
"Kau... ikut denganku!"
Zeha langsung meraih tangan Aeri. Menarik tubuh kecil itu hingga terseret-seret. Sedang sebelah tangannya memberi perintah pada Gary agar menjauh dari mereka hanya dengan menggunakan kode tangan.
"Apa yang anda lakukan?"
Sungguh Aeri merasa cemas saat ini. Melihat Zeha menariknya sedemikian rupa menimbulkan bermacam prasangka yang buruk. Aeri ingin menyangkal, menolak kemungkin Zeha mengetahui, bahwa ia sedari tadi terus menghindari lelaki itu. Mengingat apa yang mereka sepekati padi tadi, tidak seharusnya ia melakukannya.
Tidak perlu menunggu lama sehingga pintu lif terbuka. Zeha menarik tubuh Aeri untuk masuk, lantas kembali menutup lif tersebut.
Aeri tidak mengerti apa yang Zeha tekan pada tombol yang berada di sana. Namun, satu yang ia sadari, iaitu lif tersebut tidak bergerak dari posisinya setelah tertutup kembali.
"Kau pikir, apa yang kau lakukan, hah?!" Gadis itu tersentak kaget dengan mata yang terkatup rapat disaat tangan besar berurat milik Zeha menghentam dinding lif tepat di samping wajah Aeri.
"Sa--saya tidak mengerti maksud anda...." Pandangan itu menunduk. Aeri tidak berani bersisi tatap dengan lelaki selaku bosnya itu. Walau tadi pagi dengan berani ia mengatakan 'brengsek' pada Zeha. Sebenarnya, Aeri juga bingung sendiri. Dari mana datangnya keberanian itu pagi tadi?
Zeha tersenyum tipis. Membawa wajahnya semakin dekat dengan wajah Aeri. "Kau tidak tahu?" Bukankah itu suatu kebohongan yang nyata? "Terus, mengapa kau tergagap?"
Aeri reflek menggigit bibir bawah. Jujur Aeri tidak mengerti di mana letak permasalahannya. Apakah karena menghindari Zeha? Ataukah karena kelalaiannya dalam bekerja? Aeri sangat sadar diri. Karena kesalahan yang ia perbuat, kedua wanita yang mungkin saja berprestasi atau bahkan mungkin berjasa pada perusahaan itu dipecat karena tingkah tidak profesionalnya.
Entahlah, Aeri tidak mengerti mengapa harus terus menghindari Zeha waktu itu. Sedangkan, nanti dan seterusnya, ia akan terus berada di samping Zeha. Aeri sangat tahu itu. Maka dari itu, Aeri ingin menghindari seharian penuh tanpa bersimuka dengan Zeha, lelaki brengsek yang telah merampas ciuman pertama yang seharusnya ia berikan pada lelaki yang ia cintai.
Namun, siapa yang menduga, apa yang Aeri lakukan malah mendatangkan mala petakan bagi orang lain. Helaan napas itu terdengar begitu halus keluar dari mulut Aeri.
Wajah takut bahkan cemas Aeri menjadi hiburan saat ini di mata seorang Zeha. Benar-benar kurang ajar bukan? Senang di atas penderitaan orang lain.
"Saya benar-benar minta maaf atas apa yang terjadi. Sungguh saya tidak bermaksud untuk berbuat kekacauan di perusahaan ini. Dan karena saya anda harus kehilangan dua pekerja anda. Sekali lagi, saya minta maaf. Anda boleh menghukum saya, tapi saya mohon jangan pecat saya," mohon Aeri dengan tangan yang menyatu.
Dalam hati, Zeha tertawa. Jadi, ini yang mengganggu pikiran gadis di hadapannya ini? Hingga kerutan itu begitu jelas terlihat di wajah ... cantiknya.
"Jadi ini yang dia takukan?" Bisik hati Zeha. Sudut bibirnya tertarik. Sungguh menarik, dan ia akan membuatnya semakin menarik.
"Sungguh disayangkan bukan? Aku harus kehilangan dua staf wanitaku sekaligus karena kelakuan bodohmu!" Zeha menarik diri. Berdiri dengan melipat tangan di dada. Pandangannya sungguh menyudutkan Aeri. "Seperti yang kau katakan, kau memang harus diberi hukuman, itu pasti. Tapi, di sini bukan itu yang aku pertanyaKAN!"
Aeri terjingkat mendengar bentakan tersebut. Membuat jantung hampir keluar dari tempat. Tetapi itu tidak menghilangkan kernyitan bingung di alis Aeri. Jika bukan itu yang dimaksud oleh Zeha, lantas yang manakah?
Tangan Zeha terulur, menyentuh ujung kepala Aeri dengan lembut. Lalu, bergerak secara perlahan menyusuri surai kecoklatan Aeri. Membuat sekujur tubuh itu kaku. "Aku harap, aku tidak perlu menjelaskannya lagi." Merambat pada bahu, semakin menurun pada lengan berlapis kain itu. "Kau cukup tahu apa yang terus kau lakukan dari tadi!"
Setiap kalimat penuh penekanan itu membekukan tubuh Aeri. Begitu menusuk dengan nada dingin bak es. Apalagi kini pergelangannya dicekal dengan kuat. Sepertinya, ia telah melakukan kesalahan. Aeri menelan kasar salivanya.
"Sekali lagi saya minta maaf. Sungguh saya ucapkan. Saya tidak bermaksud u--"
"Ya, kau memang bermaksud!"
***
Kaki Yuri mengayun cepat menapak pada jalan trotoar. Menahan taxi untuk menghantarnya ke tempat tujuan. Entah apa yang terjadi, mimik wajah Yuri terlihat begitu cemas, seolah dunianya sebentar lagi akan runtuh.
Beberapa menit sebelumnya, tepat pada waktu makan siang. Yuri menerima panggilan dari nomor yang tidak ia ketahui. Suara berat dari seorang lelaki di sana mengatakan bahwa nenek Yuri saat itu berada bersamanya. Seketika itu juga Yuri reflek bangkit dari kursi. Sungguh Yuri merasa khawatir, karena ia tidak mengenal orang yang telah menelpon tersebut. Tanpa membuang waktu, Yuri segera berlalu sesaat setelah orang tersebut mengirimkan lokasinya. Meninggalkan makanan begitu saja, walau sebenarnya ia merasa begitu lapar. Perut yang terus berbunyi pun ia acuhkan. Tiada yang lebih penting dari neneknya saat itu.
"Ya tuhan semoga nenek baik-baik saja." Itulah yang terus terujar dari bibir Yuri sedari tadi. Tidak berhenti berdoa demi keselamatan neneknya. Kedua orang tua Yuri sudah pergi meninggalkan ia untuk selamanya, dan sekarang Yuri belum bersedia jika sesuatu yang buruk terjadi pada nenek dan pada akhirnya ia akan sendiri.
"Pak, tolong cepat sedikit, ya," pinta Yuri pada supir taxi. Kepalanya clinguk ke depan dengan cemas. Taxi itu juga terasa begitu lamban. Uh! Apakah itu efek dari rasa khawatir? "Nenek saya dalam bahaya, ni pak."
Yuri duduk dengan tidak tenang. Tanpa sadar, ia menggigit-gigit kuku jari hingga sedemikian rupa bentuknya pun Yuri tidak menyadarinya. Kepala itu terus sibuk clingak-clinguk ke depan dan kaca samping.
'Sebenanya taxi ini memang lamban atau bagaimana, sih?!' Gerutu Yuri dalam hati.
Tidak seberapa jauh mata memandang, dengan mata yang memicing, Yuri dengan jelas melihat neneknya tengah bersama seorang lelaki.
"Itu nenek!" Matanya membulat. "Stop ... stop ... stop."
Alhasil, driver taxi tersebut pun menepi lantas menginjak pedal rem secara mendadak. Tidak mungkin juga ia memberhentikan taxinya di tengah jalan, kan?
Yuri berlari menghampiri neneknya setelah membayar ongkos taxi tersebut. "Nek!" Yuri membawa tubuh rapuh sang nenek ke dalam dekapan miliknya. Ia sangat bersyukur, ternyata neneknya itu baik-baik saja. "Nenek baik-baik saja, kan?"
"Iya, nenek baik-baik saja," sahut nenek sembari mengusap lembut punggung cucu tercinta. Melihat wajah cemas cucunya membuat wanita tua itu sedih dengan rasa bersalah memenuhi hatinya. Ia pernah berjanji, tidak akan pernah membuat gadis cantik yang tengah mendekapnya tersebut merasa cemas atau pun sedih.
Namun kini, justru dirinyalah puncah dari semua rasa yang kini cucunya rasanyakan. Jika saja tuhan memberinya izin untuk terus sehat mungkin, ia tidak akan melihat cucunya terus mengkhawatirkan dirinya itu.
"Tidak. Ini bukan salah nenek. Yang penting nenek selamat, aku sudah bersyukur."
Yuri melepaskan dekapanya. Meneatap wanita tua yang ia sebut nenek dari ujung kaki hingga ujung kepala. Memindai seluruh tubuh raput tersebut. Ia takut jika saja neneknya terluka di suatu tempat di tububnya. Syurkurlah, sepertinya tidak ada yang terluka.
"Jadi kau cucu nenek ini?!"
Ouh, iya! Yuri hampir lupa bahwa ada seorang lelaki yang bersama neneknya tadi. Tetapi, ada yang aneh. Kenapa suara lelaki itu terdengar tidak bersahabat? Sebelah alis Yuri tertukik naik dengan kepala yang menoleh.
"Ya, benar." Walaupun dalam hati Yuri merasa jengkel, ia tetap berusaha sopan pada orang yang telah menyelamatkan neneknya, mungkin.
"Apa kau tau kalau nenekmu hampir saja tertabrak truk?"
Reflek kedua manik itu nyaris melompat dikala mendengar ucapan lelaki tersebut. Sontak saja Yuri menoleh pada sang nenek yang berrdiri di belakangnya. Tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, Yuri saat bersyukur intinya, karena tuhan memberi peluang untuk ia terus bersama sang nenek.
"Untung aku tepat waktu dan sempat menariknya sebelum truk itu melintas...."
"Terima kasih karena sudah menyelamatkan nenekku. Aku tidak tahu harus bagaimana membalas jasa baikmu ini. Aku bukan orang kaya yang bisa memnerimu uang, tapi yang pasti terima kasih sekali lagi."
Yuri membawa tubuhnya membungkuk di hadapan lelaki itu. Jika diperhatikan, pakaian lelaki itu memperlihatkan bahwa ia bukan orang yang kekurangan uang. Jadi memberinya uang bukan pilihan yang tepat.
"Ck!"
Yuri mendelik dalam posisinya. Apa ia tidak salah dengar, lelaki di hadapannya ini berdecih?
"Wanita seperti dirimu inilah yang harus dimusnahkan dari muka bumi."
Kontan Yuri mendongak. Menatap wajah tampan yang saat itu mendadak begitu menjengkelkan di matanya. Apa-apaan ini! Secara perlahan Yuri kembali menegakkan tubuh, menatap dengan alis berkerut.
"Kenapa? Benarkan apa yang aku katakan?"
"Apa maksud--"
"Tidak perlu berpura-pura. Di luar sana banyak orang sepertimu. Menelantarkan orang-orang tua," tukas lelaki itu dengan pandangan menghina. "Sunggub disayangkan, hanya wajahmu saja yang cantik." Sungguh sindiran itu begitu menusuk kalbu. Walaupun itu tidak benar adanya.
Yuri mengerti. Di sini, ia dipersalahkan. Yuri mengakui kalau ia memang kurang dalam menjaga nenek yang telah merawatnya hingga kini, tapi jika lelaki di hadapannya itu berkata bahwa Yuri menelantarkan nenenya, ia tidak akan terima.
Bergerak melipat tangan di dada dengan sorot mata yang memancarkan aura dingin.
"Maaf, ya. Aku memang sangat berterima kasih karena KAU telah menyelamatkan nenekku! Tapi KAU tahu apa tentang soal HIDUPKU? Dan itu tidak memberi hak padamu untuk mencecarku!"
Ingin rasanya Yuri mencabik-cabik wajah itu. Enak saja lelaki itu mengatakan, bahwa ia menelantarkan neneknya. Sehingga dengan sengaja Yuri menekan perkataan-perkataan yang tertentu dengan tajam.
Namun, sepertinya itu tidak memberi efek apapun pada sang lelaki di saat mendengar apa yang ia ucapkan setelahnya.
"Tiada pencuri yang ingin mengakui bahwa ia seorang pencuri, bukan?" Lelaki tersebut manggut-manggut, mengabaikan uacapan tajam Yuri tadi. Sungguh Yuri dibuat meradang oleh perkataan itu. Apa ia bilang? Pencuri? Wah, lelaki ini sepertinya mau dicuri kepalanya ini!
"Aku harap kau lebih memperhatikan nenekmu. Jangan hanya tahu berbelanja saja."
Yuri termangu oleh ucapan sang lelaki . Menatap tidak percaya pada punggung yang berbalik dan siap untuk pergi. Namun, sesuatu malah menyita atensi Yuri oleh sepasang manusia yang lewat di hadapan lelaki itu.
Kini perasaan kesal pada lelaki asing itu berlipat ganda. Ia kesal, marah, kecewa dan juga sedih semua berbaur menjadi satu. Tangannya mengepal dengan kuat. Apalagi melihat begitu mesranya pasangan itu, bahkan sampai menciumnya. Arggg! Yuri ingin mengamuk rasanya.
"Katanya ada dinas luar kota, tapi nyatanya..," Yuri berguman.
Kembali pandangan itu teralih pada lelaki yang telah menolong neneknya. Sepertinya saat itu, Yuri sudah tidak waras lagi. Semua terasa hampa dan memuakkan.
"HEI!"
Lelaki yang telah beberapa langkah ke hadapan itu terjingkat kaget dengan tungkai yang reflek terhenti. Bukan hanya lelaki itu, bahkan pasangan yang Yuri lihat tadi dan beberapa orang umum melihat ke arahnya.
Mata lelaki yang bersama kekasihnya tersebut membulat sempurna, seolah bisa melompat dari tempatnya saat melihat pandangan tajanm Yuri dengan langkah yang semakin mendekat.
Sresshh!
Cup!
Tubuh lelaki yang selama setahun itu telah menjadi kekasih Yuri terkesiap dengan tindakan Yuri yang tidak terduga sama sekali.