The President'S Crazy

The President'S Crazy
part.30



Keempat karyawan yang mendengar nama mereka di sebut pada pengunguman tersentak kaget dengan detak jantung yang melaju.


Walau demikian, tubuh mereka langsung memberi respon dengan mengikuti perintah dari suara tersebut. Firasat mereka mengatakan ini pasti ada kaitannya dengan sekretaris dari atasan mereka, Sek. Aeri yang mereka ganggu tadi.


"Aku menyesal telah menghina sekretaris Aeri tadi," cicit salah satu di antara mereka penuh penyesalan saat berada dalam lif.


Tiada yang berniat menanggapi ucapan itu. Semua hanyut dalam pikiran masing-masing. Menerka akan seperti apa nasip mereka setelah tiba di hadapan sang tuan. Karena mereka pernah mendengar bahwa atasan mereka itu cukup kejam. Apalagi saat mengingat nasib kedua wanita yang langsung di pecat waktu di lobi waktu itu.


Bahkan setelah itu mereka mendapat kabar yakni salah satu wanita diantara keduanya dijumpai mati dengan tubuh yang tidak lengkap. Mengingat kejadian itu membuat meraka merinding.


Tubuh refleks menegang tepat setelah lif terbuka. Di luar sana sang atasan berdiri menghadap langsung ke arah lif dengan tangan yang dilipat. Wajah dingin dengan sorot mata yang tajam menghunus pada mereka.


Mereka berjalan dengan pandangan menemui lantai. Manik itu begitu tajam seolah bisa menembusi mata. Setelah tiba di hadapan Zeha, mereka pun menunduk penuh hormat.


Tetapi apa yang keluar dari mulut Zeha malah semakin membuat mereka menegang di tempat.


"Apa kalian berhak atas sekretarisku?!" Suara dingin itu menyapu pendengaran mereka.


"Jawap!" Suara Zeha meninggi, membuat tubuh karyawannya terjingkat kaget. Ia merasa seperti berbicara pada tunggul saja. Tidak satu pun di antara mereka menjawap. Ia tahu mereka takut, tapi tidak suka diabaikan.


"M-ma-maaf tuan kami tidak berhak." Barulah setelahnya mereka menjawap dengan terbata-bata.


"Kalian tidak mengenalku seperti apa sehingga kalian berani memiliki sifat seperti itu!" Zeha meradang dengan rahang yang mengeras. Apalagi melihat kepala mereka semakin menunduk.


"Katakan siapa yang mendaratkan tangannya pada tubuh Aeri?!"


Menggigit bibir, saling melemparkan pandangan satu sama lain. Mereka bingung harus mengatakannya atau tidak.


"Katakan!" Kembali mereka terjingkat mendengar nada tinggi itu. Mereka benar-benar menguji kesabaran seorang Zeha. "Kalian pikir aku siapa sehingga kalian berani tidak menjawapku?! Aku penguasa di sini! Aku yang menentukan nasip kalian! Aku paling benci hal seperti ini, kalian bertindak seolah kalian lebih berkuasa dari aku! Tolong, cermin diri kalian, siapa kalian dan siapa aku!"


"Kau beritahu padaku..." Zeha menunjuk pada lelaki yang berdiri diujung baris. Sedang yang ditunjuk tersentak kaget dan lansung menunjuk wanita berambut pendek yang berdiri tepat di hadapan Zeha.


Sudur bibir Zeha tertarik miring. Ternyata yang di cari berada tepat di depan matanya.


"Apa kau ingin tidur denganku?" Pertanya tak berbobot itu kontan membuat kepala wanita itu mendongak dan saat itulah tamparan keras Zeha mendarat dan lansung membuat sudut bibir itu mengeluarkan darah.


Kerasnya tamparan itu menarik banyak pasang mata, tetapi itu tidak menghentikan seorang Zeha. Ia ingin semua karyawannya melihat dan mendengar agar mereka tahu betapa kejam dan sadisnya ia.


"Kau tidak jauh beda dengan ****** yang aku tiduri diluar sana, sama-sama hina bahkan mereka lebih baik karena masih menghargai sesama mereka," bisiknya di depan telinga itu.


"Gary buat mereka tidak diterima di mana pun mereka melamar pekerjaan," tukas Zeha tegas, melihat pada Gary.


"Tuan, lelaki itu juga telah menyentuh tubuh bagian belakanb nona Aeri dengan mengatakan, berapa harga dari nona Aeri jika ia ingin menghabiskan satu malam dengannya," Gary menjelaskan, membuat kepala Zeha mendadak panas. Ia menyugar rambut ke belakang dengan gigi bergemelatuk geram.


Sedang lelaki yang berdiri pada ujung baris langsung pucat pasi dengan detak jantung memompa cepat.


"Bawa dia ke masion!" Setelahnya, ia langsung beranjak pergi, menghiraukan keempat karyawannya eh--mantan karyawannya yang memohon agar tidak dipecat dari pekerjaan mereka.


"Habislah. Kita akan kesulitan mencari pekerjaan setelah ini ...."


"Kita jadi sial karena nona Aeri, sialan!"


"Diam! Sekarang pergi dan kemasi barang-barang kalian!"


Dengan langkah lemah mereka membawa tubuh bahkan pikiran mereka melayang memikirkan nasip setelah keluar dari sana. Entah bagaimana nasib dari keluarga yang mereka tanggung. Ya, itulah konsekuensi yang harus ditaggung karena telah mengusik Zeha walau secara tidak langsung.


"Kau ikut aku!" Lelaki yang ditunjuk tersentak. Saliva tiba-tiba terasa sulit untuk di telan.


"K-kemana tuan?"


Gary tidak menjawap. Ia terus saja melangkah yang diekori oleh lelaki tersebut walau tidak ingin. Lelaki itu melihat sekeliling. Mungkinkah ia berhasil jika kabur? Melihat betapa besar dan kekarnya tubuh Gary membuat nyalinya menciut.


***


Ini sudah yang kesekian kalinya setelah hampir 2 jam lamanya mereka melakukan penyatuan panas penuh gairah, namun belum ada tanda-tanda bahwa mereka ingin mengakhiri apa yang membuat keduanya melayang ke langit ketujuh.


Lenguh*n dan desah*n saling bersahutan dalam kamar tersebut, semakin memicu ardeline mereka. Tidak diantara mereka berdua ada yang ingin mengakhiri penyatuan membara itu.


Decikan kasur juga terdengar nyaring bagai alunan musik yang menghiasi penyatuan panas itu. Menunjukkan betapa gila hujaman dan hentakan yang sang lelaki lakukan pada inti wanita yang memberinya kenikmatan yang membuatnya menggila.


Bunyi khas kulit yang saling bertemu dalam setiap hentakan terdengar begitu jelas pada telinga mereka. Tubuh sang wanita meliuk-meliuk tidak tenang karena ulah John terlihat begitu sexy. Apalagi dada yang ikut memantul, seirama dengan hentakan yang ia lakukan.


"Kau sukahhh ... seperti ini emm, kannhh?" Sang penguasa tubuh pun turut kesulitan untuk berbicara dalam hujamannya.


Sang kekasih hanya mengangguk lemah. Ia selalu pasrah setiap lelaki itu memporakperandakan seluruh tubuhnya. Tiba-tiba dadanya membusung tinggi saat John meraup dan menyus* dengan liar di sana. Rasa geli dan nikmat mengalir dua kali lipat.


Sesuatu dari dalam mengalir cepat seolah berlomba untuk keluar membuat tubuh sang wanita mengejang dengan kaki yang refleks melingkar pada pinggang John saat hujaman yang dilakukan semakin gila dan kuat.


Keduanya mendesah panjang dikala pelepasan itu datang dan membuat nikmat yang sesungguhnya.


John kontan jatuh di atas tubuh sang kekasih, membenamkan kepala dalam ceruk leher yang penuh tanda merah darinya.


"Katakan ... siapa yang lebih hebat aku atau dia?" Tanya John sembari menyelinapkan kedua tangan di bawah tubuh sang kekasih.


"Hmm...." ia tidak mampu walau sekedar untuk berbicara lagi.


"Katakan Jiha ..." John membuka mulutnya lebar, meraup liar kulit putih nan mulus yang telah basah oleh keringat.


"Eumpp ... kau nakal, John..." Jiha meremas kuat kulit punggung John kala merasakan kulit pada bagian lehernya tertarik kuat. "Kau memaksaku mengatakannya melalui ini. Ini membuatku tidak bisa menolakmu." Jiha tersenyum dalam leng*hannya.


"Kau terpaksa?" Kali ini John beralih mengerjai buah kenyal favoritenya yang tidak bisa dibilang kecil.


Jiha menggeliat, buah dad*nya dipermainkan menggunakan lidah.


"Kau memaksaku Jiha ...," ujar John disela mengerjai ujung yang kuncup kembali karenanya.


"Johnn." Tanpa aba-aba Jiha membalik posisi menjadikan kekasihnya di bawah, membuat tubuh John bersandar pada kepala ranjang dengan tubuh setengah tegak.


Kedua tangan besar John ia satukan, lantas ia letakkan di atas kepala lelaki itu. Jiha mengerucut kesal melihat John tersenyum. Mengabaikan senyum itu, Jiha membawa tubuhnya semakin naik--duduk tepat di perut berotot John. Kemudian ia merapatkan wajah.


"Walaupun begitu, tubuhku ini milikmu. Tidak ada yang lebih berhak darimu. Jadi, buat apa cemburu?" Jiha mengecup sekilas bibir sexy John. "Bisa dibilang kami sering melakukan, tapi pemilik sebenarnya tetap kau, kan?"


"Benarkah?" Dalam sekejap John memutar tangan dan balik memegang tangan Jiha yang memegangnya di atas kepala. Sebelah tangan langsung meraih buah d*d* besar Jiha yang menggantung indah membuat sang empu kontan melenguh. Satu tangan Jiha otomatis turut menyatu dengan tangan John, membantu lelaki itu agar semakin kuat memijit miliknya.


"Hmm," Jiha hanya berdehem dengan kepala mengangguk.


"Jika seperti itu aku ingin kembali menikmatinya."


John sedikit menghempaskan tubuh bagian belakang Jiha, membuat tubuhnya kembali berada atas, mengungkung penuh kuasa tubuh Jiha dan kembali menyatuh dalam gairah yang membakar tubuh kedua.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Sebelumnya terima kasih pada readers yang telah membaca novel The President's Crazy. Maaf ceritanya kurang menarik seperti mana novel-novel lainnyaπŸ˜…


Karena awal mula hanya dari suka membaca novel bahkan tidak hanya suka, memang sangat sangat sangat suka membaca pelbagai novel sehingga terpikir untuk mencuba menulis sebuah novel juga dan belajar dari pengalaman membaca novel.


Ini karya pertama Thowa di MangaToon. Sebenarnya sudah ada beberapa cerita yang Thowa buat, namun itu hanya cerpen yang panjangnya hanya sekitar 20 bab/part saja bahkan ada yang tidak mencapai 20 bab/part. Itupun Thowa hanya mengeposnya di FaceBook saja, hehe.


Ini hanya sekedar informasi untuk author amatir ini. Thowa mengaharapkan dukungan dari readers sekalian. Jangan lupa tinggalkan jejak berupa komen, dan vote serta favorite agar Thowa semangat terusπŸ˜πŸ˜‡


Ouh iya, mohon maaf sebesar-besar sebelumnya. Untuk sementara karya ini akan hiatus untuk beberapa waktu kerana kondisi novelis-nya. Tapi, insyaallah secepatnya akan segera kembali tanpa memakan waktu yang lama.


Sekian, terima kasih karena sudah mampirπŸ€—


LOVE, Thowa🌸