The President'S Crazy

The President'S Crazy
part. 51



Dan terkaan Zeha benar yang mengatakan bahwa Aeri masih berada di dapur, tanpa beranjak dari tempat semula. Aeri meringkuk dalam posisi baring. Membiarkan tubuh kecilnya menyerap rasa dingin yang dihasilkan oleh marmer lantai. Wajah sembab Aeri terlihat begitu lelap dalam mimpinya.


"Dasar gadis bodoh."


Secara perlahan, tangan Zeha diselitkan di bawah lipatan lutut dan di bagian bawah lengan, lalu ia angkat dengan sangat hati-hati. Zeha tidak ingin tindakannya itu malah akan membangunkan Aeri nantinya.


Zeha membawa masuk ke dalam kamarnya dengan terus memandangi wajah damai Aeri. Hidung gadis itu bahkan sangat merah, pasti karena terlalu lama menangis. Baju yang melekat ditubuh Aeri pun masih baju yang dipakai sewaktu ke rumah sakit.


"Benar-benar gadis yang merepotkan!" Zeha meletakkan tubuh itu di atas kasur dengan lembut, lalu ia duduk memandangi wajah lembut itu.


Tangan besar Zeha terulur menepikan helaian-helaian rambut yang mengganggu pandangannya. Tidak terasa tangan Zeha malah mengusap lembut wajah sembab Aeri secara teratur. Tatapan matanya begitu intens memindai wajah Aeri. Bibir kering pucat itu mendapat usapan dari tangan Zeha.


"Kenapa kau begitu mudah menggoyahkan hatiku Aeri?" Gumamnya terus mengusap wajah itu. Lalu secara perlahan bergerak mengusap rahang yang ia cengkram begitu kuat beberapa jam yang lalu.


Zeha tahu Aeri terluka karena ucapannya. Sungguh itu bukan dari lubuk hatinya, itu hanya luapan emosi sesaat yang ia rasakan. Zeha tidak ada niat untuk menghina dan merendahkan Aeri, tapi karena ucapan itu, sisi iblis dalam dirinya keluar tanpa dipanggil.


"Kau seharusnya menjauh disaat aku seperti itu ...." Zeha menarik selimut menutupi Aeri hingga dada. Lantas segera berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


Zeha ingin terus memandangi wajah damai yang seolah tidak memiliki masalah apapun itu, namun ia tidak bisa. Memandangi wajah lembut Aeri membuatnya lupa akan kebenciannya terhadap wanita.


Bukan tidak ingin membenci, namun Zeha takut kembali dihianati untuk kedua kalinya. Dengan membenci maka Zeha tidak akan terluka jika suatu saat ia kembali dikecewakan. Walau ia yakin Aeri berbeda dengan wanita-wanita yang pernah ia kenal.


Tapi ... adakah jaminan bahwa ia tidak akan ditinggalkan seperti mana Jinha meninggalkannya? Seperti mana ayahnya menghianati ibunya? Hati manusia itu begitu cepat beruba. Tiada yang bisa menebaknya.


Zeha membasahi tubuhnya di bawah guyuran air shower. Kedua lengan kokohnya bertengger pada dinding di hadapannya dengan kepala menunduk. Manik itu terpejam resah.


Terus bersama Aeri membuat Zeha secara perlahan melembut dan melunak. Rasa yang telah hilang dan tak ingin lagi Zeha rasakan, secara perlahan kembali hadir walau tak ingin Zeha akui. Ya, ia akui bahwa ia pengecut karena takut terluka untuk kedua kalinya.


Zeha takut, jika ia kembali terluka karena wanita maka ia akan menjadi seperti kakaknya-River atau lainnya, menjadi gila. Awal mulanya, Zeha tertarik karena pertemuan pertama mereka di depan pintu lobi. Di mana waktu itu Aeri memberinya sebungkus roti coklat.


Wajah lembut serta menenangkan milik Aeri membuatnya ingin menjadikan Aeri mainan baru yang bisa Zeha perlakukan seenaknya saja, tetapi ternyata Aeri bukan seperti wanita diluar sana yang rela menyerahkan tubuh karena uang. Semakin hari Zeha merasa tenang setiap kali melihat wajah itu berada di sekitarnya.


Namun, kadang kala ada masanya Zeha kembali tersadar akan semuanya. Akan rasa benci yang menutupi relung hatinya. Yang telah mengunci dan membatu di dalam sana. Zeha mengusap ke belakang surai basahnya dengan kasar. Satu yang semakin memerangkapnya, iaitu membawa Aeri tinggal satu apartemen dengannya. Maka dari itu Zeha telah memutuskan untuk melepaskan Aeri.


Zeha ingin memperlakukan Aeri seperti mana ia memperlakukan wanita lain. Hanya memakai untuk menuntas gairahnya lalu dibuang agar rasanya itu hilang, tetapi Zeha tidak bisa. Setiap ia ingin berbuat demikian, Zeha selalu teringat akan perlakuan lembut, perkhatian tulus Aeri sehingga niat untuk berbuat jahat hilang dalam sekelip mata. Jadi hanya itu satu-satunya jalan keluar.


Zeha mematikan kran shower, lantas memakai bathrobe untuk membungkus tubuh atletisnya. Zeha hanya melirik sekilas dengan ******* napas kasar pada Aeri sebelum berlalu meninggalkan kamar menuju kamar tamu.


•••


Pagi itu cahaya mentari yang masuk melalui cela-cela gorden mengenai wajah Aeri sehingga mengusik tidur nyenyaknya. Jam telah menunjukkan pukul 6 lewat saat Aeri melirik pada jam gantung.


Sekelibat kejadian kemarin kontan masuk, melintasi pikiran Aeri membuat gadis itu menghela napas berat. Tatapan matanya senduh dalam tunduknya. Namun seketika, Aeri tersadar. Sekarang ia berada di atas ranjang Zeha, tapi Aeri tidak ingat ia pernah meninggalkan dapur dan tertidur di sini. Mungkinkah lelaki itu yang menggendongnya?


Aeri mengedarkan pandangan melihat seisi kamar, telingannya mencuba mendengar pergerakan diluar kamar. Sepertinya Zeha telah pergi ke kantor lebih awal pagi itu demi menghindarinya. Lagi lagi Aeri menghela napas pendek sebelum beranjak turun dari ranjang. Entah mengapa Aeri merasa bersalah pada lelaki itu.


Aeri memandangi wajahnya yang terlihat bengkak dalam pantulan kaca besar yang berada di dalam WC di kamar sebelah. Ia menepuk-nepuk wajahnya itu, kononnya untuk mengurangi kebengkakannya, tapi nyatanya itu tidak berfungsi sama sekali.


Biarlah apa yang ingin orang-orang pikirkan atau katakan saat melihat wajah bak bakpao-nya itu. Sekarang yang penting Aeri harus bersiap dan pergi kerja, sudah dua hari ia tidak masuk. Tidak mungkin karena wajah bengkak ia tidak masuk lagi, kan?


Sudah lama sejak Aeri tidak menunggu taksi seperti saat ini, karena semenjak tinggal bersama Zeha, ia sering berangkat kerja bersama lelaki itu, namun kali ini Aeri kembali ke kebiasaan lamanya. Kepala Aeri menunduk, sembari menunggu taksi lewat. Sejak di rumah lagi pikiran Aeri tidak pernah lari dari memikirkan Zeha, ia bingung harus bagaimana bersikap nanti di hadapan lelaki itu. Takut, khawatir, sedih, kesal dan entah apa lagi, semua telah berbaur menjadi satu di dalam dada Aeri.


Tidak seperti Zeha, walau bagaimanapun situasinya, ekspresi yang terlihat di wajah hanya dingin.


Sama seperti saat ini. Wajah dingin tak tersentuhkan itu terlihat sedang memantau persiapan untuk conferencepers pada pukul 10 nanti dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana bahan yang Zeha kenakan. Berdiri angkuh di hadapan para pekerja.


Entah apa yang terjadi, aura gelap mengelilingi tubuh tegap Zeha, seolah tatapan matanya bisa membunuh dalam sekali pandang saja. Membuat siapa yang melihatnya bergidik ngeri, tidak berani melirik untuk yang kedua kalinya.


"Wah ... ada apa ini Zeha?" Disaat Zeha menoleh, Sehun tampak berjalan dengan sebelah tangan tersembunyi si dalam kantong.


"Tunggu dan lihat."


"Ada apa denganmu? Dan sejak kapan kau pandai berahsia denganku?"


"Diam Sehun! Kau membuat telingaku sakit!" Sehun terkejut. Zeha membentaknya? Bukan tidak pernah sahabatnya itu membentak, tetapi kali ini bentakan itu terdengan begitu sensetif. Zeha seolah tidak ingin di ganggu. Seolah salah bicara sikit akan meletup bak gunung berapi.


"Kau aneh hari ini. Ada masalah apa sebenarnya?"


"Kau buka mulut maka aku---"


Zeha mendelik kaget. Tiba-tiba Zeha berlalu begitu saja dari hadapannya tanpa menyelesaikan perkataannya. Sehun menoleh ke belakang, karena tadi sebelum pergi, manik Zeha sempat ke arah pintu lobi. Okay, sekarang Sehun mengerti. Perubahan sikap Zeha ada kaitannya dengan Aeri.


Sehun melipat tangan di dada saat Aeri mendekat padanya. Matanya memicing memindai wajah Aeri yang terlihat sedikit ... aneh.


"Apa kau ada masalah dengan Zeha?"


Aeri membeku. Baru sampai, ia sudah mendapat pertanyaan yang membuat jantungnya gelisah.


"A-anu ... ti-tidak--"


"Sudahlah." Sehun menyentuh puncak kepala Aeri dengan lembut. "Tolong kau buat kopi untuk kami, ya. Aku ingin bicara dengan bosmu itu." Setelah memberikan senyum lembutnya, Sehun pun berlalu mengejar sahabat brengseknya itu.


Tiba di lantai teratas, tanpa permisi Sehun langsung menyelonong masuk. Menjatuhkan bokongnya pada sofa yang berada tepat depan meja Zeha.


"Sebenarnya ada apa denganmu?"


"Ada apa denganku?!" Zeha menyahut dingin tanpa melirik pada Sehun yang tampak santai di hadapannya.


"Kau jadi lebih dingin dari biasanya. Aura mematikkanmu terlihat dua kali lipat lebih mengerikan."


Zeha memaki dalam hati. Ia menyangkal apa yang Sehun katakan. "Urus saja urusanmu!" Zeha tampak sibuk dengan berkas-berkas yang ada di hadapan, tapi pikirannya tidak bisa fokus sedikit pun.


"Kau tidak bisa menutupinya dariku. Aku mengenalmu sudah 10 tahun Zeha. Ini semua sebab Aeri, kan?"


Zeha bergeming. Tangan yang berpura-pura sibuk tadi kontan berhenti. Pandangan tajamnya ia lontarkan ke arah Sehun, tapi itu tidak membuat Sehun gentar. " kau sok tahu Sehun!"


"Aku benar, kan? Kau pergi karena kau melihat Aeri datang, kan?"


Brak!


"Diam!" Zeha menggebrak meja. "Kau tidak tahu apapun mengenaiku!"


"Karena aku mengenalmu, aku mengetahui ini." Zeha hanya berdecak kesal mendengar perkataan Sehun.


"Kau bodoh dan egois Zeha!"


"Apa ...?!"


"Kau mulai mencintai Aeri--"


"Tidak!" Zeha menyangkal cepat. "Aku tidak pernah dan tidak akan pernah mencintainya!" Zeha tersenyum sinis. "Gadis bodoh itu hanya salah satu mainku Sehun. Sama seperti wanita-wanitaku di luar sana. Tidak ada yang special dari gadis seperti Aeri. Wanita itu semua sama. Hina!" Tukas Zeha lantang dan penuh penekanan. Ia ingin Sehun mengerti dan tidak akan salah faham lagi. "Wanita yang pernah aku cintai hanya Jinha, Shin Jin Ha!"


Tok! Tok!


Suara ketukan pintu mengurangi ketegangan di dalam kamar tersebut.


"Masuk!" Perintah Zeha. Namun, ia mengernyit bingung saat melihat Gary membawa dua gelas kopi di atas nampan.


"Aku tidak pernah memintah kopi Gary!"


"Nona Aeri yang meminta pada saya untuk membawa ini masuk."