
[1 bulan YANG LALU]
"Mungkin baru aku yang pertama datang hari ini. " Aeri melangkah memasuki kawasan tempat kerjanya. Sebuah bangunan yang menjulang tinggi seakan mencapai langin yang menjadi tempat kerjanya. Berpropesi sebagai OB, sesuai dengan kelulusannya yang hanya sampai jenjang SMA.
Tempat kerja seorang Aeri atau lebih lengkapnya Kwon Aeri ini menjadi incaran banyak pencari kerja di negara tersebut. Namun, bukan sebarangan orang bisa memasuki bangunan mewah itu, melainkan mereka sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Selain gaji yang tinggi juga menjamin kenyamanan staf-staf yang bekerja di sana. Itu adalah salah satu poin yang dicari cari oleh para pekerja.
J'Foodies merupakan salah satu perusahaan yang diacungi jempol oleh presiden di negara tersebut karena kualitas serta rasa yang diciptakan begitu berbeda dari yang lain.
Seketika kaki Aeri terhenti saat kedua bola matanya melihat seseorang baring tepat di depan pintu kaca besar, pintu yang akan dilewati oleh semua pekerja di sana termasuk pimpinan J'Foodies.
Alis Aeri berkerut memerhatikan orang yang terlihat seperti seorang lelaki itu. Sepertinya bukan pekerja di sana dan sepertinya juga hanya menumpang tidur. Seketika Aeri merasa iba melihat lelaki yang masih terlihat muda itu. Masih muda tapi sudah menjadi seperti demikian.
Aeri mengambil langkah mendekat, bisa berbahaya jika pimpinan melihat lelaki itu. Rambut panjang lelaki itu sedikit menutupi wajahnya yang entah seperti apa.
"Permisi... Pak... Pak.... " Aeri menggoncang sedang tubuh itu. Dalam sekejap lelaki itu terbangun dan langsung duduk seraya menoleh menatap Aeri. Membuat yang di tatap tersentak kaget.
"Maaf ya pak, bapak tidak bisa tidur sini karena sebentar lagi waktu kantor akan tiba jadi bapak harus segera pergi dari sini," tutur Aeri sopan. Ia tidak mau membuat lelaki di hapannya itu merasa malu atau marah oleh ucapannya.
Namun, setelah menatap Aeri cukup tajam dan mendengar permintaan gadis itu, ia bukannya beranjak pergi namun tetap berada di sana dengan menyandarkan punggungnya. Semakin membuat Aeri termangu. Keras kepala juga orang ini, pikirnya.
Wajah dingin yang dipenuhi rambut rambut halus di kedua belah pipinya membuat lelaki itu terlihat ngeri, ditambah bentuk tubuhnya yang ... cukup kekar, namun kenapa terlihat seperti tidak terurus dengan baju oblong berlengan. Aeri tidak berani begitu mendekat.
Mengambil beberapa langkah mendekat, tapi tidak terlalu dekat, Aeri menelan susah payah salivanya mendapati lelaki itu menatapnya begitu intens dan terkesan mengintimidasi dirinya.
"Maaf banget pak, bapak harus segera pergi dari sini. Jika bos saya melihat bapak, bapak bisa dalam masalah." Aeri yang memiliki suara lembut semakin terdengar lembut dan sopan berbicara pada lelaki asing dingin dihapannya itu.
Tangan kecil Aeri merogoh masuk ke dalam tas kerjanya. Mengeluarkan sebungkus roti coklat yang sengaja ia beli tadi sebagai menu sarapannya nanti. Namun, sepertinya ia harus memberikan roti favoritnya itu pada lelaki di hadapannya itu. Mungkin saja lelaki itu lapar dan hendak mengemis di sana.
Set!
Lelaki merampas roti itu lantas memakannya dengan lahap tanpa ucapan terima kasih. Bahkan tatapan itu masih terus ia hujani pada Aeri tanpa rasa bersalah. Disaat lelaki itu sedang asik makan sebuah mobil mewah yang Aeri yakini milik pimpinan perusahaan tampak masuk dan berhenti tepat di mana Aeri dan lelaki itu berada saat ini.
"Habislah! Apa yang harus aku lakukan?" Monolog batin Aeri semakin cemas dikala melihat lelaki yang rambutnya sudah setengah memutih turun dari mobil tersebut. Bahkan wajah yang mulai dimakan usia itu tidak kalah dingin dengan wajah si lelaki yang beberapa detik lalu telah berdiri setelah melihat mobil itu tiba dan berhenti di sana.
"Apa yang kau lakukan di sini?!" Suara itu terdengar begitu dalam nan dingin. Tatapannya jelas menunjukkan bahwa ia tidak suka dengan keberadaan lelaki yang asik mengunyah roti itu.
"Ma--maaf tuan Jeon dia sep---"
"Aku tidak bertanya padamu!" Sontak Aeri menelan salivanya kasar. Mendengar penekanan suara itu membuat dirinya ciut berdiri di sana. Ia menoleh pada lelaki asing di sampingnya itu. Cih bisa-bisa di saat seperti ini lelaki itu masih bisa makan dengan santai. Aeri menunduk resah.
"Bukankah tiada larangan untuk berada di sini? "
Aeri mendelik kaget mendengar jawapan lelaki itu. Wah, ada masalah dengan otak orang ini. Aeri tidak habis pikir. Ia menatap wajah ketat T. Jeon yang terlihat kesal namun tetap tenang. Netra setajam jarum itu menatap lurus pada lelaki di samping Aeri. Seolah siap mencabik cabik tubuh lelaki tersebut.
"Pergi dari sini!" Perintah T. Jeon. Sedetik pun tiada senyum di wajah dingin itu.
"Aku tidak akan pergi dari sini!"
Aeri menoleh kaget mendengar nada bicara orang tersebut. Ternyata lelaki di sampingnya itu memiliki keberanian yang tinggi untuk menentang T. Jeon. Pemimpin yang ditakuti oleh semua pekerjanya. Aeri meremas jemarinya, ia bingung, harus bagaimana ia menyelamatkan lelaki asing bodoh itu.
"Tidak!" Entah datang dari mana keberanian Aeri sehingga berani menyelah ucapan atasannya dengan berteriak. Sudah berkali kali ia menelan susah salivanya pagi itu. Kini tubuhnya berdiri tepat di hadapan lelaki dengan wajah penuh buluh buluh halus itu, seolah hendak melindungi.
Bukan hanya T. Jeon dan Taehoon yang kaget bahkan lelaki asing itu juga ikut kaget seraya menatap aneh Aeri yang berdiri dihadapannya, seakan melindunginya. Beberapa kali netra itu mengerjap bingung dengan tidakan Aeri.
"B--biar saya yang mengurus lelaki asing gila ini T. Jeon. Anda tidak perlu repot repot. Silahkah anda ke ruangan Anda saja," ujar Aeri sopan.
"Gila?" Celetuk batin lelaki itu kaget sekaligus tidak terima. Sebelah alisnya tertukik naik dengan mata yang melotot. Menatap tajam Aeri yang berdiri membelakanginya.
"Baiklah. Saya percayakan dia padamu... Aeri," sahut T. Jeon menyetujui cadangan Aeri setelah sesaat melirik pada name tag yang tergantung pada leher Aeri.
Tap
Tap
T. Jeon pun berlalu diikuti oleh Taehoon, sopir pribadi sekaligus asisten. Melihat T. Jeon berlalu membuat Aeri bernapas lega, lantas beralih menatap lelaki itu yang telah menatapnya tajam.
Sekali lagi saliva itu terasa begitu sulit untuk ditelan. Aeri memberanikan diri. "Maaf ... bapak harus segera pergi dari sini. Bapak cari tempat lain saja untuk meminta ya."
"Kau pikir aku pengemis?! Dan tadi, kau bilang apa? Aku gila?!" Tukas lelaki itu dengan mata yang melotot. Apalagi saat ini ia telah diseret oleh gadis yang tidak ia ketahui namanya itu. Hingga mereka berhenti didepan pintu gerbang.
"Apapun itu, bapak harus segera pergi dari sini."
"Aku tidak akan pergi! Dan aku juga tidak terima kau panggil gila!"
Aeri mendesah kesal. "Haishh! Aku akan berikan bapak uang." Gadis itu kembali memasukkan tangan ke dalam tas dan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas. "Ini. Sekarang bapak pergi ya," tukas Aeri serasa memohon.
Lelaki itu menatap uang yang diletakkan di tapak tangannya dengan sebelas alis yang tertukik. Juga sudut bibir yang tersenyum remeh. Apa ia baru saja diabaikan? Maniknya terangkat menatap gadis kecil di hadapannya itu. Yang benar saja ia diberi uang dengan nilai tidak seberapa itu, lalu diabaikan. Sungguh lucu.
Lelaki itu menatap tajam gadis yang ia rasa hanya berpura-pura baik dengan menolongnya lepas dari T. Jeon. Ia yakin dalam hati gadis itu telah menghina dan merendah diri yang terlihat seperti seorang pengemis. Buktinya ia malah memberikan uang. Ck! Munafik.
Satu yang ia sadari, gadis di hadapannya itu cukup cantik dengan wajah imutnya. Secara perlahan mata lelaki itu bergulir ke arah bibir yang terlihat kenyal itu. Bibir yang tidak henti henti menyuruhnya pergi.
"Apa kau ingin mencuba aku ini gila atau tidak?" cetus lelaki itu tiba tiba, menghentikan omelan Aeri.
"Nae?" Entah mengapa ia merasa aneh dengan pertanyaan lelaki di hadapannya itu.
"Aku akan pergi," cetusnya lagi.
"Eh! Bagus kalau beg--"
"Tapi dengan satu syarat," ujar lelaki itu cepat saat melihat gadis itu hendak berlalu.
Alis Aeri semakin berkerut bingung. Entah mengapa perasaannya tiba tiba merasa tidak enak. "Syarat? Syarat apa?" Selama lelaki di hadapannya itu tidak minta yang aneh aneh, ia tidak masalah.
Namun, perasaannya semakin tidak tenang dikala melihat lelaki asing gila itu melangkah mendekatinya. Aeri mematung mendapati lelaki itu menundukkan kepala, berhenti tepat di depan telinga miliknya. Apalagi setelah mendengar ucapan yang membuat sekujur tubuhnya merinding.
"Aku pergi dengan satu ciuman darimu. "