
||Flashback||
"Apa?! Jadi lelaki itu tuan muda di perusahaan kita?"
Yuri mengangguk. "Lalu, jelaskan padaku, mengapa tuan muda Zeha seolah mengenal dirimu?" Pandangan Yuri memicing. Situasi pagi tadi sungguh membuatnya tidak habis pikir.
"Sumpah, aku tidak mengenal tuan muda. Lalu bagaimana aku akan menjelaskan padamu? Bertemu saja baru pagi ini."
"Terus apa yang tuan muda bisikkan tadi?"
"Kwon Aeri?"
Sontak kedua gadis itu menoleh pada sumber suara. Taehoon yang notabenya adalah sopir pribadi sekaligus asisten Tn. Jeon berdiri tidak jauh dari kedua gadis cleaning service itu.
"Iya, tuan?" sahut Aeri mengernyit bingung. Dalam hati menerka sesuatu yang negatif, namun Aeri yakin bahwa ia tidak melakukan sesuatu yang salah ataupun menyinggung seseorang. Sedikit sebanyak Aeri merasa takut.
"Tn. Jeon meminta kamu untuk datang keruangannya," sambung Taehoon. Hati lelaki itu sedikit tergelitik kala melihat tingkah kaget kedua gadis di hadapannya itu.
Saling melempar pandangan seolah saling bertanya 'ada apa ini?' dentuman jantung Aeri pun semakin menggila. Selama ini tidak pernah sekali pun Tn. Jeon memanggilnya. Apa mungkin tanpa Aeri sedari, ia telah melakukan kesalahan yang membuat Tn. Jeon turun tangan?
"Ada apa ya tuan?" Aeri bertanya takut-takut.
"Kamu akan tahu nanti."
Aeri menelan kasar salivanya. Menoleh sekilas pada Yuri sebelum mengikuti langkah Taehoon yang akan membimbingnya keruangan Tn. Jeon. Kedua tangan Aeri terus saling memelintir gelisah. Berharap apa yang akan terjadi nanti tidak seburuk apa yang ada dalam pemikirannya.
Sudah setengah tahun Aeri bekerja sebagai cleaning service di perusahaan tersebut, dan untuk pertama kalinya Aeri berdiri di dalam ruangan mewah milik sang presiden. Apalagi saat ini keberadaan Aeri langsung dari perintah sang presiden, Tn. Jeon.
Aeri menunduk, tidak berani untuk bersitatap dengan sang pemilik perusahaan.
"Kamu yang namanya Kwon Aeri?" Tn. Jeon bertanya.
"Nae, hwajangnim," sahut Aeri takut.
"Aku akan langsung pada intinya saja." Aeri menelan kasar salivanya lantaran takut. Bagaimana jika ia diberhentikan? Tapi Aeri tidak melakukan sesuatu yang salah. Kan?
"Saat Zeha memintamu untuk menjadi sekretaris'nya, sebisa mungkin kamu menolak."
||Flashback off||
Aeri berakhir di dalam WC. Sungguh jika ia tidak mengingat siapa itu Zeha, mungkin Aeri sudah melayangkan tangan pada waiah tampan itu. Aeri menatap pantulan diri dalam cermin di depan wastafel dengan kedua tangan memegang sisi wastafel.
Tanpa Tn. Jeon meminta pun, Aeri memang akan menolaknya, karena ia tahu, ia tidak layak untuk berada di posisi tersebut.
"Sialan kau Yuri! Bagaimana bisa kau pergi meninggalkan aku di sana?!" Aeri dibuat kesal sendiri mengingat Yuri meninggalkannya begitu saja.
Drrt... Drrt
Vibrate yang berasal dari saku celana, membuat Aeri segera meraih benda pipih tersebut. 'Rumah sakit' terterah sebagai pemanggil.
"Hello...."
Mengetahui siapa yang menelpon sontak membuat Aeri takut dengan jantung yang berdetak cepat.
"Ayah anda dalam masa kritis dan harus segera ditangani. Harap segera datang untuk melakukan prosedurnya...."
"Apa!?"
Detak jantung yang tadinya telah berdetak cepat semakin melaju bagai dikejar anjing gila. Apa yang Aeri takutkan terjadi juga. Manik bening itu berembun dengan cepat, bersamaan dengan tubuh yang bergetar takut. Bahkan lutut serasa tidak mampu menopang berat tubuh Aeri lagi.
Ponsel yang menempel pada telingan merosot secara perlahan, jatuh bergantungan di genggaman tangan kecil itu. Kenapa masalahnya semakin berat untuk ia pikul?
"Ya tuhan... Harus di mana aku dapatkan uang itu?" lirih Aeri menunduk.
Aeri pun berlalu dengan langkah cepat, mencari keberadaan Yuri yang entah berada di mana.
"Yuri...." dengan langkah panik Aeri mendekati Yuri yang tampak sedang mengepel lantai lobi.
"Kau kenapa?" Yuri bertanya cemas disaat melihat Aeri dengan napas yang tersengal-sengal, bahkan sampai menekuk lutut. "Ada apa? Apa yang terjadi?"
"Aku mohon, bantu aku," ujar Aeri, ngos-ngosan.
"Bantu apa? ... Cuba kau tenang dulu, tarik napas dalam dalam."
"Aku mahu pinjam uang. A-ayahku masuk ICU, aku harus segera ke rumah sakit. Aku mohon," lirih Aeri berlinang air mata. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi.
Bukan tidak ingin membantu tapi, Yuri sendiri tidak punyak uang sebanyak yang Aeri butuhkan. Bahkan ia sendiri ada nenek yang sakit-sakitan yang harus selalu membutuhkan uang.
Ketidak berdayaan Yuri membuatnya meneteskan air mata. Jujur ia merasa sangat iba dan kasiha pada temannya, Aeri, nasib mereka tidak jauh beda.
"Aeri-ah... Kau tau sendirikan kehidupanku seperti apa.. Bukan aku tidak ingin membantumu, tapi aku tidak punya uang sebanyak itu."
Aeri mengangguk lemah. Ia sangat tahu keadaan Yuri. Dan tidak seharusnya ia meminta pertolongan pada Yuri.
"Maaf...." untuk sesaat pikiran Aeri kosong, tidak tahu harus kemana meminjam uang sebanyak itu. Hingga membuat Yuri menjadi kandidat mutlak walau tahu keadaan temannya itu.
"Cuba kau pinjam pada tuan muda eh.. maksudku tuan Zeha. Itu tempat yang pas untuk kau meminjam."
Sontak bibir bawah menjadi sasaran Aeri, mengigit-gigit benda lunak tersebut tanpa disadari. Menjadikan tempat tersebut kebiasaan disaat dilanda gelisah. Berpikir, mungkinkah ia harus melakukan itu?
Saat mengingat sifat Zeha, sungguh Aeri tidak ingin terlibat semakin jauh dengan lelaki itu, namun jika demikian harus pada siapa lagi Aeri meminjam uang sebanyak itu? Sedangkan sang ayah sedang meregang nyawa di rumah sakit.
Semoga tindakan ini benar. Itulah yang Aeri harapkan.
"Aku harap begitu." setelah mengatakan itu, Aeri segera berlalu menuju lift khusus presiden. Meninggalkan Yuri yang menatap kepergiannya. Tidak perlu menunggu terlalu lama hingga lift terbuka. Tanpa membuang waktu lagi Aeri segera masuk lantas menekan tombol yang akan membawanya menuju tingkat tertinggi di bangunan itu.
***
"Ini semua file yang anda minta tuan..." Seoji, seketaris Tn. Jeon meletakkan setumpuk file yang berkaitan dengan semua pekembangan J'Foodies dari semua aspek. Beberapa menit yang lalu, Zeha yang kini telah menjabat sebagai presiden menggantikan sang ayah, meminta semua file tersebut untuk memahami semua dari akarnya.
"Apa baru-baru ini perusahaan ada melakukan kerjasama dengan mana-mana perusahaan?" tanya Zeha sembari mulai memeriksa file-file tersebut satu-persatu.
"Iya, tuan. Seminggu yang lalu Tn. Jeon baru saja menandatangani surat kerjasama dengan Hotel'Kim setelah hampir sebulan Tn. Jeon menyimak proposal dari pihak Hotel'Kim," terang Seoji, menatap lurus pada Zeha yang tampak serius. Tangan gadis tinggi selampai nan anggun itu bahkan saling bertaut di hadapan tubuh, menunjukkan betapa profosional dirinya.
"Hm...." Zeha hanya manggut-manggut sebagai respon. Maniknya sebuk menyimak apa yang tertulis dalam file yang kini berada dalam pegangan tangan.
"Baiklah, kau bisa pergi."
Seoji pun lantas menundukkan setengah tubuh, kemudian berlalu pergi dengan tenang. Dirinya memang seketaris bagi Tn. Jeon, namun kini yang menjadi atasannya adalah Zeha--anak dari Tn. Jeon. Dan ia bukan sekretaris bagi lelaki yang berumur 27 tahun itu.
Tok tok tok
Tidak berselang lama, pintu ruangan Zeha kembali diketuk dari luar, dan langsung ditanggapi oleh pemilik ruangan hingga Seoji pun terlihat diambang pintu yang dibuka oleh wanita itu.
"Tuan... Aeri ingin menemui anda."
Mendengar saja nama Aeri disebut membuat kepala berwajah dingin itu mendongak, melihat kearah Seoji, bersamaan dengan sudut bibir yang melengkung miring.
"Biarkan dia masuk," titah Zeha, kembali fokus pada file yang berada di tangan. Sungguh dalam hati sangat penasaran dengan niat kedatangan gadis mungil tersebut.
Zeha tersengeh seraya menyapu bibir bawah dengan lidahnya.
Tok tok
"Masuk," perintah Zeha terdengar dingin.
Pintu ruangan dibuka dengan berhati-hati. Tanpa melihat, Zeha tahu bahwa gadis itu mendekat dengan perasaan was-was. Apalagi saat ia sengaja mengabaikan kedatangannya.
Setelah membuat Aeri berdiri untuk beberapa menit lamanya, akhirnya Zeha mengangkat wajah beraura dingin itu. Menatap Aeri yang tersentak kaget disaat ia tiba-tiba mengangkat wajah. Karena jujur, melihat kesibukan Zeha membuat Aeri takut untuk bersuara.
"Ada apa?" suara berat itu membuat Aeri menelan susah salivanya. "Apa kau akan terus berdiri, tanpa mengatakan maksud kedatangmu?"
Entah mengapa Zeha terasa berbeda disaat duduk di kursi president, pikir Aeri. Ada aura yang menyebar disekitar lelaki itu, membuat siapa saja yang melihatnya bergidik ngeri. Aeri tidak tahu apa itu, namun manik gelap Zeha yang menghunus dingin padanya mengatakan semuanya.
Dengan memelintir tangan, Aeri berujar takut. "S-saya ingin meminjam uang."
Zeha menarik tubuh, bersandar pada sandaran kursi kebesarannya. "Berapa?"
"Satu m-milliar." sungguh Aeri merasa begitu takut untuk mengatakan nominal tersebut, karena itu bukanlah jumlah yang sikit. Bagaimana jika permintaannya ditolak karena jumlah tersebut?
Sebelah alis Zeha reflek tertukik naik. Meskipun satu milliar bukan apa-apa baginya, tetap saja ia cukup terkejut mendengarnya. Walau bagaimanapun itu bukan jumlah yang sikit bagi gadis tersebut.
"Itu bukan jumlah yang sikit bagimu. Kau ingin melakukan apa dengan uang sebanyak itu?"
"Maaf, hwajangnim. Itu urusan pribadi saya," sahut Aeri. Ia cukup kesal mendengar pertanyaan itu. Seolah semua harus dilaporkan padanya.
Zeha beranjak bangkit dengan bibir yang tersungging miring. Dalam hati mengiyakan ucapan Aeri. Sebelum itu ia telah menekan satu tombol untuk mengunci pintu ruangan tersebut. Membawa tubuh tegap mengitari meja, lantas menyandarkan bokongnya pada pinggiran meja-tepat di hadapan Aeri.
"Kalau begitu, katakan mengapa saya harus memberimu pinjaman?" terkesan angkuh memang. Seakan di dunia ini, hanya ia yang memiliki uang, cih. Apalagi kini Zeha melipat tangan di dada tanpa melepaskan pandangan dari wajah Aeri yang terdiam dengan pertanyaan itu.
Aeri memutar otak untuk mencari jawapan dari pertanyaan Zeha. Namun ia tidak bisa memiliki jawapan dari pertanyaan tersebut. Jika saja Zeha bisa mendengar isi hati Aeri, ia pasti akan terkejut mendengar makian tentang dirinya.
"Mohon anda berbaik hati," tukas Aeri sembari menundukkan kepala, berharap Zeha mengasihaninya.
"Saya akan menjadi seketaris anda." Tiba-tiba saja Aeri teringat akan perkataan Zeha yang meminta dirinya menjadi seketaris.
"Kau sudah menolaknya, kan?"
"Tidak, saya akan melakukannya dan melakukan apapun yang anda inginkan," sahut Aeri cepat. Tolonglah, ia sangat membutuhkan uang itu.
"Hmm...." Zeha mengangkat bokong, menjauh dari meja. Sembari seolah berpikir, Zeha secara perlahan mengitari tubuh Aeri yang mendadak kaku disaat Zeha melakukan hal tersebut. Untuk mengangkat wajah saja, ia tidak berani.
"Kau sudah menolak dan sekarang kau ingin aku menerimamu? Apa kau sungguh tidak tau diri?"
Aeri tersentak kaget disaat tiba-tiba Zeha berbisik tepat ditelinga dari arah belakang. Napas lelaki itu bahkan menyapu permukaan kulit leher Aeri. Akan tetapi, apa yang Zeha katakan membuat Aeri terdiam seribu bahasa.
Bibir Zeha tersungging miring tanpa disadari oleh Aeri. Lelaki itu cukup menikmati mengganggu seorang Aeri. Bukankah ini hukuman yang pas dari penolakan gadis itu?
"Boleh, tapi...."
"Ahkkk!"
Puk!
Teriakan itu melengking kuat saking kagetnya Aeri dibuat oleh tindakan tiba-tiba Zeha yang mengangkat tubuhnya. Mendudukkan di atas meja kerja. Lantas kedua tangan kekar Zeha mengungkung Aeri yang bergeming.
"A-apa yang anda lakukan?"
Ingin segara turun, namun pergerakannya sudah dikunci oleh Zeha. Hingga terpaksa memilih diam daripada gerakannya malah membuat Zeha semakin dekat. Aeri menunduk. Mata tajam Zeha terus menghunus padanya. Bahkan Aeri merasa seakan berdiri diujung jurang yang terjang.
"Bukankah kau harus melakukan sesuatu? Penolakanmu membuatku merasa malu.... Aku bisa saja menerimamu dan memberikan pinjaman, tapi tergantung dari tindakan yang kau lakukan."
Aeri meremas jari. Ia tidak berani menatap mata tajam itu. Juga tidak seberapa mengerti maksud dari ucapan tersebut, namun mampu membuat jantungnya bergemuruh resah.
Sedang gelisah memikirkan sang ayah yang kritis di rumah sakit dan kini, Zeha malah menambahkan lagi. Aeri memeras otak, mencari tindakan apa yang harus ia lakukan, tetapi tetap nihil. Padahal Aeri memerlukan uang itu sekarang. Ya tuhan, apa yang harus ia lakukan?
Ckk!
Zeha berdecak kesal melihat Aeri menggigit-gigit kecil bibir bawah dengan tampilan bingung. Sedari tadi tindakan itu entah bagaimana bisa membuatnya resah gelisah.
"****!" Bibir itu memanggilnya terus-menerus, seolah meminta untuk dicium dan dikulum.
Umpatan yang terdengar samar itu menarik Aeri untuk mengangkat wajah. Tidak jelas, namun ia yakin itu kata umpatan. Tapi, apa yang ia lakukan hingga mendapat umpatan itu?
"Sial!" Zeha menggeram tertahan, mengusap wajah kasar dan...
Cup!