The President'S Crazy

The President'S Crazy
part.21



"Apa ini kekasih tuan Zeha?" Manik kecoklatan itu menatap intens sepasang kekasih yang di yakini Aeri. Lelaki yang mencium penuh cinta pipi sang kekasih tersenyum lebar menunjukkan betapa bagiannya mereka.


Tapi selama bekerja dengan Zeha, belum pernah sekalipun ia melihat wanita dalam foto tersebut. Aeri mengedikkan bahu, tidak peduli. Tangan kecilnya refleks memukul dada kiri yang tiba tiba terasa sesak tanpa tau sebabnya.


"Oh, iya. Semalam kenapa tuan Zeha ada di sana, ya?" Kening itu berkerut halus, dengan kepala dimiringkan. "Tidak mungkin, dia mengikutiku, kan?" Aeri menertawakan sendiri terkaannya itu. Sungguh konyol.


Cklek!


Pintu apartemen dibuka dari luar. Aeri sedikit kaget, karena ia tidak menduga Zeha akan pulang. Ia pun tidak memasak apa-apa, di dalam kulkas juga tidak ada apa-apa yang boleh di masak.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Zeha melihat alat pembersih ruangan berada di sana.


"Tidak... i-ini ... ini hanya--"


"Aku menyuruhmu istirahat bukan menjadi pembantu di sini," sela Zeha, membuat Aeri menunduk. Dari pagi ia diminta terus untuk istirahat oleh sang tuan padahal ia tidak sakit sama sekali.


"Ini makanan ... mu." Zeha menyerahkan kantong plastik berisi makanan dengan suara yang meredam. Netra tajamnya melihat sesuatu yang ia kenali berada pada tangan Aeri.


Aeri menerima kantong plastik dengan senyum samar di bibir. Jujur sedari tadi ia sudah merasa lapar. Ingin keluar, tapi takut Zeha akan marah. Ingin masak tidak ada yang bisa dimasak. Sepertinya Zeha tidak pernah makan di rumah.


Kontan manik Aeri terangkat pada wajah Zeha dengan alis berkerut. Plastik makanan di tangan besar itu tidak bisa ditarik. Seketika Aeri tersentak dengan tatapan tajam Zeha.


"Kau dapat ini di mana?" Suara dingin terkesan marah itu bertanya. Merampas foto itu dari tangan Aeri.


Sial, ia lupa menyimpan kembali benda itu pada tempatnya.


"D-di sana--"


"Lain kali jangan pernah menyentuh apapun barang yang ada di sini! Lihat, tapi jangan sentuh!" Sergah Zeha mejingkrat tubuh Aeri. "Sadar diri sedikit!" Setelahnya ia pun berlalu meninggalkan unit apartemennya itu.


Air mata itu mengenang dipelupuk mata indahnya. Sebaris ayat dari Zeha tadi entah mengapa begitu menyakitkan. Dengan langkah gontai ia menyusul Zeha. Menatap punggung lebar yang kian menjauh itu. Ia bingung. Lelaki itu sunggyh sulit untuk ditebak.


Pasti, dugaannya benar bahwa wanita yang berada dalam foto itu kekasih sang majikan, tetapi kenapa harus sampai memarahinya? Ia bukannya membakar atau merobek foto tersebut. Cih. Bahkan sampai merendahkan dirinya.


"Ada apa dengan kak Zeha?" Entah sejak kapan budak perempuan itu berdiri di sisi Aeri. Menatap bingung pada Aeri. "Tadi aku menyapa, tapi dia langsung saja pergi dan tak menghiraukanku," sungut budak perempuan itu mengerucutkan bibir.


"Kamu kenal dengan kakak itu?" Aeri berjongkok di hadapan budak perempuan itu.


Budak itu mengangguk sedih mengingat Zeha tadi mengabaikannya. "Iya. Kak Zeha orangnya baik. Dia selalu bermain bersamaku. Membelikanku dan teman-teman banyak makanan. Kadang kalau ayah marah padaku, kak Zeha akan memarahi ayah balik. Aku suka sama kak Zeha. Kalau besar aku ingin menikah dengannya."


Aeri tersenyum mendengar kalimat terakhir anak berumur sekitar lima tahunan itu. Begitu menggemaskan dengan pipi chuby-nya. Sungguh sulit dipercaya, ternyata seorang Zeha juga memiliki sisik baik dalam diri. Kembali membawa pandangan ke arah perginya Zeha tadi. Tidak mungkin, kan budak perempuan itu berbohong?


Tanpa sadar pernyataan anak perempuan itu sedikit menghilangkan tanggapan buruknya pada majikannya itu. Setiap manusia pasti ada sisik baik yang berdampingan dengan sisi buruk, bukan?


"Nama kamu siapa?" Aeri bertanya lembut.


"Ara ...."


"Ara mau tidak mengejar kak Zeha untuk menghiburnya? Kak Zeha tadi sedang marah pada kakak." Budak perempuan itu mengangguk dengan serta merta.


"Nah... Ara katakan pada kak Zeha kalau Ara ingin menikah dengannya. Pasti kak Zeha akan senang."


"Benarkah?"


Aeri mengangguk dengan senyuman. "Tapi kakak tidak bisa menemani Ara, kakak ada kerjaan lain. Tidak apa, kan?"


"Anak pintar," ujar Aeri setelah Ara kembali menganggukkan kepala. "Baiklah. Ara bisa pergi sekarang."


Ara pun melangkah lebar dengan kaki pendeknya, meninggalkan Aeri yang kembali berdiri. Setelah ia merasa sudah aman, barulah gadis itu mengikuti langkah imut Ara.


Kepala kecil Ara celingak-celinguk di taman, mencari keberadaan Zeha. Aeri yang bersembunyi di baling tong sampah memerhatikan Ara sehingga langkah kecil itu kembali berlari mendekati sosok familiar yang duduk membelakangi mereka.


Saat Ara mendekat, rokok tersebut langsung dimatikan oleh Zeha. Dari samping, Aeri bisa melihat bibir tipis itu tersenyum melihat kedatangan Ara sehingga sudut bibirnya serta merta mengikuti dan ikut tersenyum kala melihat senyum tulus yang jarang terlihat itu.


"Disaat tersenyum, tuan Zeha seperti bukan tuan Zeha yang dingin seperti biasanya." Tanpa sadar ia bergumam.


"Kak Zeha gimana, sih?!" Protes Ara cemberut. "Tadi juga Ara sapa diabaikan."


Zeha tertawa melihat mulut Ara yang mengerucut imut. Ia mencubit gemas pipih tebam Ara.


"Maaf, ya. Kak Zeha tadi tidak menyadarinya," tutur Zeha mengusap lembut kepala Ara.


"Kak Zeha marah, ya?"


"Ara tau dari mana?"


"Tadi kakak mata berair yang keluar dari rumah kak Zeha yang mengatakan," tutur Arah menyentuh pipi Zeha.


Kening Zeha mengerut bingung. Apa yang dimaksud Ara adalah Aeri? Ia kembali teringat kata-kata yang ia ucapkan sebelum pergi tadi. Ia rasa ucapannya tidak ada apa-apanya. Lalu, kenapa gadis itu malah menangis? Benar benar cengeng, pikir Zeha. Begitu saja menangis.


"Kak Zeha jangan marah-marah terus, ya. Nanti cepat tua. Kalau kak Zeha tua nanti Ara tidak bisa menikah dengan kakak kalau Ara sudah besar." Kontan ucapan polos Ara membuat ketawa Zeha pecah saat itu juga. Sebelah tangan memegang perut yang mulai terasa sakit sedang sebelah tangan menahan pinggang kecil Ara agar tidak terjatuh.


Seketika saat itu Aeri termangu melihat Zeha tertawa begitu lepas. Seolah beban yang dipikul oleh lelaki itu hilang entah kemana. Namun, ciuman beruntun yang lelaki itu berikan pada Ara membuat Aeri melompat keluar dari tempat persembunyian. Apalagi pelukan posesif di pinggang kecil Ara mengusik matanya.


"Tuan Zeha! Apa yang anda lakukan?!" Aeri menarik paksa Ara dari pangkuan membuat tawa Zeha lenyap begitu saja.


"Apa maksudmu?" Zeha sontak bangkit dengan wajah kebingungan. Ara bahkan disembunyikan dibalik punggung kecilnya itu. Bola matanya begulir silih berganti memandangi wajah Aeri dan Ara yang disembunyikan. Tidak mungkin, kan sekretaris-nya itu salah faham?


Sepertinya iya. Lihat wajah jijik yang di pasang itu? Benar-benar membuat Zeha menggeram kesal.


"Apa? Kau pikir aku pedofil?" Zeha kembali tertawa. Namun ini berbeda. Tawanya kali ini lebih terdengar mengerikan banding tawa lepasnya tadi. Lalu seketika kembali datar. "Aku masih waras, Kwon Aeri! Dan apa yang kau lakukan di sini? Kau menguping?"


Aeri terjingkat mendengar sentakan tegas itu. Ia menelan saliva yang terasa begitu pekat. Maniknya menatap kesembarang arah mencuba membuang perasaan takut yang mulai menggerogoki. Siapa pun pasti akan salah faham jika seperti tadi tadi.


"M--maaf tuan, saya tidak ... saya hanya menemani Ara saja." Namun tetap saja Ara ia sembunyikan dibalik tubuhnya.


"Ara... ayo kak Zeha hantar pulang." Zeha menarik Ara keluar dari balik punggung Aeri. "Nanti Ara jangan jadi macam kak Itu. Bodoh, tidak punya otak!" sindir Zeha memicingkan mata ke arah Aeri. Bisa-bisa'nya ia dikira menyukai anak dibawah umur oleh gadis itu. Memangnya ia itu tidak punya otak, ya? Sampai harus memiliki hasrat pada anak-anak seperti Ara.


"Kak itu pacar kak Zeha, ya?"


"Dia bukan type kakak. Lagian kakak itu hanya cocok jadi mainan atau pelayan kak Zeha saja."


Deg!


Hinaan yang sengaja Zeha ucapkan itu berhasil melukai perasaan Aeri yang mengikuti langkahnya dari belakang. Kepalanya sedikit menunduk dengan tangan mengepal. Ternyata di mata semua orang yang memandangnya, ia tetap hina dan rendah.


Matanya ia kerjap-kerjapkan menahan buliran air bening yang ingin tumpah. Ingin meraung dan marah, tetapi apa gunanya? Karena apa yang diucapkan oleh sang tuan benar belaka. Dirinya memang hanya pantas menjadi pelayan lelaki tersebut.


Ingin menjadi pasangan? Itu hanya akan terjadi di alam mimpi. Dan satu lagi, ini yang membuat Aeri kehilangan kata-kata. Bisa-bisanya Zeha mengatakan hal buruk seperti demikian pada anak di bawah umur? Otaknya ia letak di mana? Bukan Aeri yang tidak memiliki otak tapi dia.


"Bukannya Ara ingin menjadi kekasih kak Zeha, ya?" Sudut bibir Zeha tertarik melihat Aeri merasa terhina. Ya, itu memang niatnya-si. Biar gadis itu tahu diri sedikit dan tidak seenaknya saja.


Setelah mengantar Ara pulang, zeha juga langsung kembali ke unit apartemennya yang hanya berjarak lima unit dari Ara. Tetapi setelah lelaki itu menjatuhkan bokong pada sofa pun Aeri belun juga melangkahkan kaki untuk masuk. Ia tetap berdiri di ambang pintu dengan kepala sedikit menunduk.


Walaupun ia ingin mengabaikan ucapan Zeha tadi, namun tetap saja hinaan yang ada benarnya itu terus menyakiti hati rapuhnya.


"Kenapa tidak masuk? Kau mau di situ sampai malam?" Tanya Zeha terkesan dingin seperti biasanya.


"Saya sudah baik-baik saja. Jadi, saya rasa, saya tidak perlu masuk lagi." Aeri menundukkan kepala. "Terima kasih karena semalam tuan sudah menyelamatkan saya," ucap Aeri setelahnya. Manik kecoklatannya bertemu pandang dengan manik gelap Zeha yang menusuk tajam padanya.


"Masuk!" Baru selangkah sebelum perintah tegas itu membuatnya kembali mengurungkan niat untuk pergi. Aeri tercegat. Suara tegas itu membuatnya takut untuk melangkah. Tetapi untuk masuk juga ia tidak berani. Lagian kenapa ia harus masuk? Ia tidak ada urusan apa-apa dengan atasannya itu.


"Kenapa? Mau diberi pinjaman lagi baru masuk?" Sindiran itu membuat Aeri langsung melangkah kaki masuk ke dalam dan membiarkan pintu terbuka.


"Tutup pintunya!" Aeri menghela napas panjang, lalu memutar tubuh untuk menutup pintu. Barulah setelahnya ia mendekat dan berdiri di samping Zeha. Ia tidak berani duduk jika tidak diperintahkan untuk duduk.


"Mulai sekarang, kau akan tinggal di sini."