The President'S Crazy

The President'S Crazy
part. 41



(Aduh maaf banget ni, part. 41nya kelupaan. mengenai pemberitahuan di part yang Thowa sendiri sudah lupa di part berapa... abaikan saja, ya hehe... maaf atas kesalahan ini🙏)


Setelah seharian penuh menumpuhkan perhatian pada pekerjaan yang Zeha berikan juga dengan kemampuan yang Gary miliki akhirnya dengan mudah dirinya menemukan titik keberadaan ketiga wanita yang telah mengurung Aeri dalam WC.


Bertempat disebuah bar yang berada di tengah kota, ketiga wanita tersebut tampak bersenang-senang, meliuk-liukkan badan di dance floor dengan dikelilingi lelaki-lelaki yang seolah siap menerkam mereka.


Mereka tidak tahu bahwa sebentar lagi ajal akan menjemput dengan cara yang tak terbayangkan oleh mereka bahkan dalam mimpi sekalipun.


Gary bersama dua anak buahnya tengah memerhati dengan saksama ketiga wanita tersebut. Gary menyunggingkan senyum miring mengetahui bahwa ketiganya telah mabok. Melalui kode mata, Gary memerintah kedua anak buahnya untuk bertindak, tentu saja ia juga melakukan hal yang sama. Mereka menuju dance floor di mana ketiga wanita tersebut berada.


Wanita yang menjadi ketua yang jadi sasaran Gary. Melihat dari gerak-gerik mereka, sepertinya mereka haus akan buaian. Terlihat dari cara mereka melengkungkan badan dengan dada yang membusung seolah sengaja memancing para lelaki untuk menyentuh milik mereka itu.


Karena demikian, Gary pun berani langsung menggenggam buah kembar besar menantang itu yang langsung mendengar lenguhan dari bibir sang wanita. Gary menarik wanita itu merapat pada tubuh besarnya. Sekilas ia melirik kepada kedua anah buahnya yang melakukan hal yang sama.


Tiba-tiba saja bibir Gary disambar ganas oleh wanita yang berada di dalam rangkulannya sehingga membuatnya kelabakan, namun itu hanya sebentar sebelum Gary berhasil mengusai bibir liar sang wanita lantas mengakhirinya. Tatapan wanita itu sendu dengan wajah memerah penuh nafsu. Gary tersenyum sinis, tanpa melepas tangan dari dada yang terus ia pijat.


Gary mendekat, berbisik tepat di hadapan bibir merah merona itu. "Bisa aku memijatnya secara langsung?" Tanyanya se*sual. Lagi-lagi Gary melirik melalui ekor matanya. Sepertinya kedua anak buahnya telah berhasil membawa kedua wanita lainnya keluar dari dance floor. Gary tersenyum. Apalagi saat ia merasakan tangannya diraih oleh wanita di hadapannya itu.


Dress yang dikenakan hanya sedada yang panjangnya sampai pangkal paha, menampakkan kaki jenjangnya yang putih mulus. Dress berwarna silver berbling menarik mata yang dipadankan dengan blizer pendek berbahan satin berwarna hitam pekat. Gerakan tubuh membuat blizer satin itu ikut menari-nari di tubuhnya.


Dress yang memiliki zip tepat diantara kedua dada sang wanita ditarik secara perlahan oleh Gary tanpa mengalihkan tatapan dari sang wanita yang juga terus menatap penuh harap, menanti tidak sabar Gary memanjakan bulatan kenyal miliknya.


"Tidak apa jika aku keluarkan di sini?"


Wanita itu menggeleng lalu menatap sekeliling. "Tidak, karena mereka juga sibuk dengan dunia mereka sendiri. Tidak akan ada yang memperhatikan tanganmu di sana," sahut wanita itu genit dengan kerlingan mata.


Maka Gary tidak sungkan lagi. Ia menarik zip itu kembali hingga terbuka setengah, lalu ia keluarkan pusat sensetif wanita itu dari dalam--yang ternyata tidak memakai bra. Gary menyeringai melihat bulatan yang menggantung, kemudian beralih melihat wajah memerah sang wanita saat ia pijat dengan penuh kelembutan semakin membakar tubuh si wanita. Buah kembar itu jelas sudah sering dijamah oleh bibir lelaki, terlihat dari bentuk pucuknya telah membesar dan gelap dari warna asalnya.


Gary menarik ujungnya membuat wanita itu membusung dengan bibir bawah yang digigit menahan des*han. Gary mengeluarkan lagi sebelahnya sehingga kini keduanya terpampang jelas dalam banyaknya orang di club tersebut. Tidak lama, Gary langsung meraup keduanya dalam genggaman tangan, mengurut dengan kuat hingga sering kali lenguh** terdengar dari bibir sexy sang wanita dengan dada semakin membusung.


Rasa dari pijatan serta tarikan yang Gary lakukan pada ujungnya membuat tubuh sang wanita tidak bisa diam. Rasa nikmatnya sungguh membuatnya gila. Kini ia ingin mulut lelaki yang tidak ia kenal itu berada di atas buah kenyalnya yang besar menantang.


"Kalau begitu kita pergi dari sini dulu," bisik Gary dengan hembusan napas yang sengaja ia tiupkan pada daun terlinga wanita itu.


"Emmm...." Wanita itu melenguh tertahan saat Gary mengurut kuat di sana sebelum melepasnya. Gary melepas jas yang ia kenakan, lalu melampir di depan tubuh sang wanita tanpa menarik kembali zip-nya.


Gary merangkul wanita itu pada bagian pinggang dan kembali tangannya ia jatuhkan pada dada yang tertutup oleh jas. Gary meremasnya manja membuat sang empu melihat padanya. Gary hanya tersenyum yang dibalas kembali oleh wanita itu. Tak terduga, wanita itu malah membantu Gary dari luar. Ia memegang tangan Gary, secara perlahan mengikuti gerakan tangan Gary yang bergerak meremas miliknya.


Wanita itu mengatub bibir kuat. Tubuhnya seolah tersengat listrik bervolt tinggi. Ingin lebih, ia ikut mengurut milik sebelahnya menggunakan tangannya. Lenguhan-lenguhan kecil terus terdengar saat perjalanan menuju mobil. Sesekali Gary dengan sengaja memijit ujungnya yang merekah sehingga tak ayal membuat wanita itu menjerit kecil. Napas yang tidak beratur membuat dada itu kembang kempis dengan cepat.


Memasuki area parkir Gary dapat melihat kedua anak buahnya telah menunggu dengan bag hitam masing-masing berada di tangan. Gary tersenyum, bermakna mereka telah mengerjakan tugas mereka dengan baik. Kini tinggal dirinya yang perlu menyelesaikannya.


Gary membuka pintu mobil bagian belakang, lalu sedikit melepar tubuh dengan dada yang menonjol keluar saat ia menarik jas miliknya. Apalagi sekarang tubuh wanita itu melengkung naik dengan sengaja, dengan kedua tangan wanita itu terus mengurut sendiri miliknya, ia sudah tidak tahan lagi, ia ingin segera merasakan bibir sexy Gary di miliknya.


Sembari mende**h, dengan sengaja wanita itu menarik-narik miliknya memancing nafsu Gary, namun Gary bukan lelaki yang mudah terpancing.


Mengabaikan wanita itu, Gary malah menarik habis zip tersebut hingga dress yang wanita itu kenakan terbuka habis bagian depannya, menampakkan tubuh polos yang tersisa hanya CD berenda senada dengan dress yang dikenakan.


"Kau sungguh tidak sabaran nona," bisik Gary. Dalam hati memaki habis wanita yang berada di bawahnya itu. "Dasar j*la*g!" Monolog batin Gary.


Disaat wanita itu sedang menanti sentuhan Gary, secara perlahan lelaki itu mengambil sebilang pisau berukuran sederhana dengan ujung runcing memudahkannya melakukan tugas.


Dalam sekali tusuk pisau itu telah menembus leher wanita itu dari samping membuat wanita tersebut berteriak dengan suara tertahan. Tanpa perasaan Gary memutar pisau tersebut dalam tancapannya membuat darah memuncrat.


Cengkraman kuat di dada Gary secara perlahan melembut lantas terlepas bersama nyawa yang melayang. Manik itu terbuka lebar ke arah Gary walaupun tubuh tak bernyawa lagi. Dengan bengis Gary menarik pisau hingga membuat leher bagian depan terputus, bagai tidak memiliki rasa, Gary memutuskan sisa daging yang masih menyatukan kepala dan tubuh itu.


Setelahnya, Gary memasukkan kepala itu dengan hanya memegang rambut yang disatukan ke dalam bag hitam yang telah disediakan. Lalu kemudian, Gary melanjutkan membelah tubuh untuk mengambil organ sepert yang diperintahkan Zeha.


Tidak peduli darah yang terus mengalir dan memuncrat mengenai tubuhnya, Gary tetap menarik keluar jantung hingga terputus dari sarafnya, belanjut pada hati, ginjal dan lainnya yang masih sihat.