The President'S Crazy

The President'S Crazy
part. 81



Waktu menunjukkan tepat pukul 12 tengah malam saat Aeri mendengar sesuatu. Ia mengira itu hanya karena ia lelah memikikan masa depan sehingga ia mendengar yang bukan-bukan, tapi nyatanya bunyi tersebut terus berbunyi bahkan terdengar semakin dekat dan menusuk telinga.


Aeri pun segera bangun sebelum John tiba-tiba masuk dan mengagetkannya.


"Sekarang lakukan tugasmu."


Deg!


Aeri bergeming. Jika demikian, bermakna Zeha telah datang. Padahal ia sangat berharap lelaki itu tidak akan datang dan ia juga tidak akan melakukan seperti yang John katakan dengan terpaksa.


"Jika kau melakukan kesalahan, maka ayahmu yang akan menanggung akibatnya!"


(𝙵𝚕𝚊𝚜𝚑𝚋𝚊𝚌𝚔)


John mendekatkan wajah. "Jika kau ingin ayahmu selamat lebih baik kau mengikuti apa kataku."


"Apa maksudmu?" Aeri bergerak menjauh. "Kau bilang kau tidak akan menyentuh ayahku jika aku mengikutimu! Kau ingkar janji Tn. John."


Sisi lembut lelaki itu entah hilang ke mana. Sifatnya kini seolah ia memilki sifat ganda. Dengan kasar John menarik tengkuk itu mendekat.


"Aku tidak pernah berjanji. Dan aku hanya mengatakan aku tidak akan menyentuh ayahmu jika kau ikut denganku dan aku memang tidak menyentuhnya,kan? Sekarang berbeda lagi. Aku ingin kau mengalihkan perhatian Zeha, agar aku bisa dengan mudah membunuhnya."


Aeri menepis dengan berani. "Ini tidak ada dalam kesepakatan kita. Kau hanya ingin aku meninggalkan Tn. Zeha, kau tidak mengatakan apa-apa mengenai hal ini."


John tersenyum miring. "Bukankah kau mengatakan aku lelaki brengsek? Dan lelaki brengsek bisa melakukan apapun."


Aeri menggeleng. Ia tidak akan bersekongkol dalam rencana pembunuhan Zeha. Lagian ia tidak mungkin akan sanggup melakukan hal itu pada lelaki yang ia cintai. Mungkin Zeha kejam dan jahat padanya, namun hati tidak bisa dihentikan untuk jatuh pada siapapun.


"Aku tidak akan melakukannya," tolak Aeri tegas.


"Bermakna kau lebih memilih lelaki yang sama sekali tidak menghargaimu daripada ayahmu, ya? Maknanya kau ingin ayahmu mati?"


Dengan cepat Aeri meraih kerah baju John yang rapi. "Jangan sentuh ayahku. Aku mohon padamu Tn. John."


Tanpa melepaskan tangan Aeri pada lehernya, John membelai wajah itu dengan lembut. "Maka dari itu kau harus mengikuti perintahku," ujar John lembut, namun sarat akan ancaman yang tidak main-main.


Gigi kecil Aeri bergemelatuh kesal. Jadi pilihannya hanya itu? Antara Zeha dan sang ayah. Bulir bening itu mengalir keluar dengan dada terasa sesak. Jika saja ia memiliki kekuatan super maka ia akan menyelesaikan masalah ini tanpa harus memilih. Aeri menunduk dalam. Belum memilih ia sudah merasa bersalah pada Zeha.


𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢? "Baiklah, aku akan melakukannya," tukas Aeri mengepal tangan. Lihuid beningnya semakin melaju. 𝘔𝘢𝘢𝘧. 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪𝘮𝘶.


"Good girl." John menyeka air mata di wajah Aeri sebelum dengan cepat sang empu menepisnya. John tertawa.


"Sebelum dia membunuhmu, lebih baik kau lebih dulu membunuhnya, bukan?"


(𝙵𝙻𝙰𝚂𝙷𝙱𝙰𝙲𝙺 𝙴𝙽𝙳)


Saat ini Aeri berdiri tepat di hadapan mansion milik John bebalut pakaian tidur putih berbahan jatuh dengan leher berbentuk Sabrina. Aeri mengangkat pandangan sehingga manik gelap tajam itu bertemu pandang dengan iris kecoklatannya sebelum segera dialihkan olehnya sendiri.


Pancaran itu begitu mengerikan dan menusuk hingga ke hati Aeri. Selama berada di sisi Zeha, Aeri belum pernah melihat aura bengis dan kejam seperti itu. Manik gelap itu tidak ada lagi memperlihatkan kehangatan dan kelembutan walau hanya secuil saja. Zeha seolah melihat musuh yang begitu ia benci seumur hidupnya. Seakan Aeri tidak pernah dikenalnya.


Berpikir, apakah semua ini harus terjadi? Mengapa ia harus terlibat dalam rencana pembunuhan Zeha? Manik teduhnya terangkat, kembali menemui manik dingin yang terus melihat dirinya.


𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘰𝘩𝘰𝘯 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵. Aeri sangat berharap bahwa Zeha dapat mengerti dengan kode melalui pancaran matanya itu. Namun, bibir yang biasa mencumbunya itu malah tersenyum sinis.


Aeri menoleh ke belakang demi bertemu pandang dengan John pada titik yang ia ketahui. Aeri tidak bisa melakukannya. Ia tidak sanggup. Walau bagaimanapun lelaki yang berdiri di hadapan bersama anak buah yang ramai itu begitu banyak pertolongan yang telah diberikan pada dirinya.


(𝙎𝙚𝙠𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙣𝙖𝙠 𝙗𝙪𝙖𝙝𝙠𝙪 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙬𝙖𝙨𝙞 𝙖𝙮𝙖𝙝𝙢𝙪. 𝙅𝙞𝙠𝙖 𝙠𝙖𝙪 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙠𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙨𝙞𝙡𝙖𝙥𝙖𝙣, 𝙢𝙖𝙠𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙣𝙜𝙨𝙪𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙣𝙚𝙡𝙥𝙤𝙣 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖!)


Aeri menelan susah salivanya yang tiba-tiba terasa kelat setelah mambaca pesan dari John yang terkesan mengancam dan memaksa.


"Jadi, lelaki itu mengirim mu untuk menghalangiku?" Refleks pandangan Aeri terangkat mendengar suara dingin itu. Apalagi melihat bibir Zeha yang tertarik bengis. "Sungguh naif sekali!"


Dalam jarak itu tanpa sengaja manik tajam Zeha menangkap bekas ciuman yang teramat pekat warnanya. Tidak sadar, kedua tangan yang melipat mengepal kuat. Zeha yakin kissmark itu dilakukan oleh John. Rahangnya mengetat.


"Berapa yang lelaki itu berikan sehingga kau mengikutinya?" tanya Zeha bernada menyindir. Pertanyaannya jelas merendahkan Aeri.


"2 milliar? 3 milliar? Atau sepuluh kali lipat dari yang aku berikan padamu?"


"Atau mungkin kau dengan suka rela menyerahkan diri karena sentuhannya?"


Aeri kontan menggigit bibir bawah, berusaha menahan derai air mata yang seolah berlomba-lomba untuk keluar. Entah mengapa Aeri merasa ucapan yang dikeluarkan lelaki itu terasa lebih kejam. Dirinya seolah tidak ada harganya, seperti hewan yang bisa seenaknya diinjak-injak.


"Iya, memang seperti itu. Tn. John memang memberikan aku uang lebih banyak dari yang kau berikan. Tn. John bahkan jauh lebih baik darimu. Dia tidak sepertimu, dia tidak seenaknya menghina diriku dan merendahkanku. Tn. John jauh dan sangat jauh lebih baik darimu Tn. Zeha." Aeri tersenyum sinis. Dengan cara ini akan lebih mudah, biarlah jika Zeha ingin berkata apa, toh dirinya sudah terlanjur jelek di mata lelaki itu.


"Bahkan jika aku menyerahkan diriku pada Tn. John, aku tidak akan menyesal, karena dia lelaki baik-baik," tambah Aeri.


Dalam hidungan detik, Aeri dengan jelas melihat perubahan pada wajah Zeha. Aura gelap itu semakin pekat, dinginnya pandangan itu seolah membekukan diri Aeri.


Kepalan tangan Zeha semakin mengencang, urat-uratnya tercetak jelas dengan gigi bergemelatuk hebat. Aeri berhasil membuat emosinya membuncah dengan pesat.


Todongan pistol kontan terarah pada Aeri, membuat wanita itu menahan napas. Dalam hati ia tersenyum getir.


"Sepertinya tidak ada alasan untukku membiarkanmu hidup ****** kecil!"


"Berhenti!" Tiba-tiba Aeri berteriak. Sekali saja Zeha melangkah maka timah panas milik John akan mengenai kepala Zeha. Sedang dibelakang sana John sudah tersenyum penuh kemenangan.


"Kenapa? Kau takut aku akan membunuh kekasihmu itu? Atau kau takut aku membunuhmu?" ujar Zeha tanpa menurunkan todongan pistol tersebut.


Melalui kode tangan, Zeha memerintahkan anak buahnyan untuk memulai penyerangan, lantas ia kembali membawa tungkai mendekati Aeri. Sinar bulan yang menyinari, membuat Aeri semakin terlihat cantik malam itu, dan sialnya, tanpa sadar itu membuat Zeha terpanah, namun segera ditepis.


"Jangan mendekat jika kau tidak ingin aku bunuh!" Aeri kembali berteriak lantang.


"Sebelum itu, nyawamu akan lebih dulu aku renggut." Tanpa peduli, Zeha terus mendekat. Sedangkan anak buah lelaki itu mulai berlari memasuki mansion tersebut dengan timah terdengar terus menghajar.


Tungkai Zeha terus bergerak mendekat sedangkan Aeri menggigit bibir bawah resah melihat lelaki itu semakin dekat. Bukan takut nyawanya direnggut melainkan, takut karena lelaki itu akan semakin masuk ke dalam perangkap.


Zeha tertawa miris. "Begitu bodoh diriku menganggap dirimu berbeda dari Jinha."


Kalimat itu sungguh mengiris hati Aeri. Orang yang ia cintai selalu begitu muda menganggapnya rendah. Namun, tidak mengapa, mungkin orang akan mengatakan dirinya bodoh karena masih bisa mencintai lelaki seperti itu serta bahkan masih ingin menyelamatkannya.


"Seperti yang aku katakan sebelumnya, kau menghianat maka aku sendiri yang akan membunuhmu, sayang!"


Satu titik merah tepat berada diatas jantung Zeha. Debaran jantung Aeri meningkat pesat. Tubuhnya bergatar seraya memaksa tubuh segera berlari.


"Tidak!"


Dorr!