
"Ah, sial!" Gumam Aeri berdecak sebal membayang kejadian tadi pagi. Rasanya ia menjadi kesal sendiri kala mengingat permintaan lelaki gila itu. Sungguh Aeri tidak menduga itu yang akan menjadi persyaratannya. Aeri mengepal kuat tangannya dan....
Brak!
"Argkk! Toyol!"
Sontak teman makan Aeri siang itu terlonjat kaget sembari melata disaat Aeri tiba tiba mengebrak meja tempat mereka meletakkan makanan mereka. Aeri pun yang melihat itu sontak merasa bersalah.
"Aeri ada apa?" Tanyanya cemas. Soalnya tidak biasanya Aeri bersikap seperti itu.
"Maaf Yuri, maaf membuatmu kaget," sesalnya dengan membantu Yuri memungut makanannya yang berserekan di atas meja. "Aku hanya kesal pada seseorang."
"Haish! Kau membuatku hampir terkena serangan jantung!" Hardik Yuri yang hanya mendapat senyum cengengesan dari Aeri. "Kau kesal pada siapa sih?" Yuri kembali bertanya disaat semuanya telah ia bersihkan bahkan Aeri pun telah kembali duduk.
Aeri mendesah panjang. Jujur ia malas menceritakan kejadian yang membuatnya kesal itu pada Yuri, namun jika tidak ia ceritakan pasti temannya itu akan terus bertanya padanya. "Mau cerita panjangnya atau pendeknya?"
Seketika Yuri tampak berpikir. "Hmm... Pendeknya saja biar cepat selesai," sahutnya terkekeh.
"Baiklah. Tadi pagi ada orang asing gila mesum minta ciuman dariku...."
"Apa?!" Yuri histeris, matanya membulat sempurna. "Bagaimana bisa?" Yuri bertanya penasaran.
"Kau bilang pendeknya, terus kenapa bertanya lagi?"
"Ya ... begitulah. Akukan jadi semakin penasaran jika hanya itu yang kau katakan," ujar Yuri kesal. Siapapun pasti semakin tertanya-tanya jika hanya segitu yang diceritakan.
Aeri mengangguk-angguk mengiakan ucapan Yuri. "Begini... Pagi tadi ada seorang lelaki asing berbaring didepan gedung ini, jadi demi menyuruh dia pergi aku memberinya uang, tapi dia tidak mau. Dia bilang padaku, dia akan pergi jika hanya aku menciumnya. Bukankah itu terdengar gila?" Terang Aeri berapi-api. Rasa kesal itu kembali menggrogoti dirinya. Ia membuka tutup mulutnya menahan kesal.
"Wah benar-benar gila," sahut Yuri dengan mata melotot tidak percaya. "Bukankah dia juga terdengar mesum?" Tambah Yuri bergidik ngeri yang sontak membuat Aeri merinding juga.
"Aku juga merasa dia orang gila yang lari dari rumah sakit jiwa."
"Terus? Apa kau memberikannya?"
"Apa kau gila?!"
"Siapa yang tahu, kan?"
"Ya! Kau jangan berpikir sembarangan!"
"Hahaha... Baiklah... baiklah," Yuri mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Jadi?"
"Terpaksa lelaki itu merasakan betapa pahitnya cap limaku ini," sahut Aeri menunjukkan tangannya. Ia seolah masih bisa merasakan perih itu di sana saat membayangkan betapa kuat ia melayangkan tangan tadi.
"Kau menamparnya?!" Tanya Yuri sedikit kaget. Pasalnya ini pertama kali ia mengetahui teman seproposinya itu kasar. Setahunya Aeri tidak pernah atau bahkan tidak ingin menyakiti orang sekitarnya. Kwon Aeri adalah sosok gadis yang lembut.
Jadi, Yuri bisa menafsirkan bahwa lelaki itu sudah kelewatan batas sehingga membuat seorang Aeri berlaku kasar.
"Lelaki brengsek mesum seperti itu memang harus diberi pelajaran!" Sahut Aeri berapi.
.....
T. Jeon baru saja membaca sebuah dokumen yang berkaitan dengan kerjasama J'Foodies dengan salah satu hotel yang sedari dulu selalu ingin menjalin kontrak dengannya. Namun, sebelum selesai pikiran T. Jeon sudah terganggu.
"Taehoon... Apa yang Zeha lakukan sekarang?" Tanyanya menutup dokumen berwakna coklat itu. Ia membawa atensinya pada Taehoon selaku asisten pribadi yang merangkumi segalanya.
"Zeha sekarang berada di apartemennya tuan, tapi saya baru menerima pemberitahuan bahwa Zeha kembali membawa wanita pulang bersamanya," jelas Taehoon yang mendapat helaan napas resah dari sang majikan.
Memang Taehoon telah mengabdikan hidupnya dalam keluarga Jeon selama bertahun-tahun bahkan sejak Zeha masih kecil lagi. Taehoon atau nama lengkapnya Lee Taehoon adalah anak yatim piatu yang dipungut oleh T. Jeon sendiri saat Taehoon sedang demam terkapar tak berdaya di jalan trotoar saat umurnya baru 10 tahun lebih yang mana saat itu Zeha baru berumur 3 tahun.
Dengan rasa hutang budi yang tinggi, Taehoon berjanji pada dirinya untuk melayani T. Jeon dengan baik sebagai bentuk balas budinya. Walau kadang sang majikan melarangnya melakukan itu, bahkan ia sudah dianggap sebagai anak oleh T. Jeon dan kakak oleh Zeha, namun Taehoon tetap pada pendiriannya. Jadi tidak heran jika Taehoon mengetahui semua masalah yang ada dalam keluarga tersebut.
"Wanita... Wanita... Wanita! Hanya itu yang dia tahu!" Emosi T. Jeon mengingat sikap Zeha yang suka bermain wanita. Ia memijit pelipisnya yang terasa nyeri.
"Mungkin Zeha masih merasa terpukul atas apa yang terjadi pada kakaknya tuan," sahut Taehoon turut merasa resah. Bagaimana pun mereka tumbuh besar bersama.
T. Jeon melangkah mendekati dinding kaca yang memperlihatkan kota soul. "Kejadian itu sudah lama Taehoon, bahkan sudah lewat 3 tahun dan Zeha masih seperti itu, malah semakin parah."
"Sepertinya Zeha sudah terlanjur benci terhadap wanita...," bisik batin Taehoon
"Entah sampai kapan dia seperti itu? Aku sudah menarik semua fasilitas yang aku berikan agar dia berubah, namun Zeha malah semakin para."
Sejenak T. Jeon berpikir. Bukankah ia telah menarik semua fasilitas itu? Terus dari mana Zeha mendapat uang untuk membayar para wanita wanita itu. Bahkan sampai memiliki apartemen sejak lama.
"Ada yang aneh Taehoon-ah." Taehoo mengernyit bingung menatap T. Jeon yang berbalik menatapnya. "Dari mana Zeha mendapat uang untuk membayar semua wanita itu?"
✾✾✾
"Ahh.. Ze--haa ahhh...."
"Apa auhh sayanghh?"
"Zehaahh ahh le--bihh kuatt ahh!"
Wanita itu terus mendesah nikmat. Kedua tangannya memegang kuat pembatas besi yang berada di kedua sisi tubuhnya. Jujur ia takut jika ada yang melihat mereka melakukan itu di balkon apartemen Zeha, namun entah sejak bila ia tidak menghiraukan semua itu lagi saat Zeha bermain begitu hebat pada tubuh bawahnya, membuat ia lupa akan segalanya.
Dengan smirk di wajah, Zeha menunaikan permintaan wanita itu dengan senang hati. Kulit keduanya diterpa angin sore dikegiatan panas mereka. Hujaman demi hujaman Zeha berikan pada sang wanita hingga membuat wanita itu berhasil keluar. Ia jatuh lemas pada dada polos lelaki di hadapannya itu.
"Kau begitu hebat Zeha," puji wanita itu dengan napas yang ngos-ngosan.
"Dan kau masih saja nikmat seperti biasa Sein. " balas Zeha menggoda seraya menarik dagu itu, membuka mulutnya untuk meraup bibir tebal nan sexy Sein.
Dengan senang hati Sein menyambut dengan bibir yang terbuka. Membalas ******* liar Zeha yang memabukkan. Tangan Sein kembali mengalung sempurna di leher kekar Zeha. Lidah keduanya saling membelit dan *******. Kepala mereka bergerak liar kiri kanan bahkan hidung mancung mereka saling bertabrakan dengan bibir yang bergesekan liar. Menarik wajah hanya untuk meraup oksigen lalu kembali saling menyambut dengan kedua bibir yang terbuka. Bahkan lidah Zeha lebih dulu terjulur memasuki rongga mulut Sein. Seakan tidak puas mereka kembali membangkit gairah yang membara.
Kedua tubuh tanpa sehelai benang itu menempel sempurna seperti sebuah prangko. Bahkan milik Zeha masih terbenam di dalam tubuh Sein. Sesekali Sein melenguh saat Zeha bergerak hingga membuat terjadinya gerakan halus di bawah sana yang membuat tubuh serasa tersengat listrik.
Zeha mengangkat Sein hingga membuat tautan bibir dan sesuatu yang sedari tadi menyatu terlepas bergitu saja. Kaki jenjang Sein refleks melingkar pada pinggang Zeha bersamaan dengan tangan yang mengalung. Gunung kembar dengan pucuk yang menegang dimainkan oleh lidah nakal Zeha.
"Ze--hahh ah...."
"Ahkh ahh... Ahh."
Kaki lelaki itu melangkah masuk dengan lidah yang terus memainkan pucuk gunung kembar Sein. Mengitari lalu menyedotnya kuat lalu kembali melepasnya hingga membuatnya melantun seperti bola basket.
Zeha mendudukkan tubuhnya pada sofa yang berada diruang tengah tanpa melepaskan Sein. Jadi saat ini Sein duduk dipangkuan menghadap Zeha dengan kedua paha yang terbuka--berada di kedua sisi tubuh Zeha.
"Apa kau juga melakukan hal yang sama pada wanita lain?" Tanya Sein saat mereka beradu pandang. Entah mengapa Sein tiba tiba memikirkannya. Ia seolah tidak rela membiarkan Zeha melakukan hal ysng sama pada wanita lain. Ya, walaupun ia tahu Zeha begitu suka bermain wanita.
"Kau cemburu?" Zeha tersenyum miring mendapati wanita itu telah memiliki rasa padanya. "Sein, sudah aku katakan bahwa aku tidak akan mencintaimu bukan?" Tukas Zeha sembari meremas lembut kedua dada Sein.
"Euhh ta-tapi ahhhk!" Sein mendesah kaget saat Zeha memilin kuat pucuknya yang menegang.
"Ingat! Kau sendiri yang mengantarkan dirimu padaku. Dan kau juga setuju tidak akan pernah melibatkan perasaan. Jadi, jangan cuba untuk membahasnya lagi karena aku tidak suka!" Suara bernada lembut itu membuat tubuh Sein membeku. Ancaman yang terdengar lembut namun sarat akan penekanan dalam setiap kata yang mematikan.
Sein mengangguk mengiakan. Ia tidak bisa memancing amarah lelaki itu, jika tidak ia akan dalam bahaya. Ia tidak ingin nyawa meninggalkan tubuhnya.
Sebelas alis lelaki itu terangkat. "Kau boleh pergi kalau kau mau." Sontak kepala itu menggeleng yang sukses menimbulkan senyum evil itu di wajah Zeha.
"Kalau begitu, berikan ini padaku," pinta Zeha mencolek pucuk kecoklatan milik Sein yang telah sedikit besar dari bentuk asalnya akibat ulah Zeha yang selalu menyesapnya.
"Bukankah ini memang milikmu, tuan muda Zeha?" ucap Sein tersenyum menggoda, semakin menimbulkan smirk evil yang membuat Sein merinding, namun ingin. Kedua tangan Sein memegang bahu lebar Zeha, seraya menggesek-gesekkan kedua buah dadanya pada dada bidang Zeha, membuatnya mengeram nikmat dengan kepala yang mendongak kala puncak yang menegang miliknya bergesekan dengan kulit Zeha.
Niat ingin menggoda sang lelaki, namun malah ia yang terpancing oleh tindakannya sendiri.
"Benarkah?" Zeha menjilat leher Sein yang terekspos, lalu menyesap kulit mulus itu sehingga meninggalkan bekas keunguan.
"Aahh...." Sein menjambak rambut belakang Zeha dengan lembut. "Yaa.. ahhh." Ia sudah tidak mampu berkata, lelaki itu begitu pandai mempermainkan tubuhnya.
"Kalau begitu, berikan padaku sekarang!" Ujar Zeha bernada perintah. Ia menanti Sein yang mulai menangkup buah dada kanan dengan tangan kirinya, sedang sebelahnya lagi memegang lembut rahang Zeha lalu sedikit menekan agar mulut yang sengaja Zeha tutup terbuka. Ia ingin Sein sendirilah yang memasukkannya.
"Euhh susuilah tuan muda Zeha," ucap Sein lembut saat buah dadanya telah masuk memenuhi rongga mulut Zeha.
Lelaki itu tersenyum samar sebelum mulutnya mulai menyesap benda itu dengan liar.
Srauppm
Srauppm
Bagai bayi yang kehausan Zeha menyusu pada buah kenyal milik Sein yang cukup besar.
"Ahh.. ahhh Ze--ahh...."
Lidah Zeha terus mengitari pucuk yang berada dalam mulunya, sembari bibir terus menyedot dan mengulup hingga membuat kedua belah pipi Zeha kembang kempis. Sedang Sein yang terus mendesah menekan wajah Zeha agar semakin dalam menyusuinya.
"Aahhh eummhh... "
Zeha bergantian memasukkan bagian sebelahnya lagi, sembari kedua tangannya mengangkat bokong polos Sein, lantas mensejajarkan miliknya yang telah menegang untuk kembali masuk ke tubuh Sein. Mulutnya sibuk mengulum, menyesap dengan liar kedua dada Sein sebelum ia melepaskan bokong padat itu jatuh dan miliknya sontak menancap di tubuh bawah Sein, membuatnya menjerit antara nikmat dan perih.
"Ahhhhkkk...."
"Gerakkan pinggulmu!" Tukas Zeha masih sibuk menikmati buah kenyal kesukaannya dengan sebelah tangan meremas yang lainnya.
"Eugghhh...." Zeha mengeram menikmati gerakan Sein yang naik turun. Namun itu tidak membuatnya berhenti dari kegiatannya. Zeha tersenyum remeh, mendapati sang gadis telah memakan umpannya. "Dasar wanita pelacur!" Makinya dalam hati.
"Ahh ahh ahhh...." Racau Sein mendesah. Ia dihantam di dada juga pada pusat tubuhnya secara bersamaan, membuatnya gila dengan tubuh yang bergetar.
Entah bagaimana, Zeha malah mengingat seseorang yang ia temui tadi pagi. Sudut bibirnya tertarik samar dengan bibir yang terus bergerak menikmati dada Sein. Seingat dirinya belum ada yang seberani itu pada dirinya.
"Sangat menarik."