The President'S Crazy

The President'S Crazy
part.29



"M--maaf tuan ...." sambil menghapus jejak air mata di kedua pipihnya, ia merutuk habis diri dalam hati. Kini ia tidak berani mengangkat wajah walau jarak diantara kedua jelas terlihat. Belum juga pandangan mereka bertemu, ia sudah merasa malu.


Sulit dipercaya. Ia kehilangan kendali dalam mengendalikan tubuh. Tanpa sadar dirinya begitu hanyut ke dalam kesedihan hingga dalam sejenak ia melupakan status Zeha sebagai atasannya.


Bau maskulin yang menyeruak dari tubuh kekar itu mampu memberinya ketenangan bahkan hampir membuatnya terlelap dalam pelukan sang atasan.


Lelaki itu hanya diam melihat Aeri merasa bersalah padanya. Gelagat gadis itu juga terlihat canggung. Zeha bergerak memasukkan kedua tangan ke dalam kantong. Sorot matanya menatap dalam nan intens wajah sembap itu.


Ia tersenyum sinis. "Apa yang kau pikirkan?" Uacapan itu membuat Aeri kontan mendongak. "Kau tidak pernah mendapat pelukan seperti itu dari ayahmu? Hingga kau sampai bertingkah seperti ini ...," sinis Zeha dengan yang ditarik miring.


"Tentu pernah tuan, saya hanya merasa bersalah bersandar padamu," terang Aeri. Perasaan malu yang ia rasakan sekarang berlipat kali ganda karena ucapan yang terkesan menyindir itu. Kata-kata tersebut seolah menggambarkan betapa murahnya dirinya.


"Jadi, tidak perlu berlebihan seperti itu!" Tekan Zeha penuh penekanan.


Berlebihan? Memangnya reaksi refleks'nya itu sungguh berlebihan? Berbicara benar-benar hanya mengikuti keinginannya saja. Apa ia tidak tahu lidah itu senjata paling tajam di dunia? Bisa melukai lebih parah dari luka sayatan. Aeri menarik napas ringan, sebisa mungkin ia tidak memasukkan kata-kata itu ke dalam hati.


Menjadi sekretari Zeha butuh mental yang kuat. Jika bisa, ia ingin menyerahkan posisi tersebut pada orang yang merasa iri padanya. Mereka pikir enak mendampingi lelaki temperamental seperti Zeha. Berbicara tidak ditapis-tapis.


"Tapi ...."


Takut-takut Aeri mengangkat pandangan menemui manik Zeha yang entah sejak bila berada dalam jarak satu inci dengan wajahnya. Otomatis ia menarik wajah saking terkejutnya, namun, siapa sangka Zeha malah dengan sigap menahan kepalanya dari belakang sehingga tindakan itu malah semakin mendekatkan wajah mereka.


Kedua tangan kecilnya bertengger di dada bidang Zeha, mencuba menahan tubuh keras itu dari semakin mendekat padanya.


"Ayah yang ini tidak memberikan pelukan secara cuma-cuma," lanjut Zeha dengan suara berat khas miliknya.


"Maksud tu-tuan." Aeri merasa tidak aman. Sekuat tenaga ia menolak tubuh Zeha, sayang ia tidak memiliki tenaga yang banyak untuk itu.


"Kau begitu lugu, Aeri." Bibir yang memang terlihat mengerikan itu semakin mengerikan kala menyungging miring. "Dalam dunia ini, tiada yang bisa kau dapatkan secara cuma-cuma. Kau harus ingat itu."


"Baiklah... saya akan belanja tuan makan, bagaimana?" Aeri terus berusaha melepaskan diri dari tahanan Zeha. Ia membawa wajahnya menunduk, lalu menggerakkan tubuh tidak beraturan. Tetapi, tetap saja ia tidak berhasil. Ia malah semakin sesak kala Zeha merengkuh pinggangnya erat. Sedang sebelah tangan besar itu mencekal kuat tangannya di udara.


"Sekarang aku lebih ingin memakanmu." Setelah suara bisikan ditelingan yang terdengar seperti ******* yang membuat Aeri merinding dan mendelik kaget.


Dan setelahnya, Zeha pun menjatuhkan bibirnya ia buka pada bibir Aeri yang kala itu memang sedikit terbuka.


"Eumpp ...."


Cumbuan Zeha lebih liar banding pagi tadi. Ia mel*mat bibir bawah Aeri penuh nikmat membuat manik Aeri yang terpejam semakin mengatub rapat. Pergelangan dalam cekala lelaki itu terus bergerak tidak tenang, ia mencuba melepas diri.


Kepala itu bergerak kiri dan kanan mencari kepuasan seraya lidah tajam miliknya ia lesatkan masuk ke dalam rongga mulut Aeri yang telah terbuka lebar.


Rengkuhan pada pinggang kecil Aeri semakin kuat dengan tubuh yang semakin rapat. Tanpa sadar ia melenguh saat Zeha semakin memperdalam ciuman dengan membelit lidah miliknya. Semakin ke sini, ******* serta ngemutan liar Zeha menghayutkan Aeri.


Tanpa sadar, gadis itu semakin membuka bibir membalas cumbuan Zeha dengan ikut mengemut menggunakan bibirnya ia buka itu. Semakin lama cumbuan itu semakin panas yang membuat Zeha tersenyum puas. Tangan Aeri telah ia lepaskan sedari tadi. Dan kini tangannya itu terselit di balik rambut Aeri pada bagian belakang leher.


Menarik tengkuh itu sehingga bibir mungil Aeri benar-benar tenggelam lama buasnya cumbuannya. Bahkan dapat ia rasakan bibirnya bersentuhan pada gigi putih Aeri. Bibir mereka terus bergesekan yang menciptakan kelenyar aneh disaat sedang menggerakan kepala kiri dan kanan.


"Eump ... ahh ...." Mengakhiri ciuman panas itu dengan menarik bibir bawah Aeri dengan cara mengapit menggunakan bibirnya.


Benang saliva terjuntai begitu saja, membuat lelaki itu kontan membersikan dengan tangannya. Napas Aeri juga terdengar tidak beraturan karena ulahnya. Melihat itu, ia cukup puas.


"Ternyata kau juga menikmatinya," bisik Zeha tepat di hadapan bibir bengkak itu.


Aeri menunduk. Sial, ia benar-benar malu sekarang. Ia menggigit bibir bawa merasa wajahnya seperti ingin meletup. Ia tidak menafikan cumbuan Zeha membuatnya terlena, karena memang semenjak Zeha sering menciuman, itu membuat ia merasa candu. Ia memaki pikiran kotornya itu.


Aeri semakin bersemu mendengar Zeng mengklaim bibir sebagai miliknya. Dengan cepat ia melepas diri, lalu menatap malu pada Zeha yang tidak berhenti memandangnya.


"Saya pergi dulu." Dengan gerakan kilat, Aeri menunduk dan berlalu dalam sekelip mata hingga tanpa sadar berhasil membuat Zeha tersenyum tipis, lain dari lainnya.


"Sepertinya aku memang beruntung," cicitnya menyentuh bibir. Lagi-lagi ia tersenyum samar tanpa sadar.


Kemudian, barulah ia meraih ponsel miliknya dan mendail nomor Gary yang tersimpan di dalamnya. Setelah tersambung, ia langsung beruba menjadi dingin tak tersentuhkan.


"Kau di mana?"


"Saya berada di depan ruangan anda."


"Masuk sekarang!"


Panggilan pun terpotos. Ia membawa kembali tubuhnya saat mendengar pintu ruangannya diketuk.


"Masuk," perintahnya, menjatuhkan bokong pada bangku kebesaran miliknya.


"Kau berada di dalam lif yang sama dengan Aeri tadi, kan?" Ia bertanya dengan kaki yang disilang, sembari menyandarkan punggung.


Gary hanya mengangguk sebagai jawapan.


"Kau ingat wajah-wajah yang telah menyakiti gadis itu?" Dan sekali lagi, Gary kembali mengangguk. Tidak perlu heran, karena Gary memang orang yang irit bicara dengan wajah sangar yang jelas.


"Bagus. Sekarang ikut aku ke bawah!"


Tanpa berlama-lama lagi, Zeha pun beranjak berjalan dengan langkah tegas meninggal ruangan bersama dengan Gary yang mengekori. Aura gelap tampak menyelimuti wajah tampan nan dingin itu.


"Kau di sini saja!" Perintah itu meluncur dingin dikala merasa Aeri bergerak untuk mengikutinya.


Aeri yang mendapat larangan berupa perintah tersentak kaget di tempat. Ia melihat lelaki itu menghilang ditelan lif. Dalam sekejap lelaki itu beruba, itulah yang Aeri pikirkan. Ya, ia senang-sih tidak perlu mengikuti Zeha terus menerus, walau sebenarnya posisinya saat itu dituntut untuk terus mengekori sang atasan.


Tapi, bagaimana jika atasannya sendiri yang melarangnya? Ia tidak bisa berbuat apa-apa, kan.


Dalam lif wajah dingin Zeha tidak terkatakan lagi. Aura gelap yang menyebar akan membuat orang-orang takut untuk mendekat, tapi itu tidak berlaku pada Aeri. Sial, ia tiba-tiba teringat pada gadis lugu itu.


Zeha adalah anak dari pemilik dan pendiri perusahaan tersebut. Yang kini telah mejadi miliknya. Itu bermakna tiada yang bisa lebih berkuasa dari dirinya.


Mengingat ada karyawan yang semena-mena di gedung milik keluarganya itu membuatnya menggeram. Ia paling benci jika ada yang bertingkah semena-mena di sana, apalagi yang mereka ganggu itu sekretaris yang ia tunjuk lansung.


Ini bermakna, tiada yang berhak menginjak-nginjak, menghina atau bahkan mencaci Aeri selain dirinya.


"Panggil mereka!" Perintahnya setelah mereka telah sampai pada bagian pengunguman.


Ini sudah kedua kalinya ada yang berani berbuat hal dalam J'Foodies setelah kejadian di lobi hari itu.


Tanpa banyak bertanya, Gary segera melaksanakan perintah atasannya itu. Meletakkan mulutnya pada mic yang berada di sana, lalu menyebutkan satu persatu nama dari yang telah menganiaya Aeri dan meminta mereka datang ke lantai sekian.


Kaki Zeha sengaja ia ketuk-ketukkan pada lantai dengan tangan yang terlipat didepan dada sembari menunggu kedatangan stafnya yang berjumlah empat orang.


Selang beberapa menit karyawannya itu pun datang dan lansung berdiri takut di hadapannya.


"Apa kalian berhak atas sekretariku?!"