The President'S Crazy

The President'S Crazy
part. 40



Waktu menunjukkan pukul 7 lewat saat Aeri terbangun kaget dikala cahaya mentari yang telah meninggi mengenai wajahnya dari sela gorden yang terbuka. Aeri memaki diri, bisa-bisanya ia terlambat bangun. Apa yang akan Zeha katakan? Sudahlah ia menumpang di apartemen atasannya itu, lambat bangun pula, sungguh tidak tau malu.


Aeri berdecak kesal sembari bergerak cepat menuju WC, namun tubuh yang baru pulih membuatnya mengernyit sakit dengan langkah yang melambat. Aeri lupa bahwa ia baru saja selamat dari maut dan satu lagi kemarin kakinya terseliuh. Aeri melirik ke arah pintu kamar Zeha yang ia tempati, menyeret tungkai ke sana. Mungkinkah atasannya itu sudah pulang?


Kepala Aeri mengintai keluar. Bisa malu jika Zeha mendapati dirinya baru saja bangun. Aeri mebawa bola matanya mengeksekusi seisi ruang tengah itu. Sepertinya aman, karena Aeri tidak mendapati aura kehidupan di sana.


"Sepertinya dia tidak main-main saat mengatakan akan pulang malam," Aeri bergumam seraya berusaha sekuat mungkin menarik kaki menuju dapur. Wajah Aeri menegang merasakan sakitnya.


Dengan napas ngos-ngos, Aeri kaget saat mendapati semangkok bubur ayam di atas meja bersama sandwich, sosis, dan mata sapi dengan kuning masih mentah, dan terakhir kimbab dengan isi sayur. Semua jenis makanan tersebut bagus untuk memulihkan tenaga dalam. Ditambah segelas besar susu coklat panas berada di samping. Semuanya benar-benar membuat Aeri semakin lapar.


Tetapi, Aeri merasa bingung. Siapa yang telah menyiapkan semua ini? Ia melirik pada pintu utama apartemen yang tertutup rapat. Apa mungkin ada yang datang? Tapi mengapa ia tidak mendengar apa-apa tadi? Aeri kembali menatap penuh damba makanan yang tersusun rapi di atas meja. Jangan-jangan semua itu disiapkan untuk atasannya, Zeha?


Tiba-tiba manik Aeri melihat secarik kertas berada di bawah mangkuk bubur. Dengan alis yang berkerut, Aeri meraih kertas tersebut. Ayat yang tertulis di atasnya membuat Aeri yakin bahwa itu tulisan sang atasan.


Makan semua makanan itu


tanpa ada sedikit pun yang kau sisakan,


Karena semuanya bagus untuk mengembalikan


tenaga.


Tanpa banyak berpikir lagi Aeri langsung menyantap menu sarapan pagi itu. Aeri tidak tahu siapa yang membawa atau membuat makanan tersebut dan ia tidak terpikir untuk mengetahuinya, entah bagaimana makanan itu bisa berada di sana Aeri tidak peduli lagi. Yang pasti ia ingin memakan karena memang sejak bangun perutnya sudah keroncongan minta diisi.


Di tempat lain, tepatnya di mansion mewah Zeha, Gary membawa kaki menuju ruang kerja sang atasan, lalu mengetuk pintu di hadapan sebanyak tiga kali sebelum mendengar intruksi sang atasan yang memerintahkannya masuk.


Kala Gary melangkahkan kaki memasuki ruangan gelap yang didominasi oleh warna navi. Di sana, Gary melihat seorang ajudan sang atasan berdiri tepat di hadapan meja kerja.


"Kau sudah lakukan semuanya?" Belum sampai Gary di hadapan, Zeha sudah menlontarkan pertanyaan.


"Sudah tuan," Gary menyahut setelah seketika menunduk hormat.


"Bagus. Saat kau ke sana tadi, apa dia sudah bangun?" Zeha kembali bertanya antusias. Sang ajudan yang berdiri di hadapan meja sempat merasa kaget melihat atasannya seperti demikian. Rasanya Zeha seperti orang yang berbeda dengan beberapa menit yang lalu. Aura dingin yang menguar seketika tadi entah hilang ke mana.


"Sepertinya belum tuan ...."


"Kau tidak mengeceknya ke dalam kamar?" Zeha memicing.


"Tidak Tuan," jawap Gary jujur. Karena memang Zeha tidak memintanya untuk mengecek Aeri.


"Bagus, itu baru betul." Tadi itu hanya test yang dilakukan Zeha terhadap Gary sang bodyguard yang menyamar sebagai supir pribadinya. Ternyata Gary memang mematuhi perintah tanpa memandai-mandai dalam melakukan sesuatu. "Jika saja kau melakukannya, maka peluruku akan langsung bersarang di kepalamu!"


"Tidak Tuan. Saya hanya melaksanakan sesuai yang anda perintahkan."


"Aku suka itu. Kau bisa pergi!" Dalam sekelip mata aura kegelapan yang menyelimuti Zeha kembali terlihat, menatap lurus pada ajudan yang ia perintahkan untuk mengurus tubuh mantan karyawannya yang tidak bernyawa lagi setelah disiksa yang diakhiri dengan tiga tembakan ditubuh.


"Kau sudah lakukan apa yang aku perintahkan?"


"Sesuai perintah anda abunya bahkan telah kami hanyutkan di sungai yang berada di belakang mansion."


Mendengar apa yang disampai sang ajudan membuat Zeha menyungging senyum evil yang mengerikan. Zeha merasa puas. Satu telah selesai. Seterusnya akan jatuh pada orang yang telah mengunci Aeri dalam WC. Zeha semakin meradang saat mengingat kejadian tersebut bahkan terjadi diperusahaannya.


Zeha mengepal tangan, menjatuhkan punggung pada sandaran kursi kerjanya. Hingga detik ini belum pernah sedetik pun Zeha mengistirahatkan tubuhnya sejak pulang dari London. Namun mau bagaimana jika Zeha merasa tidak mood untuk tidur sebelum semuanya selesai.


"Kau bisa keluar dan minta Gary untuk masuk!"


Sang ajudan pun beranjak keluar setelah membungkuk hormat pada Zeha. Tidak berselang lama Gary masuk setelah mengetuk pintu bersamaan dengan Sehun yang ikut menyusul setelah selang beberapa detik. Zeha hanya diam mengacuhkan kedatangan Sehun, atensinya hanya tertuju pada sang bodyguard.


"Kenapa Dr. Oh datang ke rumah ayah?" Zeha bertanya dengan siku ditekuk pada meja.


"Katanya tensi Tn. Jeon naik setelah melihat berita kemarin pagi mengenai nona Aeri dan anda," sahut Gary menerangkan.


Zeha hanya menganggukkan kepala mendengar penjelasan tersebut. "Mengenai masalah Aeri dikurung dalam WC kau tahu harus melakukan apa, kan?"


"Tahu tuan."


"Memangnya apa yang terjadi pada Aeri sehingga kau bertindak seperti ini?" Sehun bertanya bingung.


Bukan tidak biasa dengan kekejaman Zeha, namun biasanya Zeha hanya akan melakukan hal seperti demikian jika itu menyangkut musuh atau mata-mata yang dikirim, ataupun orang yang mencari masalah dengannya. Selama mengenal Zeha, lelaki itu tidak pernah turun tangan hanya karena seorang wanita, sekalipun itu Jinha-mantan kekasihnya.


Zeha beralih melihat sosok Sehun yang duduk bersilang kaki di sofa. Sebelah tangannya memerintahkan pada Gary untuk keluar melalui kode tangan.


"Seseorang mengurungnya di dalam WC, jika aku tidak datang tepat waktu mungkin gadis itu sudah mati saat aku pulang," jawap Zeha berjalan mendekat ke arah sofa. Sangat jelas di mata wajah kaget Sehun setelah mendengar perkataannya. "Kau aku minta untuk memantaunya malah tidak tahu apa‐apa! Kau benar-benar tidak boleh diharapkan!"


"Aku yakin wanita itu yang telah melakukannya."


"Siapa yang kau maksud?"


"Kau ingat wanita yang aku katakan waktu kau masih di London, bukan?"


"Wanita itu?" Sehun hanya mengangguk sebagai jawapan.


Zeha berdecak kesal. "Wanita itu sumber masalah! Itulah mengapa aku tidak menyukai mereka." Zeha menjatuhkan bokongnya pada single sofa di samping Sehun.


"Tapi kau menyukai Aeri," sela Sehun cepat membuat Zeha mendelik tajam.


"Sejak kapan aku bilang aku suka padanya?" Zeha bertanya dengan sebelah alis tertukik tajam. Ia tidak terima dengan apa yang diucapkan oleh Sehun.


"Lho, memang iya, kan?"


"Lebih baik kau katakan tujuanmu datang ke sini sebelum aku menutup mulutmu buat selamanya," ancam Zeha mengetatkan gigi. Jika bukan mengingat Sehun itu sahabatnya, sudah hilang nyawa yang bersarang dalam tubuh itu.


Sehun hanya merotasi matanya jengah dengan sikap Zeha yang suka mengancam padahal tidak pernah juga menyakiti dirinya. Sehun yakin sudah ada rasa yang timbul di hati Zeha untuk Aeri, namun karena dendam dan kebencian terhadap sesama wanita membutakan hatinya, juga karena Zeha menganggap semua wanita itu sama. Cinta miliknya, selamanya hanya untuk sang ibu, itulah yang sahabatnya itu tanamkan sejak penghianatan mengusik hidupnya.


"Kau tau Aeri punya kerja sambilan di Black Club, kan?" Zeha mengangguk malas.


"Aku rasa aku pernah bertemu dengannya di sana," sambung Sehun semakin membuat Zeha jengah.


"Terus kenapa kau mengatakan padaku?" Zeha tidak mengerti mengapa Sehun malah menceritakan hal demikian kepadanya. Memangnya ada masalah kalau ia bertemu dengan Aeri di sana? Cih, sungguh membosankan.


"Patutlah setiap kali aku melihatnya, aku merasa seperti pernah melihatnya, tapi aku tidak tahu di mana ...." Zeha terus mendengar tanpa minat hingga ayat seterusnya membuatnya menoleh.


"Saat pertama kali melihatnya aku sudah tertarik. Wajah lembut dan tatapan mata yang teduh tidak seperti wanita lain yang juga berkerja di sana, tatapan mereka buas dan genit. Saat dia melayaniku gerak-geriknya jelas menunjukkan bahwa dia tidak pernah melakukan hal menjijikkan seperti itu. Dan aku jadi penasaran akan tujuan dia melakukan kerja yang hatinya tolak."


"Apa?!"


Sehun menoleh kaget mendengar satu kata yang terkesan kaget itu. Sehun menatap bingung pada Zeha. "Apa ... apa?"


"Dia melayanimu?" Sehun menahan senyum melihat ekspresi Zeha. Seperti orang yang menahan geraman. Tatapan matanya tiba-tiba begitu menusuk tajam pada Sehun


"Hmm ... bibirnya benar-benar manis ...." ucap Sehun seperti membayangkan waktu itu, ia juga dengan sengaja menjilat bibir bawahnya memancing Zeha dan ... berhasil.


"Brengsek! Apa yang kau lakukan padanya?!" Gerakan sepantas kilat Zeha menyambar kerah baju Sehun dengan semburat kemerahat di wajah. Ia menahan amarah.


Mendapat perlakukan sedemikian membuat Sehun beruba dingin, menatap Zeha dengan tatapan tidak bersahabat. "Kenapa kau marah, hmm? Bukannya kau tidak menyukainya?" Tanya Sehun dengan alis terangkat.


Zeha mengepalkan tangannya. Ingin rasanya ia melayangkan bogem mentah ke wajah sahabatnya itu, tetapi untuk apa ia melakukannya? Ia memang tidak menyukai Aeri, kan? Jadi untuk apa marah?


"Ckk!" Zeha melepas kerah Sehun dengan kasar serta sedikit dorongan.


"Kau tidak menyadarinya, bahwa kau tela--"


"Diam!" Sentak Zeha beranjak.


"Kau tenang saja kejadian itu hampir sebulan yang lalu, jadi aku sudah melupakan kelembutan pada bi--"


"Diamlah Sehun! Jangan membuatku melupakan bahwa kau sahabatku!"


Dengan senyum tipis, Sehun mengalah dengan kedua tangan yang diangkat ke udara. "Baiklah ..."