
Yohun melepaskan tangan wanita yang bisa dikatakan sebaya dengan ibunya. "Menamparnya adalah suatu kesalahan. Ibu bisa dituntut atas tindakan kekerasan jika gadis ini mau ...."
"Kau siapa? Kau tidak tahu seberapa busuknya dia," sahut ibu itu mendesis seperti ular dengan tatapan tajam menghunus pada Aeri.
"Tiada yang lebih mengenalnya dari pada aku."
Aeri hanya diam di belakang Yohun. Tatapan matanya tertuju pada Yohun, dalam sorot mata yang sulit diartikan.
"Ouh ... kau mungkin temannya, jadi tolong katakan pada teman ularmu itu untuk bisa menghormati orang yang lebih tua!" tukasnya lantang, sengaja mendengarkannya pada Aeri. Ya, Aeri mendengarnya dengan tangan mengepal. Ia kesal pada dirinya yang begitu sial.
"Bukankah kalian yang memulainya?" Keempat wanita setengah baya itu terdiam. "Gadis yang berdiri dibelakangku ini bukan jenis orang yang akan mencari masalah dengan orang lain seperti kalian!" Desis Yohun mulai tersulut emosi. Ia mengenal Aeri seperti apa, baik dan buruk gadis itu.
"Bisa saja apa yang kalian ketahui itu bukan cerita sebenarnya. Kalian tidak bisa menghina tanpa bukti yang jelas! Apa kalian sudah begitu bagus sehingga menghina orang lain?"
"Yohun ...." Aeri menarik lengan baju lelaki itu.
"Tidak Aeri, mereka harus diberitahu, jika tidak mereka tidak akan sadar." Aeri hanya menghela napas panjang mendengar ucapan Yohun. Itu semua ada benarnya, tapi mereka akan jadi bahan tontonan nantinya.
"Kalian pasti memiliki anak perempuan, kan? Bayangkan ... bagaimana jika anak perempuan kalian berada di posisinya? Bayangkan jika anak perempuan kalian mendapat hinaan dan cacian yang seperti kalian katakan?"
Keempat wanita itu semakin terdiam dengan bibir digigit. Mereka lupa bahwa karma itu berlaku untuk semua manusia di atas muka bumi ini.
"Ingatlah perbuatan jahat akan dibalas jahat begitu juga sebaliknya. Jadi, berpikir dulu sebelum melakukan sesuatu! Jangan sampai ucapan kalian memakan diri kalian sendiri." Sebelum berlalu mereka sempat berdecih tidak suka dinasihati oleh seseorang yang lebih muda dari mereka. Itu seperti merendahkan diri mereka walau semua yang diucapkan Yohun benar.
Yohun hanya geleng kepala melihat tingkah mereka yang kurang manusiawi. Mengkritik, tetapi tidak sadar diri sendiri lebih buruk dari orang yang mereka kritik.
"Aeri ... kau baik-baik saja?" Yohun memutar tubuh.
"Sejak berita itu keluar aku sudah biasa dengan hinaan tidak berdasar dari orang-orang," sahut Aeri tanpa menatap bola mata Yohun yang menanti. "Bahkan sedari dulu aku sudah direndahkan bahkan dipergunakan."
Deg!
Entah Aeri sengaja atau bagaimana ucapannya itu telah berhasil mengenai Yohun dan semakin membuat lelaki itu merasa bersalah.
"Aku minta maaf--"
"Sudahlah, itu bukan salahmu. Salahku karena begitu percaya pada orang yang berbuat baik padaku. Aku memang bodoh."
Hap!
Tangan Yohun bergerak cepat menutup mulut gadis yang tampak sedih dihadapannya itu. Sebelah tangan Yohun mengepal kuat mendengar ucapan Aeri yang kembali menyakiti hatinya. Betapa bodohnya ia telah menghianati kepercayaan Aeri terhadapnya.
"Aku mohon jangan berbicara seperti itu, kau membuatku terluka dengan demikian ... jangan salahkan dirimu, aku mohon."
Aeri menyentuh tangan tangan besar Yohun yang berada di atas bibirnya. Entah mengapa rasa benci kini berbaur dengan rasa rindu yang tiba-tiba Aeri rasakan pada Yohun.
Aeri tersenyum miris. "Aneh. Mengapa kau bisa merasa terluka? Aku tidak menyakitimu. Aku mengatakan sesuatu yang benar ...."
"Aeri!" Yohun terkesan memohon.
Namun, Aeri malah berbalik dan melangkah dengan membawa barang belanjaannya. "Itu tidak penting. Aku ingin bertanya, kenapa kau ada di sini? Kau mengikutiku?"
"Tidak!" Sangkal Yohun menyamai langkah Aeri. "Aku hanya kebetulan lewat, lalu aku melihatmu bersama ke-empat ibu-ibu tadi .... sini aku bantu."
"Tidak perlu!" Aeri menarik tangan saat Yohun berusahan mengambil barang yang berada ditangannya.
"Aeri ...." Yohun kembali meraih tangan Aeri dan menahan gadis itu. "Kau berhak untuk membenciku dan aku tidak akan memaksamu untuk memaafkanku, tapi tolong jangan halangi aku untuk membantumu atau berbuat baik padamu, itu hak ku."
"Kau benar. Tapi, aku juga berhak untuk menolak pertolonganmu!" Aeri kembali melangkah, membungkam Yohun dengan kata-katanya yang ada benarnya.
Lama Yohun memperhatikan Aeri yang kian menjauh, sebelum seketika ia melihat jalan Aeri yang terkesan pincang-pincang. Yohun lantas mengejar, lalu menghentikan tungkai Aeri dengan berdiri di hadapan Aeri.
"Ada apa dengan kakimu?" Tanya Yohun mengabaikan ucapan Aeri.
"Ini bukan apa-apa," sahut Aeri melewati Yohun.
"Itu bukan jawapannya Aeri ...." Yohun mengejar.
"Hanya terseliuh."
"Kalai begitu aku akan menghantarmu."
"Tidak perlu," tolak Aeri cepat seperti angin.
"Aku tidak meminta pendapatmu!"
"Yohun!"
Tanpa peduli dengan protesan Aeri, Yohun merampas barang belanjaan gadis itu dari tangannya.
"Tolong jangan keras kepala Aeri. Lagian aku tidak akan menyakitimu."
"Aku bisa pulang sendiri, kakiku sudah tidak sakit lagi."
"Sudah tidak sakit, tapi masih pincang?" Aeri terdiam. Ia tidak pandai berbohong. "Kalau kau tetap keras kepala aku akan menggendongmu, kau mau?"
Sudah tentu ancaman Yohun berhasil. Mana mau Aeri digendong. Apalagi itu ditempat khalayak ramai. Aeri pun berdecak kesal tidak dapat menolak Yohun, secara perlahan ia pun mengikuti langkah Yohun menuju mobil lelaki itu.
"Kau ingin memasak?" Yohun bertanya saat memasukkan belanjaan tersebut ke dalam bagasi.
"Hmm ... aku ingin mengunjungi ayahku," sahut Aeri membuat Yohun bergeming.
"Apa beliau telah sadar?"
"Iya. Sebab itulah aku ingin memasak makanan kesukaannya."
"Aku akan ikut denganmu, boleh?" Aeri kontan menoleh. "Aku mohon jangan melarangku, please," mohon Yohun.
Seketika Aeri tampak berpikir dengan manik memindai wajah Yohun. Lelaki di hadapannya itu sudah begitu tersiksa dengan rasa bersalah atas kesalahan yang telah dilakukan. Sebenarnya perbuatan tersebut bukan sepenuhnya karena keinginan Yohun melainkan perintah dari orang tuanya. Begitu jahat rasanya jika Yohun dipersalahkan seratus persen. Lagian Aeri bukan orang jahat yang senang atas penderitaan orang lain, lagian Yohun sepertinya sudah benar-benar berubah, ia tidak lagi seperti dulu.
"Emm ... baiklah."
"Benarkah? ... terima kasih banyak Aeri." Ya, tuhan ingin rasanya Yohun memeluk gadis mungil di hadapannya itu, tetapi ia harus mengontrol rasa senangnya lantaran takut Aeri malah akan semakin membencinya.
"Kalau begitu aku akan mengantarmu sekarang," ujar Yohun semangat.
"Eh ... tunggu dulu. Aku harus pulang untuk memasak."
"Baiklah, aku akan menunggu."
"Aku masak lama Yohun, kau akan penat menunggu."
"Tidak apa, itu bukan masalah untukku."
Aeri menggigit bibir. Apa yang harus ia lakukan? Sekarang ia tinggal di rumah atasannya, tidak mungkinkan Aeri membawanya ke sana. Aeri berpikir dengan gelisah. Jika Aeri mengatakan apartemen tersebut tempat tinggal barunya, pasti Yohun tidak akan percaya kerana Aeri tidak punya uang untuk menyewa apartemen mewah seperti milik Zeha itu.
"Nanti aku tidak masuk kantor. Batalkan semua meeting yang ada hari ini, atau apa pun itu pindahkan ke besok. Aku ada urusan lain," ucap Yohun di telpon setelah mobil miliknya bergerak. Aeri yang duduk di samping tersita perhatiannya.
Melihat Yohun membuatnya semakin gelisah. Ia belum menemukan jawapan yang pas atas pertanyaan Yohun nanti.
Bagaimana ini?