The President'S Crazy

The President'S Crazy
part. 88



Tepat pada pukul tujuh malam, disaat Yuri kembali untuk menemui Aeri setelah dari bertemu dengan Sehun. Yuri dibuat termangu dengan wajah yang kontan terlihat cemas dikala melihat kamar VVIP yang ditempati oleh Aeri kosong, tak berpenghuni.


Mencuba untuk tenang, mungkin saja Aeri pergi jalan-jalan atau ke toilet untuk buang air kecil. "Aeri?" panggil Yuri mendekat ke arah toilet.


"Aeri?" Tiada sahutan. Yuri mencuba untuk mengetuk pintu.


"Aeri, kau di dalam?" Yuri membuka pintu toilet disaat merasa tidak ada tanda kehidupan di dalam.


Seketika Yuri menjadi panik. Membawa tubuhnya cepat menuju pintu kamar tersebut. Ia mencari Aeri di taman rumah sakit di mana ia dan Aeri biasa di sana, namun tetap saja nihil. Kelibat Aeri pun tidak terlihat di sana. Bahkan sesekali Yuri bertanya pada perawat yang lewat, tapi tidak satupun diantara mereka melihatnya.


Yuri mengusap resah wajahnya. Ia takut, sangat takut. Karena sahabatnya itu baru saja sembuh dari sakitnya. Jika terjadi sesuatu bagaimana?


"Aeri, kau ke mana sayang," lirihnya khawatir.


Tidak lama setelah itu Yuri melihat perawat yang bertugas menangani Aeri. Dengan langkah cepat Yuri berlari menghampirinya.


"Maaf, apa kau melihat pasien yang bernama Aeri, yang kamarnya berada di ujung sana?" tanya Yuri sambil menjelaskan.


"Ouh... Tadi pasien itu memaksa untuk pergi. Dia bilang dia sudah tidak bisa tinggal di rumah sakit ini lagi. Aku mencegahnya, tapi dia tetap ingin pergi, katanya dia sudah baik-baik saja."


"Apa?!" tukas Yuri membuat perawat itu kaget dengan suara lantangnya. "Maaf. Terima kasih."


Perawat itu pun berlalu. Sedangkan Yuri segera menelpon Sehun yang sebagai perantara diantara Zeha dan Aeri.


"Aeri... kau ke mana di malam seperti ini?" gumam Yuri lirih setelah panggilan menegangkan antara ia dan Sehun berakhir. Ia kembali ke kamar rawat Aeri, berharap ada sesuatu yang ditinggalkan oleh sahabatnya itu.


Masalah itu pun sampai ke telinga Zeha yang sangat itu sedang bersantai di balkon kamar bersama anggur mahal miliknya. Setelah mengenal Aeri, Zeha sudah tidak seperti dulu lagi yang suka bersenang-senang dengan banyak wanita. Ia berubah tanpa ia sadari.


"Apa?!" Zeha refleks berdiri setelah Sehun memberi tahunya masalah Aeri. Ia menjambak kasar surainya yang memang telah berantakan karena jarang diurus oleh sang empu.


"****!" panggilan diputus sepihak oleh Zeha. Ia berlari menuruni tangga dengan perasaan khawatir yang menggerogoti. Ia tidak ingin lagi melihat gadis itu terluka atau apapun yang bisa membahayakannya.


"Gary!" teriaknya lantang kontan membuat Gary serta merta hadir di hadapan. "Ke rumah sakit sekarang!"


Jujur Gary sedikit tersentak saat Zeha tiba-tiba memintanya untuk ke tempat tersebut, karena selama Aeri berada di sana Zeha sekalipun tidak pernah ingin mengunjungi rumah sakit, tepat setelah keputusan test DNA itu keluar.


Tanpa banyak tanya lagi, Gary segera melajukan mobil yang membawa tuannya ke rumah sakit seperti yang diinginkan. Tidak memakan waktu yang lama untuk sampai.


Kaki yang senantiasa melangkah dengan angkuh itu berlari munuju ruangan Aeri diikuti oleh Gary di belakang. Tentang bagaimana perasaan lelaki itu kini, author pun  tidak tahu. Yang pasti sudah berkecamuk tidak tenang.


"Mana dia?" tanya Zeha setelah masuk dengan mendobrak pintu kasar, mengagetkan Yuri dan Sehun yang berada di dalam.


Mereka sontak menoleh pada Zeha yang hanya mengenakan jubah mandi berwarna hitam bersama celana kulot panjang.


Sehun tersenyum samar melihat keadaan sahabatnya itu. Bukankah semua ini sudah jelas? Kalian tahukan apa maksud author para readers? (Haha)


"Aeri sudah pergi," sahut Sehun sambil mengusap-usap pundak Yuri guna menenangkan wanita itu.


"Dan kau tidak pergi mencarinya, brengsek!?" serga Zeha emosi.


"Tenangkan dirimu Zeha."


"Tenang kau bilang?! Dalam keadaan ini kau ingin aku tenang!? Jika terjadi sesuatu padanya bagaimana? Dan kau Yuri, bukankah kau selalu bersamanya? Lalu bagaimana dia bisa pergi tanpa kau ketahui? Kau pasti tidak menjaganya, kau hanya bersantai, kan?! Jawap!" bentak Zeha emosi. Entah mengapa ia merasa dunianya seolah akan runtuh.


"Dia bahkan belum sembuh total," gumam Zeha, resah.


"Jeon Zeha!" sentak Sehun cepat,tidak terima jika Zeha malah menyalakan Yuri. Zeha refleks menoleh tajam. Seketika Sehun menarik napas dalam. "Aku telah meminta anak buahku pergi mencarinya."


Tepat setelah Gary pergi, Yuri tampak memberikan sesuatu pada atasannya itu.


"Kau seharusnya bertanya pada dirimu sendiri Zeha. Kenapa Aeri pergi tanpa mengatakan apa-apa? Jangan karena kesalahanmu kau malah menyalahkan orang lain!"


Zeha mendelik tajam. "Apa maksudmu, Sehun?!"


"Benda itu saya temui di atas nakas. Saat itu Aeri telah pergi," terang Yuri sendu. Dan Sehun terus mencuba menenangkan kekasihnya itu.


"Kau pengecut Zeha. Kau egois. Kau mencuba menafikan apa yang dikatakan dan diinginkan oleh hatimu hingga menyakiti Aeri lagi dan lagi," ujar Sehun membuat Zeha mengernyit, mencuba mencerna ucapan sahabatnya itu. "Lihat dirimu..., " Zeha sontak menatap dirinya sendiri. "Apa itu yang kau sebutkan bukan cinta? Kau bahkan tidak lagi memperdulikan penampilanmu dan langsung berlari ke sini saat mendengar perihal Aeri bukan?"


Zeha terdiam dengan pandangan menemui lantai. Pikirannya melayang membayangkan keadaan Aeri saat itu. Aeri pasti kecewa dengan sikapnya yang seperti ini. Dan ini kesekian kalinya ia menyakiti Aeri.


𝘗𝘢𝘯𝘵𝘢𝘴𝘬𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘵𝘶𝘭𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢?


Namun jika demikianpun, Zeha tetap tidak ingin menyerahkan Aeri pada lelaki siapapun. Lebih-lebih lagi Yohun, cinta pertama gadis itu.


"Jadi semua ini salahmu, bukan Yuri."


"Setiap hari Aeri selalu menanti kedatangan Tuan tanpa banyak bertanya karena dia berpikir Tuan pasti sibuk," ucap Yuri tiba-tiba, membuat kedua pasang mata itu tertuju padanya.


"Tapi, kemarin Aeri terlihat telah menyerah pada Tuan. Aeri memang tidak mengatakannya, namun semua itu terlihat dari mata sendunya yang indah. Tersimpan seribu kesedihan dan perasaan yang akan terus dia bawa dan jaga. Tidak peduli jika tidak bersama--"


"Tidak!" teriakan itu membuat Yuri tersentak kaget. Zeha tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


"Dia akan terus menjaga cintanya," sambung Yuri.


Tes.


Sehun tersenyum senang melihat air mata jatuh dari pelupuk mata yang senantiasa terlihat tajam itu. Zeha menutup kedua matanya dengan sebelah tangan. Ia mengerang penuh emosi. Dada itu terasa sesak.


"Ya, aku tahu semua ini salahku. Salahku!" cicit Zeha dengan suara tersekat-sekat. Menahan perasaannya.


"Maka temukan dia, Zeha. Jangan lepaskan gadis sebaik itu kalau kau tidak ingin menyesal."


Melihat keterdiaman dan kesedihan penuh penyesalan Zeha membua Sehun membawa Yuri keluar dari sana, meninggalkan Zeha seorang diri. Sehun yakin sahabatnya itu perlukan ketenangan.


Secara perlahan, Zeha membuka surat pemberian dari Yuri yang ditinggalkan oleh Aeri untuk dirinya.


𝘛𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘡𝘦𝘩𝘢, 𝘈𝘯𝘥𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘱𝘢𝘵𝘪


𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪 𝘈𝘯𝘥𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘰𝘣𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘺𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘺𝘢. 𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘭𝘶𝘱𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯𝘱𝘶𝘯.... 𝘋𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘮𝘢𝘢𝘧 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘦𝘩𝘢𝘥𝘪𝘳𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘴𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘛𝘶𝘢𝘯. 𝘊𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘛𝘶𝘢𝘯, 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘈𝘯𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘪𝘯𝘺𝘢, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢t 𝘛𝘯. 𝘡𝘦𝘩𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘦𝘣𝘢𝘯𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘯𝘺𝘢𝘮𝘢𝘯, 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘰𝘩𝘰𝘯 𝘮𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘺𝘢. 𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘯𝘵𝘢𝘴, 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪. 𝘏𝘦𝘩, 𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘥𝘪𝘳𝘪, 𝘬𝘢𝘯 𝘛𝘶𝘢𝘯?


𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘈𝘯𝘥𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢, 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘯𝘤𝘪 𝘛𝘶𝘢𝘯. 𝘔𝘢𝘬𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘛𝘶𝘢𝘯, 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦b𝘢𝘯𝘪 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘛𝘶𝘢𝘯. 𝘌𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪 𝘱𝘢𝘯𝘵𝘢𝘴 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬, 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪.


Zeha terhenyak seribu bahasa setelah membaca tulisan tangan Aeri, luahan perasaan gadis itu. Berbuti-butir lihuid bening membasahi pipi gagah Zeha tanpa sadar. Lebih-lebih lagi terdapat beberapa bekas air mata yang telah mengering. Zeha yakin air mata itu milik mata teduh Aeri.


Tiba-tiba Zeha langsung berlari sekuat mungkin meninggalkan ruangan itu. Terus berlari menaiki tangga hingga sampai pada rooftop rumah sakit.


"Arrrgggkkkkkkkk!" teriak Zeha lantang sehingga tenggorokan seolah ingin keluar. Pegangan pada besi pembatas begitu erat.


Melampiaskan apa yang ia rasakan dengan menendang ke udara bahkan tidak jarang pada pembatas besi yang bisa saja melukai kakinya. Menyurai rambut yang tidak tersisir ke belakang. Rasanya Zeha ingin melompat dari bangunan tersebut karena penyesalan yang ia rasakan. Tidak seharusnya ia mengaitkan Aeri yang tidak tahu apa-apa dengan masalahnya dengan ibu tirinya itu.


"Aaeeerriiiiii~~!"