The President'S Crazy

The President'S Crazy
part.18



Telinga kecil Aeri terus mendengar bunyi-bunyi aneh dari luar ruangan. Ia menarik napas dalam lalu menghembus demi menenangkan perasaannya yang dilanda ketakutan. Tangannya dengan cepat menari diatas keyboard, menyelesaikan tugas yang Zeha berikan. Aeri menggeram mengingat lelaki itu. Bos sial*n! Makinya dalam hati.


Aeri merasa senang sebenarnya karena tidak perlu pergi ke club dan melakukan pekerjaan sambilan yang tidak senonoh itu. Namun, ini juga tidak jauh beda, berada ditengah kesunyian seorang diri. Sebenarnya, ada sekuriti yang menjaga keamanan gedung, tetapi ia berada di bawah sana. Artinya, ini sama saja seperti ia sendirian.


Waktu telah menunjukkan pukul 10 malam, namun pekerjaan yang Zeha berikan baru hampir selesai, begitu sayang jika ditinggalkan. Aeri pun memutuskan untuk menyelesaikan kerjanya itu baru ia pulang.


Ia tidak ingin meninggalkan ruangan, tapi tiba-tiba saja tenggorokannya terasa kering seperti gurun Sahara. Dengan keberanian yang dikumpulkan, ia melangkah keluar untuk, menuju pantri yang berada di lantai lobi. Bibirnya terus mengeluarkan suara guna menghalau ketakutan yang mengusai diri. Kadang bernyanyi lagu yang tidak jelas, berbicara sendiri dan juga membaca doa yang ia ketahui.


Dengan langkah lebar bertemankan senter ponsel, Aeri segera mengambil sebotol air besar yang berada di dalam kulkas. Sekeliling yang gelap membuat suasana di sana semakin mencekam. Aeri bergidik ngeri. Ia sedikit berlari keluar dari pantri.


Namun, langkahnya kembali terhenti kala telinganya menangkap bunyi aneh dibalik meja resepsionis. Bibirnya melengkung takut mendengar bunyi seperti cakaran itu. Dengan berbekalkan rasa penasaran, Aeri memberanikan diri untuk mendekat.


Cahaya yang berasal dari ponselnya, ia arah ke bawah meja. Detak jantung telah memicu getaran tubuh Aeri. Ditambah munculnya pelbagai fikiran over thingking di benar. Apalagi bunyi itu semakin menjadi-jadi dipendengarannya. Ia semakin mendekat, dan ....


"Arggkkk!" Teriaknya melengking. Ia bahkan jatuh terduduk pada lantai. Botol besar yang ia pegang jatuh, begolek entah kemana. Bahkan ponsel yang ia jadikan senter tergeletak tepat di samping. Dadanya naik turun saking kagetnya ia.


Sebelah pipinya terasa perih terkena cakaran. "K--kucing?!" Cicitnya terbata. Ia melihat ke arah hilangnya hewan itu.


Aeri tahu bahwa itu kucing dari suara yang dihasilkan dikala hewan itu melompat ke arahnya saat cahaya senter dari ponsel Aeri juga mengagetkannya yang tengah mengasah kuku pada kayu meja resepsionis.


Mata menyalah hewan itu yang terkena senterlah yang berhasil membuat Aeri terlonjat kaget bukan main. Bahkan kini ia merasa bokongnya sakit setelah membentur lantai mamer cukup kuat tadi.


Aeri segera beranjak, kembali ke atas untuk mengambil tas, kemudian langsung pulang. Peduli apa dengan kerja yang belum selesai, yang pasti ia ingin segera pulang. Ia akan terima jika besok kembali dibukum oleh Zeha.


Cukup lama Aeri menunggu taxi di depan gedung yang terasa angker dimalam hari itu sebelum akhirnya penantiannya berakhir. Ia membawa tubuh memasuki taxi tersebut sedikit tergesa-gesa bahkan sempat membuat lelaki paruh baya yang membawa taxi tersebut merasa aneh.


"Pak tolong hantar saya ke apartemen SeoYul."


Taxi pun mulai melaju menuju alamat yang disebutkan Aeri tadi.


Mobil Ferrari LaFerrari milik Zeha baru saja tiba disaat ia melihat Aeri memasuki taxi. Lelaki itu sedikit kaget melihat Aeri sepertinya baik-baik saja setelah keluar dari gedung gelap. Bukannya tadi fakta mengatakan bahwa Aeri phobia dengan kegelapan? Terus apa ini?


Padahal kedatangannya ini berniat ingin menyaksikan pertunjukan menarik yang diperankan oleh sekretarisnya itu. Sepertinya pertunjukan dibatalkan karena tidak sesuai dengan pemerannya.


Zeha mendengus, buang-buang waktu saja. Namun, yang anehnya, Zeha malah menginjak pedal gas, sehingga kenderaan beroda empat itu mengikuti taxi dari belakang. Seketika, Zeha juga bingung. Walaupun ia merutuki tindakannya itu, tetapi hatinya seolah menghantarkan suatu gelombang pada tubuh untuk mengikuti Aeri.


Taxi tersebut memasuki komples apartemen SeoYul. Apartemen yang dibangun khusus untuk orang-orang kelas bawah, yang pendapatannya tidak seberapa.


Tidak lama kemudian, taxi tersebut berhenti tepat dihadapan kompleks, lalu setelahnya Aeri tampak keluar dari sana bersamaan seberlalunya taxi itu.


Zeha terus mengikuti dalam jarak yang cukup jauh, namun tetap dapat melihat punggung kecil itu. Tiba-tiba saja rasa bersalah menghampiri ruang hatinya. Entah mengapa ia menyesal telah memberi hukuman pada gadis rapuh itu. Apalagi setelah membaca beberapa fakta yang cukup menyedihkan.


"Arggkkk!"


Kontan lamunan Zeha buyar bersamaan dengan suara Aeri yang menggema di dalam baseman itu. Kaki Zeha secara refleks mengayun cepat munuju sumber suara. Kepalanya mendadak kosong tanpa memikirkan apapun, yang ia tahu, Aeri berada dalam bahaya.


Saat tiba di sana, yang pertama kali ia lihat adalah tubuh besar bak raksasa memunggunginya. Kedua tangan lelaki itu terarah pada leher Aeri. Manik Zeha bergulir cepat melihat ke bawah. Benar dugaannya, saat melihat kaki Aeri terapung sembari terus bergerak. Aeri dicekik.


Tanpa berpikir panjang, ia meraih pistol yang ia selitkan pada baju yang ia kenakan. Benda berbahaya itu memang senantiasa Zeha bawah demi melindungi diri.


Ia menodongkan pistol, membidik kepala lelaki itu seperti orang yang telah biasa menggunakan benda berbahaya tersebut dan ... dor! Tepat sasaran.


Tubuh lelaki raksasa itu jatuh dengan nyawa melayang. Tangan yang mencekik leher Aeri terlepas begitu saja, menbuat tubuh Aeri jatuh terduduk disaat kedua lutut sudah tidak mampu menampung berat tubuh. Napas yang tersekat membuat Aeri sontak batuk dikala pasokan oksigen telah kembali masuk dengan normal.


Aeri shock. Air mata yang mengalir keluar pun tidak ia sadari. Hampir saja ia mati saat itu, jika saja sang tuan tidak datang tepat waktu. Namun, yang semakin membuatnya shock adalah bunyi tembakan yang memekakkan telinga sebentar tadi.


Ujung matanya menangkap sosok Zeha berdiri tidak jauh di depannya dengan pistol yang menggantung ditangan sebelum lelaki itu kembali menyimpan, kemudian mengambil langkah mendekat.


"Kau terluka?"


Tanya Zeha yang hanya di balas gelengan oleh Aeri. Setelahnya lelaki itu terdengar menghela napas lega. Lalu, ia meraih ponsel yang tersimpan di saku celana. Mendail nomor Gary. Ia memerintahkan pada anak buahnya itu untuk mengurus mayat sampah yang tidak dikenali itu.


"Kau mengenalinya?" Lagi-lagi gadis itu menggeleng. Sangat jelas dimata Zeha tubuh bergetar Aeri.


"Ke-kenapa an-anda bisa a-a-ada di sini?"


Zeha menatap tajam. "Apa itu penting? Berdiri!" Bisa-bisanya disaat seperti ini, gadis itu malah menanyakan keberadaannya. Sepatutnya ia mengucapkan terima kasih bukan sebaliknya.


Dengan tubuh bergetar, Aeri mencuba untuk bangkit. Tapi kakinya terasa begitu lemah, seolah tidak bertulang. Rasanya seperti ia tinggal mati saja, ia tidak memiliki tenaga sedikit pun.


"T-tuan!"


Tanpa aba-aba Zeha langsung mengangkat tubuh ringan itu ala brydal style, membuat tangan Aeri sontak mengalung pada leher Zeha.


"Tu--"


"Diam!" Sentak Zeha. Ia membawa Aeri meninggalkan kawasan tersebut.


"Tuan ingin membawaku ke mana?"


"Apartemenku."