
Waktu telah menunjukkan pukul lima lewat dan Yuri telah menunggu Aeri dari 10 menit yang lalu, tetapi batang hidung sahabatnya itu pun tidak kelihatan. Seharus dari 30 menit yang lalu lagi Aeri sudah terlihat, karena biasanya Aeri akan pulang pada pukul 4: 30 ataupun lewat sedikit.
Tetapi ini bahkan telah lewat pukul 5, namun tetap saja tanda-tanda Aeri keluar dari loby pun tidak ada. Yuri menunggu dengan penuh kesabaran di depan pintu utama menuju loby, ia menyandarkan punggung pada dinding kaca yang setiap hari ia bersihkan.
Jantung Yuri tiba-tiba saja berdetak cepat dikala mengingat apa yang ia lakukan bersama Sehun di gudang penyimpanan tadi. Kedua pipinya merona dengan semburat jelas yang menonjol. Bibir secara refleks tekatup ke dalam membayang cumbuan Sehun begitu memanjakan bibirnya nikmat. Apalagi saat lelaki itu mengemut bak es krim bibir bawah lembab miliknya bersama jari besar yang memanjakan kedua milik pribadi yang biasanya hanya ia yang melihat, namun, tadi Sehun telah menyentuh lebih dari yang pernah ia sentuh. Yuri menggeleng keras membuang bayangan kotor tersebut sebelum satu suara membuatnya menoleh.
"Apa kau menunggu sekretaris Aeri?" Itu adalah wanita dari yang berdebat dengan Aeri pagi tadi.
"Iya." Yuri menjawap.
"Tadi aku melihatnya pergi, tepat sebelum kau datang dan menunggunya."
Yuri mengernyit. "Eh? Benarkah?" Ia menggaruk leher yang tidak terasa gatal. Memindai wanita dengan pakaian kantoran yang berdiri di hadapannya. Yuri mengernyit aneh. Memangnya wanita ini dari bagian mana sehingga bisa melihat kepergian Aeri?
"Sepertinya aku terlambat ...," gumam Yuri, melirik-lirik curiga pada wanita tersebut. Ataukah, memang kebetulan wanita tersebut berada di lobi, lalu ia melihat Aeri pulang? Iya, mungkin saja begitu.
"Baiklah, terima kasih karena memberitahuku."
Tapi ada yang aneh. Yuri melihat sekilas ke belakang tanpa menghentikan tungkainya. Mengapa ia merasa wanita itu seolah mengawasinya, ia seolah tidak akan pergi jika dirinya tidak pergi juga. Yuri sedikit memiringkan kepalanya, berpikir. Atau itu hanya pemikirannya saja? Ia mengedikkan bahu, mungkin ini efek karena terlalu capek.
Wanita itu menatap kepergian Yuri dengan bibir menyungging miring, lalu membawa pandangan kembali masuk ke dalam lobi. Hampir semua karyawan di gedung tersebut telah pulang. Ia tersenyum senang mengingat tidak akan ada yang menolong Aeri sampai suara habis sekalipun. Wanita itu membaya langkah meninggalkan gedung J'Foodies dengan senang hati karena telah berjaya memberi pelajaran pada Aeri yang menurutnya sok lugu.
"Cih! Hanya tampilannya yang terlihat baik padahal kelakuan lebih busuk dari bangkai!"
Tanpa ada yang tahu bahwa Aeri masih berada di dalam sana. Tenggorokannya terasa sakit karena terus berteriak meminta pertolongan sedari pagi. Sayang, tidak ada satu pun yang mendengar teriakannya. Aeri duduk meringkuk di atas closet yang tertutup, memeluk kedua lututnya dengan derai air mata yang membasahi kedua belah pipi.
Hawa dingin telah menyeruak masuk ke dalam tubuh kecilnya yang hanya di lapisi pakaian tipis membuat tubuh bergetar karena kedinginan, ditambah kini kaki kanannya malah terseliuh karena mencuba memanjat dinding, namun malah terjatuh dan membuat kakinya terlipat. Rasa nyeri di sana semakin membuatnya tidak tahan, begitu nyut-nyut.
Hari semakin gelap saat ia mencuba mengintip keluar. Aeri yakin semua orang telah kembali ke rumah mereka masing-masing menyisakan dirinya seorang diri.
Tidak akan ada yang mencarinya karena dia bukan orang penting yang mengenal banyak orang. Yang Aeri miliki hanya seorang ayah yang kini masih terbaring tidak sadarkan diri di rumah sakit pasca operasi. Yuri mungkin mencarinya, tetapi setelah ia tidak muncul-muncul, Aeri yakin teman itu pasti mengira ia telah pulang duluan. Sedangkan Zeha? Aeri tersenyum miris, mengingat untuk apa Zeha mencari keberadaannya, lagian lelaki itu kini berada di London karena urusan pekerjaan.
"Apa aku akan mati kedinginan di sini?" Aeri bergumam. Kepalanya ia benamkan diantara kedua lututnya. "Ayah .. i-ibu ...," lirihnya terisak. Tidak berani mengangkat kepala karena lampu telah dipadamkan semua.
"To ... long ...." Bibir pucat yang bergetar itu terus mengeluarkan suara, berharap akan ada yang mendengarnya entah siapapun itu.
Di dalam pesawat Zeha terus berpikir tentang keberadaan sang sekretaris. Sesaat sebelum menaiki pesawat, ia sempat menelpon nomor Aeri kembali dan tetap saja tiada yang menjawap, bahkan waktu ia kembali menelpon untuk terakhir kalinya sebelum menaiki pesawat ponsel Aeri tidak dapat lagi ditelpon, mati tanpa berbunyi.
"Benar-benar merepotkan!" Gumamnya mendesah kesal juga cemas. "Berani-beraninya dia mengabaikan panggilanku?! Tunggu saja, kita lihat apa yang akan aku lakukan padamu!"
Zeha melirik arloji yang melingkari pergelangan tangan besarnya. Sudah lebih 5 jam sejak ia flighted, jadi sekitar 7 jam lebih lagi sebelum ia tiba di Seoul pada sekitar pukul 2 am. Itulah yang Zeha perkirakan dan masih banyak waktu sebelumnya. Ia mendesah ke udara seraya menyandarkan punggung. Jauh di dalam hati Zeha mengharapkan keselamatan Aeri.
Seperti yang diharapkan. Tidur adalah cara yang paling ampuh untuk menghabiskan waktu. Terbukti disaat Zeha membuka mata pemberitahuan mengatakan bahwa pesawat akan menderat dalam 10 menit lagi dan penumpang yang berada pada kelas A diminta memakai tali keselamatan. Hal yang sama dilakukan pada kelas biasa.
Bramk!
"Ke apartemen!" Argumen Zeha tanpa bisa dibantah. Gary yang tahu masalah yang ada segera menjalankan mobil yang memang tersimpan baik di sana selama sang atasan pergi ke London.
30 menit dalam perjalanan menuju apartemen dan akhirnya mobil mewah miliknya telah berhenti di tempat parkiran.
"Tunggu di sini!"
Tanpa berlama lagi, Zeha keluar dengan tergesa-gesa, membawa tubuhnya dengan langkah lebar menuju unit'nya. Membuka pintu itu menggunakan kartu yang ia punya sebelum akhirnya terbuka setelah berbunyi bip bip. Zeha menyelonong masuk dengan emosi yang meluap.
"Aeri!" Serunya menuju kamar yang biasanya Aeri tempati. "Kwon Aeri, keluar!" Sunyi tanpa ada tanda-tanda ada keberadaan Aeri di sana.
Zeha kembali membawa kaki menuju dapur. "Sepertinya kau memang ingin kena hukum, Aeri!" Zeha kembali menuju pintu utama setelah memindai seisi apartemennya yang gelap. "****!" Umpatnya tidak mendapati sepatu kerja di Aeri di tempat menyimpanan.
"Ke perusahaan, cepat!" Tukas Zeha bahkan sebelum menutup pintu mobil. Ia menggeram dengan rahang mengeras. Sebenarnya ke mana perginya gadis itu? Apa pergi ke rumah temannya? Tidak mungkin di club karena sekarang sudah hampir jam 3. Zeha kembali menelpon ponsel Aeri, masih tidak dapat tersambung sama seperti tadi. Ia bersumpah, jika Aeri sengaja mematikan ponselnya maka Zeha tidak menjamin apa yang akan ia lakukan.
Zeha membuka pintu ruangan miliknya dengan kasar. Ia akan mengakses CCTV untuk pagi tadi hingga waktu kantor selesai karena kata Sehun tadi menunjukkan bahwa terakhir kali gadis itu berada di kantor. Tepat saat Zeha menjatuhkan bokong pada kursi kebesaran miliknya, mata tajamnya melihat ponsel Aeri tergeletak pada ujung meja. Alisnya berkerut sembari meraih benda pipih tersebut. Pantesan saja panggilan yang terbilang banyak tidak ada satupun yang diangkat oleh sang sekretaris.
Mati tanpa ada daya. Sepertinya kehabisan cas, tetapi kenapa benda tersebut berada di ruangannya? Ingin segera mengetahui apa yang terjadi, jari-jari itu bergerak lincah di atas keyboard komputer mengaksesk CCTV tanpa penghalang.
Mata yang memancarkan aura dingin mematikan itu memindai setiap sisi CCTV pada bagian yang berkemungkinan dan biasa Aeri lewati di hari tersebut. Zeha melihat Aeri memasuki WC yang berada di lobi. Ia merasa aneh. Mengapa gadis itu harus sampai ke lobi hanya untuk ke WC? padahal di atas juga ada.
Pada menit ke-10 pun Aeri tidak keluar juga. Hanya tiga wanita saja yang tampak keluar sambil tertawa. Zeha menunggu dengan sabar dengan kedua tangan ditekuk di atas meja tempat menyanggah wajah tampan dingin itu. Kakinya mengetuk lantai secara perlahan tanpa mengalihkan pandangan dari sana, Zeha menanti dengan kesabaran keluarnya Aeri dari sana.
Ketukan semakin lama semakin melaju pada lantai marmer di bawah meja. Tepat setelah 30 menit lamanya, Zeha langsung beranjak, membiarkan kursih tempat duduk terdorong sehingga berputar-putar, ia berlari menuju lif seraya mengumpat.
"****!"
Lif bergerak lambat seperti biasanya membuat Zeha mengerang seraya mendaratkan kepalan tangan tepat pada dinding besi yang bergerak itu. Ia sangat yakin sesuatu telah terjadi pada sekretarisnya.
Terbuka saja pintu lif itu, Zeha langsung membawa tungkainya berlari menuju bagian samping lobi di mana WC itu berada.
"Aeri!" Zeha membuka dengan kasar memindai seisi WC yang banyak kamar-kamar kecil di dalamnya.
Tubuh Aeri yang bergetar teruk karena kedinginan terangkat dengan manik yang terbuka lemah. Pada posisi yang masih sama ia mencuba menggerakkan bibir pucat pasi yang bergetar itu.
"T-t--tol ...tolong ...." Tiada sahutan lagi membuat Aeri berperasangkah bahwa itu hanya halusinasinya. Ia akan benar-benar mati karena tubuh yang hampir beku. Ia kembali menundukkan wajah pada kedua lutut yang ditekuk sebelum pintu yang berada di hadapannya digebrak tidak sabaran dari luar.
Kontan air mata itu mengalir, jatuh membasahi wajah ketika melihat wajah dingin yang sentiasa serius milik sang atasan.
"Tu--tuan ...."