
Sesaat setelah Zeha selesai membersihkan area bibirnya, ia membawa tubuhnya meninggalkan toilet. Melangkah kembali, masuk ke pesta perayaan perusahaannya yang ke-20 tahun.
Namun, tiba-tiba alisnya tampak berkerut merasa aneh. Di hadapannya seorang wanita tiba-tiba masuk ke dalam jangkauan pandangannya. Dari punggung, surai, bahkan bahu itu terasa tidak asing di mata Zeha. Tanpa sadar, tungkai tegas Zeha membawa diri mengikuti sang wanita.
Kepala Zeha bergerak kiri dan kanan, mencuba melihat sisi dari wajah wanita yang terasa tidak asing. Itulah apa yang perasaan nya rasakan. Entah bagaimana, tiba-tiba saja disuatu detik, Zeha yakin bahwa itu adalah wanita yang pernah ia sangat cintai.
"Shin Jin--"
"Jiha!"
Zeha tahu Jinha mengkhianatinya dengan pergi bersama John, tetapi sepertinya Jinha telah berpisah dari John karena buktinya sekarang lelaki itu memiliki kekasih lain yang bernama Jiha.
𝘐𝘵𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘢𝘯𝘢𝘵𝘪 𝘬𝘶, 𝘑𝘪𝘯𝘩𝘢.
Walaupun perubahan wajah dingin dan tegas Zeha tidak terlihat namun, sesungguhnya ia terhenyak tanpa bisa mengalihkan tatapannya dari wajah wanita yang ikut menoleh disaat John memanggilnya. Seribu tanda tanya terlihat di wajah tampan nan dingin itu.
Begitu juga sebaliknya. Wanita yang kini berada dalam rangkulan John turut sama membalas tatapan bingung juga terkesan dingin Zeha. Mengunci pandangan mereka.
Wanita itu sangat yakin bahwa Zeha saat itu bingung setengah mati dengan kehadirannya yang membawa nama berbeda.
Sudut bibir John tertarik penuh kemenangan. "Ouh...." John mendekat beberapa langkah. "Perkenalkan... ini kekasihku... Lee Jiha," tukas John, berpura-pura memperkenalkan.
"Apa semua ini?" tanya Zeha bernada dingin. Tampangnya seakan siap menerkam mangsa. Zeha kembali teringat akan apa yang Sehun katakan pagi tadi.
(𝙵𝚕𝚊𝚜𝚑𝚋𝚊𝚌𝚔)
"Aku mendapat info dari anak buahku, bahwa ternyata saat kau membarentas keluarga Lee, anak tertua mereka, Lee Jiha sedang melanjutkan pelajaran nya di luar negeri, bukanlah terselamat dari kejadian itu seperti rumor yang beredar. Dan dia juga telah menjalin hubungan dengan John selama 2 tahun."
Zeha mengernyit bingung. "2 tahun?"
"Iya. Itulah yang anak buahku katakan. Lebih atau kurangnya aku juga kurang tahu."
"Jadi maksudmu... John juga selingkuh dari Jiha? Karena Jinha belum sampai satu tahun disaat ia pergi bersama lelaki itu. Sedangkan hubungan John dan Jiha saat itu sudah berjalan setahun lebih, kan?"
"Betul."
Zeha tampak berpikir dengan memegangi rahang tegasnya. "Ya, mungkin saja itu benar. John memang menghormati wanita, tapi dia tetap brengsek sepertiku. Bisa saja dia memelihara kedua wanita itu, kan? Atau bahkan mungkin lebih."
"Entahlah Zeha. Aku tidak bisa berkata-kata. Perasaanku tidak enak mengenai ini."
(𝙵𝙻𝙰𝚂𝙷𝙱𝙰𝙲𝙺 𝙴𝙽𝙳)
Tiba-tiba Zeha tertawa seperti orang bodoh, lalu dalam sekejap sirna ditelan oleh kebengisan wajahnya. Tidak disangkah selama ini ia telah dibohongi oleh Jinha. Sedang dirinya begitu mencintai wanita itu walau baru sebentar mengenalnya.
"Selamat Shin Jin Ha, kau telah berhasil mengelabui ku!" dinginnya suara itu, menusuk telinga.
"Tidak. Aku belum berhasil sepenuhnya, dan satu lagi... Aku bukan Jinha melainkan Lee Jiha," sahut Jiha. Wajahnya tidak lagi seperti dulu, disaat ia masih bersama Zeha.
"Ouh, iya aku lupa. Kau adalah Lee Jiha, ****** peliharaan seorang Park John." Bibir Zeha tertarik miring, aura merendahkan.
Bohong jika Zeha tidak merasa kecewa. Namun, ia berusaha menutupinya. Zeha bukan kecewa karena Jiha telah membohongi dirinya, melainkan kecewa pada diri sendiri. Betapa bodohnya dirinya sehingga tidak dapat melihat kepura-puraan Jinha saat itu. Mungkin karena ia telah dibutakan akan cinta palsu wanita itu. Zeha marah, kecewa, sedih dalam waktu yang bersamaan.
Tangan Jiha mengepal penuh dendam. "Mulutmu yang suka menghina tidak pernah berubah ternyata," ujar Jiha sinis. Meraih lengan John untuk ia rangkul. "Aku akan menjadi wanita bodoh jika benar-benar jatuh cinta pada lelaki kasar selertimu, Jeon Zeha!"
Zeha menanggapi dengan tersenyum kecil, namun mengerikan. "Semua yang telah kau lakukan atau ucapkan, hari ini ataupun yang telah berlalu, tidak satupun akan terlewat kan dari pembalasanku!" ancam Zeha membuat senyum di wajah Jiha hilang.
"Jangan lupa Tn. Zeha, bahwa kaulah penyebab kematian orang tua Jiha. Jadi sebelum kau berhasil menyakiti Jiha, maka aku akan lebih dulu membuat dirimu kehilangan orang yang kau sayangi. Siapapun itu!"
Lelaki Asia yang jarang terlihat serius itu, mendadak terlihat kejam dan dingin dalam pancaran aura wajahnya. Tetapi, Zeha adalah lelaki yang tidak pernah takut akan ancaman orang-orang, bagaimanapun keadaannya.
"Tapi kau juga jangan melupakan fakta orang tua wanita itulah yang lebih dulu mengusikku! Aku tahu kalian berdua mengetahuinya, bukan?"
John maupun Jiha sama-sama bungkam. Karena apa yang Zeha katakan benar belaka.
"Tapi, kau tidak harus membunuh mereka brengsek!"
"Tidak satupun dari orang yang telah mengusikku hidup!"
"Kau memang kejam!"
Manakala, disisi lain, Aeri hanya mengiakan saat Yohun mengajaknya pergi menemui Tn. Jeon dan sang isteri. Moodnya sudah hilang sejak bertemu dengan John. Pikirannya kacau dengan perasaan resah.
"Selamat ulang tahun yang ke-20 tahun perusahaan Anda, Tn. Jeon. Semoga kita bisa terus bekerja sama sampai seterusnya," tutur Yohun sembari tersenyum ramah. Mengulurkan tangan tanda persahabatan.
Tn. Jeon tertawa ringan. "Tn. Kim pasti senang punya anak lelaki berjaya sepertimu Yohun," ujar Tn. Jeon tulus dari hati. Ia menyambut uluran tangan Yohun.
Menanggapi ucapan Tn. Jeon, Yohun hanya tersenyum kecil mengingat seperti apa hubungan nya dengan sang ayah.
"Apa dia kekasihmu?" Yohun serta Tn. Jeon tersentak kecil mendengar pertanyaan yang tiba-tiba keluar dari bibir Ny. Jeon.
Yohun tersenyum. Hampir ia melupakan keberadaan Aeri yang berada tepat di sampingnya.
"Perkenalkan dia--"
"Dia Aeri, kan? Sekretaris Zeha," sela Tn. Jeon menghentikan ucapan Yohun. Membuat ketiga pasang mata kontan menoleh padanya.
"Iya, betul. Dia adalah teman dekatku sekaligus sekretaris Zeha yang sekarang."
"Apa khabar Tuan dan Nyonya?" Aeri menyapa hormat.
"Ya, kami baik. Bagaimana kerja dalam pengawasan Zeha? Dia tidak main-main, kan?"
Sebenarnya, Aeri merasa tidak enak mengenai pertanyaan Tn. Jeon ini. Ia bingung harus bagaimana menjawapnya. Ya, readers taulah seperti apa hubungan antara Aeri dan Zeha, kan?
"Sykurlah. Sebagai sekretarisnya, aku minta tolong untuk melihat-lihatnya, ya?"
Aeri tersenyum. "Tuan jangan khawatir."
"Anakku...."
Gumahan yang terdengar samar itu membuat Tn. Jeon, Yohun serta Aeri melihat serempak ke arah wanita yang berdiri tepat di samping Tn. Jeon.
"Ap--"
Belum sempat Tn. Jeon berujar, perhatiannya kembali dialihkan oleh sesuatu keributan yang datang dari bagian tengah pesta. Bukan hanya Tn. Jeon, bahkan mereka bertiga juga beralih atensi. Beberapa tamu juga tampak teralihkan oleh hal tersebut.
"Anak itu buat hal lagi," Tn. Jeon bergumam kesal.
Byur!
"Hadiah untuk wanita ****** sepertimu!" desis Zeha seperti ular, sesaat setelah ia menyemburkan menuman ke wajah Jiha. Membuat wanita itu kaget setengah mati, begitu juga dengan John yang berada di samping.
Bugk!
"Dan itu untukmu! Kalian jangan pikir ini telah selesai!"
Mulut Aeri terbuka tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Gerakan tangannya refleks menutup mulut. Maniknya mendelik kaget melihat kepalan tangan berurat Zeha melayang begitu saja ke wajah John. Keadaan sekitar seketika berubah riuh.
"Jangan ada yang cuba menghentikan ku!"
Set!
Amaran Zeha sesaat sebelumnya, ia menarik lengan Aeri dengan kasar. Membawa wanita itu pergi dari pesta tersebut dengan amarah yang tertahan. Jika ada yang menghentikan atau apapun itu, maka ia akan benar-benar menggila.
Aeri menoleh dikala ia samar-samar mendengar Yohun menyebut namanya dengan nada cemas. Aeri tersenyum, menenangkan Yohun, namun tetap saja Yohun merasa khawatir.
"Apa Zeha dan Aeri memiliki hubungan spesial?" tanya Ny. Jeon pada sang suami. Melihat Zeha menarik Aeri, itu bukanlah perkara biasa diantara majikan dan pekerja.
"Sepertinya begitu," Yohun menyahut, membuat air muka Ny. Jeon sulit untuk dibaca.
"Kamu tunggu di sini. Aku akan mengurus kekacauan ini." pikiran Tn. Jeon lebih tertuju pada kekacauan yang telah dilakukan oleh Zeha, anaknya.
"Maaf semuanya, maaf," seru Tn. Jeon seraya berjalan ke arah John dan Jiha. Betapa ia merasa bersalah dan malu akan apa yang telah Zeha lakukan.
"Anda tidak apa-apa Tn. John? Dan nona? Saya minta maaf akan sikap Zeha."
Walaupun sudut bibir John pecah akibat pukulan Zeha, ia bahkan masih bisa tersenyum lagi. "Tn. Jeon jangan cemas, saya bukanlah seseorang yang menyimpan dendam."
Merasa malu dengan keadaannya, Jiha berlalu dengan perasaan diselubungi rasa kesal. Membuat John tertawa. Ia sangat mengenal kekasihnya itu.
"Maaf... Tn. Jeon. Saya harus pergi." Setelah sedikit menundukkan kepala, John segera berlalu.
Tn. Jeon menghela napas panjang. Zeha sungguh membuatnya menanggung malu.
"Sekali lagi, sebagai pemilik acara saya minta atas kekacauan ini. Silahkan nikmati pestanya."
"Kenapa kau hanya melihat?"
"Apa yang bisa aku lakukan? Tidak ada satu orang pun yang bisa menghentikan budak itu."
"Tapi, biasanya kau akan selalu berdiri disamping Tn. Jeon. Kenapa sekarang kau seperti orang asing dengannya?"
"Kau tahu aku tidak memiliki orang tua. Dan perintah Tn. Jeon mutlak bagiku. Perintahnya menginginkan ku tidak sama sekali ikut campur jika terjadi sesuatu. Dia ingin aku libur dan menjalani kehidupan seperti orang biasa yang tanpa beban. Walaupun aku sangat ingin ikut campur, tapi tidak mungkin bagiku untuk melanggar perintah Tn. Jeon yang sudah seperti orang tuaku."
Seoji tersenyum lembut. Tangan lentiknya menyentuh rahang tegas itu. "Lalu... apa kau telah memaafkan ku?"
Taehoon menoleh seraya berbalik menghadap Seoji yang telah menghadapnya. Ia menyentuh tangan lembut itu, membawa menuju bibir, lalu ia kecup lembut tapaknya.
"Kau tahu bahwa aku tidak pernah membencimu, kan?"
"Kau mencintaiku?"
Tanpa melepaskan pandangannya dari manik Seoji, Taehoon terus mengecup lembut tangan itu. "Perasaanku tidak pernah pudar, walupun kau pernah menghinanya. Tapi kini aku tidak ingin memaksamu untuk menerima cinta ini."
Mendengar ucapan itu, membuat Seoji sekali lagi merasa bersalah. "Jika aku mengatakan, aku mencintaimu?"
Taehoon tersenyum kecil. "Mungkin itu bukan rasa cinta, melainkan rasa bersalah dan ingin menebusnya?"
"Tidak," sahut Seoji cepat. "Aku dapat membedakan perasaanku. Kau pikir aku anak kecil?"
"Sudahlah, lebih baik kita menikmati pesta ini. Aku tidak ingin menjadi pelarian mu setelah kau dilukai. Buat masa ini, biarlah aku menjadi teman dan penyokong mu, okay?" tutur Taehoon, mengusap pelan kepala itu.
Seoji kehilangan kata-kata. Walau apapun yang ia ucapkan, Taehoon tidak mempercayai apa yang ia katakan. Rasanya sangat gemas kesal.
"Kau membuatku ingin menciumimu, Taehoon."
"Jangan sembarangan berbicara seperti itu pada seorang lelaki," ujar Taehoon mengingatkan.
"Kenapa? Kau bukannya lelaki lain...."
"Aku lelaki normal."
"Aku tidak peduli bahkan jika harus telanjang bulat di depanmu. Aku pernah mengatakannya, kan? Kau lupa?"
"Kau wanita nakal!" kontan Taehoon menjitak dahi itu.