
Segukan yang terdengar pilu menyadarkan Zeha dari dikuasai oleh nafsu semata. Segukan Aeri menyayat hatinya. Zeha segera menjauhkan wajah dari Aeri. Apa yang pertama dilihat oleh matanya adalah Aeri yang tampak pasrah dengan wajah yang basah oleh air mata ketidakrelaaan.
𝘼𝙥𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙠𝙪 𝙡𝙖𝙠𝙪𝙠𝙖𝙣?
Kedua tangan Zeha kontan mencengkram kuat seprai tepat disamping tubuh kecil Aeri. Ia merutuk dirinya dalam hati disaat ia hampir saja menyetubuhi seorang wanita yang tak ingin ditiduri olehnya. Tidak biasanya Zeha sampai kehilangan kewarasannya. Apa mungkin karena sudah lama tidak melakukan hal tersebut sehingga membuatnya seperti ini? Zeha segera bangkit, lalu menutupi tubuh atas Aeri dengan selimut.
Dengan bergerak perlahan, Aeri memutar tubuhnya membelakangi Zeha. Sedang Zeha menghela napas resah melihat hal tersebut. Bahu sempit yang bergetar itu sungguh mengusik matanya yang tidak lari dari punggung Aeri. Tangan besar itu terulur untuk memenangkan sang wanita, tetapi bahkan sebelum menyentuh, Zeha sudah lebih dulu menariknya kembali.
Walau merasa bersalah, Zeha tetap tidak memiliki banyak keberanian untuk meminta maaf pada Aeri. Lebih pas nya, ego masih menguasai diri.
"Apa aku seburuk itu sehingga kau menangis seperti ini?" Aeri tidak menanggapinya. Hatinya terasa sakit, bagai diiris oleh belati yang diberi racun pada matanya.
Zeha menarik napas panjang disaat Aeri mengabaikannya. "Besok Gary akan mengantarkan gaun. Jam 5 sore aku akan menjemput mu, jadi sebelum itu persiapkan dirimu sebaik mungkin." sekilas Zeha menoleh. Bahu itu masih tetap bergetar. Ia mengakui ini salahnya. "Sekarang kau bisa pergi. Gary akan mengantarmu."
Bibir Zeha sedikit lagi mengenai belakang kepala Aeri jika ia tidak segera tersadar. Dengan mengurungkan niatnya, Zeha berbalik meninggalkan kamar tersebut. Ia seolah memberi ruang pada Aeri untuk menenangkan diri.
"Apa aku salah memperlakukan mu seperti itu?" Zeha bergumam setelah menutup pintu. Ia menunduk dengan pandangan menemui lantai. "Rasa ini sungguh tidak menahan ku untuk segera memeluk dan menciummu," lirihnya pilu.
Zeha berlalu, lalu meminta Gary untuk mengantar Aeri pulang, setelah itu Zeha membawa tubuhnya tenggelam ke dalam ruang kerjanya. Ia masih merasa bersalah terhadap Aeri. Ingin meminta maaf, tetapi bibirnya terasa begitu berat untuk mengucapkan satu kata itu.
Bahkan disaat mobil yang dikendarai oleh Gary telah melaju, membelah jalan raya siang itu, lihuid bening masih terus keluar tanpa ingin berhenti dari mata Aeri yang duduk termenung di belakang tempat duduk penumpang. Walaupun Aeri merasa air matanya telah mengering, namun dengan memikirkan nasip dan takdir yang ia jalani membuat hatinya berat dan sesak.
Aeri mendongak, menengadah ke arah langit yang tampak cerah siang itu. Segaris air mata kembali mengalir membasahi pipi.
𝘈𝘥𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘤𝘦𝘳𝘤𝘢𝘩 𝘤𝘢𝘩𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯?
Aeri tidak mengerti mengapa takdir mempertemukan dirinya dengan Zeha. Apa alasannya? Jika saja Aeri bisa memilih maka ia akan memilih untuk tidak mengenal lelaki tersebut.
Yang semakin yang membuat dada Aeri sesak adalah rasa cinta dan kasih yang ia rasakan pada Zeha. Aeri menggigit bibir. Ada begitu banyak lelaki di dunia, tetapi mengapa ia harus jatuh cinta pada lelaki brengsek seperti Zeha?
Padahal Zeha seenaknya saja memperlakukan dirinya. Merendahkan, menghina, bahkan juga memperlakukannya bagai seorang ****** yang biasa ia temui. Namun, disaat Aeri berada dalam bahaya, entah bagaimana Zeha datang dengan segala keajaibannya. Dengan wajah dingin tak tersentuh, Zeha menolongnya.
"Nona... Tidak apa-apa?" pertanyaan Gary membuyarkan segala lamunan Aeri. Dengan memaksa senyum, Aeri tersenyum.
"Tolong antarkan aku ke rumah sakit, ya?" pinta Aeri kemudian.
"Nona tidak langsung pulang saja?"
Sebenarnya sudah sedari tadi Gary memperhatikan Aeri dari balik kaca spion. Mata teduh nan lembut itu terus mengeluarkan air mata hingga memerah dan bengkak. Ingin bertanya lebih lanjut, tapi Gary takut masuk terlalu dalam mencampuri urusan majikannya.
"Tidak. Aku ingin menjenguk ayah dulu," sahut Aeri lemah, kembali menyandarkan kepala pada jendela kaca yang tertutup. Seketika ia merasa rindu pada ayahnya.
"Baiklah," jawap Gary. Jujur ia merasa iba pada Aeri. Ia tidak tahu mengapa sang Tuan memperlakukan wanita sebaik Aeri seperti ini. Gary hanya bisa berdoa dalam hati untuk kebaikan mereka berdua.
Gary menghela napas pendek sebelum membelok ke arah rumah sakit di mana ayah Aeri di rawat.
Saat melangkah menyusuri koridor rumah sakit air mata itu masih ingin terus keluar membasahi pipi Aeri, namun sebisa mungkin Aeri menahannya, ia tidak ingin ayahnya melihat keadaannya yang menyedihkan. Pikiran sang ayah bisa saja terganggu dan nanti malah mempengaruhi kesehatannya.
Cklek!
Pintu ruangan diputar perlahan. Ternyata sang ayah tengah tertidur, membuat Aeri merasa lega karena ia yakin matanya telah membengkak karena banyak menangis dalam mobil.
"Ayah.... " lirihnya mencium lama dahi sang ayah. "Tolong maafkan anakmu ini karena jarang menjengukmu."
Tiba-tiba rasa sesak itu kembali menghantam relung hati Aeri. Air mata kembali mengalir, membentuk sungai kecil di atas pipi putih mulusnya. Aeri meremat kuat seprai kasur memikirkan sang ayah dan dirinya.
"A-aku belum bisa membahagiakan ayah hiks...."
Aeri tidak yakin, bisakah suatu hari nanti ia membuat hidup ayahnya lebih baik banding detik ini? Ia tidak peduli dengan hidupnya, ia sudah hancur, apa yang perlu diharapkan lagi? Sekarang yang penting adalah kehidupan ayahnya setelah keluar dari rumah sakit. Aeri tidak ingin ayahnya menderita lagi.
Tetapi apa yang harus ia lakukan? Berantakannya hidup membuat pikiran Aeri buntu.
"Apa yang harus aku lakukan ayaahhh.... ?" Aeri menjatuhkan kepalanya pada tangan sang ayah yang ia genggam. Air mata Aeri jatuh luluh-lantak membasahi wajah hingga mengenai tangan sang ayah. Ia ingin menangis, meluahkan semua yang ia rasakan, rasa yang mengiris hatinya. Ya tuhan betapa sakit apa yang Aeri rasakan saat ini.
Aeri bersyukur karena ayahnya sedang tidur dengan nyenyak. Jika saja ayahnya mendengar tangisan pilu itu, maka Aeri tidak tahu apa yang harus ia katakan pada ayahnya.
Aeri terus mengadu pada sang ibu dalam linangan air mata yang deras. Segukan yang keluar bahkan semakin menyiksanya, namun tidak membuatnya berhenti sehingga tertidur tanpa sadar dalam keadaan yang menyedihkan.
Wajah sembab dengan hidung memerah mengeluarkan cairan pekat bening. Mulut terbuka karena segukan dengan mata basah.
Siapa yang menduga bahwa keadaan Aeri saat itu sampai kepada Zeha. Ternyata ia telah mengatakan pada Gary untuk mengikuti ke mana pun Aeri pergi dan gambar bagaimanapun keadaannya.
Zeha mengepal kuat tangannya melihat foto yang Gary kirim. Giginya bergemelatuk dengan bibir berkedut emosi. Ia marah dan benci pada dirinya sendiri. Ibu jari besar itu mengusap lembut wajah yang tertangkap dari jauh itu dengan tatapan lembut penuh kasih tanpa ia sadari.
"Seharusnya kau tidak menangis karenaku...."
"Aku ini lelaki brengsek, kau terus menderita karenaku..., tapi jika aku terus menahanmu disisiku akankah kau tetap tinggal?" satu kecupan Zeha torehkan pada foto Aeri yang berada dalam ponsel.
"Aku tidak peduli sebenci apa kau pada diriku, aku tetap tidak akan melepasmu.... "
Zeha pun mengantar pesan pada Gary untuk pulang. Ia akan memberi waktu untuk Aeri menenangkan diri dan berdua dengan sang ayah. Sebisa mungkin Zeha ingin menghormati privasi Aeri.
Tepat disaat Gary meninggalkan pintu ruangan yang dimasuki Aeri, mata sayu yang telah terlihat keriput terbuka. Air mata seorang ayah kontan mengalir keluar melihat sang puteri tercinta tertidur setelah menangis segukan di sampingnya.
Sejak Aeri mencium puncak kepalanya, Tn. Kwon telah tersadar, tetapi mendengar lirihan Aeri membuatnya urung untuk membuka mata, dan mendengar semua yang sang anak luahkan hingga tertidur seperti itu.
Ingin marah tapi apa yang perlu di marahi? Tidak satupun makhluk hidup di dunia ini tidak memiliki masalah, jadi apa yang penting ia harus selalu ada untuk memberi semangat pada sang anak agar tidak berputus asa.
"Ayah minta maaf karena telah banyak menyusahkanmu sayang...." kecupan penuh sayang Tn. Kwon berikan pada puncak kepala Aeri.
𝘗𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘪𝘬𝘦𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘬𝘶.
Langit mulai menggelap disaat Aeri merasa elusan lembut pada puncak kepalanya. Manik yang telah terlelap begitu lama itu mengerjap pelan, menyesuaikan pencahayaan yang membias pada iris.
"Ayah....," ucap Aeri memanggil sang ayah dengan suara serak khas bangun tidur. "Sejak bila ayah bangun?" tanyanya mengucek mata.
"Tidak lama, baru saja... Bagaimana? Nyenyak tidurnya?" tanya Tn. Kwon tersenyum meledek sang puteri. Ia tidak ingin Aeri mengingat sesuatu yang membuat gadis itu bersedih seperti tadi.
"Iya," sahut Aeri tersenyum kikuk seraya menggaruk kepala. "Tidur bersama ayah tiada dua-nya. Aeri minta maaf karena baru sekarang menjenguk ayah."
Tn. Kwon tersenyum kecil nan lembut menenangkan hati Aeri yang sedang resah. Tangan tua itu mengusap sayang kepala sang puteri. "Tidak apa. Ayah tahu kamu sangat sibuk mencari uang untuk membiayai pengobatan ayah. Maaf sayang. " Dengan bulir air mata yang mengalir Tn. Kwon mengecup puncak kepala Aeri. "Dan terima kasih puteriku."
"Tidak... Ayah tidak perlu meminta maaf, ini bukan salah ayah. Ayah tidak pernah memilih untuk menyusahkanku. Ini sudah takdir, dan ayah tidak perlu mengucapkan terima kasih. Hanya ini yang bisa Aeri lakukan sebagai bentuk balas budi karena ayah dan ibu telah merawat dan menyayangi Aeri seperti anak kalian sendiri. Bahkan semua ini masih belum cukup membalas kebaikan kalian berdua, jadi ayah harus sihat agar Aeri bisa membahagiakan ayah, " tutur Aeri panjang lebar, lalu mengecup lama punggung tangan yang telah termakan usia itu.
Tn. Kwon mengangguk sambil tersenyum. "Apapun untuk anak kesayangan ayah."
Sekilas Aeri melirik pada jam dinding yang menggantung. Sekitar 15 menit lagi akan memasuki pukul 7 malam.
"Baiklah ayah, sekarang Aeri harus pergi kerja, ayah baik baik di sini, ya. Nanti Aeri datang lagi," tukas Aeri merapikan selimut Tn. Kwon.
"Hati-hati saat bekerja nak, jaga dirimu. Ayah tidak ada di sana untuk menjagamu."
"Ayah tenang saja, Aeri bisa menjaga diri. Ayah tahukan bahwa Aeri ini gadis yang kuat?"
Tn. Kwon tertawa mendengar ucapan Aeri. "Ya, anak ayah sangat kuat."
"Aeri pergi sekarang. Ayah jangan lupa makan obat, ya?" Aeri mencium kening Tn. Kwon lembut. "Aeri pergi." Aeri pun berlalu pergi, menyisakan Tn. Kwon yang seketika berubah sendu seperhilangnya Aeri ditelan pintu yang tertutup.
"Sayang.... " Tn. Kwon menatap ke arah langit yang menggelap. "Anak kita tumbuh menjadi gadis cantik yang kuat." lihuid bening itu kembali mengalir membasahi pipi.
Diwaktu yang hampir sama, Zeha baru saja diberi tahu oleh Gary bahwa Aeri baru saja tiba di Black Club. Ya, walaupun Gary di mansion Zeha, ia tetap meminta anak buahnya untuk memantau Aeri dari jauh. Ini juga perintah langsung dari Zeha sendiri. Lelaki itu ingin Aeri sentiasa aman walau ia tidak sampingnya.
"Baiklah. Kau bisa pergi."
Hilang saja Gary dari pintu, Zeha segara menelpon manager Black Club.
"Tidak boleh ada satu pun tangan lelaki yang menyentuhnya karena sekarang wanita bernama Aeri itu milikku!"