The President'S Crazy

The President'S Crazy
part. 61



Suasana di kediaman Tn. Jeon tampak begitu sibuk dengan para pelayan sibuk mempersiapkan peralatan dan makanan yang akan dipersembahkan pada mendiang Ny. Jeon tepat pada pukul 12 siang nanti.


Sekitar 20 menit lagi sebelum ucapara peringatan kematian Ny. Jeon yang ke-6 tahun dimulai, namun batang hidung Zeha belum juga terlihat padahal semua persiapan hampir selesai.


"Tolong siapkan air minum kepada kerabat yang datang nanti, ya," tukas Ny. Kim, istri kedua Tn. Jeon pada kepala pelayan. Ia adalah orang yang paling sibuk sejak 2 hari lalu lagi demi mempersiapkan semuanya.


"Baik Nyonya," sahut kepala pelayan seraya beranjak.


"Oh, iya. Tolong perintahkan seseorang untuk mempersiapkan dupa," titahnya lagi menghentikan langkah pelayan itu.


"Baik."


"Semuanya sudah siap?" Tn. Jeon turun bersama dengan Taehoon, mereka sudah siap dengan jas serba hitam.


"Iya, semua sudah hampir siap," sahut Nyonya Kim tersenyum.


"Ya, kamu pergilah istirahat. Sudah beberapa hari ini kamu kurang tidur."


"Ini bukan apa-apa. Aku masih kuat, takkan aku tidur sedang di bawah ada acara peringatan kematian kak Sera," Ny. Kim menyahut sambil tersenyum.


"Terima kasih karena sudah mengurus semuanya." Tn. Jeon mencium lama kening istri keduanya itu. Ia merasa sangat berterima kasih karena istrinya itu bersedia menyiapkan semuanya.


"Ya, dia memang seharusnya melakukannya!" Zeha melangkah dengan wajah dingin yang kaku. Penekanan pada ucapannya membuat Ny. Kim menunduk.


"Apa maksudmu Zeha?" Tn. Jeon bertanya dengan kesalnya.


"Tanya pada istri ayah, apa yang aku maksud."


Tn. Jeon mengerjap frustasi saat mengetahui maksud dari ucapan Zeha. Ia hanya menatap sekilas pada Ny. Kim yang menggeleng kepala padanya."Jaga bicaramu, Zeha! Dia ibumu!"


Zeha tersenyum sinis. "Ibuku hanya satu, iaitu Jeon Sera!" Tekan Zeha. "Bukan wanita ini!"


"Jeon Zeha!"


"Ya, terima kasih karena mempersiapkan semua ini untuk ibu, tapi walaupun melakukan semua ini, tidak akan menghapus semua dosa yang telah kau lakukan pada ibuku!" Tukas Zeha, menatap tajam pada Ny. Kim yang berdiri di samping Tn. Jeon.


Sedangkan wanita yang sedikit lebih muda dari dari ibu Zeha itu terdiam tanpa bisa membalas ucapan Zeha. Manik matanya berembun dengan hati yang sakit karena ucapan anak tirinya. Tapi, ia tahu sakit hati dari lelaki muda di hadapannya itu lebih sakit darinya atas apa yang telah ia lakukan.


"Zeha! Aku tidak pernah mengajarmu berkata seperti itu kepada orang yang lebih tua darimu!" Tn. Jeon mengepal tangan.


"Ya, ayah memang tidak pernah mengajarku, karena selalu sibuk dengan wanita ini dan tidak punya masa untuk kami!"


"Kurang ajar!"


Plak!


Satu tamparan keras melayang di pipi Zeha.


"Pergi! Pergi dari sini!" Sergah Tn. Jeon. Dan seketika pun suasana menjadi tegang.


Zeha tersenyum miris, dengan sudut bibir tertarik miring. "Tidak perlu mengusirku. Aku akan pergi setelah memberi penghormatan pada ibu. Lagian aku datang karena ibu, bukan yang lain!"


Zeha pun berlalu menuju ruang tengah yang terdapat foto besar sang ibu yang di depannya terdapat banyak makanan kesukaannya. Lelaki itu melakukan ritual persembahan tanpa ada kesalahan. Saat Zeha bersujud air matanya mengalir dengan kata 'maaf' yang terlontar di dalam hatinya.


"Maafkan aku ibu ... aku belum bisa memaafkan ayah," bisik hatinya merasa bersalah pada sang ibu.


Kemudian Zeha membakar dua batang dupa, lalu ia tancapkan pada sesuatu yang memang telah disediakan di hadapan foto sang ibu yang tersenyum bahagia. Melihat wajah itu kembali membuat hati Zeha merasa kehilangan, ia seakan masih belum bisa menerima kenyataan. Matanya kembali menggenangkan air.


"Aku harap ibu bahagia dan selalu sihat di sana karena aku tidak dapat menggapai apalagi melihatmu ibu." Sekali lagi Zeha menunduk sebagai salam terakhir sebelum ia berbalik pergi.


"Tidak makan dulu?" Tanya Taehoon saat Zeha melewatinya begitu saja.


"Aku tidak ingin makan makanan yang berasal dari rumah ini!"


Zeha terdiam, ia menunduk sembari menarik napas dalam. Emosi yang menyelimuti hati sebisa mungkin Zeha redamkan.


"Lain kali saja kak." Sekilas Zeha melirik pada Tn. Jeon yang tampak memijit pelipis di sofa, berdampingan dengan Ny. Kim. "Aku titip ayah pada kak Taehoon."


"Jangan khawatir soal itu," sahut Taehoon dengan senyum menghiasi bibir.


"Aku pergi." Setelahnya Zeha pun beranjak dan tidak menoleh lagi walaupun sebentar. Tidak menemui manik Taehoon yang terus menatap kepergiannya.


"Dia tidak makan?" Tanya Tn. Jeon sesaat setelah Zeha pergi. Bukan ia tidak ingin bertanya langsung, tapi ia malas jika membuka mulut nanti malah membuat keruhan dalam hubungannya dan sang anak semakin buruk. Jadi, lebih baik ia diam saja.


"Tidak," sahut Taehoon mendekat. "Mungkin dia ada urusan yang harus mendesaknya segera pergi."


Tn. Jeon tampak menghela napas. "Jika dia sudah mengatakan akan segera pergi setelah memberi penghormatan pada mendiang ibunya, maka bagaimana pun kita mencegahnya agar tidak pergi, dia akan tetap pergi sekalipun dia sedang lapar."


Tn. Jeon membawa tubuhnnya menuju tempat persembahan mendiang sang istri, Jeon Sera. Mereka pun melakukan persembahan secara bergilir dimulai oleh Tn. Jeon, suami dari mendiang. Melakukan ritual tanpa melakukan sedikit pun kesalahan. Takut jika kesalahan terjadi, hal itu nanti malah membawa dampak buruk pada mendiang.


"Bagaimana khabarmu sayang?" Tn. Jeon berdialog dalam hati. Ia menatap lamat foto tak bernyawa mendiang sang istri. Rasa rindu yang menyesakkan dada tiba-tiba menyeruak masuk dalam hati, membuat manik itu meneteskan air mata.


"Maaf ... maaf karena mengecewakanmu dan anak-anak. Maafkan aku ...," sesal Tn. Jeon. Lihuid bening semakin laju menganak di atas pipinya yang sudah berkerut, keriput.


Ny. Kim dan Taehoon turut bersedih. Taehoon menunduk dalam kala melihat air mata lelaki yang telah ia anggap seperti ayahnya itu. Jika terus melihat, maka ia yakin air matanya akan turun mengalir keluar. Sedangkan Ny. Kim menutup mulut dengan tangan kala sudah tidak sanggup menahan desakan yang membuatnya tersedu.


Sesekali Taehoon melirik Ny. Kim. Lelaki itu mengerti apa yang dirasakan oleh Ny. Kim. Rasa bersalah pasti sedang menghantuinya saat ini, apalagi melihat Tn. Jeon mengalirkan air mata.


"Mengenai Zeha, kamu jangan khawatir. Aku akan menjaganya. Di sana, kamu hanya perlu menjaga diri sendiri, hmm," monolog batin Tn. Jeon saat menyalakan dupa, lantas meletakkan tepat di hadapan foto sang istri.


"Apa khabar tante? Tidak lupa pada aku, kan?" Taehoon berujar dalam hati. Ia juga melakukan apa yang Tn. Jeon lakukan. Namun, Taehoon tampak tidak ingin menatap wajah yang ada di hadapannya itu. Ia takut tidak dapat menahan rasa sedih yang akan hadir dengan memandang wajah teduh penuh kasih itu.


"Terima kasih karena tante menerimaku dengan lapang dada di rumah ini." Taehoon menyalakan dupa. "Aku akan menjaga Tn. Jeon dan Zeha dengan nyawaku, jadi ... tante tidak perlu khawatir dan cemas, ya?"


Setelah meletakkan dupa di hadapan foto, Taehoon pun memberi ruang pada Ny. Kim untuk melakukan hal yang sama. Selama melakukan ritual, Ny. Kim terlihat begitu sedih dengan derai air mata yang terus membasahi wajahnya. Membuat suasana terasa semakin mencekap dan menyesakkan dada.


"Maafkan aku kak hiks ... maafkan aku ... maaf," isak Ny. Kim dalam sujudnya. Bahunya terlihat bergetar walau dilihat dari belakang.


"Maaf karena telah merusak hubungan antara keluarga ini. Aku sangat merasa bersalah pada Zeha kak Sera. Dengan maaf saja tidak akan mampu menghapus dosa besar ini ...."


Satu persatu kerabat keluarga datang untuk melakukan melakukan ritual persembahan. Dari keluarga mendiang juga dari keluarga Tn. Jeon sendiri. Melihat itu, Taehoon beranjak naik, memberi ruang pada sesama keluarga itu.


"Kenapa tidak ikut memberi penghormatan pada mendiang istri Tn. Jeon?" Tanya Taehoon pada Seoji yang menghalang jalannya.


Seoji tidak menjawap, ia hanya memindai wajah tampan Taehoon yang terlihat sendu dengan semburat sedih yang dapat Seoji rasakan. Dikala ketiganya melakukan ritual persembahan, sebenarnya Seoji menyaksikan semuanya. Jadi ia tahu saat ini, lelaki yang berdiri di depannya itu sedang bersedih.


Seoji merai tangan itu, ia tarik masuk ke dalam kamar yang ia tempati lalu mengunci pintu membuat Taehoon mengernyit bingung.


"Apa yang kau--"


Set!


Ucapan Taehoon terhenti dengan tubuh yang membeku kaku disaat Seoji tiba-tiba memeluk tubuhnya erat. Usapan lembut yang Seoji lakukan dibelakangnya membuat dada Taehoon sesak. Rasa yang sedari tadi ia tahan secara perlahan runtuh dengan mengalirnya air matanya.


Seoji seolah membuka kunci yang menahannya agar tidak mengeluarkan lihuid bening itu. Taehoon tidak bisa menahannya lagi. Seoji berjaya meruntuhkan tegarnya hatinya dalam sekejap. Taehoon membalas pelukan Seoji lebih erat, membenamkan wajah diceruk leher Seoji. Tubuhnya bergetar dalam dekapan tubuh seoji.


"Tidak apa. Menangislah ... tidak ada yang akan mentertawakanmu ... menangis bukanlah satu kesalahan," tutur Seoji lembut. "Setegar apapun orang itu, pasti ada saatnya ia butuh melampiaskan rasa yang membuat dadanya sesak," tambahnya semakin membuat Taehoon terisak pilu. Elusan lembut ia berikan di kepala Taehoon.


"A-aku takut Seoji ... aku t-ta--takut tidak mampu melundungi ke--keluarga ini," lirih Taehoon disela tangisnya. "A-aku menyayangi keluarga i-ini ...."


"Kau sudah melakukan semuanya dengan baik. Apa yang perlu kau takutkan? Kau telah melindungi keluarga ini dengan tanganmu," sahut Seoji. Sebisa mungkin menenangkan lelaki yang biasa terlihat tegar, namun kini bagai kaca yang mudah pecah.


Taehoon semakin mengeratkan pelukannya begitu juga dengan Seoji. Wanita yang pernah menolak Taehoon itu membiarkan bajunya basah oleh air mata Taehoon, ia tidak peduli. Karena hanya ini yang bisa ia lakukan untuk membantu mengurangi kesedihan Taehoon.