
Setiap tahun Zeha selalu seperti ini, mengurung diri pada hari peringatan kematian sang ibu, mengabaikan semua yang berada disekitar. Bahkan ketukan pintu Zeha abaikan bagai angin. Ia hanyut dalam perasaan bersalah yang menghantam jiwa. Dikala seperti ini, Zeha selalu merasa ingin mati, karena semua orang yang peduli padanya telah tiada.
Kini hidup Zeha hampa dan kosong. Melalui hari-hari yang sama setiap hari. Hidupnya hanya dipenuhi oleh pekerjaan yang kadang membuat ia muak dan jenuh. Kebencian yang membekukan hati semakin membawanya jauh dari kehidupan dan meninggalkannya pada kesepian yang gelap, menyesakkan dada.
"Tuan Zeha ...."
Manik itu bereaksi mendengar suara yang hampir sebulan ini sedikit demi sedikit telah berjaya masuk dalam hati bekunya. Langkah pelan kaki itu terdengar semakin dekat dipendengaran Zeha yang sudah mabuk berat.
Zeha bangkit secara perlahan, berpegangan pada sisi ranjang saat tubuh oleng dan hampir terjatuh. Kepalanya berdenyut sakit kala itu, namun Zeha tetap memaksa untuk bangkit. Ia berjalan sempoyangan mendekati Aeri dalam pandangan buram.
Srek!
Saat tangan itu Zeha cekal secara tiba-tiba, ia dapat merasakan tubuh kaget dari gadis itu. Lantas pandang mereka terkunci satu sama lain dalam redupnya lampu yang membatas pandangan.
"Kau ... kenapa bisa ada di sini?" Aeri kaget saat tangan Zeha yang memegangnya terasa panas.
"Tuan sakit?" Sebelah tangan Aeri refleks menyentuh dahi yang berada di hadapannya itu. Ia semakin kaget merasa suhu tubuh Zeha begitu panas. "Tuan demam," ujarnya terlihat cemas.
Zeha berdecih seraya menepis kasar tangan yang berada di atas dahinya.
"Aku bertanya padamu!" Bentaknya menyentak tubuh Aeri.
"Itu tidak penting. Sekarang anda harus diobati."
"Jangan ...berpura-pura peduli padaku!" Tekan Zeha menatap bengis wajah cemas Aeri.
"Tuan mabuk berat. Berapa banyak sebenarnya yang telah anda minum?"
Bau arak yang keluar dari mulut Zeha sungguh menyengat, ditambah dengan banyaknya botol kosong bekas minuman yang berserakan di kamar besar itu.
"Sekarang Tuan harus tidur, ya." Aeri menarik tubuh itu untuk ia baringkan pada ranjang.
"Pergi!" Zeha menepis. "Aku tidak butuhkan kepalsuan ini!"
"Aku akan pergi setelah anda tidur," ucap Aeri lembut.
"Sekarang! Tinggalkan aku sendiri! Sebenarnya kau siapa memerintahkan aku? ... Siapa?!"
Tubuh Aeri terjingkat mendengar bentakkan itu. Tangannya kembali ditepis saat ia ingin menyentuh lengan lelaki itu.
"Gary!" Zeha berteriak memanggil bodyguardnya itu. Namun, selang beberapa detik Gary tidak juga datang, membuat Zeha mengerang frustasi. "****!" Dengan langkah oleng Zeha ingin menemui bawahannya.
"Tuan--urgk!"
Set!
Srak!
Tubuh Aeri jatuh ke atas ranjang dengan tangan Zeha yang mencekik lehernya. Lelaki itu menindih Aeri dengan tekanan kuat pada leher.
"Aku sudah katakan ... pergi!"
Zeha hilang kendali. Perhatian yang Aeri berikan terkesan memuakkan. Ia tidak dapat melihat. Hati dan pikirannya buta hingga tidak dapat melihat ketulusan yang biasa ia lihat di mata teduh itu. Apa yang Zeha tahu, tidak ada seorang pun yang tulus ingin berteman atau berhubungan dengannya.
"Kau begitu palsu!" Desir Zeha dengan bibir menyungging miring.
"T-tu-tua-tuan ...." Tangan kecil Aeri bergerak untuk melepas kedua tangan Zeha yang mencekam lehernya kuat. Manik beningnya mulai berair saat napas mulai sulit melewati tenggorokkannya.
"Tua--erhkk Tuan to-long argkk!"
"Wanita sepertimu pantas mati!" Zeha semakin kuat mengeluarkan tenaganya.
"Ma-m-maaf ... aku ti-tidak dapat membantumu," cicit Aeri bersusah payah. Tangannya bergetar menarik wajah itu mendekat. "T-tuan harus s-sadar, jangan sa-sampai menyesal me-me-lakukan sesuatu t-ta-tanpa sadar."
Zeha sudah dikuasai oleh emosi. Selain Sehun dan mendiang sang ibu tiada yang ia anggap keluarga sekalipun itu Aeri, gadis yang berjaya mengetuk hatinya. Sedetik kemudian, tubuh besar Zeha bergeming. Tangan yang mencekik leher Aeri meregang kala bibir Aeri bersentuhan dengan bibir milik Zeha yang hangat. Aeri mengatub mata dengan air mata yang terus mengalir.
Disaat merasa keregaan pada lehernya, Aeri menarik napas lega. Ia berpikir, ia akan mati dicekik oleh lelaki di atasnya itu.
Secara perlahan Zeha melunak. Tangan lelaki itu tidak lagi berada pada leher Aeri. Tubuhnya ambruk tepat di atas Aeri. Aeri mengusap pelan punggung lebar itu seraya memeluknya. Hatinya bagai diiris melihat kesengsaraan Zeha yang terpendam.
"Tidak apa-apa Tuan, anda tenang saja. Ini hanya Aeri, tidak ada yang perlu ditakukan," bisik Aeri, mengusap lembut belakang kepala Zeha yang mulai terlelap diatas tubuh kecilnya.
"Ma ... af ...." tubuh Zeha pun memberat. Tidak seperti tadi yang bobotnya terasa seolah cuba ditahan oleh sang empu tubuh. Namun, kini telah meregang tanpa was-was lagi. Sepertinya Zeha sudah terlelap.
Secara perlahan dan hati-hati, Aeri mulai membalik tubuh Zeha hingga terbaring di atas kasur dan membebaskan dirinya dari rasa berat yang sedikit menyiksa. Ia bangkit dengan napas lega sembari menatap wajah tampan yang terkesan lelah itu.
Zeha terlihat begitu berantakan kala Aeri menyalakan lampu. Botol minuman berserakan membuat Aeri mendesah resah. Entah berapa banyak yang telah diminum oleh Zeha bahkan sampai demam seperti itu. Aeri menggantikan baju yang dipakai oleh Zeha, lantas menyelimuti tubuh dengan suhu meningkat itu.
Saat Aeri ingin pergi mengambil air di dapur, ia tersentak kecil kala melihat Gary berjaga di depan pintu.
"Bagaimana keadaan Tuan Zeha?" Gary bertanya. Walaupun tidak terlihat khawatir, tetapi Aeri tahu bahwa Gary mencemaskan majikannya. Aeri tersenyum dalam hati. Bawahan dan atasan sama saja. Kedua-duanya memiliki karakter yang hampir sama.
"Dia sudah tidur," sahut Aeri. "Tapi Tuan Zeha demam. Aku akan ke dapur mengambil air dan kain kompres."
"Tidak perlu. Kau di sini saja. Aku akan menyuruh pelayan untuk membawakannya untuk mu."
"Baiklah, tapi cepat sedikit, ya. Tubuh Tuan Zeha begitu panas."
"Segera akanku suruh pelayan." Gary pun beranjak pergi dengan langkah lebar menuruni tangga.
Sambil menunggu pelayan datang membawa air, Aeri membersihkan kamar tersebut. Memungut semua botol bekas minuman lalu memasukkan ke dalam kantong plastik. Selama mengenal Zeha, belum pernah sekalipun Aeri melihat lelaki itu merokok, namun asbak dipenuhi oleh puntung rokok.
Sebenarnya seberapa frustrasi lelaki yang sedang terlalap di atas ranjang itu?
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu menarik atensi Aeri dari wajah Zeha. Ia menyahut dan meminta seseorang yang berada di luar sana untuk masuk. Setelah pelayan itu meletakkan baskom, Aeri menyerahkan kantong plastik yang telah penuh pada pelayan tersebut.
"Terima kasih, ya."
"Ini memang sudah tugas saya nona ...." Aeri hanya tersenyum mengiringi kepergian pelayan tersebut.
Aeri pun mulai memasukkan handuk kecil ke dalam baskom, kemudian ia peras lantas diletakkan di atas dahi Zeha.
"Aku tidak tahu apa yang telah Tuan lalui, tapi semua hal itu membuat hidup anda seperti ini," cicit Aeri terus memandangi wajah Zeha yang berkerut gelisah. Selang semenit, Aeri mengangkat handuk itu lalu ia celupkan kembali ke dalam air.
"Tuan tidak seharusnya seperti ini. Orang yang mengkhawatir anda pasti akan cemas melihatmu seperti ini." Aeri terus mengajak Zeha berbicara dalam bisikan. Ia berharap alam bawah sadar lelaki itu mendengarnya.
"Ibu anda yang berada di atas pasti sedih melihat Tuan seperti ini." Tidak terasa liquid bening itu mengalir dari kelopak mata Aeri. Sungguh hatinya sesak melihat Zeha seperti itu. Secara perlahan tangannya mengusap handuk kecil itu pada lengan dan tangan Zeha.
"Masih ada orang yang mengkhawatirkan anda. Seperti kak Sehun, ayah anda dan ... aku ...."
Aeri menunduk. Ia baru sadar jika air matanya sudah yang banyak mengalir keluar. Aeri pun segera menghapusnya dan kembali meletakkan handuk yang telah diperas di atas kepala Zeha. Aeri merapikan selimut yang menutupi tubuh tegap itu.
"Yang telah pergi relakanlah. Apa yang telah berlalu biarkan berlalu jangan dikenang lagi, Tuan. Jika tidak, anda akan selalu merasa terpuruk. Disaat orang lain telah bahagia, anda malah tertinggal dan tenggelam dalam kenangan buruk itu. Tuan harus bangkit," tukas Aeri panjang lebar.
"Tidak ...."
Aeri tersentak kaget kala tangannya tiba-tiba ditarik disaat ia ingin beranjak keluar. Aeri menoleh pelan melihat wajah berkerut dengan manik yang terpejam rapat. Sepertinya lelaki itu bermimpi buruk.
"Jangan tinggalkan aku ...," bisik Zeha dalam tidur. "Aku tidak ingin sendiri ... aku mohon ....."