The President'S Crazy

The President'S Crazy
part.22



"Mulai sekarang, kau akan tinggal di sini," Tukas Zeha membuat Aeri otomatis menoleh.


"Ehh?!" Di wajahnya timbul seribu tanda tanya. Menurutnya tiada alasan yang mengharuskannya tetap tinggal di rumah Zeha. "Maaf. Saya rasa, saya tidak perlu tinggal di sini."


Ia benar-benar bingung. Mengapa atasannya itu memintanya untuk tinggal di sana? Rasanya tidak pantas bagi mereka tinggal satu atap. Lagian ia tidak ingin semakin direndahkan oleh lelaki itu.


"Bukankah kau mengatakan akan melakukan apapun yang aku minta saat kau meminjam uang padaku?" Zeha membawa tubuhnya bangkit, lalu mendekat pada Aeri yang menunjukkan ketidak-sukaan. "Aku ingin kau tinggal di sini dan menjadi kekasihku."


"A-apa?" Aeri terperangan. Permintaan Zeha tidak masuk akal sama sekali. Ia pikir menjalin hubungan itu seperti menandatangani kontrak apa? Sign dan selesai, begitu? Dan siapa yang ingin menjadi kekasih dari lelaki sepertinya? Tingkah yang tidak bisa ditebak. Wanita diluar sana mungkin, tapi ia tidak ingin.


"Tuan sudah punya pacar, kan?"


Zeha melipat tangan. "Dari mana kau tahu aku punya kekasih?"


"Iya, kan? Foto wanita tadi kekasih tuan, kan? Lagi pula anda punya banyak wanita diluar sana. Bukannya mereka semua kekasih anda?"


Rahang Zeha mengeras mendengar perkataan lancang Aeri. Aliran darah seolah melaju ke arah kepala membuatnya panas ingin meledak. Reflek tangan besar nan kasar miliknya mencengkram rahang Aeri.


"Kau menyindirku?!" Tukasnya penuh penekanan serta pandangan mata yang bisa melumpuhkan lawan bicara. "Ternyata kau cukup berani dengan tubuh kecilmu ini!"


"Maaf tuan, tapi saya tidak bisa menjadi kekasih anda--"


"Kau tidak diberi pilihan untuk menolak Kwon Aeri," dingin Zeha dengan alis tertukik tajam. Membawa wajah merapat pada Aeri. Ibu jari menekan kuat bibir bawah Aeri hingga membuat sang empu meringis.


"Atau kau perlu uang lagi agar mau menjadi kekasihku?" Sindir Zeha terkesan menghina. Seakan Aeri seorang wanita yang akan melakukan apa saja demi uang.


Tatapan bola mata Aeri menajam, menatap penuh benci pada atasannya itu. Jika bukan karena ayahnya yang saat itu sangat memerlukan uang, ia tidak akan menerima tawaran menjadi sekretaris Zeha lalu menjadi bawahan dari lelaki kurang ajar itu.


"Ada apa dengan tatapanmu? Itu kenyataan, kan?"


"Aku bukan wanita yang seperti anda katakan!" Tekan Aeri dengan suara rendah.


"Tapi nyatanya, kau menjadi sekretarisku demi uang, kan? Bahkan kau siap mengatakan akan melakukan apa saja yang aku katakan asal aku menerima dan memberimu uang. Apa aku salah?" Sudut bibir menimbulkan lengukungan sinis yang tipis.


Bibir Aeri terkatub rapat. Ya, ia memang mengatakan semua itu. Atasannya tidak salah. Terus apakah dia yang patut disalahkan? Keadaan saat itu sangat mendesak sehingga membuatnya tidak bisa berpikir jernih dan mengambil keputusan sebelum berpikir terlebih dahulu.


Lantas, apakah keadaan saat itu yang patut dipersalahkan? Memaksanya menerima tawaran yang awalnya ia tolak mentah-mentah atas kemahuannya sendiri dan ayah dari Zeha.


Tidak. Bukan keadaan itu yang salah melainkan takdir dan Zeha itu sendiri. Salah takdir karena membuat Zeha menjadi anak dari Tn. Jeon, lalu ini salah Zeha karena tumbuh dengan memiliki sifat yang buruk.


"Kau tidak perlu meutupi kebenarannya, karena kau bahkan juga bekerja sebagai wanita penghibur di Black Club. Membiarkan banyak lelaki menyentuh dan merabah-rabah tubuhmu. Itu semua demi bisa hidup mewah, bukan?"


Cengkraman itu berubah menjadi elusan lembut pada leher jenjang Aeri sembari sebelah tangan meraih tangan Aeri yang menggantung. Fakta itu sudah tentu tertulis dalam kertas putih yang menyatakan semua fakta-fakta tentang Aeri.


Air mata langsung mengembun di bola mata indah Aeri mendengar ucapan Zeha. Detak jantungnya berdetak melebihi dari biasanya. Pekerjaan sambilan sebagai wanita penghibur sebisa mungkin ia tutupi. Yuri sekali pun tidak mengetahui pekerjaannya itu. Lalu, bagaimana Zeha mengetahuinya?


Harus berapa kali dirinya direndahkan seperti ini? Rasanya ia ingin meraung dan berteriak meluapkan semua yang membuat hati sesak. Jika tidak memikirkan sang ayah, detik itu juga akan ia akhiri hidupnya. Mengutuk diri karena tidak langsung menampak wajah tampan bak kutup utara itu. Kenapa ia tidak bisa menggerakkan tangannya? Si*l!


Apa karena semua yang dikatakan atasannya benar adanya? Ia bahkan membiarkan tangan lelaki yang ia layani menyentuhnya dengan bebas, tapi Zeha ... apa yang ia tahu tentang tentangnya? Ia hanya tahu menghina tanpa ingin mencari tahu alasan mengapa seseorang itu melakukan pekerjaan seperti itu.


"Kenapa kau diam?" Disaat Zeha mengendus-ngendus area selangka dan lehernya, Aeri hanya diam dengan tatapan kosong. Apa gunanya ia bersuara jika pada akhirnya malah memberi peluang pada Zeha untuk menghinanya lagi.


"Tepat. Wanita itu memang mainan dan patut terus dihina agar mereka tahu bahwa mereka hanya sampah di dunia ini!"


Sorot mata yang memancar kegelapan kembali terlihat. Manik kelam yang bisa menarik dan menyesatkan siapapun pada pandangannya kembali muncul pada bola mata Zeha. Kegelapan yang penuh dengan kebencian yang menyesat muncul sesaat setelah Zeha berujar.


Kontan langkah Aeri termundur. Ia takut dengan diri Zeha yang saat ini. Lelaki itu seolah ingin langsung membunuh dan mencabik-cabik tubuh kecilnya.


"Kenapa menjauh? Kau takut aku membunuhmu?" Zeha langsung menarik dengan kasar tangan Aeru sehingga terhempas pada tubuhnya.


Aeri tidak tahu ada masalah apa antara Zeha dengan wanita di masa lalu, namun satu yang pasti. Kebencian terhadap wanita begitu besar menyelimuti hati dan pikiran lelaki yang sedang merangkulnya itu.


"Tidak semua wanita buruk tuan Zeha. Jangan karena kesalahan beberapa wanita membuatmu membenci wanita diseluruh dunia," ujar Aeri dengan memberanikan diri menatap bola mata gelap yang menusuk tajam padanya.


Zeha tersenyum getir. "Bahkan ibuku menghianatiku dengan pergi meninggalkanku untuk selamanya. Mereka semua sama!"


Aeri menelan susah salivanya mendapati emosi Zeha semaki tersulut. Zeha menelisik wajah pucat Aeri sedemikian dekat sembari berujar. "Pada akhirnya mereka semua menghianatiku. Pergi meninggalkanku saat aku membutuhkan mereka. Lalu kau, apa kau juga akan pergi? Tidakkah kau merasa harus mendengarkan ucapanku sebagai bentuk balas budi karena aku telah menyelamatkanmu semalam?"


Satu lagi sisi Zeha untuk pertama kalinya ia lihat. Rapuh dan kesepian. Itulah yang terlihat diwajah tampannya saat ini. Sangat sulit dipercaya. Lelaki tegas, kejam, dingin tidak berbelas kasih memiliki sisi yang begitu menyedihkan. Aeri yang memiliki hati lembut langsung iba dan merasa turut sedih mendengar cerita Zeha walau ia tidak tahu bagaimana rasanya. Ia reflek menggelengkan kepala.


"Tidak. Aku akan tinggal di sini seperti ucapan tuan dan ... men--menjadi kekasih tuan." Aeri menunduk malu. Jiwanya memaksa untuk mengiakan ucapan Zeha walau ia terpaksa--itu sudah pasti.


Mungkin dengan begini lelaki itu tidak akan bersedih lagi karena, Aeri paling tidak bisa melihat orang beesedih. Jiwanya pasti memberontak dan melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang. Sama seperti saat ini, mengiakan ucapan Zeha tanpa berpikir lagi. Tidak memikirkan konsekuensi dikemudian hari.


Zeha tersenyum seperti anak kecil yang baru saja menerima bon-bon. "Anak pintar." Ia mengusap lembut puncak kepala Aeri. Kesedihan, kemarahan dan kebencian yang tadi terpancar dari wajah Zeha lenyap entah kemana. Tidak mungkin, kan ia hanya berpura-pura?


"Nanti malam ikut aku keluar. Jam 5 sore nanti akan ada orang datang untuk meriasmu, jadi bukan pintu."


"Merias? Kenapa perlu? Aku bisa melakukannya sendiri."


Langkah yang semula mengayun kini kembali terhenti dengan tubuh berbalik. "Tidak perlu banyak tanya! Diam dan turuti saja sebelum aku memakan bibirmu itu!" Setelah berhasil mengancam, ia pun kembali membawa tubuh ke dapur, mengabaikan Aeri yang mematung dengan bibir yang ditutup menggunakan kedua tangan.


Dalam hati Aeri mengutuk habis lelaki itu. Seketika ia menyesal telah menaruh rasa iba dan kasihan padanya tadi.


***


Seumur hidup, ini pertama kalinya bagi Aeri menginjakkan kaki disebuah casino. Apalagi casino yang ia pijaki saat ini ia dengar adalah casino terbesar yang ada di negara tersebut. Menduga, pemiliknya pasti seseorang yang kaya raya.


Melihat betapa banyaknya pengunjung membuat Aeri menerka pendapatan yang di peroleh oleh sang pemilik setiap malamnya.


"Pasti sampai biliaran ...." tanpa sadar gumahan itu menarik perhatian Zeha yang berjalan di samping. Ia tersenyum samar.


"Kau ingin tahu siapa pemiliknya?"


Aeri kontan menoleh, lalu kembali memindai pandangan kesetiap penjuru casino. "Tuan mengenalnya?"


"Sudah tentu," sahut Zeha terkesan sombong, kemudian membawa wajah mendekat pada telinga Aeri yang seketika membuat tubuh itu berhenti berjalan. "Jeon Zeha."


Aeri menoleh dengan wajah bingung. "Jeon Zeha?" Ia tampak berpikir dengan pandangan memindai wajah serius Zeha. Sebelum seketika matanya membulat penuh. "T-tuan?"