
"Ikut aku!" Baru saja Sehun hendak menoleh sebelum tubuhnya ditarik kuat oleh Yuri, membawanya berlalu dari sana dengan tergesa-gesa.
"Yuri ...!" Panggilan itu semakin membuat Yuri melangkah cepat. Ia menarik tubuh berat Sehun menuju gudang bagian penyimpanan.
Aeri yang terus mengikuti mengernyit aneh. Tidak biasanya Yuri pergi dan mengabaikan dirinya saat ia panggil. Dan siapa lelaki tadi?
"Eh! Kemana perginya mereka?" Aeri celingak-celinguk di bagian sana, namun tetap saja, bahkan melihat bayang temannya itu pun tidak. "Aneh, aku rasa, aku melihat mereka ke arah sini, tapi ...." Ia menoleh saat hendak pergi. Tiada tanda-tanda keberadaan Yuri di sana. Apa mungkin mereka masuk ke dalam gudang?
Yuri memepet tubuh Sehun masuk ke dalam gudang penyimpanan. Hampir saja Aeri mendapatkan mereka. Yuri membuka sedikit pintu, mengintip apakah Aeri masih berada di luar atau tidak. Matanya terus bergulir liar mencari keberadaan Aeri. Sepertinya sudah pergi.
Sehun pula terus tersenyum melihat tingkah panik Yuri yang terkesan imut. Posisinya tepat berdiri di belakang Yuri yang sedang mengintai di balik pintu. Sekarang gadis itu tampak bernapas lega. Tadi itu benar-benar membuatnya kelabakan.
"Aku rasa sudah aman. Kau bisa perg---"
Brak!
"Kau pikir aku akan melepaskanmu?" Sehun menghempaskan tangan tepat di samping kepala Yuri, membuat tubuh itu tersentak dengan ucapan yang terhenti.
Yuri mengernyit, mendorong tubuh itu menjauh. "Apa maksudmu? Kau mau mengurungku di sini?!" Dari awal bertemu Sehun, ia selalu dibuat jengkel olehnya.
"Jangan mendekat! Jangan bertindak sembarangan, ya! Kalau tidak aku akan teriak!" Ancam Yuri. Ia merasa tidak aman melihat gelagat aneh Sehun. Apalagi barusan lelaki itu tiba-tiba mendekatkan kepala. Seperti orang mesum saja.
"Cuba saja," tantang Sehun dengan bibir menyungging, membuat Yuri semakin jengkel.
"Kau jangan menyesal. Kau itu orang asing di sini."
Ya ampun benar-benar menggemaskan. Ia sungguh dibuat tertawa oleh Yuri saat itu.
"Kita akan lihat siapa yang akan menyesal."
Yuri berdecak kesal. Apalagi alis itu terus naik turun menantangnya "Tol--eump!"
Belum sempat satu kata itu selesai, mulutnya telah dibungkam dengan mulut Sehun hingga membuat tubuh membeku dengan manik melebar. "Brengsek!"
"Bagaimana? Masih berani?" Kata lelaki itu setelah menarik wajah.
"Seseorang tolo--eump mmpp!"
Kembali Sehun menumbrukkan bibirnya pada bibir Yuri yang terasa manis. Kali ini ia sedikit melu**t lembut bibir itu sebelum ia kembali melepasnya.
"Kau brengsek!" Refleks tangan Yuri melayang hendak menampar wajah tampan menyebalkan itu, namun sayang, tangannya malah ditangkap oleh sang empu wajah.
Sehun hanya menanggapi dengan alis yang terangkat. "Jika tangan ini mengenai wajahku, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu di dalam sini," bisik Sehun mengancam, namun terkesan sensual. Apalagi ia berbicara tepat di depan bibir yang melengkung kesal itu.
Dengan gerakan secepat kilat, Yuri membawa sebelah tangan yang tidak dicekal pada mulut sialan Sehun dan membekamnya kuat. Tersenyum sinis, ia pun gunakan kesempatan itu untuk kembali berteriak.
Mengetahui muslihat yang ada dalam pikiran gadis dihapannya, Sehun turut menyungging senyum miring.
"Tolong---"
Siapa sangkah, dengan gerakan yang dua kali lebih tangkas dari Yuri, Sehun menarik tangan yang membekap mulutnya, lantas ia satukan pada daun pintu. Dengan mulut yang terbuka ia menyambar lebih liar bibir terbuka Yuri.
Ia mengul** bibir ranum itu dalam luma*n yang membuat Yuri kelabakan. Maniknya terpejam rapat. Tubuhnya terus memberontak dengan kedua tangan yang dicekal.
"Bagaimana? Masih ingin berteriak?" Bisik Sehun bergumam. Ia menatap bibir yang terus terbuka dengan napas yang ngos-ngosan.
Yuri tidak menyahut, ia sibuk mengatur napas yang hampir habis karena ulah lelaki di hadapannya. Seumur hidup ini adalah ciuman terhot yang pernah ia lakukan dengan seorang lelaki. Dulu, ia pernah juga berciuman tapi, pasangannya tidak sehebat Sehun. Si*l, ia malah mengakui lelaki itu.
"Eumpp ...."
Sehun kembali melahap bibir lembab nan lembut milik Yuri dengan bibir yang terbuka. Berbeda dengan ciuman yang tadi, kali ini Sehun mencumbu Yuri dengan kelembutan, namun begitu intens.
Yuri yang telah terpancing sejak tadi, kemudian ditambah dengan permainan lembut Sehun kali ini membuatnya tanpa sadar membalas sesapan bibir Sehun. Tangan yang tidak lagi dicekal bertengger serta menggenggam erat baju bagian dada Sehun.
Kepala lelaki itu bergerak lembut menikmati cium** yang menjadi semakin panas. Tangan besarnya bergerak menarik pinggang ramping sang gadis merapat padanya.
Semakin ke sini, mereka semakin liar meraup b*b*r lawan. Disaat kepala terus bergerak, bibir mereka juga terus terbuka lebar saling meraup dan mengu**m seperti memakan es krim dengan tidak sabaran sehingga penumbrukan bibir begitu terasa di atas bibir yang kenyal.
Apalagi sekarang lidah mereka sudah saling terjulur nikmat. Punggung Yuri bahkan sesekali terhempas lembut pada daun pintu menggambarkan betapa liarnya c**man mereka.
Yuri tersadar, ia refleks membuka mata dan melepaskan tautan dalam itu. Mendorong tubuh Sehun sejauh lengannya. Dapat ia lihat napas Sehun ngos-ngosan sepertinya, namun pandangan lelaki itu terlihat tidak terima saat ia mengakhirinya begitu saja.
"K-kau harus pergi ..."
Dengan gerakan cepat ia berbalik membuka pintu, tetapi ia kalah cepat dengan gerakan Sehun yang dalam sekejap menolak tubuh depannya merapat pada pintu sedang punggungnya menempel pada tubuh bagian depan Sehun.
"Sehun apa ya--yang kau lakukan?" Ia kesulitan karena lelaki itu begitu menekan tubuhnya sehingga tubuh bagian depan begitu menekan pada pintu.
"Jangan berpikir untuk pergi!"
Yuri menggeliat. Tangan nakal Sehun bergerak perlahan, namun pasti memasuki baju seragam milik Yuri. Merambat naik menuju pusat sensitif yang terbungkus rapi.
"Sehunnn j-jangan ...." ia memohon dengan tubuh yang memberontak. Namun, Sehun tidak peduli. Tangannya menarik turun penyanggah itu dan langsung memijat bulatan kenyal menantang yang kontan membuat sang empu meleng*h dengan aliran darah melaju.
Tubuh Yuri seolah terkena sengatan listrik bervolt tinggi kala Sehun memainkan puncak yang telah kuncum karena tangan kasar itu. Rasa aneh itu semakin bertambah disaat Sehun juga mengem*t kulit leher itu dari belakang. Meninggalkan tanda keunguan di sana.
Sehun ingin semua orang tahu bahwa Yuri telah menjadi miliknya. Ia tidak peduli dengan persetujuan dari sang gadis, tetapi mulai saat itu, Yuri yang berada dalam kuasanya adalah miliknya.
"Nikmat bukan?"
Yuri tidak menjawap. Selama ini belum pernah ada seorang lelaki pun yang pernah menyentuh miliknya itu bahkan kekasihnya sekalipun. Pernah, tapi tidak secara langsung seperti ini. Jika pun kekasihnya dulu pernah mere**snya itu hanya dari luar.
Dan kini, lelaki yang bukan siapa-siapanya ini malah melakukannya. Bahkan kini baju bagian depannya sudah tersingkap naik, menampakkan kedua miliknya yang dikeluarkan dari tempat dan kini berada dalam genggaman kedua tangan brengsek Sehun.
Yuri tidak mampu untuk menolak. Sekarang sialnya ia malah menikmat rema**n tersebut bahkan yang lebih parahnya lagi Yuri malah menginginkan sesuatu yang lebih. Ia membiarkan Sehun menc**bu setiap inci kulit lehernya sembari merasakan terapi yang dilakukan Sehun pada tubuh depannya yang menonjol menantang.
Dada Yuri membusung dalam sandaran Sehun saat lelaki itu dengan nakal memil*n puncaknya yang menegang. Bohong jika Yuri mengatakan itu tidak nikmat. Yuri akui, ia sudah benar-benar gila karena sentuhan Sehun.
Sehun tersenyum puas melihat wajah merah Yuri. Ia langsung menyambar bibir Yuri yang terbuka saat mendongak menatapnya dengan tatap sayu bahkan lenguh*n itu terdengar sexy keluar dari bibir Yuri.
Ia ******* ganas nan liar bibir Yuri yang di balas baik oleh sang empu sembari tangan tidak henti men*rik-n*rik ujung kecoklatan milik Yuri yang tak jarang membuat gadis itu memekik dalam cium*n deep mereka.
Tok tok tok..
"Yuri kau di dalam?"