
"Ingat apa yang harus kau katakan nanti."
Saat itu lif baru saja terbuka kala Zeha tiba-tiba bersuara yang membuat Aeri kontan menoleh, bola matanya mengikuti pergerakan Zeha yang melangkah keluar. Seperdetik kemudian, barulah Aeri melangkah keluar mengikuti Zeha dari belakang.
"Apa kau mendengarkanku?" Zeha menoleh tajam tanpa membalik badan, membuat Aeri tercegat kaget. Gadis yang berdiri di belakangnya itu begitu berani mengabaikannya.
"I-iya Tuan," sahut Aeri tergagap.
"Aku tidak ingin mendengar alasan apapun lagi!" Setelah mengatakannya dengan tegas, Zeha kembali membawa langkahnya menuju apartemen yang tidak jauh lagi.
Helaan napas terdengar dari bibir Aeri. Ia menatap punggung lebar Zeha yang terus bergerak, lalu tangannya bergerak menyentuh bekas kecupan yang meninggalkan jejak di leher bagian belakangnya. Aeri tidak mengerti dengan sikap dari atasannya itu, sekejap dingin, emosian, kadang juga suka penuntut sesuatu yang tidak jelas dan kadang memperlakukannya begitu lembut seolah dirinya begitu bermakna bagi lelaki itu.
Entahlah, Aeri tidak tahu harus berkata apa lagi karena ia sulit untuk mengerti atasannya itu. Aeri tidak bisa menebak setiap sikap yang akan Zeha tunjukkan.
Tiba-tiba Aeri tersadar dari lamunan sesaat setelah ia mendengar suatu bunyi yang begitu nyaring. Refleks kaki Aeri mengambil langkah lembar menuju apartemen Zeha yang telah terbuka beberapa detik sebelum bunyi yang terdengar seolah ada yang pecah.
"Tu ... ann ...."
Aeri terkaget melihat seorang wanita berada di dalam gendongan sang atasan. Kaki wanita itu melingkar erat pada pinggang Zeha dengan lelaki itu memegang di sana agar sang wanita tidak terjatuh. Secara perlahan Aeri melihat gelas berisi wine pecah dan berserakan bersama isinya. Rasa cemas yang sempat Aeri rasakan seketika hilang melihat adegan panas dengan bibir saling meraup liar yang jelas di depan mata.
"Se In cukup! Apa yang kau lakukan di sini?" Zeha memaksa untuk melepaskan tautan bibir mereka. Sebenarnya ia cukup kaget saat membuka pintu apartemen dan melangkah masuk wanita itu sudah berlari dan melompat dalam gendongannya, lalu menyambar bibirnya dengan liar. Ya, sudah pasti Zeha terpancing dengan permainan Se In, lantas ia pun ikut memagut liar bibir yang duluan membungkamnya.
Zeha membalik badan saat melihat Se In malah terfokus ke arah pintu tanpa berniat membalas pertanyaanya.
"Dia siapa?" Se In menunjuk ke arah Aeri yang sontak membuat gadis itu merasa bersalah walau hati turut merasa sakit. Entahlah Aeri tidak tahu alasannya.
"Dia se--"
"Saya pelayan di sini, nona," sahut Aeri cepat menyela Zeha. Lelaki itu mendelik tajam. Berani sekali Aeri menyelahnya.
Sungguh tidak masuk akal jika sekretaris berada satu atap dengan presdirnya dan pasti ia yang akan dicurigai konon telah menggoda sang atasan. Jadi dengan mengatakan ia adalah pelayan merupakan pilihan yang terbaik walau hal tersebut terdengar rendah.
"Maaf telah mengaggu kalian," ujar Aeri tanpa mengangkat pandangan. Dia tidak tahu saja bagaimana saat itu Zeha memandangnya. "Silah lanjut, saya tidak akan mengganggu lagi." Aeri pun undur diri sebelum suara berat nan tajam Zeha menghentikannya.
"Apa aku mengatakan kau bisa pergi?!"
Zeha meletakkan Se In dari gendongan ala koalanya. Namun, Se In tetap bergelayut, mengalungkan tangannya di leher kekar Zeha. Ia merasa tidak puas hati saat Zeha menurunkannya. Dan satu lagi, kenapa Zeha malah menahan pembantunya itu pergi?
"Kau tahu apa yang ingin kau katakan, kan?"
Zeha ingin melihat manik teduh itu, tetapi sang empu malah menunduk terus tanpa ingin menatapnya. Bukan Zeha tidak tahu bahwa Aeri tadi melihatnya berciuma dengan Se In, jadi pasti Aeri merasa tidak nyaman saat itu.
"Ta--tapi Tuan ...."
"Biarkan dia pergi Zeha .... aku merindukan mu," lirih Se In mencium wajah Zeha secara bertubi-tubi.
"Aku ingin mendengarnya sekarang!" Tekan Zeha, mengelak dari semua ciuman Se In yang mulai membangkitkan sesuatu dalam dirinya.
"Kami hanya kebetulan bertemu di supermarket, lalu karena melihat saya berjalan pincang-pincang, Yohun pun berinisiatif untuk mengantar saya."
"Sepertinya dia begitu memerhatikanmu, ya?" Aeri tidak menyahut, ia hanya bergeming dengan kepala menunduk.
Se In hanya melihat interaksi antara keduanya yang terkesan aneh. Soalan yang Zeha lontarkan seolah lelaki itu ... cemburu. Se In menafikan itu karena ia tahu Zeha begitu membenci wanita
"Kau tidak bisa pergi. Tetap di sini, buatkan kami makan malam yang enak karena kami pasti akan kehabisan tenaga nantinya," tukas Zeha mengalihkan tatapan mata penuh gairah pada Se In, lantas kembali mengangkat wanita itu ala koala.
Zeha mencium sekilas bibir ranum berisi Se In. "Katamu kau merindukan ku?"
Se In mengangguk dengan senyum genit. "aku sangat merindukan setiap sentuhanmu di tubuhku," ujar Se In seksual dengan napas terkesan berat.
Seketika Zeha meremas bokong padat milik Se In sehingga berhasil membuat Se In melenguh kecil. "Jika seperti itu mari tuntaskan rasa rindumu itu."
"Oh, iya. Tolong bersihkan pecahan gelas itu, ya. Tadi aku tidak sengaja menjatuhkannya saat melihat Tuan Zeha masuk," perintah Se In bak nyonya tanpa melihat Aeri.
Tangan Se In dengan cepat membuka blouse transparan berwarna cream yang menampakkan ********** yang berwarna merah merona. Mengeluarkan sebelah miliknya yang kenyal lalu ia masukkan ke dalam mulut Zeha yang bergerak membuka pintu dengan tidak sabaran.
Mata tajam Zeha terus terarah pada Aeri walau bibirnya menikmati milik Se In yang menggantung. Mengemutnya bak es krim hingga tak ayal membuat sang empu melenguh kecil. Sehingga pintu kamar Zeha tertutup pun, lelaki itu masih memerhati Aeri yang tampak mulai memungut satu persatu pecahan kaca, ulah wanita dalam gendongannya. Sebelum benar-benar rapat, Zeha melihat tangan Aeri mengeluarkan darah.
"Ada apa?" Tanya Se In kala Zeha tiba-tiba melepaskan miliknya hingga rasa yang membuatnya melayang hilang dalam sekejap menyisakan rasa yang menyiksa diri.
"Tidak ada," dalih Zeha kembali memasukkan buah kembar yang telah basah ke dalam mulut besarnya seraya sebelah tangan membuka semua kancing blouse milik Se In yang tersisa, sementara kaki terus bergerak ke arah ranjang.
Aeri yang terus meringis merasakan perih di jari manisnya yang teriris kaca mengakui bahwa atasannya itu benar-benar brengsek. Bisa-bisanya mereka melakukan hal menjijikkan itu di hadapannya? Baru kali ini Aeri menyaksikannya benar-benar di depan mata, secara langsung tidak seperti saat ia melihatnya dalam mobil seperti hari itu.
Ya, walaupun Aeri terus menunduk, tapi Aeri tahu apa yang terjadi. Kurang ajar! Dan sialnya, kenapa ia malah merasa kecewa? Ini semua tidak ada kaitan dengannya. Biarlah mereka ingin melakukan apa pun.
Sekilas Aeri menatap pintu yang tertutup rapat sebelum sesaat ia berdecak dengan alasan tidak jelas.
Setelah membersihkan pecahan kaca serta mengepel lantai yang kotor karena cairan wine, Aeri pun memasakkan menu makan malam untuk atasannya beserta wanita yang mungkin adalah kekasihnya. Aeri mulai memasak dengan perasaan yang sulit untuknya mengerti.
Sambil mengeluarkan bahan-bahan yang akan Aeri masak, bibirnya tidak berhenti menggerutu tidak senang dengan kelakuan Zeha yang memerintahkannya seperti memerintahkan seorang pelayan sungguhan. Aeri memang mengatakan bahwa ia hanya seorang pelayan di depan wanita itu, tapi tidak perlu juga sampai memerintahkan seperti ini.
Apa? Memasak untuk mereka berdua? Enak saja lelaki itu! Ditambah sekarang jarinya terus berdenyut nyeri membuatnya sesekali meringis sedang mereka berdua sedang bermesraan di dalam sana sampai ******* wanita itu pun terdengar. Aeri mencibir. Sungguh tidak tahu malu.
Aeri tidak mood untuk memasak makanan yang enak, jadi ia akan memasak masakan yang simple dan mudah. Soup dan telur gulung polos. Peduli apa jika Zeha akan memarahinya nanti. Ia akan memasak makanan enak hanya untuk ayahnya saja.
"Buatkan kami makan malam yang enak karena kami pasti akan kehabisan tenaga nantinya," ucap Aeri tiba-tiba mengikuti cara bicara Zeha tadi.
......
Sementara di dalam kamar keduanya sudah full naked, berbaring di atas ranjang dengan tubuh Se In berada di bawah kuasa Zeha, ia membiarkan bibir hangat lelaki yang sudah sering menjamah tububnya itu bergelirya kesetiap incin tubuhnya yang meliuk-liuk tidak tenang. Apalagi saat Zeha memanjakan kedua gunung kembar miliknya secara bergantian, ia sudah beberapa kali datang walau Zeha belum memasukinya.
D*d*nya membusung hebat dengan tangan memeluk kepala Zeha yang tepat berada di atas puncaknya yang menegang, memainkan dengan lidah sembari sebelahnya dimainkan menggunakan tangan besar lelaki itu.
"Ze ... hahh aku sudah tidakkkkh tahan uhh!"
"Kau seolah tidak pernah melakukannya. Selama aku tidak menidurimu kau pasti tidur bersama lelaki lain, kan?" Tukas Zeha melepas buah kembar Se In yang telah mengkilat karena air liur, lantas menggantikan dengan tangan. Ia mengurut benda itu dengan kuat hingga membuat sang empu langsung mendes*h panjang.
"T-tapihh uhh tidak ada yang lebihhh hebat darimuhhh ...."
"Dasar jala** liar!" Tukas Zeha langsung menyambar ganas bibir Se In yang terbuka karena terus mendesah.
Tangan Zeha membuka lebar kaki Se In, lalu ia tekukkan. Kemudian, Zeha memposisikan miliknya yang telah menegang kepusar inti milik Se In.
Tetapi disaat ia ingin menerobos masuk tiba-tiba moodnya untuk melakukan hal tersebut hilang walau pusakanya telah menegang.
Jujur sedari tadi Zeha terus memikirkan Aeri, apalagi setelah ia melihat jari sekretarisnya itu mengeluarkan darah segar tadi. Zeha mencuba untuk mengalihkan pikiran itu dengan terus mengerjai tubuh wanita di bawahnya itu, tetapi tidak berhasil. Bahkan sesekali wajah Aeri terbayang saat ia mencumbu liar bibir Se In.
Setelah melepaskan tautan, Zeha bangkit sehingga membuat sang wanita yang berada di puncak merasa bingung. "Ada apa?"
"Aku tidak mood. Pakai bajumu dan pergilah!" Perintah Zeha kembali dingin seraya mengambil celana kulot pendek berserta singlet yang memperlihatkan lengan kekarnya.
"Tapi aku sudah ti--"
"Kau bisa melakukannya dengan lelaki lain, kan?"
"Kau tiba-tiba menolakku. Apa ada masalah dengan tubuhku?!"
"Masalahnya ada padaku."
"Pasti kau memikirkan wanita tadi yang katanya pembantumu itu, kan?" Se In sudah menebak ada kisah diantara mereka yang tidak ia ketahui.
"Cerewet! Apa kau ingin kepalamu hilang?" Se In refleks mengatub bibir dengan kepala menggeleng pelan.
"Ya, sudah bakai baju dan segera pergi!"
Zeha pun keluar meninggalkan Se In dalam keadaan masih bergairah tanpa pelepasan yang memberi kepuasan. Secara perlahan Zeha melangkah ke arah dapur sebelum telinganya mendengar Aeri mengikuti cara bicaranya yang memerintahkan gadis itu memasak. Kedua sudut bibir Zeha otomatis tertarik menghasilkan senyum tipis yang terkesan manis.
"Senang, ya?"