The President'S Crazy

The President'S Crazy
part. 79



Dengan perasaan yang diselubungi perasaan cemas, Yuri menelpon nomor Sehun.


"Tolong angkat...."


Setiap deringan yang didengar oleh indra pendengaran Yuri, setiap itu juga perasaan gelisah meningkat hingga deringan ketiga yang langsung mendapat tanggapan dari pemilik nomor tersebut.


"Sehun?!" seru Yuri cemas.


"Ada apa? Baru sekejap, kau sudah merindukan ku?"


"Ckk, diam!" serga Yuri emosi. Ia merasa kesal juga takut dalam masa yang bersamaan. Yuri tidak ingin kehilangan lelaki yang telah berjaya menyentuh hatinya itu.


"Sehun aku rasa kau dalam bahaya? Turunkan kelajuanmu."


"Hh? Apa maksudmu?"


"Aku melihat sesuatu di bawah mobilmu tadi... sesuatu yang terlihat seperti minyak," ujar Yuri dengan suara bergetar.


Sebelah kaki Sehun otomatis menginjak pedal rem, dan benar saja, rem mobilnya tidak berfungsi. 𝘚𝘩𝘪𝘵! Walau berapa kali pun Sehun mencuba, tetap saja apa yang berada tepat di kakinya itu tidak berfungsi.


Bermakna apa yang Yuri lihat tadi adalah oli rem yang bocor.


"Oli remku bocor," tukas Sehun semakin membuat Yuri khawatir.


"Seperti yang aku duga. Lalu, aku harus bagaimana?"


Sehun tersenyum mendengar suara Yuri yang begitu jelas merasa takut akan terjadi sesuatu padanya. Lain yang berada dalam bahaya, lain yang merasa cemas. 𝘎𝘦𝘮𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢.


"Apa yang perlu kau lakukan adalah membiarkanku memilikimu," tutur Sehun lembut. Ia seolah tidak berada dalam bahaya.


"Jangan bercanda! Nyawamu bukan ada 10 brengsek!" emosi Yuri. Maniknya bahkan mulai berembun.


"Aku tidak bercanda. Apa yang aku lakukan dan tunjukkan padamu tidak ada candaan. Semuanya benar."


"Aku tidak peduli. Aku ingin kau selamat! Ini adalah perintah Oh Sehun!"


Lagi dan lagi Yuri berhasil membuat lelaki di sebarang itu tersenyum tampan walau sedang dalam bahaya. "Seperti yang kau inginkan. Aku akan kembali padamu dengan sela--"


Yuri menahan napas. Suatu bunyi seperti terjatuh mengagetkannya bersamaan dengan terpotongnya suara Sehun. Dadahnya memburu cemas.


"Sehun?!" Lama menunggu, namun tetap saja tiada sahutan, apa yang terdengar hanyalah bunyi decitan ban yang bergesekan kasar pada aspal.


"Sehun!"


"Oh Sehun!" Itu adalah panggilan terakhir Yuri sebelum sambungan itu terputus.


Dengan tubuh bergetar, Yuri hanya mampu berdoa dalam hati. Harap-harap lelaki itu selamat.


Sedangkan Sehun, karena ingin menyelamatkan seekor anak anjing dari kena tabrak oleh mobilnya, ia memutar steringnya dengan mengejut. Alhasil, ponsel yang dipegangnya terlempar begitu saja. Karena sedikit turunan, Sehun kehilangan kestabilan yang ia jaga sedari tadi. Mobilnya bergerak kiri dan kanan, mengelak kenderaan lainnya yang hampir terkena imbas.


Untung saja sejak meninggalkan pekarangan perusahaan J'Foodies, Sehun tidak membawa mobil dalam kelajuan yang bisa saja membuatnya lebih dalam bahaya saat ini.


Sehun sebisa mungkin mengontrol mobilnya walaupun sebenarnya ia sudah kewalahan. Kedua lengannya mengeras detik itu.


Tiba-tiba Sehun memutar steringnya, keluar dari jalur. Targetnya saat itu adalah sebuah pohon yang cukup besar yang mungkin saja di tanam oleh pemerintah untuk mempercantik tepi jalan. Mungkin berbahaya, tapi bisa lebih berbahaya jika Sehun tidak melakukannya.


Brakk!


Bunyi tabrakan tersebut terdengar begitu dasyat. Asap tebal menyembul keluar dari bagian depan mobil Sehun, di mana engine mobil tersebut berada. Kepala Sehun terbentur cukup kuat pada stering mobilnya. Darah segar merambas keluar, mengalir serta membasahi sekitar bagian dahi dan rambut kecoklatan miliknya.


Tanpa membuang waktu, Sehun segera bergerak keluar dengan gerakan tertatik, seluruh tubuhnya seolah remuk. Bau bensin tumpah serta asap yang semakin menebal, juga hawa panas dari arah depan membuat Sehun yakin bahwa sebentar lagi, benda beroda empat itu pasti akan meletub.


Sehun bergerak sejauh mungkin dengan susah payah jika tidak ingin mati dalam letupan yang bisa saja merenggut nyawanya. Lagian ia ada janji yang perlu ia tepati. Orang-orang mulai ramai menghampirinya. Kenderaan beroda empat dan dua banyak yang telah menepi setelah melihat ada kecelakaan.


Sedangkan di mansion, Zeha tampak begitu dingin memerhatikan seorang wanita dibaluti lingerie hitam--duduk mengangkang di atas pangkuannya sedang mencuba memuaskan dirinya. Kedua tangan kekar Zeha tersimpan di kedua sisi single sofa, tanpa ingin melakukan apapun.


Zeha membiarkan wanita itu melakukan apapun pada tubuhnya yang bisa memuaskan dirinya yang buas, sembari menunggu kedatangan Sehun.


Sialnya, saat wanita tersebut mencumbunya dengan liar, wajah lembuy dengan manik teduh Aeri membayang di benak Zeha, menari-nari seolah mempermainkannya. Rahang tegas itu mengetat kesal. Kedua tangan Zeha otomatis mendorong kasar bahu sang wanita.


𝘚𝘩𝘪𝘵!


Zeha langsung balik mempertemukan bibirnya dengan bibir tebal wanita tersebut. Lidahnya terjulur memasuki rongga mulut wanita tersebut yang terbuka. Tangan Zeha menarik tengkuk itu menyamping hingga punggung wanita tersebut menyentuh pinggiran sofa.


Bagai sudah ahli, wanita tersebut mengalungkan tangannya pada leher kekar Zeha, sembari terus bergumul dengan liar.


Zeha membawa bibirnya menuruni rahang wanita tersebut saat wajah Aeri masih terus membayang di mata saat ia menutup mata. Membuat wanita itu melenguh dengan gigitannya pada leher mulus itu. Wanita tersebut mendongak, memberi akses penuh pada Zeha untuk menikmati kulitnya bahkan saat Zeha melepaskan tautan mereka hingga kini, Zeha bermain di sana dengan lidah basahnya.


"Ckk! Tidak berguna!" Zeha langsung bangkit, membuat wanita itu refleks jatuh, membentur lantai.


𝘒𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘒𝘸𝘰𝘯 𝘈𝘦𝘳𝘪!


"Tuan Zeha... apa aku melakukan kesalahan?" tanya wanita itu takut melakukan kesilapan yang telah membuat lelaki tampan dingin itu marah.


Zeha menyugar kasar rambutnya ke belakang. "Pergi! Sebelum aku memberi tubuhmu pada peliharaanku!" Dinginnya ancam itu membuat sang wanita kontan beranjak pergi.


Dengan perasaan kesal setengah mati, Zeha meraih cerutu yang berada tepat di hadapannya. Membakar, lantas menghisapnya kuat, lalu mengepulkan ke udara bersamaan dengan perasaan buruknya. Kemudian, meraih gelas yang terisi oleh arak.


Zeha kembali teringat saat Aeri lebih memilih John malam itu ketimbang dirinya. Cerutu yang baru sekali ia hisap itu langsung ia matikan di asbak. Sebelah tangannya memijit pelipis yang terasa berdenyut nyeri. Zeha benar-benar tidak dapat melupakan wajah cantik dan lembut itu.


Tok tok tok


"Masuk," tukas Zeha, memerintah.


"Ada apa?"


"Tn. Zeha... Tn. Sehun sudah tiba."


"Suruh dia datang ke sini...."


"Tapi...."


Zeha mendelik tajam dengan tatapan memicingnya. Tidak biasanya Gary membantah apa yang ia katakan. "Kenapa? Apa kau kini telah berani membantahku?"


"Tidak Tuan, saya tidak berani. Hanya saja Tuan Sehun terluka," ucap Gary akhir. Membuat wajah tegang Zeha otomatis berubah.


"Apa yang terjadi?" Zeha berdiri.


"Saya tidak tahu Tuan. Tadi saat Tuan Sehun tiba, dia sudah berlumuran dengan darah," jelas Gary.


Dengan langkah cepat Zeha beranjak. "Di mana dia?"


"Di ruang tengan Tuan, " sahut Gary, mengekori dari belakang.


Langkah Zeha terkesan tergesa-gesa. Ya, walau bagaimanapun, Sehun adalah sahabat yang sudah seperti saudaranya sendiri. Ia mendekat dengan langkah lebarnya.


"Kenapa kau tidak ke rumah sakit bodoh?!" serga Zeha duduk tepat di hadapan sahabatnya itu.


"Tidak perlu. Ini bukan apa-apa. Kita pernah melalui hal yang lebih mengerikan lagi," ujar Sehun sembari tersenyum. Sebelah tangannya mengelap darah pekat yang mulai mengering di pelipisnya dengan air hangat.


"Tapi, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau bisa terluka seperti ini?"


Sontak tubuh Sehun menegak. Ia sontak berhenti mengelap. "Ada yang telah memotong oli rem mobilku."


"What?!"


"Untuk mengelak kemungkinan yang lebih berbahaya, aku terpaksa menabrak pohon untuk menghentikan mobilku," jelas Sehun.


"Brengsek! Lelaki itu benar-benar ingin pergi ke neraka!" desis Zeha seperti ular.


"Sepertinya dia tahu kau sedang merencanakan sesuatu," cetus Sehun.


Zeha tersenyum miring, meremehkan sang musuh. "Tidak peduli dia telah mengetahuinya atau tidak, dia tidak akan bisa mengalahkanku. Tidak akan pernah."


Sehun melihat cemas pada Zeha. Kadang kala kepercayaan diri sendirilah yang menjatuhkan sesetengah orang.


"Walau bagaimanapun, kau tetap harus berhati-hati Zeha. Jangan terlalu memandang rendah musuhmu." Sehun memperingati.


Tapi perkataannya malah mengundang tawa Zeha. Meletup kala itu juga. "Sebelum mereka melakukan itu, aku akan membunuh mereka semua dalam sekali lemparan."


"Lalu, Aeri?"


Sontak Zeha bangkit. "Dia bukan siapa-siapa di dalam hidupku. Aku sudah pernah mengatakan, sekali saja dia meninggalkan atau menghianati aku, maka dia akan mati ditanganku," desia Zeha dingin. Nada suaranya terdengar sungguh tidak peduli akan Aeri.


"Bisa saja dia diancam oleh John, kan?"


"Aku tidak peduli!"


"Zeha, kau--"


"Cukup! Sekarang pergi obati lukamu dan istirahat yang cukup." Setelah itu, Zeha pun berlalu pergi.


Sehun menghela napas panjang. "Kau akan menyesal jika saja apa yang aku katakan ini benar."


Di mansion yang jauh dari mansion milik Zeha, tepatnya di mansion John. Aeri hampir saja terjatuh saat Jiha dengan sengaja mendorong tubuhnya jika bukan John yang tiba tepat waktu dan menahan tubuh kecil Aeri dari belakang.


Perasaan Aeri sudah serasa jatuh dari ketinggian tersebut. Meski tidak ingin, Aeri tetap merasa berterima kasih pada lelaki tersebut.


"Jiha, apa yang cuba kau lakukan?" Lembut, namun sarat akan penekanan yang mendesak.


Tapi Jiha sama sekali tidak terintimidasi. Ia melipat tangan di dada. "Kenapa? Salah jika aku ingin membalas wanita ****** ini?" desis Jiha kesal.


Setelah lelaki itu menapak pada lantai dua, ia menarik Aeri ke belakang nya. Kedua sudut bibirnya tertarik tipis.


"Ternyata kau mencintai Zeha," claim John, yakin.


"Jangan sembarangan John!"


"Lalu, untuk apa kau melakukannya kalau kau tidak merasa cemburu?"


"Bukan aku, tapi kau-lah mulai mencintai wanita ini, kan?! Kau menghianatiku John!" teriak Jiha tidak terima dengan tuduhan tidak berdasar kekasihnya itu.


"Ikut aku!"


John menarik tangan Jiha pergi dari sana dan memasuki kamar lelaki tersebut, meninggalkan Aeri tanpa mengucapkan sepata kata pun.


Setiba saja di kamar, Jiha langsung menyentak kasar tangan besar John. "Kenapa? Aku benarkan?" Jiha bertanya sinis. Ia sangat yakin dengan apa yang ia katakan.


"Jika tidak, kau tidak akan membelanya di hadapanku--ump!"


John membukam bibir itu dengan raupan liarnya. Mengemut benda kenyal itu dengan membabi buta walau tanpa balasan dari Jiha.


"Le--paspppp!" Bukannya melepaskan, John malah menarik tengkuk itu semakin memperdalam kulumannya, membawa tubuh Jiha berputar, lalu mendorongnya ke dinding.


John membawa bibirnya menemui telinga Jiha. "Aku menghargai wanita, tapi jangan sampai aku membuangmu dengan terpaksa dan berhenti menanggungmu, sayang."