The President'S Crazy

The President'S Crazy
part. 73



Sejam kemudian.


Wajah datar Zeha terlihat semakin dingin dikala Aeri yang terus mengabaikan keberadaan dirinya sedari tadi. Wanita itu malah sibuk menjelaskan mengenai dress yang sepasang dengannya. Zeha berdecak kesal. Kenapa harus repot menjelaskan?


Pelayan yang lewat sambil membawa nampan berisi wine serta arak kontak terhenti kala tangan panjang Zeha tiba-tiba meraih segelas arak. Meminumnya dalam sekali teguk. Zeha sudah kehilangan kesabaran melihat Aeri tampak begitu senang berada di sisi Yohun.


"Kau sungguh memancing ku, Aeri!"


Dengan langkah tegas, Zeha membawa diri mendekat pada kerumunan yang terlihat berbual-bual bersama Aeri, masuk dan menyela diantara pembicaraan mereka.


"Kedengarannya sangat menarik, ya?"


Beberapa pasang mata yang berada di sana, semuanya otomatis teralihkan oleh suara dingin itu. Melihat sosok seorang Zeha berdiri tepat di samping Aeri mebuat mereka semakin antusias.


Manakala Aeri langsung tidak berani untuk menoleh. Bibir yang tadi ikut tersenyum mendadak sirna. Berbalik dengan Yohun yang merasa Zeha sengaja menghampirinya dan Aeri.


"Biasalah Tn. Zeha. Pebisnis seperti kita sudah tentu membicarakan perihal yang berkaitan. Apalagi ditemani oleh wanita cantik yang berdiri di samping Yohun, " tukas salah satu diantara mereka seraya melirik pada Aeri yang menunduk karena keberadaan Zeha.


"Kalau begitu, sila dilanjutkan," ujar Zeha, memperagakan tangan seperti mempersilahkan.


Dengan gerakan yang dibuat se natural mungkin, Zeha berpura-pura menoleh kebelakang pada bagian kanan, di mana tepat Aeri berada. Zeha sedikit membungkuk dalam gerakan halus yang tidak menarik perhatian.


"Kalau kau tidak ingin ada keributan, maka diam dan ikuti aku."


Aeri menegang dengan saliva yang sulit untuk ditelan. Jantungnya sontak memompa dengan cepat. Melalui ekor mata, Aeri dapat melihat Zeha mulai melangkah pergi. Jadi, mau tidak mau, Aeri harus mengikuti lelaki itu. Ia tidak ingin ada keributan karenanya. Sesaat, Aeri menarik napas dalam bersama manik yang dikatup.


Namun, baru selangkah Aeri membawa tungkai nya berbalik, Yohun sudah mencekal pergelangannya.


"Kau ingin pergi ke mana?"


Bukan Yohun tidak tahu apa yang terjadi, ia hanya ingin mencegah jika bisa. Yohun dapat melihat langkah kaki Zeha turut berhenti tepat saat ia menghentikan Aeri.


"Aku ada urusan sebentar. Nanti aku datang kembali." Aeri tahu bahwa Yohun merasa cemas. Tapi, apa yang bisa Aeri lakukan? Ia tidak punya pilihan.


"Tapi...."


"Tidak apa-apa. Semua baik-baik saja." Secara perlahan Aeri melepaskan genggaman Yohun dan berlalu.


Melihat Aeri mendekat ke arah Zeha sungguh membuat Yohun merasa menyesal telah mempermainkan Aeri dulu. Jika tidak, maka dirinya lah yang kini akan menjadi pemilik dari Aeri. Tangan Zeha refleks menarik Aeri dikala tepat berada di samping membuat Yohun mengepal tanpa bisa berbuat apa-apa.


Aeri pasrah saat Zeha menariknya keluar dari keramain pesta. Aeri tidak tahu kesalahan apa lagi yang telah ia perbuat sehingga membuat lelaki yang sedang menariknya itu kesal.


Bruk!


"Akk!" tubuh kecil Aeri dihempas pada dinding yang berada di lorong hotel yang sepi akan orang-orang.


"Sepertinya kau sangat senang berada di sisinya," ujar Zeha dingin. Lengannya bertekuk hingga tubuhnya terlihat membungkuk demi menemui wajah Aeri. Sedang sebelah tangannya lagi, mencengkram rahang Aeri.


"Tuan salah faham--"


"Tidak ada salah faham! Kau bahkan membiarkannya menciummu! Kau pikir aku tidak melihatnya?!"


Deg!


***** wajah lembut itu kontan menunjukkan keterkejutan.


"Kau masih mencintainya."


"Tidak!" Aeri menyela cepat. "Itu hanya satu ciuman kecil di puncak kepala--"


Tiba-tiba Zeha menarik pinggang itu merapat. "Kau bisa menolakkan?"


"Yohun melakukannya secara tiba-tiba Tuan. Aku juga bahkan terkejut," jawap Aeri, bergerak gelisah dalam rangkulan Zeha. Apa lagi, wajah dingin lelaki itu berada begitu dekat dengan wajahnya.


"Saat bersamaku kau tidak pernah tersenyum, tapi bersamanya, dengan mudahnya kau tersenyum. AKU TIDAK SUKA!" Zeha semakin menekan pinggang Aeri merapat, kesal.


Secara perlahan Zeha mengelus wajah lembut cantik Aeri. "Sepertinya kau sangat suka menarik perhatian banyak lelaki untuk melihat mu, kan? Terus tersenyum seperti itu... Ckk, menjijikkan," desis Zeha merendah.


"Percuma aku menjelaskan, pada akhirnya kau tetap merendahkanku. Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak mencintainya lagi." Sebisa mungkin Aeri menahan sesuatu yang terasa ingin berlomba-lomba untuk keluar.


Menarik wajah yang menunduk itu untuk mendongak untuk dipertemukan dengan manik tajamnya. Manik indah teduh itu tampak senduh.


"Aku tidak ingin, tapi kadang kelakuanmu membuat ku terpaksa mengatakannya, Aeri."


Mata Aeri bergulir, silih berganti kiri dan kanan menatap intens kedua manik gelap itu. 𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘬𝘶?


"Kau harus ingat, kau milikku. Jangan lupa kau sudah berjanji untuk selalu berada di sisiku." Padahal Aeri tidak pernah berjanji seperti itu, ia sendiri yang meng-klaimnya.


Aeri menghela napas pendek. "Tidak tahu bagaimana aku bisa jatuh cinta pada lelaki ini--"


"Apa?!"


Aeri terjingkat kaget. Tidak disangka Zeha akan memperhatikan kata-katanya yang diujarkan dalam bergumam.


"Kau mengatakan apa?" tanya Zeha sekali lagi sembari memegang kedua bahu Aeri. Zeha merasa seperti berkhayal mendengar ucapan samar yang terdengar jelas ditelinganya


Cup!


Tubuh kekar itu membatu tidak percaya. Kedua manik yang sering memperlihatkan kedinginan, kini memperlihatkan keterkejutan pada apa yang Aeri lakukan. Bibirnya terbuka tidak percaya tepat saat Aeri selesai mengecupnya singkat. Walaupun singkat, ciuman itu terkesan dalam dan penuh makna.


Tiada sahutan. Zeha sibuk menetralkan jantung akibat mendengar peruturan Aeri. Walau demikian, manik Zeha terus terkunci pada wajah yang entah mengapa terlihat begitu cantik saat ini.


"Tidak apa. Aku tidak mengharapkan juga untuk Tuan menyadarinya. Tapi aku tidak ingin kau terus mengatakan bahwa aku masih mencintai Yohun." Aeri mendorong pelan tubuh kekar itu sambil melirik Zeha yang masih tetap bergeming.


"Sudahlah, jika tidak ada apa-apa lagi, aku pergi dulu--akk!"


Tubuh Aeri yang telah berbalik pergi, ditarik oleh Zeha. Bagai gerakan slow motion, tubuh itu berputar dan terhempas di dada bidang Zeha. Tanpa melepas tangan yang ditarik itu, Zeha kembali merangkul pinggang kecil itu.


Refleks bibir Zeha terbuka dan meraup bibir Aeri dalam kulumannya. Berbeda seperti sebelumnya, kali ini Aeri mulai membalas cumbuan dalam Zeha bahkan tangannya secara perlahan mengalung setelah Zeha melepaskan.


"Kau pikir... aku akan melepaskan mu dengan mudah?" ujar Zeha disela aktivitas nya menikmati bibir kenyal Aeri.


Tanpa melepas tautan, Aeri menggeleng kecil. Ia sungguh tak berdaya bila sudah berada dalam rangkulan Zeha. Mungkin ini adalah salah satu sebab mengapa Aeri bisa jatuh dalam pesona seorang Jeon Zeha.


"Ah!" Tanpa sengaja Aeri berteriak kecil dikala Zeha tiba-tiba menggigit kecil bibir bawahnya. Mereka saling membalas dengan dalam. Benda lunak dalam mulut saling membelit, membuat Aeri kadang merasa sesak dengan mulut yang terus terbuka. Manik Aeri terkatup rapat saat Zeha begitu lihai mempermainkan miliknya yang juga sama membalas.


Tidak melepas rangkulan pada pinggang, Zeha menarik tengkuk Aeri, memperdalam ciuman.


"Wah, suasana terasa sangat panas di sini."


Kontan keduanya menoleh. Melepas tautan secara paksa. Kedua belah pipi Aeri otomatis bersemu. Ia menunduk malu. Sialan. Seharusnya ia tidak terlena oleh ciuman Zeha. Tapi, tidak pernah sekali pun ia berhasil menolak pesona lelaki itu.


"John? Apa yang kau lakukan di sini?"


"Mencari udara segar, tetapi sepertinya aku salah tempat," sahut John tersenyum miring.


Zeha memicing tajam, tidak mempercayai apa yang John katakan. Bisa jadi lelaki penuh muslihat dan licik itu mengikutinya. Melihat tatapan tajam saling menyambar tajam diantara keduanya membuat Aeri merasa tidak enak berada di antara keduanya.


"Aku akan pergi." Aeri membawa tungkai berlari, meninggalkan kawasan tersebut.


Kedua lelaki yang saling melempar tatapan tajam, kontan terlihkan dan melihat punggung Aeri telah menjauh. Zeha menggeram kesal.


"Kau bisa melanjutkan mencari udara segarmu!" desis Zeha seraya berlalu, membuat John menarik sudut bibir.


"Kau sangat konyol Zeha. Apa kau akan pergi ke tengah pesta seperti ini?" sebelah alis John tertarik naik menatap lawan bicaranya!


"Omong kosong apa yang kau bicarakan?!"


"Kau akan ditertawakan seperti badut Tuan Zeha."


"Bicaralah lebih jelas brengsek!" dengan emosi yang membuncah, Zeha mencengkram kuat kerah baju John.


"Dari dulu hingga sekarang, kau selalu menjadi orang yang penuh emosi," ucap John tenang. Pancaran matanya pun tidak memancarkan sebarang kekesalan.


"Cih! Kau tau apa soal diriku?!" Zeha membawa tubuhnya pergi setelah menghampas kasar John.


"Kau bisa mengeceknya sendiri, jika kau tidak percaya."


Tanpa peduli apa yang saingannya itu katakan, Zeha terus membawa tungkainya meninggalkan John. Tetapi ia begitu penasaran dengan apa yang dimaksud oleh John, dan pada akhirnya, Zeha pun membawa dirinya menuju toilet.


Betapa kagetnya Zeha dikala melihat sekitar bibirnya penuh akan bekas lipstik Aeri. Kedua pipi lelaki itu otomatis memerah mengingat ciuman panas antaranya dan Aeri tadi, bahkan belepotan hingga sedemikian rupa. Jika bukan karena John, mungkin mereka masih saling bergumul dalam.


Disaat Zeha sibuk membersihkan bekas lipstik di sekitar bibirnya, John pula menyusul Aeri dengan langkah lebar. Setelah melihat wanita itu tepat dihadapannya, John tersenyum penuh makna. Ia semakin mempercepat ayunan kakinya mendekat.


Tinggal beberapa langkah lagi Aeri akan kembali bersama Yohun, bahkan ia sudah merasa lega karena sudah selesai urusan bersama Zeha, namun tiba-tiba....


Greb!


Sesuatu yang terasa keras memeluk bahunya dari belakang. Hampir lagi Aeri memberontak jika John tidak dengan cepat mengatakan siapa dirinya.


"Apa yang anda lakukan?" tanya Aeri tidak nyaman.


"Kau tau apa yang aku lakukan," tukas John, berbisik tepat ditelinga.


"Aku tidak mengerti dengan maksud anda..." Aeri berusaha untuk melepaskan diri, namun, rangkulan lengan John terasa begitu kuat.


"Kau tau, kan sejak pertama bertemu denganmu, aku sudah tertarik...."


"Anda tahu aku kekasih dari Zeha bukan?"


"Kau pikir aku buta? Hubungan kalian itu tidak nyata."


Aeri terhenyak mendengarnya. Apa yang John katakan semuanya benar. "Lalu, apa yang Anda inginkan?" Suara itu bergetar dalam ucapannya.


"Good. Aku ingin kau ikut bersamaku saat acara ini telah selesai nanti...."


"Apa?!"


"Ya,..." kepala lelaki itu bergerak pelan, mengendus-endus area leher Aeri yang terhalang oleh surai yang tergerai ke depan. Membuat Aeri merasa semakin tidak nyaman akan sikap tidak sopan John.


"Maaf, aku tidak bisa Tuan. Nanti Tn. Zeha--"


"Jangan cepat-cepat menolakku. Kau harus melihat ini dulu." Sebelah tangan John merogoh pelan saku yang berada didalam kotnya, mengeluarkan ponsel, lantas menunjukkan suatu foto, yang sontak membuat jantung Aeri memburu.


"Bagaimana?"