
Sudah tiga berlalu sejak kejadian itu. Saat kekacauan tiba-tiba terjadi di perayaan ulang tahun J'Foodies antara Zeha, John dan seorang wanita bernama Jiha. Wanita yang katanya dulu adalah kekasih Zeha. Saat Aeri pergi bersama John entah dengan alasan apa. Saat Zeha benar-benar menggila seperti yang ia katakan. Bahkan sampai diliputi berita atas kegilaan Zeha di jalan raya.
Dengan kedua mata Aeri, ia melihat mobil yang dipandu oleh Zeha seperti kesetanan melanggar apa saja yang dilihatnya. Mengacaukan ketentraman lalu lintas malam itu. Mungkin bukan Aeri saja yang melihatnya, mungkin banyak lagi orang luar sana yang menyaksikan saat kejadian yang terekam camera pengawas itu masuk ke dalam berita harian.
Betapa shock-nya Aeri waktu itu. Ia sungguh tidak menduga Zeha akan menjadi segila itu. Hal demikian, membuat Aeri merasa bahwa semua masalah tersebut berpunca darinya. Tubuhnya yang menghadap keluar jendela menunduk dalam. Sudah tiga hari ia tidak bertemu dengan Zeha. Entah bagaimana keadaan lelaki itu pun Aeri tak tahu.
"Tidak perlu memikirkan dia." Bahkan sebelum mendengar suara itu, Aeri telah berbalik karena mendengar pintu kamar yang ia tempati dibuka dari luar. "Tanpa kau di sisinya pun, Zeha akan tetap hidup dengan baik," tambah John, seraya mendekat bersama seorang pelayan wanita yang sedang mendorong troli yang di atasnya tersedia makanan untuk sarapan.
"Kau bisa pergi," perintah John yang turuti baik oleh pelayan tersebut.
"Kenapa kau tidak turun untuk sarapan?" tanya John setelah pintu kembali tertutup.
Aeri kembali membuang muka ke arah luar jendela. "Bagaimana bisa aku bergerak selesa di rumah orang asing?"
John tertawa sambil mendekat. Menarik wajah itu dari samping agar melihat padanya. "Kau bisa menganggap ku sama seperti dia, kan?"
Aeri tahu siapa yang dimaksud πππ oleh John. Aeri menarik wajah dengan sudut bibir tertarik. "Tidak mungkin Tn. John. Aku tetaplah orang asing di mansionmu ini. Walau aku baru bertemu beberapa kali denganmu sebelum kau membawaku ke sini, tetapi aku dapat merasakan bahwa kau lelaki lembut yang penuh muslihat. Licik," tutur Aeri seolah menyindir John.
Namun, yang disindir bukannya tersindir, tetapi malah semakin melebarkan garis melengkung yang tercipta di bibir. Benar-benar wanita yang menarik pikir lelaki itu.
"Aku menyukaimu," bisik John tepat ditelinga Aeri. Membuat wanita itu kontan menolak tubuh besar itu.
"Jangan keterlaluan Tn. John. Aku tidak tahu apa muslihatmu membawaku ke sini, tapi kau sudah memiliki kekasih."
Senyum yang terkesan licik itu terus terlihat. "Ternyata Zeha telah mengatakannya." John mengambil langkah mendekat. "Tapi itu bukan salahku ataupun Jiha. Dendam tetaplah dendam, dan harus dibayar."
Aeri terus bergerak mundur dikala John juga terus melangkah maju. "Kalian keterlaluan!" desis Aeri.
Tubuh kecil Aeri tersintak disaat John tiba-tiba menarik lengan itu kuat ke arahnya. "Kau tidak mengenal Zeha seperti apa Aeri, sehingga kau bisa mengatakan aku keterlaluan!" tukas John tepat didepan wajah Aeri. Bahkan nada bicaranya naik satu oktaf, mengagetkan Aeri.
Tanpa melepas cengkraman pada tangan Aeri, John merangkul pinggang ramping Aeri. "Jeon Zeha adalah lelaki berdarah dingin, kejam dan tidak berbelas kasih. Apa kau masih mencintai lelaki seperti itu?"
Alis Aeri berkedut kaget mendengar lontaran kata John pada ujung kalimat yang begitu tepat mengenai Aeri. ππ’π―π¨π’π΅ π«π¦ππ’π΄π¬π’π©? "Dia berubah menjadi seperti demikian juga karena penghianatan. Lagian, Tn. Zeha tidak mengusik siapapun kecuali orang itu yang lebih dulu menyentuh orang-orangnya," jawap Aeri lantang dan berani.
ππ’ππΆ, π’π±π’ π£π¦π₯π’π―πΊπ’ π¬π’πΆ π₯π¦π―π¨π’π― π₯πͺπ’?
Srek!
Dalam sekali tarik, tubuh kecil Aeri merapat pada John. Lelaki itu tersenyum miring, penuh damba.
"Kau sungguh wanita yang menarik, Aeri," ucap John tepat di depan wajah itu. "Kau membuatku semakin ingin memilikimu."
Aeri segera menolak jauh tubuh besar yang mendekapnya itu. "Tolong jaga sikap anda Tn. John!"
Seperti biasa, John selalu tersenyum. "Baiklah. Sekarang makan sarapanmu. Kau pasti ingin bertemu dengan ayahmu, kan?"
Sontak Aeri memicing tajam. Ia merasa sensitif apabila ayahnya disebut oleh bibir brengsek John. Namun, tindakannya itu membuat John lagi-lagi tertawa. Bukannya merasa kesal atau apa, John malah merasa Aeri begitu menggemaskan.
"Hahaha... Jangan cemas. Aku hanya ingin membawamu menemui ayahmu itu. Aku sudah katakan bahwa aku tidak akan menyentuh ayahmu, jadi aku tidak akan melakukannya."
Aeri membawa tungkainya mendekat pada makanan yang telah tersaji diatas meja. Apa yang John katakan langsung tidak bisa dipercaya.
"Hati seseorang itu bisa berubah begitu cepat Tn. John," cetusnya sambil memasukkan makanan ke dalam mulut.
....
"Buang mayatnya ke hutan!" Dinginnya suara itu memerintahkan Gary. "Lalu bersihkan tempat ini sehingga tidak ada jejak sedikitpun yang tertinggal!"
Tubuh itu bergerak menjauh setelah mengeluarkan perintah terakhirnya. Meninggalkan Gary yang terus menatapnya tanpa ekspresi. Gary terus menatap punggung tegar Tuannya itu hingga hilang disaat keluar dari gang tersebut.
Bermula pada malam itu, hingga detik ini, tidak tahu ini mayat yang keberapa Zeha selaku atasannya itu melayangkan nyawa seseorang. Tidak peduli orang itu bersalah atau tidak. Jika sudah kesal dan jengkel, maka senjata api yang bertindak.
Bukan tidak menyadari, semua ini sejak Aeri tidak bersama Zeha lagi. Seperti yang sudah Gary tebak bahwa Tuannya itu memang telah memiliki nama Aeri dalam hati. Sejak kejadian yang Gary tidak tahu kebenarannya seperti apa, wajah Zeha berubah semakin dingin dan menakutkan siapapun yang melihatnya. Aura gelap menguar, membuat orang merinding.
Disaat mengeluarkan Tuannya malam itu dari kantor polisi, bukannya tidak bertanya mengenai apa yang terjadi, namun disaat Gary bertanya mengenai Aeri, Zeha langsung mencekiknya sehingga wajah memerah dengan ancaman yang membuat Gary menelan susah salivanya. Melihat wajah itu, Gary bisa menebak apa yang telah terjadi.
Setelah menelpon anak buahnya yang tugasnya membersihkan sisa-sisa dari pembunuhan yang Zeha lakukan. Gary menatap mayat dengan isi perut telah dikorek keluar oleh Zeha tadi setelah membunuh perampok kecil tersebut dengan pistol. Perut dengan lobang yang jelas terlihat serta darah yang menyebar ke mana-mana.
Ya, benar. Lelaki bertubuh sedikit gembul yang hanya tingga jasad itu, berusaha untuk merampok sebuah swalayan yang kebetulan waktu itu sepi karena baru buka.
Sedangkan Zeha yang saat ini memang selalu ingin membunuh. Kebetulan saat melewati swalayan tersebut, manik tajam nan jeli Zeha melihat tindakan yang membuatnya menarik sudut bibir. Ia menemukan mangsa yang memang pantas untuk dilenyapkan.
"Berapa?" tanya Zeha datar, namun terkesan dingin. Ia baru saja mengambil sekaleng bir dari lemari pendingin. Melihat darah yang begitu banyak, mendadak membuatnya merasa dahaga.
"Tidak perlu Tuan. Ini sebagai tanda terima kasihku karena Tuan telah menolong ku tadi," sahut gadis itu. Dalam hati ia sempat mengagumi ketampanan seorang Zeha. Aura dingin yang menguar dari diri Zeha tidak membuatnya berhenti dan gentar dalam mengagumi Zeha.
Zeha tersenyum. Membuat tubuh gadis itu menegang melihat betapa mengerinya senyum yang tersungging tipis itu.
"Jangan salah faham nona. Aku bukan menolongmu, melainkan orang itu membuatku ingin membunuhnya. Dia membangkitkan sisi iblis yang memang telah terbangun," ujar Zeha seraya berlalu, setelah meletakkan selembar uang yang nilainya sangat jauh dari harga sekaleng bir yang dibeli.
"Ini terlalu ba--nyak...." Percuma karena zeha sudah keluar lebih dulu. Terdengar sangat kejam dan dingin, tetapi hal tersebut tidak membuat gadis itu berhenti memuja.
Sedangkan dalam mobil yang telah melaju membela jalan raya yang cukup padat pagi itu, John melirik Aeri yang terus melihat keluar jendela. Senyum miring serta merta merekah kala itu di bibir John.
"Berhenti!"
Refleks kepala Aeri menoleh pelan pada John yang kebetulan seolah menantinya. "Ikut aku turun," ujar John terkesan memerintah.
"Ada apa?"
"Nanti kau juga akan tahu." Aeri merasa aneh melihat senyum John yang terus merekah.
Dengan menghembuskan napas ke udara, Aeri beranjak keluar dengan mau tak mau.
"Wah wah wah.... lihat siapa ini," cetus John.
Deg!
Manik gelap itu bertemu pandang dengan manik kecoklatan milik Aeri tepat saat tubuh itu keluar dari swalayan. Hanya sebentar, karena Aeri segera melarikan tatapannya. Ia tidak memiliki keberanian untuk terus bersi tatap dengan lelaki tersebut.
"Aku masuk dulu."
"Eit!" John menahan pinggang itu. Membuat rahang pemilik wajah dingin itu seketika mengeras. "Bukankah kau merindukannya? Lihat sekarang dia berada di depanmu." Sengaja, tentu saja John sengaja.
"Lepas!" Aeri berusaha melepaskan cengkraman John pada pinggangnya yang terasa semakin mengencang.
"Kenapa? Kau tidak ingin menanyakan khabar Tn. Zeha-mu bagaimana?"
Kini Aeri tahu maksud dibalik senyuman John tadi. ππ¦ππ’π¬πͺ π£π³π¦π―π¨π΄π¦π¬!
Dengan takut-takut Aeri mengangkat pandangannya menemui Zeha yang detik itu menuangkan bir itu masuk ke dalam mulutnya. Ekspresi Zeha seolah mengatakan ia tidak peduli apapun yang ingin John lakukan. Aeri menunduk. Dadanya terasa sangat sakit. Jika tidak menahan, mungkin buliran bening itu akan mengalir.
"T-tuan---"
"Gary mari kita pergi!" sela Zeha, membuat Aeri mengatub rapat bibirnya.
Gary yang baru saja selesai mengerjakan apa yang Zeha tinggalkan tadi sedikit terkesiap melihat Aeri berada dalam dekapan John, sebelum tidak lama kemudian atasannya itu kembali mengeluarkan perintah yang lansung ia tanggapi baik.
"Ouh, iya." Zeha berbalik tepat di kala Gary membukakan pintu. Membawa pandangan pada Aeri setelah menatap John seketika. "Bagaimana? Bukankah bekas wanitaku lebih baik dari milikmu?"
Bibir Zeha tertarik sinis, menyayat hati kecil Aeri yang mencintainya. Kemudian, tanpa berlama-lama lagi Zeha langsung melesat masuk ke dalam mobilnya.
"Sungguh menarik," cicit John tertawa.
Aeri menyentak tangan besar John yang bertengger pada pinggangnya. Matanya memicing tajam pada John.
"Kau tidak jauh beda dengannya Tn. John!" Segera Aeri masuk kembali dalam mobil milik lelaki tersebut.