
Waktu telah menunjukkan pukul 10 lewat saat Aeri terlonjat kaget bangun dari tidur panjangnya. Ia baru saja bermimpi ingin dilecehkan oleh John sewaktu ia mabuk semalam. Kedua tangannya kontan meraba sekujur tubuh yang masih lengkap dengan pakaian semalam. Helaan napas lega terdengar setelahnya.
Seketika Aeri baru menyadari bahwa sekarang ia berada di kamar Zeha selaku atasannya. Tapi, Aeri tidak ingat bagaimana ia pulang semalam. Apa mungkin seseorang memesankannya taxi? Jika demikian, bagaimana ia bisa berakhir di atas kasur sang atasan? Refleks Aeri menelan susah salivanya.
Jangan katakan bahwa semalam Zeha yang menjemputnya? Lantas, bagaimana jika benar? Aeri mengatub netra dengan menggigit bibir bawah. Ia sangat ingat, hari di mana Zeha menyuruhnya untuk berhenti dari kerja itu, tapi Aeri malah melanggar perintah itu.
Secara perlahan Aeri membawa tubuhnya turun dari ranjang. Melihat bantalan sofa tergelatak sontak membuat napasnya tercegat. Sekelebat bayangan yang terjadi semalam berputar bagaikan kaset rusak dalam otak Aeri. Gadis itu menggeleng pelan. Ia berharap itu hanya mimpi buruk.
Lagi. Bola matanya bergulir secara perlahan memindai seisi kamar yang sedikit berantakan. Saat bayangan itu jelas, Aeri sontak menutup kedua mata dengan sebelah tangan.
"Apa yang telah kau lakukan Aeri?" Rutuknya pada diri sendiri. Bayangan saat ia menendang kaki Zeha sebanyak dua kali membuatnya refleks memegang kepala dengan kedua tangan.
Kata makian serta protes yang ia luahkan membuat Aeri menggigit bibir resah. Ia memang jarang mabuk, tapi jika ia sampai mabuk maka siapapun yang berada di dekatnya akan mendapat tendangan maut darinya. Semua yang terpendam juga keluar dengan sendirinya.
Clek!
Mendengar saja pintu kamar dibuka Aeri langsung berlari memasuki kamar mandi dan mengunci diri di dalam. Zeha yang melihat pun terheran-heran dengan tindakan itu.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau lari saat melihatku?"
"T-tidak Tuan. Aku hanya sakit perut," dalih Aeri menggigit bibir. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Aeri bolak-balik bak setrika, mencuba untuk berpikir.
Aeri mengacak frustasi rambutnya. Ia tidak dapat memikirkan apapun, kepalanya mendadak kosong. Apa mungkin Zeha akan menghukumnya? Atau menyiksanya? Aeri mendudukkan diri di atas closet, sambil menggigit kecil kukunya.
Selang semenit, Aeri menekan tombol closet, biar ia terdengar seperti sehabis membuang. Aeri merapatkan telinga ke daun pintu dengan sangat hati-hati. Ia sangat berharap Zeha telah pergi. Aeri tidak mendengar apa-apa. Mungkinkah Zeha telah pergi?
"Kenapa lama sekali?!" Aeri terjingkat mundur dengan menyentuh dadanya. Suara itu serasa begitu dekat. Jangan katakan lelaki itu berdiri tepat di depan pintu? Tidak. Aeri tidak ingin keluar, bisakah?
"Maaf Tuan ... aku akan lama, perutku begitu sakit," bohong Aeri dengan bibir digigit takut ketahuan.
Zeha berdecak kesal. "Ya, sudah."
Aeri kembali memasang telinga. Suara langkah kaki menjauh serta daun pintu yang dibuka, lalu kembali ditutup terdengar jelas di telinga Aeri. Seketika ia bisa bernapas lega.
Tapi, bagaimana jika Aeri ingin keluar dan makan? Saat itu ia pasti akan bertemu pandang dengan lelaki itu juga, kan? Tidak mungkin terus berada di kamar dan menghindarinya. Nanti malah terkesan aneh. Jika seperti ini, sepertinya Aeri harus mempersiapkan mentalnya untuk menghadapi Zeha.
Secara perlahan, namun pasti Aeri membuka pintu. Ia tidak melihat keberadaan atasannya, syukurlah. Akhirnya Aeri bisa melangkah dengan bebas tanpa memikirkan Zeha.
"Sepertinya benar kau mengelak dariku ..."
Aeri terlonjat kaget dengan sedikit teriakan. Ia tidak menyangkah bahwa Zeha hanya mengelabuinya. Nyatanya lelaki itu tetap berada di kamar, bersandar pada dinding dekat pintu WC dengan bersedekap dada. Aeri menelan susah salivanya seraya menatap harap-harap cemas pada Zeha.
"B-buka seperti itu T-tuan ...," ujar Aeri terbata.
"Lalu, seperti apa?" Tanya Zeha seraya mendekat.
"A-ak--a-aku ...." Aeri kontan jadi salah tingkah dibuatnya.
"Aku ... apa?" Zeha tersenyum samar melihat kelabakan wanita di depannya. "kau takut karena apa yang kau lakukan semalam?"
Kontan Aeri menunduk. "Maaf," cicitnya tidak berani menatap kedua bola mata Zeha.
"Rasanya aku ingin mematahkan kedua kakimu semalam. Apa kau tahu betapa sakitnya itu?"
"Ampun Tuan ... aku tidak sengaja," imbuh Aeri dengan nada memelan diujungnya. Zeha sudah semakin dekat, refleks ia melangkah mundur takut.
"Jika kau sengaja maka kedua kakimu telah hilang, sayang ..."
Kepala Aeri semakin menunduk mendengar kata 'sayang' yang Zeja keluarkan. Sekarang sifat lelaki itu masih terkesan lembut, namun Aeri tidak yakin nantinya. Bisa saja Zeha tiba-tiba marah atau kejam. Karena Aeri tidak pernah berhasil memprediksi sifat lelaki tersebut.
"Yang membuatku marah adalah kau!"
Aeri terjingkat kaget saat Zeha tiba-tiba menarik lengannya hingga tubuh mereka hampir bertabrakan.
"Aku sudah menyuruhmu untuk berhentikan, bukan? Kenapa kau tidak mendengarkan aku?"
Aeri tidak berani, ia hanya menunduk saat Zeha malah terus menatap wajahnya intens. Apa yang harus Aeri katakan? Ia merasa bosan dan kebetulan waktu itu ia dan Zeha tidak saling berbicara, jadi Aeri sebisa mungkin menghindari Zeha.
"Jawap Aeri!" Tekan Zeha tanpa meninggikan suara. Tangannya meraih dagu Aeri sehingga pandangannya bertemu pandang dengan manik lembut yang menyejukkan hatinya.
Deg!
Kata-kata terakhir Aeri menusuk hati kerasnya. Pasti, saat itu Aeri memang telah mendengar pembicaraannya bersama Sehun.
Zeha semakin menarik mendekat tubuh Aeri. Saat sebelah tangannya memeluk posesif pinggang kecil Aeri, sebelahnya pula merapikan surai kecoklatan itu, menyelitkan di telinga.
"Maaf ...." Sayang, kata itu begitu sulit untuk Zeha keluarkan dari bibirnya. Keegoisannya masih begitu besar, masih tidak dapat di kalahkan oleh apapun lagi. Hingga Zeha hanya mampu untuk mengatakannya dalam hati.
"Kelak apapun yang terjadi, kau selalu tetap bisa untuk pulang ke sini. Kau mengerti?"Aeri hanya menunduk dalam dekapan Zeha tanpa menyahut. Ia tidak ingin terlalu bergantung atau berharap apapun pada Zeha yang bisa beruba dalam hitungan detik.
"Ingat kau harus berhenti dari pekerjaanmu itu. Dan, jangan pernah berhubungan dengan John. Dia bukan lelaki baik-baik."
"Seperti Tuan?" Timpal Aeri polos.
Aeri hanya ingin tahu seburuk apa lelaki bernama John itu. Apakah lebih buruk dari Zeha atau sebaliknya. Tetapi, sudut bibir Zeha malah tertarik miring menanggapinya. Dalam sekelip mata, kecupan lembut yang seketika ******* kedua belah bibir Aeri melayang. Tetapi, itu hanya sebentar.
"Lebih jahat dariku," sahut Zeha kemudian. Lantas, tanpa komando, Zeha tiba-tiba memeluk dan mencium puncak kepala Aeri yang membuat sang empu tubuh bergeming dengan tubuh membeku bingung.
"Aeri ... aku memerintahkanmu untuk tetap di sisiku. Kau dilarang untuk pergi dan meninggalkanku." Zeha melepas, kemudian menatap dalam mata bening Aeri. "Ini perintah utama yang tidak bisa kau langgar. Kau mengerti?"
"Maksud Tuan ... Tuan akan mengurungku di sini?"
"Anggap saja seperti itu. Jika aku mengetahui kau menghianatiku maka ...." Sekilas Zeha mencium kening Aeri, lalu kembali menatap aris kecoklatan itu. "Aku sendiri yang akan membunuhmu," sambungnya dengan suara berbisik juga serak membuat bulu kuduk Aeri meremang. Kata-kata lembut berupa ancaman itu begitu terasa hingga ke jantung Aeri.
Dengan tubuh bergetar takut, Aeri mendorong pelan tubuh besar Zeha hingga mencipta jarak. Tentu saja hal itu membuat Zeha bingung dan refleks menahan lengan itu.
"Aku tidak ingin berharap yang pada akhirnya akan membuatku sakit ...."
"Kenapa harus sakit jika tidak mencintai?" Aeri otomatis mengangkat pandangan. Sebenarnya apa maksud dari ucapan Zeha yang memintanya agar tetap disisinya?
"Aku tidak memintamu mencintaiku. Aku hanya ingin kau tetap di sini, bersamaku."
Egois, bukan? Aeri tersenyum miris dalam hati sembari membawa bola mata agar tidak bertemu pandang dengan Zeha. Begitu mudah lelaki itu berujar demikian. Apa katanya? Tidak perlu mencintainya? Bahkan sekarang hati Aeri telah sakit karena rasa cinta itu mulai menyelimuti hati lembutnya.
"Tidak perlu banyak berpikir." Aeri tersentak kaget. "Sekarang bersiap. Aku ingin membawamu ke suatu tempat," sambung Zeha membuyar lamunan Aeri.
"Ke mana?"
"Nanti kau akan tahu." Lihatlah, lelaki itu telah kembali menjadi dingin. Ia keluar dan meninggalkan Aeri seorang diri tanpa kata-kata lagi.
....
"Kau sudah menelpon Zeha?" Tanya Tn. Jeon pada Taehoon sesaat setelah mereka berbincang pengenai perusahaan yang berada di Busan siang itu.
"Sudah Tuan," sahut Taehoon.
"Lalu, dia akan datang?"
"Dia berkata tidak pasti. Katanya, dia begitu banyak pekerjaan dan tidak berjanji apakah dia akan datang atau tidak."
Tn. Jeon tersenyum miris. "Aku sudah menduganya. Jawapannya setiap tahun selalu seperti itu."
"Tapi anda tenang saja, dia pasti akan datang. Walaupun Zeha berkata demikian pada akhirnya dia tetap akan datang."
"Ya, kau benar Taehoon. Ibu tiri Zeha, dia ada di mana?"
"Tadi saya melihatnya berada di ruang tengah, mempersiap keperluan apa yang diperlukan pada hari peringatan Ny. Jeon," terang Taehoon.
"Baikalah, kau bisa pergi Taehoon. Istirahatlah, kau telah bekerja dengan baik."
"Saya akan membantu di bawa," sahut Taehoon membuat Tn. Jeon tersenyum.
"Terserah kau saja." Taehoon pun berlalu meninggalkan Tn. Jeon seorang diri.
Tn. Jeon beralih melihat figura istri pertama-ibu dari River dan Zeha, lantas meraih frame tersebut. Tatapannya terlihat sedih dan sarat akan penyesalan yang besar. Jika bisa mengulang waktu dengan nyawanya, maka ia akan melakukannya dan menebus kesalahan yang telah ia lakukan walau harus kehilangan nyawa.
"Maafkan aku sayang," cicitnya, tanpa sadar meneteskan air mata.