
"Anda sudah selesai?" tanya Gary tepat disaat Zeha keluar dari ruangan VVIP tersebut.
"Hmm.... "
Tidak lama kemudian, manager Lee mendekat dikala melihat Zeha, tamu besarnya muncul pada bagian tengah club.
"Tuan Zeha sudah ingin pergi? Apa Aeri melakukan kesalahan?"
Sungguh manager Lee takut jika Aeri telah menyinggung orang besar seperti Zeha. Apalagi, malam itu adalah malam terakhir Aeri bekerja di sana. Bagaimana jika suatu hari nanti Zeha datang dan meminta ganti rugi atas ketidakpuasannya?
Zeha hanya tersenyum menanggapi ucapan manager Lee. Ia tidak akan mengatakan apapun mengenai apa yang ia rasakan sekarang ataupun mengenai Aeri. Apakah ia puas atau tidak, biarlah dirinya sendiri yang mengetahuinya.
"Hal itu kau tidak perlu tahu, sekarang yang perlu kau tahu adalah setelah ini Aeri tidak dibenarkan bekerja di sini lagi!"
"Anda tenang saja, karena Aeri memang telah mengatakan bahwa dia akan berhenti," manager Lee menyahut.
"Ouh benarkah?" Zeha tersenyum kecil yang tak terlihat oleh siapapun. "Alasan apa yang dia katakan?"
"Entahlah. Dia hanya mengatakan, dia tidak ingin bekerja di sini lagi dan katanya lagi, dia tidak ingin membuat orang itu marah.... Tapi, orang siapa yang dia maksud, aku tidak tahu," terang manager Lee mengingat, juga berfikir.
Senyum di bibir Zeha semakin mengembang. Ternyata Aeri benar-benar mendengar padanya. Entah mengapa, itu terkesan imut menurut Zeha. Apalagi membanyangkan wajah Aeri dikala takut dan terjingkat karena bentakkannya membuat Zeha menahan senyum.
"Bagus. Kalau begitu aku pergi dulu."
"Selamat malam Tn. Zeha... Semoga tidur anda nyenyak," ucap manager Lee seraya menunduk hormat, sebelum Zeha berlalu bersama Gary.
"Aku akan pulang sendiri. Kau di sini. Pastikan Aeri benar-benar berhenti dari club ini, dan.... besok jangan lupa hantar dres yang telah aku siapkan ke apartemen." perintah Zeha dikala telah tiba di mobil.
"Baik Tuan," sahut Gary, setelah membukakan pintu mobil bagian kemudi.
.....
Di seberang jalan, tampak sebuah mobil terparkir rapi tepat di depan Black Club. Atensi Yohun terus tertuju pada pintu keluar club tersebut, seperti sedang menunggu seseorang. Keempat jari bergilir-gilir mengetuk ring stir, mencipta sebuah irama secara tak langsung.
Tidak lama kemudian, seorang wanita tampak keluar dari sana. Tanpa menunggu lagi, Yohun segera bergerak membuka pintu mobil lantas berlari kecil, menghampiri.
"Aeri!" serunya lantang, menghentikan Aeri.
Diwaktu yang hampir bertepatan, Zeha baru saja mendapat telpon dari Gary. Entah apa yang dikatakan oleh Gary, sehingga membuat Zeha memutar stil, berpatah balik dan menancap gas setelah panggilan diputuskan. Padahal ia sudah berada di pertengahan jalan pulang.
"Yohun? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Aeri dengan alis berkerut.
"Aku menunggu mu," sahut Yohun, berdiri tepat di hadapan Aeri. Menatap dalam manik lembut yang kontan menunduk setelah mendengar ucapannya.
"Aku--" Ujar mereka secara bersamaan. Membuat mereka tersenyum, dan merasa canggung.
"Kau duluan...."
"Tidak. Kau saja ...." Yohun menolak dan mempersilahkan Aeri.
Sejenak terdapat hening diantara mereka sebelum Aeri akhirnya mengatakan sesuatu. "Terima kasih .... Terima kasih karena telah membantu Zeha membersihkan namaku dari rumor yang beredar, " tutur Aeri tulus dari hati.
𝘔𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶? Yohun tersenyum kecut. Ternyata Aeri menduga konferensipers yang diadakan hari itu dibuat oleh Zeha, sedangkan ia hanya membantu saja. Sungguh miris.
"Bukankah sedari dulu aku sering melakukan hal yang sama?"
Aeri terdiam. Ia mengalihkan wajahnya dari tatapan Yohun. "Ya ...," Aeri menyahut pelan.
"Apakah kau masih belum bisa memaafkanku?"
"Yohun... mungkin kau orang yang paling mengenalkanku setelah ayah, jadi aku rasa kau pasti tahu bahwa aku telah memaafkan mu....."
"Jadi..., bisakah aku berharap sedikitpun?"
Aeri tersenyum kecil, namun terdapat kegetiran dalam garis yang indah itu. "Aku memaafkanmu, aku juga tidak membencimu, Yohun. Tetapi, untuk kembali sepertu dulu .... aku rasa aku tidak bisa. Aku ingin... menghapus kenangan kelam yang terus menghantuiku itu, namun aku tidak bisa. Bayangan saat itu terus merobek ketenangan dalam hidupku, membuatku kadang ingin mengakhiri hidup, tapi aku tidak bisa. Aku marah, kecewa, sedih dan benci dalam waktu sama. Disaat aku ingin melupakan dan hidup seperti tidak pernah terjadi sesuatu, bayangan itu datang menggrogoti jiwaku hingga hancur berkeping kala melihat lelaki itu ternyata kau, Yohun."
Tangan Yohun mengepal kuat. Aliran lihuid bening mengalir, membasahi pipi lelaki tersebut.
"Maaf... Maafkan aku, maafkan aku Aeri," lirih Yohun menunduk. Hanya tuhan yang tahu seberapa besar rasa bersalah yang ia rasakan saat itu. Hatinya turut terluka. Tiada kata yang bisa menggambarkan bagaimana perasaannya.
Aeri cukup kaget melihat Yohun mengeluarkan air mata. Selama mengenal Yohun, ini adalah kali pertamanya Aeri melihat Yohun menangis, lelaki yang tegar, berhati lembut juga dingin itu.
"Sudahlah...." Aeri menggantung ucapannya. Tangannya bergerak naik, menghapus secara lembut bekas air mata itu. "Semua sudah terjadi. Apa gunanya menyesal? Nasi yang telah menjadi bubur tidak akan bisa kembali seperti sedia kala lagi. Aku telah memaafkanmu, tapi maaf, untuk kembali seperti dulu, aku tidak bisa," sambungnya.
Aeri membiarkan saja saat Yohun menggenggam tangannya yang menyentuh pipi lelaki itu. Tetapi, itu tidak berlangsung lama, sebelum Aeri menarik tangannya kembali.
"Bukankah ada yang ingin kau katakan juga? Katakanlah...."
"Aku sangat bersyukur kau telah memaafkan ku. Aku tidak berharap akan seperti dulu, namun aku akan tetap memberikan kau waktu sebanyak mungkin. Secara perlahan, biarlah waktu yang memperbaiki hubungan diantara kita. Mungkin bukan sebagai cinta, tapi teman. Jadi.... sebagai yang terakhir kalinya, aku ingin mengajakmu ke sebuah acara besok malam. Aku mohon jangan menolakku."
"Perlukah kau mengajakku? Maksudku, kau bisa datang sendiri,kan?"
Aeri tersenyum. Ia merasa lucu dengan cara Yohun berbicara padanya. "Kau bisa berbicara seperti biasanya, Yohun. Tidak perlu merasa segan terhadapku."
Seketika Aeri teringat bahwa Zeha juga ada mengajaknya pergi kesebuah acara besok malam. Dan Zeha lebih dulu mengajaknya, jadi tidak mungkin ia menerima ajakan Yohun dan membatalkan ajakan Zeha yang lebih dulu. Jika demikian, bisa marah besar Zeha terhadapnya.
"Hmm... macam mana, ya. Sebe---"
"Mungkin terdengar egois, tetapi aku mohon tolong terima ini, bukti bahwa kau telah memaafkanku dan tidak membenciku," sela Yohun, memohon.
Melihat wajah memelas Yohun membuat Aeri merasa tidak tega untuk menolaknya. Tapi bagaimana dengan Zeha? Jika menolaknya, pasti lelaki itu akan memarahi atau bahkan menghukumnya lagi.
Tidak apalah. Toh Zeha tidak mungkin akan membunuhnya hanya karena ini, Aeri yakin itu. Lagian ini sebagai tanda terima kasih Aeri pada Yohun karena Yohun telah membantunya membersihkan namanya dari rumor buruk tentangnya. Mengenai Zeha, tidak jadi masalah, karena Aeri tidak pernah menolak perintah lelaki itu. Sekali-sekala tidak apalah.
"Baiklah.., " putus Aeri setelah berpikir.
"Betul?" jujur, Yohun masih tidak percaya.
"Iya... Aku akan jadi pasangan mu datang ke acara itu," terang Aeri lebih terperinci.
"Terima kasih banyak Aeri!" saking senangnya Yohun, ia hingga tidak sadar kontan memeluk erat tubuh kecil Aeri seperti yang biasa ia lakukan dulu, membuat Aeri bergeming dengan ***** wajah kaget dalam senyum canggung.
"Terima kasih... terima kasih...."
"Iy--"
"Kwon Aeri!"
Aeri membatu dalam pelukan Yohun. Suara tegas itu begitu familliar, ia kenal pemiliknya. Bersamaan dengan Yohun meleraikan pelukan tersebut, mereka menoleh secara serempak.
"T--tuan Ze-ha...." Tatapan tajam serta megintimidasi Zeha membuat tubuh Aeri bergetar tanpa bisa mengalihkan tatapannya dari wajah dingin yang mengeras itu.
Entah mengapa, Aeri takut jika lelaki yang sedang mendekat dengan langkah tegas itu salah faham atas apa yang telah ia lihat. Ingin melangkah menjauh, tapi tubuhnya terpaku tanpa bisa Aeri gerakkan sedikit pun.
Srek!
Zeha semakin menggerem kesal. "Apa yang kau lakukan?!" melihat Yohun tidak melepaskan pegangan pada tangan Aeri kala ia menarik Aeri. Yohun yang menjadi teman bisnis nya itu seolah menantangnya.
"Tuan Zeha seharusnya aku yang bertanya apa yang sedang kau lakukan?"
Yohun tidak ingin mengalah. Ia tahu Zeha menyukai Aeri, wanita yang dulu mencintainya. Walau Yohun tahu bahwa Aeri belum bisa mempelakukannya seperti dulu, ia merasa tidak rela jika membiarkan Zeha mengambil Aeri darinya. Ia ingin mempertahankan Aeri di sisinya.
"****** kecil tidak tahu malu!" maki Zeha menatap sinis kearah Aeri, membuat jantung berdegup kencang serta manik yang berair mendengar sindiran kejam itu.
"Kau belum puas bersenang-senang, ya di dalam tadi?" Aeri melirik tajam, penuh kecewa mendengar sindiran merendahkan Zeha.
"Apa itu kurang? Ternyata mempertahankan kesucian itu hanya di mulut saja, dalam hati kau sangat menginginkannya, kan?!"
"Jaga mulutmu--"
Plak!
Bersamaan dengan tamparan melayang itu, air mata Aeri jatuh berderai. Betapa kejamnya kata-kata dari lelaki yang notabenya adalah atasannya tersebut. Sungguh bodoh dirinya jatuh cinta pada lelaki seperti itu.
Yohun yang tidak sempat melanjutkan ucapannya, merasa puas melihat Aeri menampar lelaki kurang ajar itu.
Rahang Zeha mengetat bersamaan dengan tangan yang mengepal kuat. Tatapan setajam mata pisau Zeha layangkan pada Yohun yang tersenyum mengejek, sesaat sebelum ia langsung mengangkat tubuh Aeri ala karung beras di pundaknya.
"Turunkan aku! Turunkan!" Aeri memberontak, namun Zeha seakan tuli.
"Kau mau bawa Aeri ke mana?" Tanya Yohun menghalang jalan Zeha dengan merentangkan kedua tangannya.
"Sekarang Aeri adalah kekasihku. Kau tidak punya hak untuk menghentikan apa yang ingin akau lakukan padanya!"
Yohun terkesima tidak percaya. "Aeri....," panggilnya menuntut jawapan.
Sedangkan Aeri tidak bisa mengatakan apapun, bibirnya seakan terkunci, karena pada kenyataannya ia dan Zeha memang memiliki hubungan walaupun tidak benar. Melihat keterdiaman Aeri membuat Yohun bergeming, mengklaim bahwa apa yang Zeha katakan adalah benar.
𝘞𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯, 𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘩𝘢𝘬 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪, 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘦𝘳𝘪?
Zeha melewati Yohun yang menunduk dengan tatapan sinis tajam. Bibirnya menyungging miring merendah.
Zeha membawa langkah besar menuju mobil. Ia membuka pintu bagian belakang, lalu menghempas tubuh Aeri ke sana. Kedua lengan kokohnya kontan mengunci tubuh kecil Aeri.
"Kau menginjak harga diriku, Aeri!" matanya memerah menahan amarah yang membuncah kala mengingat Aeri menamparnya tepat di hadapan Yohun.
"Kau juga mempermalukan aku dengan hinaanmu! Kau menginjak habis harga diriku. Kau menganggap aku apa?! ... Aku bukan hewan, aku manusia yang punya perasaan!"
"Kau semakin berani, ya!"
"Arkg!"