
Ternyata apa yang Aeri khawatirkan beberapa hari yang lalu benar-benar berlaku. Beberapa hari ini, samar-samar ia mendengar gunjingan tentang dirinya yang katanya menjual diri hanya demi bisa menjadi sekretaris Zeha. Karena banyak yang tahu bahwa kelulusannya hanya cocok untuk menjadi seorang cleaning service.
Sama seperti saat ini. Aeri terpaksa menebalkan muka disaat berjalan beriringan bersama Zeha menuju ruangan yang terletak di puncak bangunan tersebut. Ingin menundukkan kepala, namun juga tidak bisa. Sebab Zeha pernah mengancamnya akan langsung mempertemukan bibir mereka disaat ia menundukkan kepala, di mana pun itu. Tentu saja ancaman tersebut berhasil membuat Aeri takut.
"Apa saja jadualku hari ini?" Zeha bertanya tepat saat lif telah tertutup. Aeri berdiri tepat di samping tubuhnya.
Segera gadis itu mengecek ipad yang memang sentiasa ia bawa. Berkat tunjuk ajar dari Seoji, Aeri dapat dengan mudah memahami apa saja yang akan menjadi tanggungjawapnya.
"Pada jam 9 pagi hingga jam 11 siang anda akan mendatangi tim perkembangan untuk memantau jenis makan yang telah mereka ciptakan. Seterusnya, pada pukul 1 siang anda akan mendatangi Kim'Hotel untuk membahas soal kerja sama dengan mereka. Buat masa ini cuman itu saja," terang Aeri membuat Zeha manggut-manggut.
"Nanti siang kamu aku ke Kim'Hotel. Tapi sebentar ... bukannya ayahku sudah menandatangani surat kerja sama itu?" Ia kembali bertanya. Melihat ke arah Aeri yang tampak kebingungan.
Zeha ingat dulu, ia pernah membaca soal proposal kerja sama tersebut, lalu untuk apa lagi ia datang ke hotel lima bintang itu? Semua sudah selesai, kan?
"Aeri?"
Tubuh kecil itu terjingkat kaget mendengar namanya dipanggil seolah menuntut penjelasan darinya. Maniknya bergulir gelisah, ia tidak tahu apa-apa soal proposal tersebut.
"S-saya tidak tahu tuan. Di sini tidak mengatakan apa-apa. Saya h-hanya mencatat apa yang Seoji beritahukan tuan," jelas Aeri terbata. Apalagi saat itu ia merasa aura dingin yang mulai menyeruak.
"Jadi ... kau tidak akan tahu apa-apa jika tidak diberitahukan?!" Suara rendah itu seolah menarik napas Aeri sehingga tercekat ditenggorokan. Kebiasaan buruk Aeri kumat. Menggigit bibir bawah bahkan kadang sampai berdarah disaat ia melampiaskan perasaan takut atau gelisah, sama seperti saat ini.
"Jawap Aeri!" Sentak Zeha tepat didepan wajah Aeri. Setengah lengannya menempal pada dinding lif yang berada tepat di samping kepala Aeri. Hidung mereka bahkan nyaris bersentuhan.
Gigitan pada bibir Aeri semakin bergerak gelisah. Ia mengutuk Zeha dalam hati. Kenapa juga harus dekat-dekat? Merapat begini? Dasar mesum. Ini seperti mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tiba-tiba saja ciuman panas di ruangan Zeha waktu itu terngiang. Tidak mungkin, kan, ia akan kena cium lagi?
Mengingat kejadian tersebut, kepala Aeri yang memang telah menunduk semakin menunduk dalam. Ia tidak berani mengangkat wajah dan bertemu dengan wajah dingin tampan Zeha.
Lagian, ia tidak tahu harus menjawap apa atas pertanyaan Zeha, karena memang ia tidak tahu apa-apa soal hal tersebut. Walau bagaimanapun dipaksakan ia tetap tidak bisa menjelaskannya.
"Kau.." tangan besar Zeha yang menganggur beralih, bergerak menyentuh dagu Aeri. Sedari tadi bibir yang menjadi bulanan Aeri itu menjadi sorotannya. "Sungguh tidak..." ibu jari itu bergerak-gerak pada bibir Aeri yang terkatub, ingin meneroboskan jari itu masuk dan membuat bibir itu terbuka.
"Eumm...." Aeri menggeliat, mencuba menahan tangan besar itu, sayang ia tidak berhasil.
Mata tajam Zeha bergulir secara perlahan pada manik bening Aeri setelah berjaya memasukkan tangannya itu bersarang di dalam mulut sekretarisnya. "Tidak berguna Aeri." Bisiknya mencekam tepat didepan wajah itu.
Mendadak tubuh kecil Aeri tegang bersama netra yang membulat seolah bisa melompat dari tempatnya. Bibirnya yang terbuka ditubrukkan dengan milik Zeha. Ia dapat merasakan jari itu keluar secara perlahan dari dalam mulutnya.
Zeha menekan tombol yang ada di sana guna mengehentikan lif itu ditengah jalan, sehingga ia tidak perlu cemas saat pintu lif tiba-tiba terbuka.
Mata Aeri terkatup rapat bahkan kerutan terlihat dari tekanannya disaat tangan Zeha yang tadinya bertengger pada dinding lif kini menyelinap pada belakang leher Aeri dengan lembut, membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
"Ini gila," monolog hati Aeri. Zeha menarik tengkuknya, semakin memperdalam ciuman. Bibir yang saling bergesekan lembut itu begitu terasa, bahkan bibir Zeha terasa menyentuh giginya.
Aeri tidak mengerti. Gerakan bibir Zeha yang begitu lihai entah bagaimana mampu membuatnya yang mahu tidak mahu terikut oleh gerakan yang menghantarkan sengatan aneh pada tubuhnya. Ia menarik wajah, hingga tautan itu terlepas dengan juntaian benang saliva.
"Seharusnya aku langsung menarik wajah tadi," gerutu Aeri dalam hati sembari mengatur napas.
Pandangan mereka bertemu. Aeri menggeram melihat ekspresi itu. Dalam situasi seperti ini masih saja terlihat begitu tenang. Tanpa ada rasa bersalah ataupun sedikit rasa malu. Cih. Bahkan aura dingin itu masih terasa. Padahal pipinya sudah terasa begitu panas, terasa sampai ke ubun-ubun.
"Itu hukuman. Bukankah kau patut merasa senang?" Bisikan di telinga itu menegangkan tubuh Aeri. Apalagi saat bibir lembap Zeha mendarat cepat pada tengkuknya.
Kedua tangannya refleks bertengger di dada bidang Zeha, mendorong sekuat tenaga agar tubuh itu menjauh bersama milik lelaki itu yang kurang ajarnya menemepal pada lehernya.
"Tuan Zeha!" Lirih Aeri penuh penekanan. Ia memehon agar tuan'nya itu menghentikan kegilaannya.
Kontan kepala Aeri mendongak merasakan kulit lehernya seolah ditarik masuk ke dalam mulut itu. "Eugk!" Lenguh*n laknat itu lolos begitu saja disaat Zeha mengemut sehingga meninggalkan jejak keunguan. Air bening mengenang pada mata indahnya. Ia menutup bekas kissmark itu dengan tangannya. Menatap nyalang pada sang tuan yang telah kembali mempertemukan pandangan mereka.
"Brengsek!" Gumam Aeri tertahan. Tangannya yang melayang menggantung di udara dalam cekalan sang lelaki.
"Tidak untuk kedua kalinya," kata Zeha dingin. Rasa perih dari tamparan kuat Aeri waktu itu masih terasa di pipinya.
"Kau tahu aku memang brengsek bukan? Hukuman yang seharusnya dirasakan adalah kesengsaraan, namun yang kau rasakan adalah rasa nikmat. Kau seharusnya berterima kasih padaku, karena aku tidak memberikan hukuman yang membuatmu sengsara seperti yang aku berikan pada stafku yang lain," tukas Zeha penuh penekanan. Cekala pada lengan Aeri semakin kuat.
"Aku tidak pernah meminta tuan untuk membedakan hukuman yang anda berikan pada staf-staf tuan. Jadi untuk apa aku berterima kasih?" Aeri terus menarik tangannya agar terlepas, namun pegangan Zeha begitu kuat hingga terasa sakit.
Zeha menggeram. Semakin meremukkan lengan yang berada dalam genggamannya. Tiba-tiba aura gelap mengelili wajah itu. "Baiklah. Tapi jangan sampai kau menyesal."
Terlepas. Tangan Aeri lolos begitu saja. Aeri menatap lelaki itu yang telah menghadap ke arah depan. Lif telah kembali bergerak. Aeri tidak peduli dengan lelaki itu, saat ini tangannya terasa begitu sakit bahkan meninggalkan bekas. Ia terus mengusap-ngusapnya dengan lembut.
"Hari ini lembur!"
Perintah bernada dingin itu menyentak Aeri. Membawa kepalanya mendongak dengan manik yang mendelik kaget.
"I--iya?"