The President'S Crazy

The President'S Crazy
part.34



Aeri membawa tubuh meninggalkan area tersebut, tetapi tiba-tiba saja ia menghentikan ayunan kakinya. Kepala Aeri secara perlahan membawanya untuk kembali menoleh. Kalau tidak salah, tadi, beberapa detik yang lalu indra pendengarannya mendengar bunyi brak dari arah bagian gudang penyimpanan.


Lama Aeri berdiri di sana, mungkin saja apa yang didengar tadi akan berbunyi lagi jika ia tidak salah mendengar. Tetapi, hingga sekarang pun bunyi itu tidak muncul kembali. Apa mungkin ia salah dengar? Ya, itu boleh jadi.


Aeri kembali mengayun kaki pergi dari sana, namun saat itu pula bunyi yang menarik atensinya kembali mengagetkannya. Kepala dengan cepat menoleh. Berarti apa yang didengar tadi tidak salah.


Aeri pun membawa kakinya menapak secara perlahan. Ia tidak tahu siapa yang berada di sana. Namun, itu bisa saja hanya bunyi kucing yang hari itu ia temui sewaktu lembur. Wah, bisa habis penyimpanan bahan makanan mereka jika kucing itu mengacau di sana.


Karena takut hal itu benar-benar terjadi, Aeri sontak mengambil langkah lebar agar segera memergok kucing sialan itu. Heran, kenapa kucing bisa ada di dalam perusahaan tersebut? Bahkan tidak ada yang mengusir hewan tersebut. Mustahilkan, hanya ia yang pernah melihatnya? Aeri tersenyum, membayangkannya sungguh tidak logik.


"Hmm?" Tubuh Aeri tiba tiba berhenti dengan alis yang mengernyit. Semakin dekat ke bagian penyimpanan, mengapa ia malah mendengar suara-suara aneh? Seperti lenguhan lebih tepatnya.


Jangan bilang di sana ada pasangan yang tidak dapat mengontrol gairah mereka? Aeri harap-harap cemas. Benarkah apa yang di dengar oleh telinganya itu? Aeri dibuat berpikir keras. Untung saja yang mendengarnya adalah dirinya. Bagaimana jika Zeha yang mendengarnya? Entah apa yang akan terjadi pada pasangan tersebut pun Aeri tidak dapat membayangkannya.


Ya, walaupun atasannya itu sendiri sering melakukan hal seperti demikian dengan wanita di luar sana. Cih. Kenapa sekarang ia malah memikirkan lelaki itu? Aeri menggeleng kuat, membuang isi kepala yang tiba-tiba penuh oleh sang atasan.


Aeri kembali mendekat. Kakinya baru selangkah sebelum samar-samar ia mendengar nama dari sahabat lelaki yang sempat terpikirkan olehnya tadi.


"Kak sehun? Apa telingaku bermasalah, ya?" Situasi ini mengapa malah membingungkannya, ya? Ingin memergok, kenapa malah ia yang pusing?


Kalau memang Aeri salah dengar maka setelah ini ia harus membersihkan telinganya super extra. Seingat Aeri, tadi Sehun telah pergi setelah mengatakan padanya bahwa ia memiliki pekerjaan lain. Terus, mengapa Aeri malah mendengar nama itu dari dalam sana? Atau mungkin di J'Foodies ada nama yang sama dengan sahabat Zeha itu?


Entah mengapa jantungnya malah memompa cepat, seolah Aeri pula yang telah tertangkap basah melakukan kesalahan.


Aeri semakin dekat membawa tubuh. Tiba-tiba saja Aeri terpikirkan. Bagaimana jika ia memergoki pasangan di dalam sana dan setelahnya, ia malah semakin dibenci. Atau lebih buruk, ia akan kembali mendapatkan caci makian. Apalagi tidak akan ada yang ingin membelanya seperti mana Sehun tadi. Zeha pun tidak ada dan mungkin besok hari baru pulang.


Namun, semuanya buyar saat mendengar nama Sehun kembali disebut, kali ini lebih jelas dari yang pertama, tapi yang membuat Aeri termangu adalah suara yang menyebut nama Sehun terdengar seperti suara temannya--Yuri. Saking tidak percayanya, Aeri sampai menutup mulut mengguna sebelah tangannya.


"Nikmat bukan?"


Napas Aeri tercekat mendengar suara sang lelaki. Jika tadi hanya sebelah tangan yang menutup mulutnya, kini keduanya telah bertengger rapi di sana dengan bola mata yang membulat penuh pada tempatnya. Begitu juga dengan sang mulut, walau tertutup oleh tangan, siapa yang tahu bahwa di dalam sana bibir itu buka lebar--kepalan tangan seolah muat jika dimasukkan.


Aeri tidak ingin percaya. Mungkin itu memang suara Yuri, namun itu tidak mungkin suara Sehun karena lelaki itu telah pergi beberapa waktu yang lalu. Lagian mereka tidak saling kenal. Iya, Aeri sangat yakin itu. Biasanya, jika Yuri berkenalan dengan seseorang lebih tepat dengan seorang lelaki, temannya itu pasti menceritakan pada Aeri. Dan sebelum ini, Yuri sama sekali tidak ada mengatakan apa-apa padanya.


Untuk memastikan semuanya, dengan hati-hati juga dengan degupan jantung yang melaju, Aeri mengetuk pintu yang tertutup rapat itu.


"Yuri .., kau di dalam?"


Suara Aeri mengagetkan Sehun dan Yuri yang sedang bercumbu panas. Kedua tangan yang bertengger di dada sang gadis kontan terhenti dari aktivitasnya yang memberi pijatan di sana. Kedua pandangan mereka bertemu setelah pagutan yang mencipta benang saliva terputus. Wajah keduanya memerah karena aktivitas panas mereka.


"Yuri ...." seruan itu langsung membuat kedua orang itu kelabakan membenahi pakaian, terutama Yuri. Ia memasukkan kembali miliknya ke dalam tempat semula, lalu merapikan rambut yang sedikit berantakan.


Plak!


Tangan Yuri kontan melayang memukul kuat lengan berotot Sehun. "Ini semua salahmu!" Bisiknya kesalnya dengan tatapan nyalang yang membuat lelaki itu tersenyum samar.


"Kau juga tidak menolaknya," sahut Sehun membukam Yuri. Gadis itu hanya berdecih karena perkataan itu benar.


"Kau tetap di sini! Jangan keluar sebelum aku membawa Aeri pergi."


Yuri pun membuka pintu dengan sedikit ruang yang hanya muat untuk tubuhnya lalui. "A-aeri ... apa yang kau lalukan di sini?" Tanyanya terkesan kikuk.


"Sepatutnya aku bertanya seperti itu. Apa yang kau lakukan di dalam?" Manik Aeri memindai wajah temannya yang tampak memerah. Apalagi dua belah bibir itu terlihat merekah seperti habis dicium.


Aeri mengernyit aneh. Ia menatap ke arah pintu yang tertutup. "Kau bersama siapa di dalam?"


Pertanyaan itu kontan membuat Yuri menggigit bibir. Ia seolah tertangkap berbuat mesum di sekolah. "T-tidak sam--"


Aeri termangu menatap sosok yang tiba-tiba keluar dari dalam. Jadi semua terkaannya tadi benar? Bermakna telinganya masih berfungsi dengan baik. Bukan hanya Aeri yang terkesiap, Yuri yang sedari tadi menjaga di sana juga tampak kaget melihat Sehun keluar secara tiba-tiba.


Yuri langsung melayangkan pandangan tajam pada lelaki itu. Padahal tadi ia sudah berpesan untuk tidak keluar sebelum ia membawa Aeri pergi dari sana. Lelaki ini pasti sengaja, bisik batin Yuri kesal.


"A-aeri ... kau jangan pikir macam-macam. Kami tidak melakukan apapun di dalam ...."


"Iya, kita melakukannya," sahut Sehun semakin membuat Yuri emosi.


"Kak Sehun?" Aeri menatap silih berganti antara Yuri dan Sehun.


Sehun hanya menanggapi dengan menaik-turunkan alisnya seraya tersenyun lebar. Ia mengabaikan tatapan nyalang Yuri yang berdiri di sisinya. Dalam hati ia lagi-lagi tersenyum puas setelah berhasil membuat gadis yang ia klaim sebagai miliknya itu tidak dapat berbuat apa-apa.


"Bukannya tadi kak Sehun bilang ada pekerjaan, ya?" Sehun hanya mengangguk, mengiakan ucapan Aeri.


Sedangkan Yuri yang bingung kala mendengar Aeri memanggil Sehun dengan sebuatan kak Sehun, dibuat menganga. Ada apa ini? Pikirnya.


"Aeri, kau mengenalnya?" Yuri meraih tangan temannya itu.


"Iya. Dia sahabatnya Tuan Zeha--atasan kita," jawap Aeri semakin membuat Yuri terkesima. Kepalanya menoleh cepat menemui Sehun yang sok mengabaikannya.


Seketika Yuri merasa malu telah menanyakan keberadaan Sehun di sana tadi. Kini terjawap sudah tanda tanya yang selama ini memenuhi pikirannya tentang kejadian di belakang gedung di mana Sehun datang dan menyelamatkannya dari kekasih yang kini telah menjadi mantannya.


"Baiklah, Aeri sekarang aku harus benar-benar pergi," tukas Sehun setelah melirik jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan. Melalui ekor mata Sehun menyapu wajah Yuri yang tidak melihat padanya.


"Ingat, kalau ada yang tidak kau mengerti jangan sungkan untuk menelponku. Apa kau faham?"


Mengapa di saat seperti ini lelaki itu terdengar berbeda, terkesan dingin dengan karismanya. Yuri mengintai dengan takut-takut.


Deg!


Sial. Pandangan mereka malah bertemu dan hal itu sukses membuat kedua pipi Yuri merona karena otomatis teringat akan kejadian yang membuat darah berdesir beberapa menit lalu. Dengan cepat ia melarikan pandangannya. Membuat Sehun tersenyum miring yang terkesan manis.


"Baiklah, dimengerti," Aeri menyahut. Namun, bola mata memerhati kedua orang yang saling melirik itu.


"Baiklah Yuri... Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?"


"Oh, iya. Aku masih ada pekerjaan yang belum selesai .. aku pergi dulu." Yuri berlari meninggalkan Aeri dengan pertanyaan yang digantung. Aeri menatap ke arah perginya temannya itu. Jelas bahwa Yuri berniat menghindar dari menjawap pertanyaannya.


Tidak apa juga karena sejak tadi Aeri telah menahan untuk membuang air kecil karena bunyi aneh yang dihasilkan oleh Sehun dan Yuri. Kira-kira apa yang mereka lakukan di dalam, ya? Uk! Aeri tidak bisa berpikir apa-apa lagi, ia kebelet.


Ia membawa langkah besar menuju WC, masuk dengan tergesa-gesa. Seketika ia sempat terhenti saat melihat wanita yang ia temui di depan lif tadi. Namun, karena sudah tidak tahan, Aeri pun mengabaikan dan masuk ke dalam salah satu kamar di sana.


Wanita itu hanya menatap dingin pada pintu kamar yang Aeri masuki. Kemudian, ia memberi kode mata pada salah satu temannya di sana yang reflek meletakkan batang penyapu di depan kamar kecil yang Aeri masuki.


Setelahnya mereka semua pun beranjak keluar, dan mengunci pintu dari luar. Salah dari teman wanita itu lagi mengambil selembar kertas yang di atasnya tertulis 'WC sedang di perbaiki'. Saat semuanya beres, mereka berlalu dengan bibir tertarik lebar.