The President'S Crazy

The President'S Crazy
part.6



"Kau cukup beruntung karena aku tidak langsung membunuhmu dengan pistolku. "


Serasa menelan batu setelah mendengar peruturan menyeramkan itu. Apalagi jilatan tiba-tiba itu langsung membuat tubuh Aeri meringsut menjauh. Ia bergetar takut. Sebelah tangan reflek bergerak menyembunyikan telinganya.


"Sa-saya a-akan ambilkan k-kain bersih." Aeri ingin segera menjauh dari lelaki tersebut. Buluh kuduk serasa berdiri sejak Zeha berdiri di belakang.


Grep!


Kedua netra Aeri sontak terpejam kala tangan besar lelaki itu mencekal pergelangan tanganya.


"Tidak perlu." Zeha mendekatkan tubuh ke punggung Aeri, seraya kembali mendekatkan bibir pada telinga yang telah mendapat jilatannya tadi.


"Selamat bekerjasama." Setelah bisikan bernada seksual itu. Zeha bergerak menarik wajah, membuat bibirnya bergesekan dengan rambut Aeri secara perlahan.


Ia pun berlalu meninggalkan Aeri yang bergidik ngeri akan tindakanya. Lagi dan lagi Aeri merasa perlakuan lelaki itu seolah telah mengenal dirinya, padahal baru dua jam lalu mereka bertemu.


Apalagi kata ambigu yang membingungkan itu. 'Selamat bekerjasama' apa maksudnya?


"Apa kau tahu, ternyata lelaki itu adalah anak Tn. Jeon? Yang akan menggantikkan Tn. Jeon tidak lama lagi?"


Aeri mendelik kaget, menoleh pada Yuri. Aeri tidak ambil pusing tentang entah sejak bila Yuri berada di samping, namun yang membuat Aeri kaget adalah, apa yang telah Yuri katakan barusan.


"Apa?! Jadi lelaki itu tuan muda di perusahaan kita?"


Yuri mengangguk. "Lalu, jelaskan padaku, mengapa tuan muda Zeha seolah mengenal dirimu?" Pandangan Yuri memicing. Situasi pagi tadi sungguh membuatnya tidak habis pikir.


Dilihat dari sorot mata Aeri waktu itu, jelas menunjukkan bahwa Aeri tidak mengenali Zeha. Akan tetapi, mengapa sorot mata lelaki berwajah dingin itu seolah pernah bertemu Aeri? Mungkinkah Aeri tidak mengingat siapa lelaki itu? Tapi Aeri bukanlah jenis seseorang yang langsung melupakan orang yang telah ditemui.


"Sumpah, aku tidak mengenal tuan muda. Lalu bagaimana aku akan menjelaskan padamu? Bertemu saja baru pagi ini."


"Terus apa yang tuan muda bisikkan tadi?"


......


"Bagaimana?" Tanya Zeha pada Sehun yang duduk tepat di hadapannya.


"Kau tidak perlu cemas. Mereka hanya sekumpulan kelompok kecil," sahut Sehun. Melirik sekilas pada wanita yang bergelayut manja dipangkuan Zeha.


Bukan tidak ada wanita di samping Sehun, hanya saja Sehun tidak ingin kosentrasinya terganggu oleh sentuhan lembut tangan wanita, yang bisa membangkitkan hasrat. Masih ada hal serius yang perlu ia katakan pada Zeha.


"Hanya saja...." Aktivitas Zeha yang mencu


*mbu panas wanita dipangkuan sontak ia hentikan, lantas menatap lurus ke arah Sehun. "Ada pergerakan aneh yang bergerak disekitarmu semenjak kau mengatakan akan menggantikan posisi ayahmu," lanjut Sehun serius.


Alis Zeha berkerut. "Pergerakan? Pergerakan seperti apa?" Setahu Zeha, ia belum pernah mempablikasikan tentang dirinya yang akan menggantikan sang ayah. Lantas, bagaimana bisa ada seseorang mengetahuinya. Apa mungkin Sehun? Tidak. Kesetian Sehun tidak diragukan lagi oleh Zeha. Lalu siapa?


"Aku tidak tahu pasti. Aku hanya ingin kau lebih berhati-hati." Zeha tersenyum samar. Tangannya merambat naik, menyelinap ke dalam baju tanpa lengan yang wanita itu kenakan. Meremas gundukan kenyal nan besar milik sang wanita, hingga membuat sang empu melenguh.


"Terutama saat kau bersama wanita seperti saat ini," tambah Sehun. Ia dapat melihat kebencian itu dari sorot mata tajam Zeha terhadap wanita.


"Kita lihat saja apa yang ingin orang itu lakukan." Senyum remeh terlihat di wajah tegas Zeha.


Bagai bayi yang kehausan memperlakukan gundukan kenyal itu. Mengeluarkannya dari tempat tanpa tahu tempat. Bahkan wanita tersebut tidak merasa malu sedikit pun saat Zeha mengeluarkan miliknya, padahal masih ada Sehun di sana. Bukan hanya Sehun, masih banyak lagi pengunjung lainnya di dalam casino milik Zeha itu.


Zeha seperti kesenan, meluahkan semua rasa marah, kesal dan benci yang berbaur menjadi satu. Cengkraman pada kedua bahunya terasa begitu menyakitkan. Sebenarnya siapa yang berani mengusik kehidupan pribadinya? Mungkinkah orang itu sudah bosan hidup?


Dalam aktivitas Zeha mengulum buah d*da wanita itu, bibirnya tertarik mengukir senyum miring yang mengerikan. Zeha akan menunggu. Sebenarnya sehebat apa orang itu sehingga begitu berani mengusiknya? Tampaknya orang itu belum begitu mengenal sosok seorang Jeon Zeha.


"Sebaiknya kau pergi hotel. Kau tidak mungkin melakukan itu di sini, kan?"


Sebelah alis Sehun terjungkit naik melihat betapa ganasnya bibir itu bergerak menyed*t dada sang wanita. Apalagi tangan Zeha sudah bergerak bebas masuk ke bawah gaun pendek yang wanita itu kenakan. Bahkan napas yang dikeluarkan oleh wanita itu sudah begitu tidak teratur, seolah pasokan oksigen telah menipis.


Zeha bersmirk menanggapi ucapan Sehun. "Itu bukan masalah." Setelahnya, Zeha melepaskan buah kenyal yang telah membengkak pada pucuknya. "Perbaiki pakaian mu."


Dengan patuh wanita itu menurut. Memasukkan kembali miliknya pada tempat, lalu merapikan rambut yang sedikit berantakan.


Zeha pun langsung beranjak meninggalkan Sehun tanpa mengucapkan sepata kata. Tidak perlu heran, itu hal biasa diantara mereka. Apalagi saat ini Zeha sedang menahan hasrat yang memuncak akibat aktivitas yang ia lakukan bersama wanita yang sedang mengekorinya dari belakang. Bukan hanya dirinya, namun wanita itu juga sudah tidak sabar ingin dimasuki oleh Zeha. Rona diwajah begitu terlihat di wajah sang wanita.


Sejak Zeha memiliki kebencian yang meluap-luap di dalam dirinya terhadap wanita, semenjak itu juga lelaki itu memperlakukan wanita sebagai alat untuk melampiaskan rasa bencinya. Hingga perbuatannya itu menjadi kebiasan dan menjadikan dirinya seperti saat ini, begitu sulit mengontrol gairah yang ada pada tubuh. Bahkan bisa dikatakan, ia telah menjadi pecandu s*x.


Namun, itu semua ia gunakan hanya untuk mempermainkan dan menghancurkan semua wanita. Tiada cinta yang ditaruh. Zeha telah berubah menjadi lelaki brengsek yang mempermainkan setiap wanita yang berminat padanya.


Apalagi saat ini, Zeha melihat seorang wanita dan lelaki menyatu dalam posisi berdiri dengan si wanita bersandar pada dinding di lorong jalan keluar casino itu. Terlihat sang lelaki begitu menikmati menggenjot sang wanita yang mendesah tanpa tau tempat.


"****!" Zeha menggeram. Wanita hanya sampah yang mengotori dunia. Namun yang membuatnya kesal adalah, gairah yang semakin membara membakar tubuhnya. Ia sontak menarik wanita yang mengikutinya dari belakang. Melangkah lebar menuju mobil.


Brak!


Tubuh wanita dihempas pada tubuh mobil dan langsung menyambar bibir wanita bayaran itu dengan mulut Zeha yang terbuka. Yang tentu saja di sambut baik oleh sang wanita.


Tidak dapat lagi ia menahan gejolak itu. Malam itu cukup dingin namun, dinginnya malam tidak mampu meredamkan panas yang membakar sekujur tubuh Zeha. Sesak yang menyumpal di bawah sana, tepatnya di dalam celana yang ia kenakan semakin membuatnya tersiksa.


Lagipula area tempat parking saat itu cukup sunyi. Jadi tidak apa jika Zeha ingin melakukan di sana sembari berdiri.


Kepala wanita itu mendongak memberi akses penuh pada Zeha yang menjelajahi leher jenjangnya dengan agresif. Menyesap begitu kuat sehingga meninggalkan bekas di sana.


Disaat tangan kanan sibuk meremas kuat gundukan sang wanita, tangan kirinya pula sibuk merayap ke bawah, menelusupkan tangan pada pusat sensitif wanita tersebut. Mengusap sehingga mampu membuat tubuh wanita itu terjingkrat bagai terkena listrik bervolt tinggi.


Zeha kembali mempertemukan bibir mereka, sembari tangan besar miliknya sibuk membuka resleting celana yang ia kenakan, lantas beralih pada milik sang wanita. Menurunkan benda segi tiga itu hingga setengah paha tanpa melepas tautan bibir.


Lenguh wanita tersebut tertahan didepan bibir Zeha saat tanpa aba-aba Zeha melesatkan masuk keperkasaannya.


Senyum merendah lagi-lagi tersungging di bibir sedikit berisi Zeha, kala mendengar ******* laknat itu keluar begitu saja. Ia semakin menggila menghantam liang lembab sang wanita disaat ******* itu semakin mengalun keluar tanpa beban.


Tanggapan betapa murahnya seorang wanita semakin tertanam dalam hati. Tidak ada satu pun wanita di dunia ini yang berhak atas cintanya, kecuali sang ibu. Ia tidak sudi memberi cinta suci miliknya pada seorang wanita pun. Ia yakin mereka semua sama.


"Cih!" Zeha berdecik kesal. Semakin menghantam di bawah sana membuat wanita itu menjerit antara nikmat dan nyeri. Cengkraman di kedua bahu Zeha semakin kuat kala wanita itu merasa tubuh ingin remuk, pecah tidak berbentuk.


Lenguhan wanita itu terdengar disaat Zeha dengan tiba-tiba menarik keluar miliknya. Pancaran manik wanita itu seolah mengatakan ketidakrelaannya. Padahal ia belum sampai. Mengapa Zeha sudah menariknya?


"Kita lanjut nanti."