
Setelah membersihkan diri, mengganti pakaian yang penuh cipratan darah Zeha pun kembali ke apartemen tepat pada pukul 10 malam dalam keadaan segar bugar.
Beberapa jam yang lalu Gary telah membawa tiga kepala wanita tersebut ke hadapan Zeha, membuatnya tersenyum miring penuh kepuasan. Bodyguardnya itu juga menyerahkan organ-organ tersebut, namun Zeha meminta Gary untuk menyimpan organ-organ tersebut ke tempat pendingin agar kesegarannya tetap terjaga.
"Ahk~"
Saat itu baru saja Zeha meletakkan kunci kartu untuk membuka unit apartemennya sebelum telinganya mendengar suara teriakan dari dalam. Gerakan yang sempat terhenti langsung bergerak kembali dalam sekelip mata.
"Aeri!" Panggil Zeha begitu kaki menginjak masuk. Gerakannya terkesan tergesa-gesa mencari keberadaan sang sekretaris.
Zeha kembali membawa langkahnya menuju kamar, tetapi bola matanya tidak mendapati keberadaan Aeri di sana. "Aeri?!" Panggilnya sekali lagi.
Samar-sama Zeha mendengar suara ringisan dari dalam kamar mandi. Zeha mendekat, berdiri tepat di hadapan pintu yang tertutup rapat itu. "Aeri, kau di dalam?"
Terdapat jeda sebelum Aeri menyahut. "Iya Tuan ..."
"Kau baik-baik saja?"
Sama seperti tadi. Sebelum menjawap Aeri memberi jeda yang membuat Zeha mengenyit di hadapan pintu. Jujur Aeri merasa bingung harus menjawap apa karena sekarang situasinya sedang terduduk di lantai marmer yang basah. Kaki yang semakin membengkak juga semakin nyut-nyut membuat Aeri kesulitan untuk berjalan dan akhirnya terjatuh saat ia ingin keluar dari sana.
"Saya b-baik-baik saja Tuan," bohong Aeri. Ia masih berusahan untuk bangkit. Untuk meminta tolong pada atasannya itu rasanya sulit lantaran Zeha sudah sering kali membantunya.
Aeri berhasil berpegangan pada closet. Bibir bawahnya hampir lecet karena ia gigit, pelampiasan dari rasa yang begitu mencekap pada pergelangan kaki. Aeri hampir berjaya mendudukkan tubuh diatas closet sebelum licinnya kamar mandi tersebut kembali membuatnya terpeleset dengan bibir refleks meringis merasakan sakit yang dua kalipat.
Membuat Zeha yang membalikkan tubuh siap untuk membawa tubuh pergi dari sana kontan kembali menghadap pintu dan langsung menggebrak kamar mandi. Manik tajam miliknya dibuat kaget mendapati Aeri duduk tersungkur di lantai dengan celana piayama yang telah basah.
"Apa yang kau lakukan?!" Tanyanya berdesis. "Apa kau anak-anak yang suka bermain air?" Gerutunya membantu Aeri bangkit.
"Ma--Maaf Tuan ...."
"Kau selalu saja meminta maaf."
Aeri menunduk dalam. "Ma--Maaf ...," lirihnya meredam.
"Eughkk~~" Aeri kontan melenguh dengan alis berkerut hebat saat pegangan Zeha dikedua pundaknya dilepas oleh Zeha.
Zeha yang baru saja ingin melangkah pergi urung saat mendengar lenguhan kesakitan Aeri. Tepat saat Zeha kembali menghadap Aeri, tubuh kecil itu langsung jatuh ke dalam pelukannya.
"Kau kenapa?" Tanya Zeha terkesan cemas. Namun, hanya ringisan yang terus ia dengar. Gadis bertubuh kecil itu seolah tidak mampu lagi untuk sekedar berujar. "Kita keluar dulu ...."
"Akkhhh!"
"Ada apa dengan kakimu?"
Mendengar teriakan yang tiba-tiba keluar dari mulut Aeri saat ia menariknya membuat Zeha yakin bahwa ada yang bermasalah dengan kaki Aeri. "Jawap aku Aeri!" Tubuh kecil itu tersentak kecil mendengar bentakan Zeha.
"Terseliuh," sahut Aeri lirih. Ia tidak berani menatap mata Zeha.
"Jadi kau terjatuh karena kakimu?"
"I-iya--"
"Lantas kenapa kau berbohong padaku?" Aeri tidak menjawap, ia hanya menunduk takut. "Apa mulutmu itu begitu kaku untuk berbicara jujur? Apa perlu aku lembutkan dulu menggunakan bibirku?" Refleks Aeri menggeleng kuat.
"Kau dari kemarin membuatku kesal!"
"Akhh!"
"Diam dan jangan bergerak!"
Aeri pun bergeming dalam gendongan ala brydal style Zeha. Kedua tangannya otomatis mengalung pada leher kekar lelaki itu. Rasa sakit pada pergelangan kaki membuatnya pasrah dan tidak berdaya untuk melawan. Setelah tiba di luar, Zeha meletakkan bokong Aeri secara perlahan pada sofa yang berhadapan langsung dengan ranjang.
"Mengapa mengatakan baik-baik saja jika tidak?" Cetus Zeha berlutut, mengecek pergelangan kaki Aeri. "Kau bisa, kan meminta tolong? Sulit, ya, mengatakannya?" Gerutu Zeha sembari tangannya terus bergerak lembut dalam putaran, mencuba membenarkan urat kaki Aeri, membuat sang empu kaki kejang-kejang sembari berusaha menahan suara yang ingin berteriak.
"Eugkk ... a-aku tidak enak pada Tuan," aku Aeri.
"Ouh ... kalau meminjam uang enak saja, tidak ada pula yang tidak enaknya ...."
"Jika seperti itu kau harus membalasku!" Sela Zeha cepat tanpa melihat pada wajah berkerut Aeri yang menahan sakit.
"Argkkk!" Teriak Aeri lantang tepat disaat Zeha menarik kakinya hingga terdengar bunyi tulang dari sana. "Aku tidak tahu harus bagaimana membalas anda karena aku tidak punya apa-apa, uang saja aku meminjam pada anda ...."
"Apa aku meminta barang dan uangmu? Uangku sudah cukup banyak bahkan tidak akan habis walaupun dipakai terus." Zeha mengangkat pandangannya, menatap tajam pada bola mata teduh Aeri.
"Kalau begitu aku belanja makan--"
"Tidak bisakah yang lain? Aku sudah muak dengan orang-orang yang belanja aku makan, itu sudah sering."
"Jadi, apa yang harus aku lakukan?"
Sudut bibir Zeha tertarik miring. "Aku ingin kau menciumku!" Ujarnya tegas tanpa penghalang, membuat Aeri kaget dengan bola mata membulat.
"Apa?!" Aeri sedikit memundurkan tubuhnya. Tanpa sadar ia mengatub bibir. "H-haruskah dengan cara itu?" Tukas Aeri terbata-bata.
"Kau tidak punya cara lain, kan?" Zeha mengangkat sebelah alis terkesan menyindir. Ia tahu sekretarisnya itu tidak punya cara lain. Terbukti, karena sekarang Aeri terdiam dan tampak memikirkan ucapannya.
Aeri melirik singkat pada Zeha yang tidak membuang pandangan dari wajahnya. Lelaki itu memang sudah sering menciumnya, tetapi itu Zeha sendiri yang memulai bukan Aeri dan sekarang lelaki itu meminta ciuman darinya yang bermakna ia yang akan memulai. Aduh! Itu akan saat memalukan. Selama ini Aeri belum pernah sekalipun memulai untuk mencium seseorang.
"Cepatlah! Aku menunggumu."
Aeri tersentak dalam lamunannya. Ia menatap atasannya yang menanti di bawahnya sambil berlutut sama seperti tadi. Aeri menggigit bibir saat tanpa sengaja melihat bibir sexy sang atasan, namun Aeri langsung menundukkan pandangan. Detak jantungnya sudah melaju sedari tadi karena permintaan Zeha.
"Satu ciuman saja begitu sulit, ya?" Sekali lagi suara Zeha berhasil membuyarkan lamunan Aeri yang detik itu juga pandangannya langsung bertemu dengan dahi Zeha.
Aeri sudah mengambil keputusan, ia akan melakukannya. Toh, ini cuma sebuah ciuman. Apa yang telah Zeha lakukan padanya tak akan cukup dengan satu ciuman ini saja. Jadi, tidak apalah. Aeri akan melakukannya.
"Baiklah. Tapi, tuan harus menutup mata," pinta Aeri langsung ditanggapi oleh Zeha yang kontan menutup mata. Aeri menarik napas dalam sebelum meletakkan kedua tangan kecilnya dikedua belah rahang Zeha seraya mendekatkan wajah.
Kedua mata Zeha refleks terbuka merasakan bibir kenyal Aeri memberikan kehangatan pada dahi lebarnya, mengalir bagai aliran sungai yang menenangkan. Degup jantungnya melaju kala itu juga. Leher putih itu secara perlahan bergerak menjauh dari jangkauan mata tajamnya yang membulat kaget.
"Tuan ti--tidak mengatakan harus menciu--eugk!"
Aeri tidak dapat melanjutkan perkataan karena Zeha langsung mengulum bibir berisinya. Mengemutnya liar, namun terkesan lembut di atas bibir Aeri, membuatnya refleks mengatub mata rapat. Secara perlahan, namun pasti, Zeha menekan tubuhnya hingga secara bertahap tubuh Aeri terdorong hingga mentok pada sandaran sofa tanpa melepas ******* pada bibir ranum Aeri yang entah sejak kapan menjadi candunya.
"Kau begitu pandai sekarang, ya?" Kata Zeha setelah melepas pagutannya, ia mengungkung diantara kedua tangan kekar miliknya. Manik gelapnya menatap intens kedua mata indah Aeri yang lari-lari tanpa ingin bertemu pandang dengannya. Pipi itu merona merah membuat sudut bibir Zeha tertarik tipis.
"A-apa yang anda lakukan?" Dorongan kecil Aeri berikan pada tubuh yang berdiri membungkuk diatasnya. "Itu ciuman terima kasih dariku, tulus dari hati. Apa itu salah?" Dengan takut, Aeri melirik pada mata Zeha yang terus tertuju padanya.
Zeha lagi-lagi tersenyum samar. Ia dapat merasakan ketulusan dari ciuman yang didaratkan pada dahinya mengalir kesetiap saraf tubuh. "Kau tahu, dari kemarin kau sudah membuatku jengkel. Sekarang kau malah mempermainkan aku?!"
"Tidak tuan," sahut Aeri cepat. "Tiada niat untukku mempermainkan anda. Tapi, aku minta maaf jika perbuatanku menyakiti--"
"Berhenti meminta maaf! ... Sekarang aku ingin tahu di mana kakimu terseliuh."
Aeri terdiam. Jika ia mengatakannya, ia yakin Zeha akan memarahinya lagi karena tidak mengatakan padanya.
"Di dalam WC waktu kau di kurung, kan?" Zeha menerka. Ia yakin itu dikala melihat kegugupan di wajah lembut Aeri. "Kenapa kau tidak mengatakan padaku kalau kakimu terseliuh, hah?"
Aeri bergerak gelisah saat Zeha menaikkan lututnya, ditekukkan di kedua sisi tubuhnya sehingga tubuh kecil itu terkunci diantara kedua lutut dan tangan Zeha.
"A-aku rasa itu tidak penting untukku mengatakan pada anda lagi pula Tuan tidak bertany--"
"Kau memang harus dihukum Aeri!" Bibir Zeha kembali menyambar bibir Aeri yang terkatup pada bibirnya yang sengaja ia buka. Ingin mengelak pun Aeri sudah tidak sempat, bibirnya telah dikulum dalam oleh bibir sang atasan yang terbuka.
πππππ:
πππππ πππππππππππ πππππππ, π’π. ππππππππ πππππππππ ππππ ππππ. 41. πππππ πππππππππ πππ, ππππ ππππ. 41 πππ 3. πππππ πππππππππ πππ ππππππ πππππ ππππ ππππ πππ πππππππ π’πππ ππππππ πππππ ππ’ππππ.
ππ πππ ππππ.. ππππππ πππππ ππππ πππππππππππ’π.
Thowaβ€