengalung, melingkari leher Sehun. Yuri telah dibuat lupa akan keberadaannya, ia tidak peduli lagi jika sang nenek melihatnya berciuman bersama Sehun, atau lebih tepatnya pikiran Yuri mendadak kosong tanpa beban.
"Besok malam aku ingin membawamu ke pesta ulang tahun J'Foodies, bisa kan?" tanya Sehun melepas ciumannya. Benang saliva segera ia seka dikala melihatnya terjuntai.
"Kau tidak malu membawa ku?"
"Kenapa harus malu?" Ibu jari Sehun terus bergerak mengusap bibir bawah Yuri.
"Ya, aku tidak perlu mengatakan mengapa."
"Aku tidak peduli kau itu seperti apa, kau bekerja sebagai apa, atau apapun itu, mataku akan tetap tertuju padamu, kau mengerti, kan?"
Ya tuhan, betapa manisnya ucapan Sehun. Serasa membuat tubuh Yuri melayang hingga ke angkasa.
"Ya, sudah. Sekarang biarkan aku turun, aku harus membuatkan nenek makan malam." Yuri mencuba untuk mendorong tubuh kekar itu menjauh, lalu melompat turun.
"Tapi, aku ingin terus didekatmu." Yuri merotasi matanya mendengar ucapan Sehun. Kenapa lelaki itu mendadak terdengar manja padanya?
"Sehun.... Aku tidak bisa jika seperti ini...."
"Kau lakukan saja tugasmu, aku akan memeluk seperti ini, menikmati wangi tubuh mu." lingkaran yang membelit perut rata Yuri semakin mengerat. Kepala Sehun juga menopang dipundak kecil Yuri.
"Kau mesum, Sehun--uhh~"
Tidak sengaja lenguhan kecil itu keluar disaat Sehun tiba-tiba mengecup dalam leher Yuri yang terdedah.
"Bukankah aku mesum katamu," bisik Sehun, tersenyum nakal.
"Uhh... Hen--hentikan Sehun!"