The President'S Crazy

The President'S Crazy
part. 43



Kini tubuh Aeri telah terbaring pada sofa setelah beberapa detik yang lalu Zeha baringkan secara perlahan tanpa melepas tautan bibir keduanya.


Bibir mereka terus meraup dalam pagutan yang begitu intens yang tentu saja dilakukan dalam perintah otak mereka. Kepala Zeha yang berada di atas menekan hingga kepala Aeri terbenam dalam lembutnya sofa sembari menggerakkan kiri dan kanan menciptakan bunyi kecipan yang terdengar jelas. Sedang kedua tangan Aeri meremat kuat baju pada bagian dada Zeha kala merasakan kulum** semakin mendesakkan dada.


Ingin mengakhiri, namun tubuh Aeri malah mengingikan sesuatu yang lebih. Sesekali pagutan itu Zeha lepas hanya sekedar untuk meraup oksigen sebelum kembali menambrakkan bibir yang sengaja ia buka pada bibir Aeri.


"Eum ... tuanhhh--" Aeri memutus paksa tautan tersebut dengan mendorong sekuat tenaga saat merasakan kedua tangan Zeha menjalar masuk pada perut ratanya.


Kemudian tangan mungil itu menahan tangan kekar Zeha yang ingin menjalar semakin dalam ke bagian belakang tubuhnya. "Apa yang Tuan lakukan?"


Tanpa menciptakan jarak yang banyak, Zeha berujar dihadapan bibir yang terbuka Aeri. "Kau ingin membalasku, kan? Jadi aku ingin kau melayaniku."


Aeri bergeming dengan detak jantung yang membuat resah. Mencuba untuk mencerna sebaik mungkin maksud dari ucapan lelaki di atasnya itu. Jika yang dimaksud membalas menggunakan tubuh maka Aeri tidak akan bisa.


"A-ak--a-aku ... argkk!" Sepertinya hari ini Aeri banyak berteriak karena Zeha.


Bagaimana Aeri tidak kembali berteriak saat Zeha tiba-tiba menggendongnya dipundak seperti karung beras. Tentu saja hal itu membuat Aeri kaget, apa lagi dengan kepala di bawah itu membuatnya pusing.


"Tuan, turunkan aku!" Aeri memberontakkan tubuh kecilnya yang tentu saja tidak terasa apa-apa pada Zeha.


"Diam! Sebelum aku menjatuhkanmu dari lantai ini!"


Aeri mendecak kesal juga takut. Bagaimana jika Zeha benar-benar memintanya untuk melakukan hal itu? Aeri mendongak, ia dapat merasakan Zeha membawanya masuk ke dalam kamar lelaki itu. Aeri semakin harap-harap cemas dikala Zeha membaringkan tubuhnya pada ranjang king size, lalu secara perlahan lelaki itu merangkak naik ke samping tubuh Aeri.


Menelan saliva pun terasa sulit saat itu. Ingin bergerak menjauh, tetapi kaki Aeri masih terasa sakit walau sudah mendingan. "Maaf Tuan, aku tidak bisa melakukannya," lirih Aeri menegang. Tangan Zeha terasa memeluk pinggangnya.


"Kalau begitu segera tidur. Aku akan pergi menelpon, jika aku kembali dan kau masih belum tidur ... kau tau apa yang akan terjadi," ujar Zeha turun dari ranjang, lantas menarik selimut untuk menutupi tubuh Aeri. Disaat Zeha melihat ke arah wajah itu, Aeri sudah memejam mata yang kontan mengundang tawa di bibir kejam Zeha.


***


Bertempat di ruangan CEO, lantai paling tertinggi di gedung Kim'Hotel. Yohun tampak menelpon seseorang sembari sembari berdiri menghadap hiruk-pikuk kota pagi yang hampir siang itu.


"Bagaimana?" Tanya Yohun, terdengar serius juga tidak sabaran.


"Kami masih belum berjaya menemui wanita itu Tuan," sahut orang itu di seberang.


Yohun tampak menyentuh dagu, ia berpikir. "Hm ... ke mana perginya wanita itu ...."


"Tapi Tuan, ada anak buatku yang melihat wanita itu naik bus menuju Busan, tetapi kami masih belum dapat memastikan lagi apakah itu benar-benar wanita yang anda cari atau kami hanya salah lihat."


"Itu pasti dia. Kampung halaman wanita itu memang berada di Busan," sahut Yohun cepat dan yakin.


Beberapa hari yang lalu Yohun memang sempat melihat profile wanita itu untuk mencari nomor telepon untuk memintanya bersaksi atas masalah Aeri, namun nomor teleponnya malah tidak lagi aktif. Dikala itulah Yohun tanpa sengaja melihat kampung halaman yang tertera di.


"Tuan jangan khawatir karena saat itu juga anak buahku sudah aku perintahkan untuk mengikuti bus tersebut. Di sana mereka pasti tinggal menunggu perintah saja."


"Bagus. Kau susul ke sana dan awasi wanita itu--tidak kau langsung bawa saja ke soul, katakan aku memanggilnya kembali."


"Bagaimana jika dia tidak mau tuan?"


"Janjikan saja uang."


"Baiklah tuan."


Yohun pun segera mengakhiri sambungan telpon tersebut, lalu memasukkan benda pipih mewah miliknya. Manik indahnya memerhatikan kesibukan kota yang setiap harinya terlihat sama.


Rasa bersalah kembali menghantui Yohun setiap memikirkan kehidupan keras gadis itu. Jika saja waktu itu ia tidak mengikuti perintah ayahnya, mungkin sekarang ia dan Aeri akan bersama dan merasakan dunia bahagian milik berdua. Sayang, sekarang Aeri telah membenci dirinya.


Yohun menyambar mantel panjang berwarna abu-abu tua yang menggantung pada gantungan pakaian, lantas keluar dari ruangannya.


Saat bangun pagi itu, berniat untuk pergi bekerja, namun urung setelah Zeha melarangnya. Jadi karena itu Aeri memutuskan untuk berkemas saja. Memasuki siang, tanpa diduga ia mendapat panggilan dari rumah sakit yang mengatakan bahwa ayahnya telah sadar dan mencari keberadaannya.


Dengan kebahagian yang membuncah Aeri keluar untuk pergi ke supermarket. Aeri berniat akan memasakkan masakan kesukaan ayahnya. kaki yang masih belum sembuh total, tidak menjadi penghalang untuknya melakukan keinginannya itu walau jalannya terkesan pincang-pincang.


"Kau, kan wanita itu?"


Aeri baru saja keluar dari Supermarket sebelum suara ibu-ibu menghentikannya. Aeri menoleh dan mendapati empat wanita yang jauh lebih tua darinya.


"Kau wanita dalam koran itu, kan?" Kembali suara itu menanyainya.


Aeri menarik wajah cepat. "Maaf, kalian salah orang." Lalu berlalu dengan tergesa.


"Tidak perlu berpura-pura. Kami tahu kau wanita tidak bermoral itu!" Sindir mereka, menghentikan tungkai Aeri.


"Kau tidak tahu malu,ya? Setelah melakukan hal menjijikkan seperti itu, kau masih berani keluar rumah?"


"Wanita ular seperti dia apa tahu caranya malu?"


Deg!


Aeri menggigit bibir bawah mendengar gunjingan yang mendesiskan hatinya. Ya tuhan kenapa rasanya begitu menyakitkan, ya? Padahal ia tidak melakukan semua hal tersebut. Aeri ingin membela diri, tetapi ia takut nanti malah ia diserang. Biasanya ibu-ibu seperti mereka cukup mengerikan.


"Untung kau bukan anakku, jika kau anakku, sudah aku bunuh, lalu aku buang ke laut!" Gunjing dan hina mereka bergantian.


"Aku penasaran bagaiman orang tua wanita ular sepertimu mendidik anak ...."


"Orang tuanya pasti sama sepertin--"


"Buk!" Serga Aeri emosi, menyentak keempat ibu-ibu tersebut.


Aeri bisa menerima semua yang mereka katakan mengenai dirinya, tetapi tidak jika mereka membawa kedua tua yang telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Aeri berbalik badan dengan manik yang berembun.


"Kau berani membentak kami?!" Salah satu diantara ibu-ibu itu meradang.


"Aku terima jika kalian menghina dan merendahkanku, tapi jangan pernah membawa orang tua dalam cacian kalian!" Aeri berteriak dengan emosi, kepalanya bahkan bergetar saking geramnya dirinya.


"J*l*ng kecil kurang ajar!"


"Jika kalian tidak ingin mempunya anak seperti ku, maka aku lebih tidak ingin punya ibu seperti kalian yang bahkan lebih hina dariku!" Aeri tidak peduli lagi. Biarlah apa yang ingin mereka katakan, ia tidak peduli. Dirinya sudah terlanjur hina di mata mereka, tidak peduli bagaimanapun sikapnya.


"Biadab!"


Kedua mata Aeri sudah tertutup rapat melihat tangan salah satu ibu-ibu melayang hendak menamparnya. Ia sudah memprediksi ini akan terjadi, jadi Aeri sudah mempersiapkan diri.


Selang beberapa detik tangan itu tidak juga menghasilkan sakit di pipi miris miliknya yang sudah beberapa kali kena tamparan itu. Secara perlahan Aeri membuka mata. Ia tesentak kecil melihat tangan itu di tahan oleh lelaki yang saat Aeri kenali.


"Yohun?"