
Ckiiit!
Tanpa sengaja mata tajam milik Zeha melihat ke arah sebuah toko kecil yang menjual pelbagai jenis roti di dalamnya. Toko roti tersebut tidak terlalu besar, namun bisa menarik banyak pembeli dengan apa yang mereka jual. Apalagi seorang gadis berwajah cantik yang menjadi pekerjanya.
Tanpa berpikir apa-apa, Zeha sontak menginjak pedal rem lalu menepi. Bukan tertarik pada gadis berwajah cantik itu, namun manik gelap setajam mata helang itu melihat ada begitu banyak roti coklat terpajang. Entah bagaimana ia bisa langsung mengingat rasanya dan yang membuat bibir itu tersungging adalah gadis yang memberikannya.
Sepertinya otaknya sudah kurang pekerjaan hingga memiliki waktu untuk kembali memutar kejadian tersebut di dalam otak. Diputar bagaikan sebuah kaset.
"Tolong bungkuskan semuanya."
Sontak saja apa yang Zeha katakan itu membuat gadis itu melongo tak percaya. Matanya membulat sempurna.
"Se--semua?" Tanyanya seolah tidak percaya.
"Iya. Tolong cepat, ya."
Tanpa membuang waktu lagi, gadis itu segera memasukkan semua roti coklat itu ke dalam plastik besar, sembari dalam hati membicarakan lelaki tampan di hadapannya itu.
"Mungkin dia ingin membagi makan ke anak yatim," bisik hati gadis itu menerka-nerka. Sesekali ia melirik pada Zeha akan tetapi tidak sampai seperkian detik ia kembali menarik matanya. Gadis itu tidak sanggup melihat wajah dingin dengan aura gelap itu. Uh! Ia bergidik ngeri.
"Totalnya 250k."
.......
Tungkai Aeri melangkah lemah masuk ke dalam lobby perusahaan. Rasa capek yang ia rasakan kini berlipat kali ganda setelah mulai bekerja pada malam hari di Black Club. Tangan kecilnya bergerak memijat-mijat kecil leher bagian belakang, terasa kaku di sana.
Drrt! Drrt!
Sehingga getaran ponselnya yang berada di dalam kantong baju seragam khas Cleaning Service menghentikan derap kaki kecil milik Aeri.
Senyum itu merekah begitu saja setelah melihat sejumlah uang masuk ke dalam rekening miliknya. Walaupun uang tersebut belum cukup untuk melakukan operasi terhadap ayah. Akan tetapi ia sudah maju selangkah untuk mengumpul uang operasi tersebut.
"Aeri!"
Drap... Drap... Drap
Kepala Aeri refleks menoleh pada sumber suara yang memanggil namanya. Terlihat Yuri melangkah lebar menghampir dirinya sebelum Tn. Jeon pemimpin perusahaan J'Foodies melangkah masuk bersama sang supir selaku asisten. Netranya juga menangkap seorang lelaki berpenampilan seperti Tn. Jeon. Aeri tidak mengenalinya.
Srrrk!
Sebanyak orang di lobi perusahaan, sebanyak itu juga kepala otomatis menunduk, memberi penghormatan atas kedatangan sang pemimpin, termasuk Aeri dan Yuri yang telah berdiri berdampingan. Drap kaki itu semakin mendekat, membawa tubuh berlalu dari sana.
Tap!
Deg!
"Eh?!" Kerutan halus sontak terlihat di area alis Aeri. Tertegun dengan kehadiran sepasang sepatu di bawah matanya. Secara perlahan ia mengangkat wajah. Pandangan matanya bertemu secara otomatis dengan manik tajam nan dingin itu.
Wajah tampan dengan hidung mancung. Bibir yang tidak terlalu tebal itu datar bagai satu garis lurus. Alis tebal itu terlihat rapi di atas mata dingin itu.
Wajah penuh kebingungan Aeri tercetak jelas di wajah kecilnya. Maniknya lari-lari seolah mencari kebenaran dari kebingungan yang melandanya saat itu. Sebenarnya apa dengannya? Mengapa lelaki yang tidak ia ketahui itu berhenti dan menatapnya sedemikian rupa?
Takut-takut Aeri kembali mempertemukan manik sayunya dengan manik tajam yang menghunus padanya itu. Bahkan Tn. Jeon sekali pun merasa bingung dengan apa yang di lakukannya.
"Zeha! Apa yang kau lakukan?" Tn. Jeon bertanya dengan raut emosi.
Sekilas Aeri melirik pada Tn. Jeon sebelum kembali pada lelaki di hadapannya itu. Namun, sepertinya lelaki bernama Zeha itu tidak mengendahkan pertanyaan Tn. Jeon.
Merasa semakin tidak nyaman dengan pandangan mengintimidasi Zeha, tatapan tajamnya seolah menatap Aeri atas dan bawah secara bergantian. Kini seisi lobi menatap ke arah mereka. Hanya tuhan yang tahu betapa malunya ia sekarang. Yuri yang berdiri disampingnya pun menatap penuh kebingungan padanya dan Zeha.
"A-ada yang bisa saya bantu tu--tuan?" Dengan memberanikan diri Aeri bertanya. Suaranya bahkan bergetar.
Zeha tidak banyak menunjukkan ekspresi, tetap datar seperti tidak memiliki kehidupan di atas wajah itu.
Set!
"Ini untukmu."
"Nae!?" Rahang Aeri terjatuh menganga, ia termangu kaget.
Apa tadi ia tidak salah dengar? Lelaki itu bilang 'untukmu?'. Ya ampun, ia merasa pusing.
Apa alasan lelaki yang sepertinya memiliki kedudukan yang tinggi di perusahaan itu memberinya roti coklat sebanyak itu?
Ia menatap semakin bingung pada lelaki itu secara bergantian dengan sekantong plastik besar roti coklat. Sebelum sempat bertanya Zeha telah berlalu dari hadapannya.
Maniknya terus mengerjap cepat mengiringi kepergian lelaki itu. Entah cuma perasaan Aeri atau bagaimana. Cara Zeha berbicara padanya terdengar seperti sudah saling mengenal.
"Ada apa ini Aeri?" Yuri tidak kala kagetnya dengan Aeri.
"Jangan tanya. Karena aku juga tidak mengerti," tukas Aeri terdengar lemah. Menatap tidak berdaya sekantong roti coklat dalam gendongan.
"Terus kau mau apakah roti coklat sebanyak itu." Yuri ikut memandang roti dalam gendongan yuri.
"Sepertinya beberapa hari ini kita tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli sarapan." Aeri menatap binar Yuri sembari mengangkat-ngangkat alisnya. "Aku akan meletakkan ini di pantri. Kalau kau ingin, makan saja."
"Ini serasa seperti mendapat rezeki dari langit hahahaha."
"Dengan ini kita bisa menghemat uang kita."
Mereka berlalu ke belakang lobbi, bersiap untuk melakukan pekerjaan mereka seperti biasa. Namun, sebelum itu, entah mengapa kepala Aeri memaksanya untuk menoleh ke belakang, menatap punggung yang sedang menunggu lif terbuka.
Tadi, jauh di dalam manik tajam milik lelaki itu seolah ada kegelapan pekat yang menyelimuti pandangannya. Begitu sunyi dan kesepian. Seperti berada di angkasa yang tidak berpengujung. Terapung seorang diri.
Aeri mengangkat bahu acuh. Mungkin itu cuma perasaannya saja. Tepat saat Aeri menarik wajah, kala itu juga Zeha membawa kepalanya menoleh dan melihat punggung Aeri menghilang di balik dinding.
"Zeha, kau tidak ingin masuk?"
Tn. Jeon menggeleng tidak habis pikir. Ia memijat kecil pangkal hidungnya. Menyerahkan perushaan itu pada Zeha apakah sudah pilihan yang tepat?
"Apa yang kau lakukan?"
"Apa yang aku lakukan?" Sebelah alis Zeha terjungkit naik. Ia menoleh pada sang ayah. Sedetik kemudian ia tersenyum sinis. Ia faham apa yang ayahnya maksudkan.
"Bukankah gadis itu terlihat menarik?"
"Kau jangan gila Zeha!" Sentak Tn. Jeon kaget dengan penuturan anak semata wayangnya itu. "Sebentar lagi kau akan menggantikan aku diperusahaan ini. Berhenti bermain-main! Terutama dengan wanita!"
Sudut bibir Zeha tertarik mendengar ucapan itu. "Kenapa?" Zeha kembali membawa wajahnya pada Tn. Jeon. "Bukannya ayah juga melakukan hal yang sama dulu? Bahkan saat ayah sudah memiliki isteri dan anak." Setiap perkataan itu penuh penekanan yang berhasil menusuk hati Tn. Jeon.
"Zeha, ka--?"
"Sudahlah ayah, tidak perlu mengurus kehidupan pribadiku yang penting aku mau penggantikan dirimu."
Ting!
Zeha melangkah keluar, meninggalkan Tn. Jeon beserta Taehoon. Helaan napas panjang terdengar begitu jelas. Ingin rasa Tn. Jeon memukup Zeha. Namun ia sadar semua kelakuan Zeha berasal dari dirinya.
"Tn. Jeon tolong kontrol emosi anda jangan sampai berpengaruh pada kesehatan anda."
"Rasanya aku mau stress Taehoon."
"Sepertinya Zeha masih belum bisa merelakan kepergian ibunya," tutur Taehoon seraya mengikuti langkah Tn. Jeon yang mengarah pada ruangannya.
"Aku terus merasa bersalah pada ibunya."
"Yang sabar Tn. Jeon."
Cklek!
"Bagaimana?"
".............."
Zeha tersenyum miring mendengar ucapan orang disebarang telepon.
"Sepertinya aku sudah terlalu lembut pada mereka."
"Lembut pada siapa?" Timpal Tn. Jeon. Sembari melangkah ke arah sofa. Ia merasa penasaran. Mengapa pembahasan yang tidak ia ketahui itu terasa seperti sesuatu yang sulit untuk dijelaskan.
"Hmm, baiklah. Untuk beberapa hari ini aku serahkan padamu." Tanpa menunggu orang itu menjawap, Zeha sudah memutuskan panggilan secara sepihak.
"Kau berbicara pada siapa?" Tn. Jeon kembali bertanya. Ada rasa keingin-tahuan yang begitu besar memenuhi ruang hatinya.
"Ayah aku sudah 28 tahun, bukan anak kecil yang perlu dilindungi lagi," desis Zeha, memutar bola matanya jengah.
Ya, mahu tak mahu Tn. Jeon sudahi pertanyaannya itu. Ia lantas mendudukkan bokong pada sofa di hadapan Zeha, menatap lekat wajah dingin nan sangar Zeha yang entah sejak kapan terlihat begitu menakutkan.
"Ini sudah hampir 5 tahun. Apa kau tidak penat hid---"
"Stop! Atau aku akan berubah pikiran!" Sentak Zeha memotong ucapan Tn. Jeon. Membuat lelaki paruh baya itu menghela napas lagi dan lagi.
"Baiklah. Kau bilang ingin mengganti seketaris. Apa kau sudah ada kandidat?"
"Hmm...," jawap Zeha dengan deheman
"Katakan dari bagian mana orang itu. Pemasaran? Bagian perkembangan atau---"
"Tidak dari semua itu."
Sahutan itu membuat Tn. Jeon mengernyit bingung. "Lalu?"
"Dia dari bagian cleaning service di perusahaan ini...."
Refleks sebelah alis Tn. Jeon tertukik naik. Dari bagian cleaning service? Yang benar saja. Bagaimana mungkin pekerja cleaning service menjadi seketaris?
Tn. Jeon menyandarkan punggung pada sandaran sofa. Bicara dengan Zeha serasa menguras banyak energi di tubuh.
Tapi, sebentar... Jangan-jangan gadis itu? Tiba-tiba kejadian beberapa menit lalu di lobbi masuk ke dalam pikirannya.
"Gadis tadi?" Tanya Tn. Jeon bernada pelan dan sontak mendapat anggukan dari Zeha.
............
Hufft!
"Argkk!" Bersamaan teriakan melengking itu, Aeri terlonjat kaget sembari sembari berbalik. Air yang ia semprotkan pada dinding kaca di lobbi tanpa sengaja tersemprot pada wajah Zeha, membuat kedua netra tajam itu terpejam.
Teriakan kaget itu menarik atensi orang-orang yang ada di lobbi menoleh mereka. Sontak sebelah tangan Aeri menutup mulutnya. Mampuslah, pikirnya.
Salah lelaki itu juga. Kenapa membuatnya kaget dengan meniup telinganya. Ia tidak salahkan di disini?
"Aduh... Ma--maaf maaf... aduhh bagaimana ini?" Aeri kegalapan sendiri, bergerak kecil ke kiri dan kanan, tidak tahu harus melakukan apa.
Otak Aeri mendadak kosong saking kegetnya dirinya. Bahkan tanpa sadar kain yang ia pakai untuk membersihkan kaca, ia gunakan untuk mengelap wajah Zeha yang basah. Alhasil, bau tidak enak itu terhidu oleh Zeha.
"Bukankah ini kain lap?" Sebelah alisnya terjungkit naik, dengan tangan yang menangkap pergelangan Aeri.
"Mati aku," gumam Aeri semakin gusar. Ia lantas menarik tangannya. "Sekali lagi maaf tuan... Maaf." Berkali kali kepalanya ia tundukkan di hadapan Zeha, sedang lelaki itu hanya menatapnya datar dengan sesekali mengangguk.
Zeha membawa tubuhnya menunduk, berbisik tepat di telinga Aeri. "Kau cukup beruntung karena aku tidak langsung membunuhmu dengan pistolku. "