
Aura membunuh. Itulah yang terlihat di mata Aeri pada Zeha sebelum lelaki itu menghilang di balik pintu yang tertutup. Namun, apa yang membuat Aeri bingung adalah kalimat 'berburu tikus.' Itu sangat aneh. Untuk apa atasannya itu berburu tikus pada jam segini? Tidak ingin mengambil pusing Aeri pun memejamkan mata. Ia ingin mengistirahatkan tubuh yang terasa begitu lemah.
•••
Byurr!
Tubuh lelaki yang diikat pada pada bangku terlonjat kaget bangun dari tidurnya di saat semburan air dengan tekanan kuat menghantam tubuh. Air dingin itu bahkan memasuki rongga hidung sang lelaki. Zeha menatap bekas karyawannya itu dengan tangan melipat di dada. Tatapan dingin dengan aura yang mengerikan menguar dari wajah tampan itu. Pandangan seolah bisa mematikan pihak lawan dalam sekali lihat. Zeha meminta anak buahnya menepi setelah memerintahkan menyiram lelaki itu dengan seember air.
"Aku tidak lebih brengsek darimu!" Ujar Zeha dingin. Ia memang brengsek, tetapi tangannya tidak pernah lancang menyentuh wanita yang tidak ingin disentuh.
Zeha meletakkan kedua tangannya pada masing masing sisi tempat duduk. Dengan tubuh menunduk, Zeha berujar dalam. "Katakan ... bagian mana dari tubuh Aeri yang kau sentuh?"
Mantan karyawannya itu menunduk dalam tidak berani bersitatap dengan mantan atasannya itu, bungkam. Bibirnya seolah terkunci tanpa bisa digerakkan. Sesuatu yang buruk pasti terjadi jika ia mengatakan kebenarannya.
Zeha berdecak mengetatkan rahang dengan gigi yang bergemelatuk emosi. Ia menggeram dengan tangan yang reflek mencengkram kuat rahang lelaki di hadapannya. Lelaki itu lupa bahwa tanpa mengatakan apapun Zeha akan tetap menyiksanya.
Tangan kanan Zeha terulur ke samping. Anak buah yang stand by di sana langsung menyerahkan sebilah pisau dengan ujung yang bercabang runcing. "Kau mengabaikanku?" Desis Zeha dengan alis tertukik tajam di depan wajah lelaki itu.
"Ampun tuan ... aku tidak akan melakukannya lagi ..."
"K.A.T.A.K.A.N!!!" bentak Zeha dengan suara tertahan.
"B-bo--bokong---arggkkkkk!"
Langsung pisau bercabang milik Zeha itu menancap kuat hingga menembusi tangan kanan tawanannya itu. "Pasti tangan ini pelakunya, bukan?" Zeha bertanya sinis. Dengan bengis dan tanpa peduli teriakan kesakitan lelaki tersebut, Zeha dengan sengaja memutar pisau bercabang yang berada di tangan sang tawanan.
"Argkkkk!!" Teriaknya mengerang kesakitan. "A--ampun tu-tuan ahkk!"
"Aku yakin tangan ini telah banyak menyentuh wanita seenaknya saja." Bagai dirasuki setan, Zeha terus memutar-mutar pusau tersebut sembari sesekali menariknya keluar, lalu kembali ia tancapkan membuat lelaki itu tiada hentinya meraung kesakitan.
"Ti-tidak tu-tuan .... tidak ...."
Zeha mengangkat padangan dari mainannya. "Jadi, maksudmu Aeri yang pertama?" Ia meradang.
Lelaki itu mengangguk dalam rasa sakitnya, namun apa yang Zeha katakan seterusnya membuat ia kaget lantas refleks membuka mata.
"Bermakna tangan ini harus dipotong."
Lelaki itu menyesal telah mengatakannya. Ia pikir dengan mengatakannya Zeha tidak akan lagi menyiksanya. Siapa yang tahu tangannya malah ingin dipotong.
"Kalian benar-benar telah membuatku kesal! Dengan memotong tangan ini saja tidak membuatku senang!"
Srahkk!
"Aaaarrggggkkkkkkk!"
"Aeri adalah sekretarisku! Dia orangku! Tidak ada yang berhak atas dirinya selain aku! Sekalipun itu ayahku, aku tidak akan membiarkannya! ... Dan kau beraninya?!"
Zeha melepas sembarang pisau tersebut bersama tangan telah terputus. Ia kembali memintah sebilah pisau yang lebarnya hanya selebar jari kelingking. Ujung pisau itu dibuat setajam ujung jarum demi memudahkan Zeha menyiksa mangsanya.
"Aku yakin bibir ini juga mengatakan sesuatu yang menyakiti hati." Zeha menyeret tanpa tekanan benda tajam itu tepat di atas bibir mangsanya. Ia ingin membuat tubuh itu bergetar karena takut, seperti yang Aeri rasakan.
Zeha sangat ingat bagaiman raut wajah Aeri saat itu. Wajah lembut Aeri kala itu seolah kehilangan cahayanya, redum saat mata indah itu dipandangnya. Rasa hina yang diterima Aeri menggenangkan air mata yang berusaha di kawal oleh sang empu. Semua itu masih sangat jelas di benak Zeha.
"Kau punya pilihan. Bibir atau matamu? Aku beri kau waktu selama satu menit dan tentukan pilihanmu!"
Lelaki itu bungkam dengan tubuh yang bergetar hebat. Tidak satu diantara pilihan yang diberi ia inginkan. Kedua pilihan tersebut membuatnya semakin bergetar dengan pikiran melayang liar. Mungkinkah matanya akan dicungkil atau ditusuk oleh benda tajam itu? Lalu bibir?
"Waktumu habis! Jadi mana yang menjadi pilihanmu? Tapi .., manapun yang menjadi pilihanmu tidak akan membuatmu lepas dari rasa sakit sehingga mati lebih baik bagimu," bisik Zeha mengerikan.
Lelaki yang terikat pada bangku itu diam membisu. Sungguh berat bibirnya itu mengantarkan sesuatu miliknya pada mantan bosnya itu. Rasa sakit yang terus tersalur dari lengannya yang terputus membuatnya berkeringat sebesar biji jagung. Ia menggeleng lemah, tiada yang menjadi pilihannya.
"Aku butuh jawapan bukan gelengan! Atau kau ingin nyawamu yang melayang?!" Kembali Zeha dapatkan gelengan dari lelaki itu yang semakin membuat Zeha menggeram. "Jangan membuang waktuku, sial*n!"
"S-s-saya ... saya ...."
"Lelet! Saya apa?!"
"Bi-b-bibir--"
"Baiklah, jika kau katakan begitu."
"Aaarrrrgggglkkkkkkk~~"
Lelehan darah mengalir keluar bagai air mata saat mata lelaki itu Zeha tancapkan pisau secara tiba-tiba, lalu ia tekan semakin masuk membuat lelaki itu tiada henti meraung. Ingin rasanya ia mati saja daripada harus merasakan sakit yang menyiksa batin seperti yang ia dapatkan sekarang ini. Seandainya bisa mengulang waktu maka ia tidak akan mendekati atau menyentuh Aeri lagi. Ia menyesal, semenyesalnya- nyesalnya.
"Nikmat bukan? Senikmat saat kau menyentuh bokong Aeri!"
Rasa sakit itu semakin bertamba dikala Zeha malah memutar benda tajam tersebut di dalam sana. Namun, teriakan lelaki itu membuatnya berdecih. Suara teriakan nyaring itu mengganggu telinganya.
"Diam!"
Rasa sakit tersebut membuat lelaki itu tuli. Rasa sakit pada tangan puntung juga mata yang ditusuk membuatnya tak bisa untuk berhenti meraung melampiaskan rasa yang menyiksanya.
Zeha yang jengkel langsung menancapkan pisau tersebut pada mata sebelahnya lagi semakin membuat lelaki itu berteriak. Darah mengalir deras kala Zeha menarik pisau itu bersama mata yang tertarik. Kemudian, menarik diri, berdiri dengan bersedekap dada di hadapan lelaki itu. Zeha tersenyum evil melihat mangsanya tersiksa batin dan raga.
Zeha mengulurkan tangan. Sebuah pistol dengan peredam refleks anak buahnya letakkan di atas tangan besarnya. Dengan wajah tidak berperasaan, Zeha menodongkan benda itu tepat ke arah mulut yang terus berteriak.
Dorr!