
THE PRESIDENT'S CRAZY
part.19
Dentingan sudu saling menyahut di ruang makan pagi itu, mengisi keheningan yang memenuhi ruang, hingga akhir.
"Ayah dengar, kemarin kau bertemu dengan Aeri?" Suara lelaki baru baya yang dingin menusuk telinga memecahkan keheningan. Refleks menarik atensi Yohun, Yeoryun serta sang ibu.
"Ayah masih terus memataiku?" Sebelah alis lelaki itu ternaik, tidak terima.
"Jawap saja pertanyaanku!"
Yohun berdecih, lalu bergumam seadanya. "Hmm."
Yeoryun yang mendengar mendelik kaget. "Untuk apa kakak menemuinya?"
"Urus saja urusanmu!" Sentak Yohun membuat Yeoryun mengerucutkan bibir.
"Aku sudah katakan padamu, jauhi gadis itu dan jangan pernah dekat-dekat dengannya lagi."
"Dulu ayah memintaku untuk mendekati Aeri. Sekarang setelah semuanya berhasil, ayah memintaku untuk menjauhinya? Apa ayah tidak tahu, karena perintah ayahlah aku sampai jatuh cinta padanya?" Tiga pasang telinga yang mendengar kontan terlonjat kaget dengan pengakuan itu.
"Sepertinya kau mulai gila, Yohun," gumam Yn. Kim.
"Ayah yang membuatku seperti ini. Padahal dulu aku tidak ingin mendekati Aeri dan membuatnya suka padaku. Ini semua salahmu!"
"Kim Yohun!" Bentak Ny. Kim. Suasana sarapan yang hening telah tergantikan dengan perdebatan antara keluarga. Yeoryun tidak berani bersuara, ia hanya menyemak apa yang mereka perdebatkan.
"Sepertinya keputusanku mengirim orang untuk menghabisi gadis itu semalam adalah tepat." Tiba-tiba saja Tn. Kim mengatakan kenyataan yang mengagetkan ketiga orang yang mendengarnya. Terutama Yohun. Lelaki itu refleks menggembrak meja, membuat dua wanita beda usia terjingkat kaget.
"Apa?!" Yohun bangkit.
"Mungkin saja gadis itu telah lenyap dengan menyisakan namanya saja." Tn. Kim menyeringai puas.
"Aeri tidak punya salah sama kita, tapi ayah ingin melenyapkannya?!"
"Kau sungguh bodoh, Yohun. Kesalahan gadis itu karena telah menjadi anak angkat keluarga Kwon. Dia bisa jadi ancaman suatu hari. Apa kau tidak berpikir? Kematiannya lebih baik."
"Brengsek!" Yohun berlalu dengan emosi yang tertahan serta hati yang gelisah memikirkan keadaan Aeri.
Sama dengan Yohun, Yeoryun juga bangkit dari duduknya menuju kamar yang berada di lantai dua. Gadis itu meraih benda pipih miliknya lalu segera menghubungi manager Lee.
"Hello ...," ujarnya setelah sambungan tersambung.
"Hmm ...." Sangat jelas lelaki itu baru bangun dari tidurnya.
"Semalam, Aeri ada datang bekerja?"
"Aeri?" Suara berat diseberang itu seolang bingung.
"Haissttt! Kwon Aeri b*d*h! Aku yang membawanya waktu itu untuk bekerja di tempatmu!" Sergah Yeoryun emosi. Padahal ia ingin segera tahu keadaan Aeri.
"Ouh.. Tidak. Dia ada minta ijin untuk tidak datang. Katanya dia harus lembur ditempat kerjanya."
Tut tut tut.
Langsung, Yeoryun memutuskan sambungan itu secara sepihak. Ia muak mendengar suara itu lama-lama. Jadinya ia akan sakit kepala. Yeoryun pun segera mengabari Yohun.
"Okay...." Setelah mendengar apa yang sang adik kata, ia segera mengakhiri panggilan singkat itu dengan perasaan semakin kacau. Ia membawa mobil dengan kecepatan tinggi, memotong serta menyelit diantara kenderaan yang lain yang mulai ramai pagi itu.
........
Tubuh Aeri tersentak bangun. Kejadian yang menimpanya semalam kembali hadir, menghantui tidur nyenyak. Peluh mengalir membasahi pelipisnya.
"Sudah bangun?" Suara dingin itu membawa secara penuh kesadaran memenuhi tubuh. Ia menoleh ke samping.
Aeri baru teringat jika semalam Zeha membawanya pulang, tetapi ia tidak ingat apa-apa lagi saat telah masuk ke dalam mobil mewah lelaki itu. Zeha tampak menikmati secangkir capuccino, terhidu dari harumnya kamar tersebut. Dengan kaki yang disilang menghadap Aeri.
"Apa ini rumah tuan?" Suara lemah itu mengalun.
"Hmm." Zeha bangkit, bergerak ke sisi ranjang lantas mendudukkan bokongnya di sana.
"Bagaimana perasaanmu?"
Aeri terkesiap dengan tubuh yang membeku, manik yang menunjukkan keterkejutan itu tertujuk pada Zeha. Tangan kasar serta besar itu mengelus lembut bekas cakaran kucing di pipi lembutnya. Aeri merasa bingung, sikap sang tuan tiba-tiba lembut. Tanpa berkedip, ia terus memindai wajah yang sentiasa dingin itu, tanpa berniat menjawap pertanyaan yang dilontarkan. Lebih tepatnya, kesadarannya teralihkan oleh tindakan tiba-tiba Zeha.
Tidak mendapat jawapan membuat lelaki itu mengangkat wajah, mata sontak bertemu pandang dengan manik yang tidak berkedip itu. Bibirnya melengkung tipis memerhatikan wajah kaget Aeri. Manik gelap itu bergulir pelan kiri dan kanan menatap manik bening Aeri, lalu beralih pada bibir yang sedikit terbuka karena ketekejutan.
Cup!
Kesadaran Aeri kembali karena kecupan mendadak Zeha. Refleks kepala itu termundur dengan manik yang mengerjap cepat, semakin kaget. Apalagi wajah tanpa ekspresi itu berada begitu dekat. Hindung mancung hampir saling bersentuhan.
"Aku bertanya padamu. Apa kau tuli?" Suara berat itu mengintrupsi Aeri.
"Ma-maaf." Tangan Aeri mendorong pelan bahu itu agar menjauh. "Saya baik-baik saja," jawap Aeri tanpa melihat wajah dingin itu.
"Syukurlah." Samar-sama Aeri mendengar ungkapan kelegaan itu. Ia melirik, memindai wajah yang tidak menunjukkan ekspresi apa-apa itu.
"Lalu, luka di wajahmu itu, apa karena lelaki semalam?" Aeri merasa aneh dengan nada bicara itu. Mengapa terdengar seperti menyimpan dendam?
"B--bukan ... bukan," sahut Aeri cepat. Membawa tangan pada wajah sebelah kanannya. "Ini karena kucing," lanjutnya.
"Kucing?" Zeha mengernyit bingung.
"Iya. Semalam aku melihatnya di perusahaan."
Seketika wajah lelaki itu mendadak senduh walau tidak ketara, namun itu sangat jelas dikedua mata Aeri. Zeha teringat sang kakak yang begitu menyukai hewan tersebut.
"Itu pasti kucing kak River," gumamnya tanpa sadar.
"Kak River?" Alis Aeri berkerut bingung. Memangnya tuannya ini memiliki kakak?
"Baiklah. Kau istirahat saja. Aku akan pergi kerja sekarang," tukas Zeha mengalihkan pembicaraan seraya bangkit. Ia tidak ingin membicarakan soal kejadian itu pada siapa pun.
"Istirahat? Tidak perlu. Aku baik-baik saja." Aeri ikut bangkit dari kasur, lantas bergerak cepat menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, namun terhenti setelah mendengar sergahan Zeha.
"Dengar perintahku!" Ia kembali membawa langkahnya menuju dapur. Menyipan bekas tempat kopinya di sana, lalu mengambil tas serta mantel yang telah ia siapkan di sofa.
"Tapi, saya benar-benar sudah baik-baik saja tuan," ucap Aeri kembali, menghentikan langkah menuju pintu keluar itu.
Ia berbalik dengan jengkel. "Kau--"
"Saya tidak apa-apa." Aeri mendekat. "Apa yang terjadi semalam juga tidak melukai satu pun bagian dari tubuh saya jadi--"
Zeha menggembrakkan sebelah tangan pada dinding tepat di samping wajah Aeri, membuat mata itu kontan terkatub. "Kau pembangkang, ya?"
"Tiada guna say--eump!" Saking geram, Zeha pun menyumpal bibir cerewet itu dengan bibirnya. Mengul*mnya sedikit kuat. Menimbulkan kerutan tebal pada ujung mata Aeri yang tertutup rapat. Mengapit bibir bawah Aeri dengan bibirnya, lalu menariknya hingga terlepas membuat bibir bawah Aeri yang sedikit berisi itu melantun.
"Aku tidak suka dengan bantahan. Lagian aku sudah memintakan ijin sakit untukmu hari ini," timpal Zeha setelah tautan itu terlepas. Wajah shock Aeri lagi-lagi menggelitik hatinya.
"Kalau kau tidak ingin aku menciummu lagi, maka diam dan jangan banyak bicara."
Zeha pun berlalu, meninggalkan Aeri yang masih setia pada tempat dengan tubuh yang membeku. Sudah berapa kali bibirnya bertemu dengan milik Zeha dan selalu saja ia seperti ini setiap kalinya. Bukan karena kaget, sialnya ia malah mulai menyukainya.
Setelah bunyi bib bib pada pintu yang menandakan Zeha telah pergi dari apartemen itu, tubuh Aeri sontak merosot kebawah. Dengan kuat Aeri menggelengkan kepalanya.
"Aku pasti sudah gila."
......
"Permisi ... apa Kwon Aeri sudah datang?" tanya Yohun cemas pada resepsionis di perusahaan Zeha. Setelah tiba di sana beberapa detik lalu, dengan langkah lebar, ia memasuki lobi utama.
Tadi Yeoryun telah mengabari bahwa semalam gadis itu tidak pergi ke tempat kerja sambilannya di klub. Jika Aeri tidak datang bekerja juga hari ini, bisa ditafsikan bahwa telah terjadi sesuatu padanya.
"Oh, belum tuan."
Deg!
Satu jawapan itu memicu detak jantung Yohun menjadi gila.
"Hari ini nona Aeri meminta cuti ijin sakit?"
"Sakit?!" Nada Yohun naik satu oktaf, mengagetkan gadis resepsionis itu. "M-maaf... Jadi dia sakit?"
"Iya. Tadi, tuan Zeha sendiri yang mengajukannya melalui pesan," tambahnya lagi. Membuat Yohun berpikir.
Mendengar penjelasan yang bersangkutan dengan Zeha di dalamnya, entah mengapa membuat Yohun sedikit merasa lega. Ia merasa Aeri akan aman jika berada di dekat lelaki itu. Ia akan menanyakan langsung nanti pada Zeha.
"Baiklah. Terima kasi--"
"Tuan Yohun?" Yohun kontan berbalik. Baru disebut, orangnya langsung muncul. "Ada apa pagi-pagi datang ke sini?"
Jujur Zeha masih merasa kesal atas kebohongan lelaki di hadapannya ini kemarin, hingga membuatnya hanya mampu memasang wajah dingin tak bersahabat. Tapi, kenapa wajah tampan Yohun terlihat khawatir?
"Katanya anda memintakan ijin cuti sakit untuk Aeri?"
"Lalu?" Zeha bergerak memasukkan kedua tangan ke dalam kantong celana kainnya. Ia tidak suka mendengar pertanyaan itu.
"Apa dia baik-baik? Aku menelponnya, tapi tidak masuk, jadi--"
"Ya, dia baik-baik saja. Dia tidak akan mati," sahut Zeha sekenanya. Kepalanya terasa panas.
Tanpa berkata apa-apa, Zeha berlalu begitu saja. Sedangkan Gary, sebelum menyusul ia sempat menundukkan kepala pada Yohun terlebih dahulu.
Kini Yohun bisa bernapas lega setelah mengetahui keadaan Aeri yang baik saja. Ia menoleh pada Zeha yang telah memasuki lif khusus presider.
"Mungkin dia masih sedikit marah tentang kemarin." Ia mengendikkan bahu, kemudian berlalu meninggalkan perusahaan itu.