
Limusin mewah yang dikendarai oleh Taehoon memasuki pekarangan masion mewah milik Tn. Jeon. Lelaki dengan kerutan di wajah menatap iba pada Seoji yang tampak seperti tak bernyawa walau nyawa masih bersarang di tubuh, pandangan itu kosong lurus ke depan.
"Taehoon, beritahu pada pelayan untuk membersihkan tubuh Seoji dan berikan dia makan," ucap Tn. Jeon sebelum melangkah keluar.
"Baiklah ...."
Taehoon menoleh ke belakang menemui pandangan kosong Seoji yang tertuju pada belakang tempat duduk penumpang. Sepertinya wanita cantik itu trauma dengan apa yang ia lalui.
Ia pun turun dari mobil, lalu menuntun Seoji untuk keluar dengan sangat hati-hati. Memapah tubuh tidak bermaya itu masuk ke dalam masion dengan mengapit pinggang ramping itu. Tungkainya membawa sang wanita menuju kamar tamu yang berada di lantai bawah setelah ia meminta kepala pelayan mengantarkan makanan.
Bagaikan kaca yang mudah pecah, ia mendudukkan bokong Seoji di tepi ranjang. Sekali lagi ia memindai wajah itu dengan saksama--yang mana bola mata sendu itu bergerak secara perlahan padanya. Manik bening itu berembun pada tempatnya, lalu mengalir membentuk sungai kecil pada pipinya.
Sungguh ingin rasanya Taehoon memeluk, membenamkan tubuh lemah itu dalam dekapan hangatnya. Memberi ketenangan yang mampu membuat wanita itu merasa damai dan tidak takut lagi. Ia menghela napas panjang. Mengusap lembut aliran bening itu dengan ibu jari.
"Sebentar lagi pelayan akan datang membersihkanmu, lalu akan memberimu makan. Aku pergi dulu, ya."
Baru selangkah Taehoon melangkah sebelum ia dapat merasakan pegangan pada kemeja bagian belakang. Kemudian, suara lirih itu masuk pada indra pendengarannya.
"Aku mohon jangan pergi...."
Taehoon menoleh pelan. Di matanya ia kembali melihat air mata itu mengalir. "Kau harus istirahat." Tangannya melepaskan pegangan Seoji pada bajunya secara perlahan. "Kau aman di sini, tidak ada yang perlu kau takutkan." Taehoon pun kembali melangkahkan kakinya meninggalkan kamar tersebut.
"Aku minta maaf ...." tetapi sekali lagi, lirihan yang terdengar begitu memilukan kembali membuat Taehoon terhenti di ambang pintu. "Aku bersalah padamu ...," tambahnya terisak pilu.
Ia menyesal pernah berbuat salah pada lelaki itu. Lelaki yang menjaga dirinya bagai menjaga nyawa sendiri, melindunginya bak perisai yang rela terkena serangan apapun. Mengkhawatirkan ia melebihi orang tua mencemaskannya. Tapi apa balasannya? Ia malah menolak mentah-mentah lelaki itu saat memintanya untuk menjadi kekasih.
Seoji semakin terisak kala mengingat semuanya. Betapa bodohnya ia menolak hanya karena Taehoon tidak memiliki apa-apa. Hanya orang asing yang dianggap sebagai anak sendiri oleh Tn. Jeon dengan asal usul yang tidak jelas. Sedang semua itu tidak penting saat ia telah dicintai dengan segenap jiwa.
"T-Taehoon ak--aku hiks." Seoji tidak sanggup lagi. Segukan teruk hingga suaranya tercekat ditenggorokan. Hatinya sangat sakit bagai di hantam batu berulang kali.
Ia menatap Taehoon yang berjalan padanya dengan pandangan buram karena air mata. Hidungnya memerah mengeluarkan cairan hingus.
Bruk!
Taehoon sudah tidak sanggup melihat Seoji menangis bahkan bernafas saja ia kesulitan karena segukan yang parah. Ia membenamkan tubuh bergetar Seoji dalam dekapan hangat miliknya membuat wanita itu semakin terisak.
"Hikss ... hikss...."
"Aku sudah melupakan semua itu. Tenanglah," gumam Taehoon menenangkan. Itulah faktanya. Ia memang telah melupakan kejadian yang sempat membuatnya bersedih walau tidak sampai sehari.
Ia memang bukan seseorang yang akan terpuruk selama beberapa hari, atau mingguan atau bahkan sampai berbulan. Jika ditolak, ya mungkin itu memang kesalahannya karena tidak memiliki semua yang wanita itu inginkan. Tapi, bukan berarti ia akan melupakan cintanya dengan begitu mudah, tidak.
Karena sampai sekarang perasaannya pada Seoji masih nyata, namun ia tidak ingin memaksakan kehendaknya pada orang yang ia cintai. Taehoon tidak ingin menjadi egois.
Tangannya lembut mengusap punggung serta puncak kepala sang wanita. "Itu memang kesalahanku, karena tidak bisa menjadi seperti yang kau inginkan."
Kontan kepala Seoji menggeleng lemah dalam pelukan Taehoon. Ia tidak terima dengan ucapan itu. Taehoon sudah sempurna, ia saja begitu bodoh.
"Sudah sekarang kau harus tenangkan pikiranmu. Jadikan apa yang terjadi sebagai pelajaran. Kelak jangan lagi kau memandang seseorang dengan derajat mereka jika kau ingin dicintai dengan tulus."
Airmata itu tidak lagi mengalir, namun segukan tetap masih kedengaran. Usapan lembut dipunggung terus Taehoon berikan guna menenagkan sang wanita.
"Apa kau tidak lagi mencintaiku?"
Tepat saat itu pelayan datang membawa nampan berisi makanan serta pakai ganti untuk Seoji. Taehoon menoleh sekilas sebelum kembali menatap wajah sembap wanita di hadapannya.
"Biarkan mereka mengurusmu, lalu kau istirahat. Jangan pikirkan apapun lagi. Aku pergi dulu."
Dengan pandangan sayu Seoji melihat punggung gagah itu menjauh, lalu menghilang di balik pintu. Ia menunduk. Sungguh ia tidak menyangkah atasannya Zeha akan melelangkannya setelah melakukan penyatuan yang membara dalam ruangan pagi tadi. Bukan hanya itu, Seoji bahkan mendapat kekerasan saat bercinta dengan Zeha saat itu. Ia kembali menangis kala membayangkannya.
Memukul bokongnya hingga perih. Menghentaknya begitu bruntal hingga serasa koyak di bawah sana. Menggigit puncak buah dadanya hingga jika terkena pakaian pun terasa begitu menyakitkan. Dan dengan kejamnya, Zeha menampakkan tubuh polos tanpa sehelai benang miliknya pada semua orang di acara pelelangan tadi.
Seoji menangis dan terisak. Tangisan yang begitu menyayat hati bagi yang mendengarnya. Bahkan pelayan yang sedang mengurusnya hanya bisa terdiam sedih, walau tidak tahu apa yang telah menimpah Seoji, mereka turut merasakan kesedihan memilukan yang menyelimuti hati wanita itu.
Punggung yang bersandar pada dinding bagian luar kamar tamu menunduk dengan kedua tangan tersimpan dalam kantong. Isakan dan tangisan Seoji begitu jelas masuk ke dalam pendengarannya.
Ia memang masih mencintai Seoji, namun ia tidak akan mengejar wanita itu lagi. Biarlah wanita itu tenang dahulu. Jangan karena rasa bersalah yang Seoji rasakan membuat wanita itu beralih padanya.
Jika benar Seoji telah menerimanya, Taehoon ingin itu karena cinta bukan karena rasa bersalah yang ia rasakan. Jika tidak demikian, maka Ia tidak akan pernah memaksakan perasaan sepihaknya.
"Aku minta maaf, Seoji," lirihnya bergumam.
***
Pagi ini Aeri bangun lebih awal, bahkan sebelum waktu menunjukkan pukul lima pagi, ia sudah beranjak dari tempat tidur. Semua itu karena ia terganggu oleh suara aneh yang berasal dari kamar Zeha.
Dengan berani Aeri memutar knock pintu yang ternyata tidak terkunci. Langkah yang menjinjit Aeri berjalan mendekati kasur secara perlahan. Suara lirihan semakin jelas mengusik telinganya.
Betapa kagetnya Aeri saat mengetahui Zeha menangis dalam tidur. Wajah tampan yang sentiasa dingin dan serius itu tampak seperti wajah seorang anak kecil yang menangis karena ditinggal sendiri.
Kerutan di dahi amat begitu jelas terlihat dalam gelap. Bibir tipis itu melengkung sedih seperti orang menangis. Buliran air mata mengalir laju dari pelupuk mata yang tertutup.
"Tuan Zeha pasti memimpikan ibunya," gumam Aeri turut merasakan kesedihan dari raut itu.
Matanya tersita oleh koyakan dibibir--bekas tamparan keras Tn. Jeon. Di sana terlihat darah yang mengering. Karena memang semalam setelah sampai di apartemen, Zeha langsung masuk ke dalam kamar dan setelahnya tidak pernah keluar sampai detik ini.
"Ternyata kehidupan tuan Zeha begitu keras sehingga menjadikannya sosok yang sekarang ini...."
Tangan kecilnya penepuk pelan lengan kekar yang berurat itu bagai ibu yang mencuba menenangkan anaknya. Ajaibnya itu membuahkan hasil. Tangisan serta lirihan kecil tidak lagi terdengar dari bibir Zeha. Wajah itu bahkan tidak lagi menunjukkan kesedihan dan kerutan di atasnya. Aeri pun bernapas lega melihatnya. Ia tersenyum tipis sebelum meninggalkan kamar tersebut.
Tanpa sadar kelopak mata yang menyembunyikan iris tajam itu sedikit terbuka. Walaupun tidak jelas, sang pemilik dapat melihat seseorang baru saja menutup pintu kamar miliknya, sebelum ia kembali terlelap dalam kantuk yang belum hilang.