
"Akhirnya aku menemukanmu, Aeri."
Deg!
Aliran darah ditubuh Aeri semakin laju memompa ke jantung sesaat setelah mendengar suara dalam itu. Sungguh Aeri rasa tidak sanggup jika ingin menatap wajah itu. Rasa rindu yang cuba ia buang jauh mencuat dengan menggebu-gebu di dada.
Namun, bayangan pahit yang lelaki itu ciptakan membuat Aeri kembali menegarkan hati bahwa lelaki itu bukan untuknya. Secara perlahan bola mata Aeri bergulir naik menemui wajah yang sudah setahun lebih tidak ia lihat.
Deg! Deg!
Refleks Aeri mengambil langkah mundur. Tanpa diminta lihuid bening itu mengalir dengan sendirinya.
"Aeri--"
"Yohun mana?" potong Aeri cepat. "Kau lakukan apa padanya?" tuding Aeri tajam. Ia sangat tahu segila apa lelaki itu.
"Yohun keluar! Kenapa kau membawaku ke sini?" Aeri melihat sekitar dengan gelisah. Ia tidak percaya Yohun akan meninggalkannya bersama lelaki itu.
𝘚𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪? Lirih Aeri dalam hati. Derai air mata terus membasahi pipi. Ia ingin segera pergi dari tempat itu.
Greb!
Tubuh kecil itu kaku ditempat. Terdiam seribu bahasa saat tangan kekar dan besar itu melingkari pundak dan perut datar miliknya. Hanya air mata yang terus mengalir mewakili perasaannya.
"Aku terus mencarimu, Aeri."
"Le--lepas."
Bukannya melepaskan, dekapan tersebut malah semakin erat menjerat Aeri.
"Aku merindukanmu. Sangat."
"Bukankah Tuan tidak ingin melihatku lagi? Tuan membenciku karena anak dari ibu tiri Anda, kan? Jadi buat apa Anda mencariku lagi?"
Zeha membenamkan wajahnya diceruk leher Aeri. Ia menggeleng, menafikan ucapan Aeri.
"Aku hanya tidak ingin membuat Anda tidak nyaman dengan keberadaanku."
"Tidak Aeri, tidak. Aku tidak membencimu, bahkan walau hanya sekali hal itu tidak pernah terlintas dibenakku. Aku hanya butuh waktu. "
Isakan yang keluar dari balik mulut Aeri semakin terdengar. Selama setahun ia mencuba membuang perasaan itu, namun dalam sekelip mata kembali mekar. Lebih-lebih lagi rasa sakit yang Zeha ciptakan semakin menyayat hati Aeri.
"Maka dari itu aku pergi."
"Tapi, kau pergi seolah ingin meninggalkanku. Kau tahu betapa sengsaranya aku tidak dapat melihatmu setahun ini?"
"Apa Tuan juga tahu betapa sakit dan hancurnya hatiku? Tuan tidak pernah menghargai keberadaanku. Anda membuatku seperti barang yang bisa dibuang kapan saja."
"A-aeri...."
Isakan halus yang terdengar tepat ditelinga Aeri membuatnya bergeming. 𝘋𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘪𝘴?
"Aku mohon maafkan aku." Aliran air mata itu begitu terasa di bahu Aeri. Aeri menggigit bibir.
"Aku sudah memaafkan Anda--"
Bagai gerakan slow motion, Zeha memutar tubuh itu, menghempasnya masuk ke dalam dekapan eratnya.
"Maafkan akuu...."
Air mata Aeri kembali mengalir. Hati lembutnya tersentuh oleh kerapuhan Zeha detik itu. Ini adalah pertama kalinya Aeri melihat sisi lemah seorang Zeha. Ia sungguh tidak mengira bahwasanya Zeha akan begitu kehilangan dirinya.
Kedua tangan Aeri terangkat secara perlahan demi membalas pelukan erat itu. "Aku tidak pernah marah dan benci pada Tuan. Jadi jangan sedih lagi, ya?"
"Tapi kau pasti sangat kecewa padaku."
Aeri terdiam. Bibirnya terasa kelu dan berat untuk menjawap pertanyaan tersebut. Aeri tidak dapat menyangkalnya. Pelukan itu perlahan-lahan dileraikan oleh Aeri.
"Nasi sudah menjadi bubur Tuan. Setahun sudah berlalu maka, Anda harus melepaskanku. Aku tidak bisa terus berada di sisi Tuan lagi. Aku harap Tuan mengerti."
Tubuh yang bergerak menjauh itu kembali dicekal pergelangannya oleh Zeha. "Tidak! Aku tidak akan melepasmu. Tidak akan!"
Dengan membelakangi Zeha, kepala Aeri menunduk dengan linangan air mata. Ia tidak ingin menangis lagi. Sudah cukup air matanya tumpah untuk lelaki itu.
"Tidak! Kau sudah berjanji akan terus berada di sisiku, kau lupa?"
"Aku ingat Tuan."
Aeri menepis tangan Zeha kasar, lalu berbalik menatap Zeha tajam. Dan hal tersebut membuat Zeha terkesima tidak percaya. Mata yang dulunya terlihat begitu indah dan tenang walau bagaimanapun keadaannya, namun kini manik itu tampak begitu gelap hingga membuat Zeha membatu dengan air mata yang sontak mengalir.
𝘈-𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘣𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢. Zeha mengepal, marah pada dirinya sendiri.
"Tapi aku terpaksa, aku terpaksa mengatakannya. Karena Tuan mengancamku! Tuan ingat!"
Napas Zeha tercekat dengan mulut terbuka. Tentu saja ia mengingat semua itu. Kepala Zeha jatuh menunduk. Malam itu tiada hentinya ia mengucapkan kata maaf.
"Maaf... Maaf Aeri aku mohon...."
"Anda tidak bersalah. Aku yang bodoh." Aeri tertawa miris membayangkan dirinya waktu itu. "Aku... aku jatuh cinta pada Tuan walau Anda memperlakukanku dengan buruk. Dan Anda adalah bos dan aku hanya pekerja, sungguh tidak tahu malu."
"Tidak Aeri." Zeha kembali menggapai tangan kecil Aeri, menggenggamnya erat agar Aeri tidak dapat melepaskannya. "Aku mohon jangan katakan cinta sucimu seperti itu. Aku yang egois, jadi bisakah kau memberiku satu kesempatan--"
"Aku sudah capek Tuan." tolak Aeri cepat, seraya menarik tangan yang tak dapat ia lepas walau bagaimanapun. "Semua sudah berlalu begitu juga dengan perasaanku."
Deg!
Zeha bergeming. Apa yang baru saja Aeri katakan membuat dunianya benar-benar hancur tak berkeping. Gelengan kepala terlihat bersamaan dengan genggamannya yang terlerai perlahan. Air mata kehancuran kembali terlihat.
"Tuan ... harus melepaskanku." Aeri berbalik, siap untuk pergi. "Tidak berguna menahan seorang wanita yang tidak Tuan cintai," lanjut Aeri, seraya melangkah pergi.
Tidak. Zeha sangat yakin bahwa Aeri masih mencintainya, sama seperti dulu. Mungkin dulu ia begitu jahat dan kejam pada Aeri. Memperlakukan wanita itu seenaknya tanpa peduli apa yang ia rasakan, tanpa peduli sesakit apa hatinya.
Tapi itu tidak akan terjadi lagi. Zeha yakin akan hal itu karena kini ia tahu seberapa berharga dan bermaknanya diri Aeri terhadapnya.
"Aku mencintaimu Aeri!" aku Zeha lantang menghentikan ayunan kaki Aeri. Kedua tangan Aeri mengepal kuat.
𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘛𝘶𝘢𝘯?𝘥𝘪𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘭𝘦𝘭𝘦𝘩. Kepala Aeri tertunduk lemah.
"Waktu menyadarkan diriku apa makna dirimu dalam hidupku. Kau segalanya. Kau temanku, ibuku, saudaraku, nafasku, duniaku, hidupku dan kau juga kehancuranku. Aku tidak pernah merasakan seperti ini sebelumnya, sekalipun itu Jinha. Kau menyadarkanku akan segalanya, Aeri. Aku sangat mencintaimu, bahkan aku merasa sesak dengan perasaan dan rasa rindu yang aku rasakan. Jadi aku mohon jangan pergi...."
"A--aku tidak bisa." Aeri menggigit bibir, menahan desakan yang menyiksanya. Ia kembali melanjutkan langkah, tetapi beberapa saat kemudian apa yang Zeha lontarkan kembali membuatnya berhenti.
"Jadi, benar kau tidak mencintaiku lagi?" tanya Zeha tiba-tiba.
Aeri tidak ingin menjawap, ia menahan diri dan kembali melanjutkan tungkai kakinya meninggalkan rooftop.
"Jadi kau memang tidak mencintaiku lagi. Baiklah...
Dengan ketiadaanku maka kau akan terlepas dan bebas dari belenggu yang terus mengikatmu. Aku tidak menyesal walau kau tidak mencintaiku lagi. Aku sangat menyayangimu dari lubuk hatiku yang terdalam Aeri. Mengenal dan diperhatikan olehmu adalah hal terindah yang tidak akan aku lupakan sampai kapanpun. Aku mencintaimu."
Sejak mendengar perkataan 'ketiadaanku' tungkai Aeri mulai terhenti dan merasa ada yang aneh. Zeha seperti akan melakukan sesuatu yang sulit untuk di bayangkan. Semakin kebelakang, ucapan Zeha membuat Aeri tidak tenang.
Tepat saat Aeri berbalik tubuh Zeha sudah jatuh dari lantai teratas gedung tersebut. Aeri membatu. Hal itu terjadi tepat didepan matanyanya. Zeha bunuh diri karena dirinya.
𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬!
"Ti--tidak!" kakinya kontan mengambil langkah lebar mendekati pembatasan simen yang setinggi perut. Air matanya melaju dengan deras.
"Tidak! ... Zeha --- Tuan Zeha... hiskk." Sambil menangis Aeri melihat ke bawah yang mungkin saja tubuh sang Tuan telah terhempas dengan dasyatnya.
Aeri menutup mulut dengan tangannya yang bergetar, menahan isakan yang terus mendesak keluar. Ia tidak tahu jika Zeha melakukan ini. Seseorang bunuh diri karenanya.
"Kau tidak berguna Zeha hisk. ..," ujar Aeri terisak pilu. Tubuhnya merosot secara perlahan hingga berjongkok. "Kau payah, s-sangat payah! Aku membencimu."
Jika tahu akan terjadi seperti ini, maka Aeri tidak akan mengatakan apapun, ia akan pergi tanpa peduli dan menoleh lagi. Kata-kata Zeha membuat atensinya teralihkan. Jika sudah seperti ini kejadianya, Aeri harus bagaimana?
"Hisskk... K-kau seharusnya m-me--menyakinkanku lagi. Kenapa k--kau tidak mengejarku? Ka-ka--kau bodoh! Kenapa kau tidak me--melihat cinta di mataku! Ahhhh hisshk." Aeri menangis sejadi-jadinya di sana. Air matanya tumpah tanpa bisa dibendung lagi. Ia tidak akan pernah bisa melihat Zeha lagi.
"A-aku mencintaimu, masih mencintaimu dan a-akan se-selalu mencintaimu hisskk." Tangan Aeri terus memukul dadanya yang terus menyiksanya sedari tadi.
"Aku mencintaimu." liriknya seraya membenamkan wajah diantara kedua lutut.
"Benarkah?"