
Aeri tidak pernah menyangkah bahwa Zeha akan membawanya ke tempat pemakaman. Lebih tepatnya tempat pemakaman ibunya. Awalnya Aeri merasa bingung saat Zeha membeli bunga, namun setelah sampai, Aeri pun akhirnya mengerti.
Aeri berdiri tepat di belakang Zeha yang berlutut di depan pemakaman sang ibu. Bunga Lili yang telah ia beli, sudah ia letakkan dekat batu nisan yang bertuliskan nama sang ibu.
Apa yang Aeri lihat sekarang adalah diri Zeha yang selama ini lelaki itu sembunyikan di balik sikap dinginnya. Seorang lelaki rapuh, seolah jika disentuh langsung hancur berkeping-keping. Lelaki yang merindukan cinta kasih ibunya, lelaki yang kesepian walau ada teman menemani. Lelaki yang butuh perhatian demi mengobati rasa benci yang telah membekukan hatinya.
"Ibu pergi lima tahun yang lalu," ujar Zeha tiba-tiba, membuyar lamunan Aeri kala itu.
"Dia adalah ibu terbaik. Lembut, penuh kasih sayang pada anak-anaknya. Dia tidak pernah membiarkan anaknya merasa susah dan kesepian. Mengajarkan kami arti dari kasih sayang yang sebenarnya. Ibu selalu tahu apa yang aku butuhkan. Saat aku sedih, marah, atau kecewa semua dia tahu."
Tanpa melihat pun, Aeri tahu bahwa lelaki di hadapannya itu sedang menangis, tetapi, sebisa mungkin ditahan. Sangat jelas dari bahu yang bergetar serta suara yang terlontar itu.
"Tapi ...." Zeha tampak meraup kasar wajahnya. Mengikuti naluri, Aeri kontan menyentuh bahu yang saat itu terlihat rapuh, lantas mengusap-ngusap dengan lembut. "Tapi, ayah menghancurkan segalanya," lanjutnya menutup mulut.
"Karena ayah ibu terkena serangan jantung." Bahu itu semakin bergetar. Menggigit bibir menahan isak. Aeri yang melihat sontak ikut berlutut, lalu memeluk kedua bahu lebar yang bergetar itu sembari terus mengusap.
"Ayah menghianati ibu, Aeri. Dia menduakan ibu. Pada saat ibu menjalani pembedahan dia malah pergi menikah dengan wanita itu. ****!"
Aeri bergeming dalam kekagetannya tanpa menghentikan usapan penenang pada bahu Zeha. Jadi ini yang telah membuat atasannya itu berubah seperti ini? Dingin dan keras. Tapi apa yang membuat Zeha begitu membenci wanita?
"Saat aku telah mengenalmu, aku melihat sosok ibu dalam dirimu." Zeha menoleh menatap Aeri. "Aku tidak tahu pasti, tetapi aku selalu teringat ibu setiap kali kau perhatian padaku. Jadi aku tidak ingin kau pergi dan meninggalkan aku seperti ibu."
Aeri terdiam seribu bahasa. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, jadi ia tidak bisa berjanji. Sesaat Aeri berpikir, apa yang akan terjadi pada Zeha jika ia pergi?
"Jadi, bisakah kau berjanji padaku?"
Aeri bergeming. Pandangannya terkunci pada Zeha yang menuntut jawapan darinya. Bibirnya terasa begitu kelu dan berat bagaikan terkunci. Aeri membuang pandangan kala ia tidak bisa memberi jawapan pada lelaki itu. Bagaimana Aeri bisa berjanji jika ia takut tidak bisa menepati?
"Diammu aku anggap 'iya."
"Ta-tapi ...."
"Sudahlah. Sekarang kita pergi."
Semenjak mengunjungi makam ibunya, Zeha seperti bukan dirinya. Lihatlah saat ini, lelaki itu banyak diam, tidak seperti biasanya, selalu ada saja perkara yang dilakukan untuk menggoda Aeri.
Setelah meninggalkan pemakaman, Zeha membawa mobil menuju taman yang berada di tengah kota. Aeri tidak berani banyak bertanya, ia takut nanti malah mengganggu pikiran Zeha yang mungkin saja menginginkan kedamaian. Aeri hanya melihat dari belakang, mengikuti Zeha mengelilingi taman tanpa ada yang bersuara.
Kala mereka mendudukkan bokong pada bangku taman, matahari sudah tergantikan dengan sang rembulan. Masih tidak ada suara yang terdengar, sepertinya pikiran Zeha sedang berkelana, sedangkan Aeri tidak berani memulai pembicraan. Ia hanya duduk sedikit jauh untuk memberi ruang pada lelaki itu.
Aeri bukanlah seseorang yang pandai merangkai kata-kata guna menghibur atasannya yang mungkin mengenang sang ibu, sehingga ia hanya menunduk sambil memelintir jari-jemarinya. Jujur Aeri merasa canggung dan bingung berada di situasi ini, ia bingung harus melakukan apa untuk membuat Zeha merasa sedikit lebih baik.
"A-aku akan membeli minuman ...."
Srek!
"Tidak. Jangan tinggalkan aku," ujar Zeha menahan tangan Aeri. Tatapannya terlihat sendu menemui manik Aeri. Secara perlahan lelaki itu menarik Aeri duduk lebih dekat padanya.
"Kau pasti bingung saat aku pernah menyebut nama River, kan?"
"Iya ...."
"Dia adalah kakaku," ucap Zeha memulai.
"Dia ... sudah meninggal," lirih Zeha menunduk. Aeri menoleh kaget dengan mulut yang terbuka. "Bunuh diri ... dia bunuh diri karena seorang wanita!"
Kedua bola mata Aeri membulat sempurna. Menatap Zeha tanpa berkedip, termangung dengan tubuh bergeming. Satu kebenaran yang sungguh membuat Aeri membisu. Sedikit demi sedikit kebenaran dan bagaimana Zeha membenci wanita, Aeri ketahui.
"Perempuan itu selingku saat River jarang meluangkan masa dengannya. Yang bodohnya, wanita itu bahagia bersama selingkuhannya, sedangkan dia ... mati karena bunuh diri. Benar-benar bodoh!"
"Perempuan itu tahu Tuan River meninggal?"
Seketika Zeha tampak tersenyum sinis kecil. "Aku bahkan hampir membunuhnya saat melihatnya mengunjungi makam River."
"J-jadi ...?"
Zeha kontan menoleh. "Jadi apa? Ya, dia selamat karena aku dicegah oleh Taehoon ... dan sampai sekarang aku tidak pernah melihatnya."
"Hm ... mungkin dia takut pada Tuan."
"Ya, dia harus," sela Zeha cepat. "Kau juga."
"Argkk!" Aeri terjingkat kaget saat dahinya tiba-tiba mendapat jitakan pelan, namun tetap sakit.
Lelaki itu tersenyum kecil dengan wajah senduhnya. "Kenapa? Tidak sakit? Mau rasa lebih menyakitkan?" Zeha menyatukan jari telunjuk serta ibu jarinya dan bersiap seolah ingin kembali menjitak dahi Aeri.
"Tidak. Ini sudah sangat sakit ...," sahut Aeri dengan bibir menggerucut, yang kala itu juga langsung Zeha tarik. Betapa gemasnya Zeha melihatnya seperti itu.
"Jangan pernah kau menggerucutkan bibirmu di hadapan lelaki lain jika kau tidak ingin mendapat masalah."
Aeri mengernyit. "Maksudnya?"
Zeha berdecak kesal. "Benar-benar bodoh," gumamnya didengar oleh Aeri.
Aeri berdecih seraya membuang muka. "Aku akan jadi beneran bodoh karena Tuan selalu mengataiku bodoh. Jadi jangan salahkan aku, ini salah anda," gerutunya yang lagi-lagi mengerucutkan bibirnya.
Sedangkan Zeha bergeming dengan wajah bengongnya. Ia cukup terkejut mendengar ucapan berani Aeri padanya. Sesaat kemudian, lelaki yang beberapa detik lalu bersedih kini ketawanya pecah membahana bahkan membuat Aeri kebingungan.
"Hahaha ...."
Walaupun kebingungan bibir Aeri tetap tertarik secara perlahan membentuk senyum tipis. Ia merasa lega melihat ketawa itu melebar di bibir Zeha.
"Syukurlah ...," gumamnya, namun tetap terdengar oleh Zeha.
"Apa?" Sontak tawa itu meredam di bibir Zeha.
"Ouh, tidak."
"Eit! Kau lupa, kalau kau harus mendengarkan perintahku?"
"Aku ... a-anu, aku lega melihat Tuan sudah bisa tertawa, tidak sedih lagi seperti tadi."
Zeha terdiam mendengar ucapan Aeri. Jadi sedari tadi gadis yang bersamanya itu terus mengkhawatirkan dirinya? Zeha seolah tidak ingin melarikan tatapan matanya dari wajah yang menunduk sambil memainkan jemarinya. Betapa hangatnya ucapan itu, menyentuh hati dingin Zeha, membuatnya meleleh tanpa bisa berpaling. Terkunci dengan sirat yang tidak dimengerti.
"Ya, kau berhasil." Tersadar, Zeha segera menarik wajah. "Berhasil membuatku tertawa," Zeha berujar dengan bisikan yang hanya ia bisa mendengarnya. Dalam diam, sudut bibirnya kembali tertarik.