The President'S Crazy

The President'S Crazy
part. 50



(maaf 😅 part. 51 satunya ketinggalan)


Zeha membanting stir beberapa kali guna melampiaskan emosinya. Mobil Ferrari LaFerrari miliknya melaju dalam kecepatan tinggi. Bibir manis Aeri yang sering ia nikmati selalu saja berhasil menyakiti hatinya yang keras bak baja. Zeha ingin mengabaikan, tapi ia tidak bisa. Kata-kata yang tidak pernah ia pedulikan dikala orang lain yang mengatakan, namun entah bagaimana begitu mengganggu disaat keluar dari bibir Aeri.


Lagi dan lagi karena wanita. Wanita dan wanita, mereka memang sampah di atas muka bumi. Zeha meresa bodoh karena beberapa hari ini sempat tergoyah akan pendirian yang membenci wanita karena Aeri. Ia kembali memanting stir dengan luapan emosi yang membuncah.


"Brengsek!"


Wajah tampan Zeha mengeras dengan rahang mengetat, giginya bergemelatuk hingga terdengar gesekan antar gigi. Aeri fikir siapa dirinya sehingga berani berbicara seperti itu? Cih! Hanya bekas cleaning service begitu berani berkata seperti demikian padanya. Benar-benar tidak tahu malu. Lantas, kenapa ia harus terpancing dengan ucapan gadis itu?


"****!"


Rasanya Zeha ingin menabrak apa saja yang menghalangi jalannya. Ia menyugar rambut dengan kasar ke belakang. Ia butuh sesuatu untuk melampiaskan segala rasa yang berbaur menjadi satu di dadanya.


Lebih sial lagi, Zeha malah merasa menyesal telah menyakiti hati Aeri. Jujur Zeha tidak berniat untuk mengeluarkan kata-kata kasar itu, tetapi tubuhnya lebih dulu dikuasai oleh emosi yang sontak meluap-luap dikala mendengar kata hina dan jijik yang meluncur dari mulut Aeri. Entahlah, Zeha sendiri tidak mengerti dengan dirinya. Mengapa ia harus emosi saat mendengarnya? Seolah Aeri menghinanya secara tidak langsung. Padahal gadis bodoh itu hanya salah satu mainnya.


"Ckk!"


Zeha berhenti di sebuah club yang biasa ia kunjungi bersama Sehun. Ia melangkah masuk dengan aura gelap tak tersentuh. Tiada yang berani mendekat walau banyak wanita sangat ingin menyentuhnya dan menyerahkan tubuh.


"Wah Tuan Zeha ... tumben datang setelah seki--"


"Diam! Hantarkan wiski ke kamar biasa!" Sela Zeha memotong tanpa menghentikan tungkai menuju ruangan yang biasa ia gunakan.


Lelaki paruh baya yang masih terlihat gagah terdiam ditempat dengan takut. Jika sudah seperti itu aura yang dikeluarkan ia yakin Zeha sudah pasti berada dalam masalah. Tanpa berlama-lama lagi, lelaki paruh baya nan gagah itu memerintahkan pelayan untuk mengantarkan minuman tamu VVIPnya itu.


"Nara!" Teriaknya. Tidak lama kemudian, seorang wanita berpakaian minim datang menghampiri.


"Ada apa?"


"Tuan Zeha ada di ruangannya, tapi sepertinya dia berada dalam mood bahaya," ujar lelaki paru baya tersebut, membuat sudut bibir Nara kontan tertarik.


"Benarkah?" Jujur Nara merindukan lelaki brengsek itu. Entah ada pekerjaan apa sehingga sudah jarang berkunjung ke club tersebut. Nara rindu untuk dimanja oleh setiap sentuhan Zeha. "Kalau begitu aku akan ke sana."


"Kau tidak takut?" Pertanyaan itu menghentikan ayunan kaki Nara. "Tuan Zeha sepertinya tidak ingin diganggu," sambung lelaki itu.


"Jangan cemas, Tuan Zeha tidak akan mampu menolakku karena aku wanita kesayangan Tuan Zeha di sini." Dengan rasa percaya diri yang tinggi, juga senyum lebar di wajah, Nara bergerak menuju kamar yang ditempati Zeha.


Saat Nara membuka pintu kamar yang Zeha tempati, yang pertama ia lihat adalah Zeha meneguk wiski langsung dari tempatnya. Dada bidang itu terekspos disaat empat kancing teratas di buka. Senyum semakin lebar dibibir Nara dikala Zeha sudah jelas di depan mata.


"Tuan Zeha ... Nara merinduk--"


"Keluar!"


Nara terhenyak dengan langkah yang terhenti. Saliva kontan terasa pekat saat ia telan. Tiba-tiba aura disekitar mencekam membuat Nara bergidik ngeri. Tetapi itu semua tidak membuat Nara menyerah. Ia yakin itu hanya sebentar, setelah ia merayu lelaki siapapun tidak akan mampu menolaknya, sekalipun itu Zeha, lelaki terdingin dan kejam yang pernah ia temui.


"Jangan marah Tuan Zeha." Dengan berani Nara kembali mendekat dan menjatuhkan bokong tepat di samping Zeha. "Nara rindu dengan Tuan ...."


Nara pun mulai dengan aksi rayuannya, meraba dengan super lembut dada bidang yang terlihat dari sela baju. Nara melirik melalui ekor matanya. Ia tersenyum saat Zeha hanya diam. Lelaki itu hanya menikmati wiski disetiap tegukannya. Sepertinya Zeha memiliki masalah, sangat terlihat dari pandang matanya, lalu apa peduli Nara? Tidak ada! Yang Nara ingin hanya uang dari lelaki kaya itu.


"Nara sangat rindu dengan belaian anda," lirih Nara bergelayut manja di dada berotot Zeha. "Kenapa Tuan tidak pernah datang lagi?"


Zeha langsung tidak berminat untuk menjawap setiap pertanyaan yang mengganggu telingannya. Ia hanya melirik tajam pada Nara yang bersandar tanpa tahu malu di atas tubuhnya. Zeha menegak habis Wiski yang berada dalam botol, lalu kembali melirik pada Nara yang masih di sana.


Sudut bibir Zeha tertarik, ia seolah jijik dengan keberadaan Nara di sana. Lagi dan lagi karena segelintir wanita yang seperti Nara, nama wanita di seluruh dunia semakin buruk di mata Zeha. Semakin rendah dan semakin menjijikkannya.


Srek!


"Argkkk!"


Tanpa belas kasih, Zeha menjambak rambut sebahu Nara, menarik dengan sekuat tenaga agar kepala itu menjauh dari tubuhnya, bahkan ringisan dan teriakan kesakitan Nara tidak dipeduli oleh Zeha.


"Menjauh dariku!" Dengan kasar Zeha menghempas kepala Nara pada sofa.


Walaupun kulit kepala terasa ingin tercabut oleh tarikan kuat Zeha, itu tidak membuat Nara kampok dan menyerah.


Refleks tatapan tajam menghunus pada Nara. "Aku tidak punya kekasih atau pacar! Jaga bicaramu!" Entah mengapa mendengar kata 'pacar' membuat Zeha emosi. Mungkin dengan kata itu, semakin membuatnya teringat akan Aeri.


"Jika seperti itu ...." dengan tidak tahu malunya, Nara naik ke atas pangkuan Zeha. Duduk dengan kedua lutut mengangkangi paha lelaki tersebut. Lalu dengan sengaja membusungkan dada agar semakin menyembul dari tempatnya, menggoda Zeha yang terus menatapnya tanpa ekspresi. "Izinkan aku melayani anda, Tuan Zeha," lirik Nara seksual.


Zeha tidak menyahut. Ia diam tanpa mengalihkan tatapan mata dari tubuh yang meliuk di atas tubuhnya. Sungguh wanita yang tidak mengerti bahasa. Ini adalah salah satu hal yang paling Zeha tidak suka atau lebih tepatnya benci. Ia benci ucapannya diendahkan.


"Kau rindu denganku?" Tanya Zeha tidak meruba ekspresi wajah yang langsung diangguki oleh Nara dengan antusias.


"Kau rindu belaian?" Nara kembali mengangguk.


Zeha menunjukkan smirk yang mengerikan saat Nara terlihat menikmati belaian tangannya dengan manik terpejam yang berada pada dada menyembulnya.


"Jika seperti itu, aku akan memberimu tugas ...."


"Aku akan melakukan apapun untuk anda uhh ...." Nara melenguh pendek saat Zeha mengecup singkat dada atasnya.


"Pertama kita harus pergi dari sini dulu." Tanpa menunggu lagi Zeha segera membawa Nara keluar dari club tersebut.


Nara memeluk erat lengan kekar Zeha dengan perasaan yang berbunga-bunga. Sebentar lagi ia akan membawa uang yang banyak setelah memuaskan Zeha dengan kerjanya. Seperti yang Nara katakan, tidak ada yang bisa menolak pesonanya.


"Eh ...." Nara mengernyit dikala Zeha melewati mobilnya. Bukannya Zeha akan membawa ia ke hotel tempat biasa mereka bermesraan berbagi keringat?


"Kita mau ke mana Tuan Zeha?" Tanya Nara merasa aneh. Apalagi Zeha membawanya ke belakang gedung yang biasanya banyak pemabuk di sana. "Tuan ... kita mau ke mana?" Namun, Zeha tetap mengabaikan pertanyaannya.


Nara semakin gelisah disaat mereka telah tiba di hadapan para pemabuk tersebut. Wanita itu kontan bersembunyi di balik punggung lebar Zeha.


"Ayo ... kita pergi Tuan--"


"Kau rindu dibelai bukan?" Tanya Zeha mengerikan. Nara mengambil langkah mundur, namun segera di tahan oleh Zeha. "Kau juga mengatakan akan melakukan apapun untukku, jadi kau akan dapat belaian yang kau rindukan dalam tugas yang aku berikan."


"Ti--tidak ... argkkk!"


Tubuh Nara didorong hingga jatuh terbaring di atas pangkuan para pemabuk yang sedari tadi terus menatap mereka. "Tugasmu adalah melayani mereka!"


"Wanita itu milik kalian."


"Tidak! Argk! Tuan tolong ...."


Zeha tidak peduli, dirinya bagaikan patung yang tidak berperasaan. Malah hatinya tersenyum evil saat Nara disetubuhi oleh 5 lelaki sekaligus. Bukankah tadi ia merindukan belaian? Maka Zeha berikan.


Tanpa rasa jijik Zeha menonton adegan panas di antara satu wanita dan lima lelaki, sungguh adegan yang erotis dan dapat membangkitkan jiwa liar siapapun, termasuk Zeha. Tetapi, entah mengapa ia tidak ingin melakukan adegan tersebut dengan wanita manapun.


Nara telah polos dibuat kelima lelaki tersebut. Teriakan penolakan serta kesakitan Nara tadi telah tergantikan oleh suara-suara laknat yang semakin membuat kelima lelaki itu menggila. Nara benar benar merasakan rasa yang membuatnya melayang tinggi. Tubuhnya meliuk-meliuk bak cacing kepanasan.


Kedua dadanya melambung tinggi kala dinikmati dengan liar oleh dua mulut sekaligus. Kedua tangannya turun bahkan membantu menekan kedua kepala yang berada di atas puncaknya. Sementara mulutnya dicium begitu bringas dengan saling menjulurkan lidah bertukar saliva. Manakala pusat inti bagian bawahnya di nikmati oleh dua lelaki secara pergantian.


"****** menjijikkan," lirih salah seorang lelaki yang gilirannya memasuki Nara khas orang yang sedang mabok. Tetapi siapa sangkah lirihan lelaki itu membuat telingan Zeha panas.


Dor! Dor!


Dor! Dor!


Dor! Dor!


Keenamnya mati tanpa segelai benang ditubuh, bahkan ada yang miliknya masih terbenam di dalam tubuh Nara. Darah mengalir dari setiap tubuh yang Zeha tembaki. Setelah meniup ujung pistol yang mengeluarkan asap, Zeha kembali menyimpan benda kesayangannya itu masuk ke dalam kantong.


Zeha berbalik, berlalu dari sana setelah menelpon Gary untuk membereskan mayat-mayat orang tidak berguna itu. Zeha kembali membawa mobilnya pulang ke apartemen. Kini perasaannya terasa lebih baik setelah membunuh, terasa lebih ringan. Disaat Zeha melirik jam yang melingkar pada pergelangannya, waktu telah menunjukkan pukul 12 tengah malam lewat. Ia yakin Aeri telah tidur.


Zeha merasa aneh saat menginjakkan kaki masuk ke dalam apartemen, lampu masih menyala seperti saat ia pergi tadi. Tungkai Zeha bergerak membawa tubuhnya menuju dapur, di mana tadi sempat terjadi perdebatan antara dirinya dan Aeri di sana. Istingnya mengatakan bahwa gadis itu masih berada di dapur.


Dan terkaan Zeha benar. Aeri tertidur di sana.


"Dasar gadis bodoh."