
Sudah dua hari lalu sejak Zeha mengajak Aeri mengunjungi makama dari ibunya, dan malam itu terakhir kalinya mereka bertemu. Aeri tidak tahu apa yang telah terjadi pada atasannya itu, sehingga selama dua hari ini tidak masuk.
Mau tidak mau, Aeri terpaksa mengundur semua meeting yang ada dengan alasan Zeha tidak masuk karena sakit. Bahkan telah banyak berkas yang menumpuk di atas meja kerja yang membutuhkan tanda tangan lelaki tersebut.
Aeri juga tidak berani menelpon, takut nanti malah mengganggu pekerjaan yang tidak ia ketahui, yang mungkin sedang dilakukan oleh Zeha-atasannya. Jadi, Aeri harus bersabar dengan pikiran yang terus melayang memikirkan keberadaan sang Tuan.
"Eh ... sekretaris Kwon sudah mau pulang?"
Oh, iya. Sejak conferencepers itu selesai, semua karyawan di perusahaan J'Foodies telah berubah. Mereka tidak lagi memandang hina atau benci pada Aeri, bahkan ada yang meminta maaf atas sikap kurang ajar-nya terhadap Aeri.
Mereka menyesal karena mempercayai berita hanya karena sebuah foto yang tercantum. Padahal belum ada bukti apapun mengenai perihal tersebut. Lantas, selama dua hari ini, Aeri sedikit merasa canggung karena banyak karyawan yang mulai menyapa dan menunjukkan hormat padanya sebagai seorang sekretaris dari atasan mereka.
Seperti saat ini. Salah seorang wanita dari bagian resepsionis menyapa Aeri yang baru saja keluar dari lif. Aeri hanya tersenyum kaku sebagai tanggapan dari teguran itu. Jujur, ia masih merasa canggung dengan semua perubahan karyawan terhadapnya.
"Sudah dua hari ini aku tidak melihat Tuan Zeha. Apa beliau tidak masuk kerja?" Tanya wanita itu lagi.
"Erkk ...." Aeri merasa bingung harus menjawap bagaimana pertanyaan itu. Sampai-sampai tangannya menggaruk leher walau tidak terasa gatal. "Aku pun tidak tahu karena beliau tidak mengatakan apa-apa padaku." Akhirnya Aeri pun mengatakan yang sebenarnya.
"Apa mungkin Tuan Zeha sakit?"
"Sakit?!" Aeri tampak terkejut dengan ucapan itu. Tapi, apa yang diucapkan oleh wanita resepsionis itu boleh saja benar.
"Tapi, ini mungkin sih. Karena tidak biasanya Tuan Zeha seperti ini, kan?" Aeri hanya mengangguk, membenarkan ucapan tersebut.
"Tuan Zeha tidak pernah mengabari?"
Aeri tersenyum dengan pertanyaan tersebut. "Tidak mungkin juga Tuan Zeha mengatakan padaku. Aku hanya sekretaris beliau dan tidak lebih."
"Tidak ada yang tidak mungkin. Lagian aku setuju kok kalau Tuan Zeha denganmu."
Bukan tidak pernah Aeri mendengar hal seperti ini, bahkan setiap kali mendengar, ia selalu saja dibuat kaget. Sungguh Aeri merasa aneh. Setelah conferencepers yang membersihkan namanya dari skandal yang mengatakan ia bukan wanita baik-baik, kini ia dan Zeha malah didukung untuk bersatu. Padahal sebelumnya, ia dihina dan dimaki karena konon menggoda bos sendiri. Tapi, sekarang? Sungguh membuatnya pusing.
Kadang Aeri tidak mengerti dengan pemikiran sesetengah orang. Kenapa setelah kejadian itu ia malah didukung bersama Zeha? Kenapa tidak sejak awal saja? Mengapa setelah ia terbukti tidak bersalah baru mereka mengatakan hal tersebut?
"Hehe ...." Aeri hanya tertawa kikuk sebagai respon. "Aku pulang dulu. Kalian juga jangan terlalu lambat pulangnya," tukas Aeri seraya berlalu. Karena memang waktu kantor telah berakhir.
Tepat di lobi, Aeri bertemu Gary yang tampak baru datang. Yang anehnya, lelaki yang sentiasa bersama Zeha itu hanya seorang diri.
"Gary? ... Ada apa? Tuan Zeha mana?"
"Nona Aeri silahkan ikut saya ...."
"Ke mana?" Perkataan Gary sukses membuat Aeri terlonjat bingung.
"Nanti nona akan tahu juga ... Silahkan."
Walaupun kepala Aeri dipenuhi oleh kebingungan, ia tetap mengikuti apa yang Gary perintahkan dan memasuki mobil yang lelaki itu kendarai.
"Tuan Zeha mana? Kenapa dua hari ini beliau tidak masuk?" Tanya Aeri setelah Gary menjalankan mobil.
"Tuan Zeha ada ...." kalimat yang menggantung itu membuat Aeri merasa aneh.
"Kenapa? Dia sakit?"
"Intinya sekarang aku akan membawamu ke mansion Tuan Zeha."
"Apa?!" Aeri mendelik kaget. "Apa maksudnya? Kenapa aku harus ke sana? Tuan Zeha yang memintamu membawaku?" Aeri kelabakan dan kontan bertanya secara beruntun.
"Tidak! Aku tidak ingin pergi. Nanti Tuan Zeha malah marah setelah melihatku di sana."
Aeri membuang pandangan keluar jendela mobil yang tertutup rapat. Bukan ia tidak tahu bagaimana sikap atasannya itu. Sebentar marah, lalu lembut, dan setelahnya posesif, tidak bisa ditebak. Bagaimana jika nanti Zeha malah membunuhnya karena menginjakkan kaki di mansionnya tanpa persetujuan darinya?
"Kemarin adalah hari peringatan ibu Tuan Zeha," tukas Gary tiba-tiba. Ia berhasil menarik atensi Aeri hingga menoleh padanya. "Setiap tahun, setiap tiba waktu peringatan mendiang Ny. Jeon, Tuan Zeha pasti seperti ini," lanjutnya semakin membuat Aeri bingung. 'Seperti ini' yang dimaksud Gary sebenarnya apa?
"Tapi ... tetap saja aku tidak bisa datang ke rumah atasanku tanpa persetujuan darinya ...."
"Hampir sebulan ini aku memperhatikan beliau dan aku menyadari bahwa Tuan Zeha tampak berbeda bila denganmu, nona."
Aeri mengernyit. "Berbeda? Maksudnya apa?"
"Secara perlahan, tanpa beliau sadari atau mungkin beliau mencoba menafikannya, dia mulai terikat dan bergantung padamu. Sepertinya Tuan Zeha mulai menyimpan namamu dalam hatinya."
Sungguh tidak masuk akal. Tidak, Aeri termangu tidak percaya Zeha-atasannya mulai menyukainya? Namun, sedikit sebanyak perkataan Gary memenuhi pikiran, tapi tetap saja terasa mustahil. Sikap lelaki itu malah menunjukkan kebalikannya di mata Aeri. Tiada cinta, hanya benci yang menguar.
"T-tidak mungkin--"
"Jadi tolong tengok-tengokkan Tuan Zeha ...."
Tubuh kecil itu bergeming dalam kaku. Sebenarnya apa yang telah terjadi? Entah mengapa tiba-tiba Aeri merasa cemas dengan jantung yang berdegup kencang. Bibirnya terkunci tanpa bisa menolak permintaan dari Gary.
Ia membiarkan Gary membawanya ke mansion Zeha. Pikirannya melayang memikirkan keadaan Zeha. Aeri kembali menatap keluar jendala.
"Apa sesuatu yang buruk terjadi padanya?"
...
Saat ini Aeri berdiri di hadapan sebuah pintu besar yang menjulang tinggi, bahkan daun pintunya ada dua. Ia menatap harap-harap cemas pada Gary yang mengantarnya hingga didepan pintu tersebut.
"Tuan Zeha ada di dalam. Sudah dua hari beliau tidak pernah keluar kamar ...," Gary menjelaskan. "Ini kuncinya, kalau sudah siap nona bisa masuk."
"Apa? Kau ingin aku masuk dengan kunci ini? Kenapa tidak ketuk saja?"
Wah! Aeri semakin dibuat takut oleh Gary. Bukankah ini sama saja dengannya memasuki kamar seseorang tanpa pengetahuan sang pemilik?
"Walaupun kamu ketuk sampai menangis darah sekalipun, Tuan Zeha tidak akan membuka pintu ini ...."
"Lalu ... kenapa tidak kau saja yang membukanya dan masuk? Kenapa harus aku?"
"Karena kau berbeda." Setelahnya, Gary pun berlalu meninggalkan Aeri seorang diri di sana.
Mau tak mau Aeri memasukkan juga kunci tersebut ke dalam sebuah lubang yang berbentuknya sama dengan kunci tersebut setelah menarik napas panjang. Sebelum menolak pintu, ia kembali menghela napas.
"Tuan Zeha ...."
Aeri menajamkan matanya sembari membawa kaki masuk. Keadaan malap menjadi yang pertama kali menyapa pemandangan Aeri sehingga ia harus berjalan dengan sangat berhati-hati serta tangan yang terjulur ke depan.
Betapa besarnya kamar itu hingga Aeri tidak dapat melihat, sebenarnya Zeha berada di mana, ditambah redup lampu yang menghalangi mata melihat dengan jelas. Bau menuman keras begitu kuat mengusik indra penciuman Aeri.
Srek!
Betapa kagetnya Aeri saat pergelangan tangannya tiba-tiba dicekal dengan kuat, lalu tubuhnya dihampas pada dinding membuatnya meringis. Disaat ia membuka mata, wajah merah serta manik sayu Zeha berada tepat di depan wajahnya. Napas menyengat itu membuat Aeri mengernyit.
"Kau ... kenapa bisa ada di sini?"