The President'S Crazy

The President'S Crazy
part. 84



"A-apa diantara kalian ada yang bergolongan darah tersebut?" tanya sang dokter takut-takut.


"Saya akan mendonorkan darah saya."


Baru saja Tn. Jeon ingin mengangkat bicara, sebelum disela tanpa sengaja oleh suara tersebut. Ke-empat pasang mata termasuk sang dokter menoleh secara refleks pada sumber suara.


Alis Tn. Jeon mengernyit bingung. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Tn. Jeon tepat disaat istri kedua-nya itu berhenti di hadapan mereka.


Ekspresi wajah Zeha langsung memburuk. Ia sangat tidak menyukai berada satu ruangan dengan istri kedua dari sang ayah yang notabenya adalah ibu tirinya. Dengan kurang ajar Zeha berbalik, menghadap dokter yang menangani Aeri. Niatnya ingin kembali menanyakan tentang masalah tersebut, sebelum apa yang dikatakan oleh sang ibu tiri membuatnya terhenyak karena kaget.


"Aeri adalah anakku," ujar Ny. Kim harap-harap cemas.


Taehoon dan Tn. Jeon membatu tidak percaya. Ibarat tersambar petir di siang hari.


"Apa yang kau katakan?" Tn. Jeon masih sulit untuk percaya.


"Aeri adalah anakku bersama dengan kekasih pertamaku, 20 tahun yang lalu. Hubungan kami terlarang. Karena kesilapan aku hamil. Aku takut untuk mengatakan pada ayahku. Akhirnya setelah melahirkan Aeri, aku meletaknya di hadapan sebuah pintu asuhan yatim piatu," jelas Ny. Kim sesingkat mungkin. Ia menunduk dalam, tidak berani bertemu mata dengan siapapun, terutama sang suami.


"Setelah 20 tahun, aku dipertemukan dengannya pada malam ulang tahun J'Foodies yang ke-20 juga. Saat itu Tn. Yohun yang memperkenalkannya. Tanda lahir yang terdapat diantara tulang selangkanya membuatku berpikir dan kembali teringat." Semuanya terdiam. Rasanya sungguh sesuatu yang mengejutkan dan tidak disangka-sangka.


"Aku pun menyelidiki dan mendatangi rumah asuhan waktu itu. Dari keterangan yang--"


"Lalu kenapa? Sekarang kau ingin merawatnya setelah kau membuangnya?!" desis Zeha, menoleh tajam. Mendengar apa yang ibu tirinya itu katakan membuat emosinya membucah.


"Sebagai ibu, aku hanya ingin menolong anakku," sahut Ny. Kim sendu. Ia tahu ia salah.


"Aku tidak peduli! Aku tidak ingin darah kotormu mengalir dalam tubuh Aeri! Dok, segera cari stock lain di rumah sakit lainnya!"


"Zeha! Aeri membutuhkannya segera!" Serga Tn. Jeon menggenggam bahu Zeha yang membelakangi.


"Aku tidak peduli!"


Tepat kala itu seorang perawat berlari sedikit panik keluar dari ruang operasi. Dari ***** wajah yang terlihat, bisa ditebak apa yang terjadi di dalam sana.


"Ada apa dok?!" Zeha bertanya khawatir setelah suster tadi membisikkan sesuatu di telinga sang dokter.


"Detak jantung pasien melemah. Sudah tidak ada waktu lagi. Nyawa istri anda ada ditangan anda."


Mendadak keadaan terasa semakin genting. Suasana semakin mencekam setelah mendengar apa kata sang dokter. Debaran jantung meningkat pesat ibarat berada di ujung tebing yang juram. Terlambat sedikit saja maka penyesalan tiada guna lagi.


"Zeha....," seru Tn. Jeon memohon.


Zeha mengepal kesal. Jika terjadi sesuatu pada Aeri, maka ia tidak akan pernah memaafkan diri untuk selamanya. Tapi kenapa harus wanita yang menjadi ibu tirinya yang harus menolong Aeri? 𝘚𝘩𝘪𝘵!


"Tolong selamatkan Aeri. Jika terjadi sesuatu, keluargamu yang akan menanggungnya, ingat itu." ancam Zeha, membuat sang dokter memucat.


Mereka yang mendengar tersenyum, merasa sedikit lega akan keputusan yang diambil Zeha. Ini membuktikan bahwa wanita yang berada di dalam sana lebih penting dari segalanya. Bahkan bisa membuat Zeha merubah keputusan yang biasa tidak akan pernah diubah oleh Zeha walau bagaimanapun.


"Saya akan melakukan yang terbaik."


Lelaki dingin itu mendekat, tepat di hadapan pendengaran dokter tersebut. "Lakukan tes DNA diantara mereka." Zeha hanya mendapat anggukan sebagai jawapan.


Senyum karena senang dapat mendonorkan darah pada sang anak terlihat tipis di wajah setengah baya Ny. Kim. Namun, langsung sirna disaat Zeha menatapnya tajam


Tidak lama setelah kepergian Zeha, Gary datang mendekat. Disaat itu Ny. Kim telah dibawa pergi oleh perawat untuk diambil darahnya. Gary dapat melihat Tn. Jeon duduk pada bangku menunggu di hadapan ruang operasi sembari memegang dahinya. Sedang Taehoon berdiri di samping, memegang pundak rapuh itu.


"Pergi ke mana dia?" tanya Tn. Jeon, menyadari keberadaan Gary.


"Saya kurang tahu Tuan. Tn. Zeha hanya meminta saya untuk mengawasi perkembangan nona Aeri," sahut Gary sopan.


"Anak itu benar-benar...," cicit Tn. Jeon lemah. Ia tidak tahu harus berbuat apa pada anak semata wayangnya itu.


Sudah 4 jam lamanya lampu ruang operasi itu menyala, menandakan bahwa proses pembedahan belum juga kelar walau telah melewati beberapa jam. Namun, keempat orang yang bukan siapa-siapa Aeri itu menunggu dengan sabar.


Setelah selesai mendonorkan darah untuk Aeri, Ny. Kim pun turut menunggu bersama di ruang tunggu. Sudah semestinya, karena ada putri yang ia tinggalkan dulu. Saat itu Zeha belum juga kembali. Kemana perginya, tiada satupun yang tahu.


Gary masih di sana, melaksanakan perintah dari Tuannya, Zeha. Sejam berlalu, saat itu barulah Zeha terlihat dengan membawa plastik berisi sesuatu. Lelaki berwajah datar itu mendekat, lantas memberikan plastik tersebut pada Taehoon yang masih setia berdiri di samping Tn. Jeon.


"Ini sudah jam 9 lewat. Orang tua tidak boleh melewati makan pagi jika ingin panjang umur," timpal Zeha berbalik ke arah Gary. Membuat Tn. Jeon, Taehoon serta Ny. Kim merasa heran.


Walaupun terkesan kasar, itulah bentuk kepedulian Zeha. Ia bahkan mempersiapkan tiga kotak makan siang untuk ketiga orang itu. Zeha memang kejam, namun yang namanya manusia tetap memiliki sifat keperimanusian secara alami. Ya, walau beberapa kali Zeha mencuba untuk menolaknya.


"Apa sesuatu terjadi saat aku pergi?" tanya Zeha berdiri tepat di hadapan Gary.


"Tidak ada Tuan," sahut Gary. "Sampai sekarang operasi nona Aeri masih terus berlanjut," tambahnya.


Sesaat kemudian, pintu ruang operasi tersebut terbuka. Dokter yang tadi sempat berbincang dengan mereka berjalan keluar dengan baju operasi yang belum dilepas.


Mereka semua serempak mendekat, tetapi tidak ada yang dapat mengalahkan ketangkasan Zeha.


"Bagaimana dok?" Zeha bertanya cemas. Ia sangat berharap operasi tersebut berhasil. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika sebaliknya. Mereka yang mendengar pertanyaan Zeha menanti dengan tegang jawapan sang dokter.


"Jangan khawatir. Masa kritis pasien telah terlewatkan. Tetapi saat ini pasien masih begitu lemah," jawap dokter, membuat mereka menghela napas lega, namun tidak dengan Zeha.


Pikiran lelaki itu masih kacau dan resah. Memang Aeri sudah melewati masa tegang, tetapi tetap saja, jika Aeri tidak dipastikan sudah benar-benar baik, maka perasaan Zeha tidak akan pernah tenang. Apalagi muncul kenyataan yang mengatakan bahwa Aeri adalah anak dari ibu tirinya.


Perhatian mereka teralihkan oleh brankar yang didorong keluar. Kedua tangan Zeha kontan mengepal kuat melihat wajah lembut itu terlihat sangat pucat dan itu karena dia. Selang kecil yang berada di dalam mulut yang terbuka sungguh menyayat hati Zeha. Tubuh kecil itu benar-benar terlihat tak bermaya, sangat lemah.


Brankar berisi tubuh Aeri itu melewati Zeha. Ingin mendekat, tetapi kakinya seolah terpaku pada tempat. Menyesal, malu, marah, sedih, dan entah apa lagi yang telah berbaur menjadi satu. Bagai mimpi buruk, tubuh kecil itulah yang telah menyelamatkannya.


Mereka semua mengikuti ke mana arah brankar itu di bawah, meninggalkan Zeha seorang diri yang larut dalam penyesalan yang tiada guna.


"Tuan?"


Setelah panggilan yang dilontarkan oleh Gary, barulah Zeha tersadar.


"Anda baik-baik saja?" tanya Gary khawatir. Tuannnya itu tidak biasanya seperti demikian.


"Hmm." Setelahnya barulah Zeha beranjak menuju kamar VVIP yang telah ia siapkan untuk Aeri. Dengan seksama Zeha memperhatikan proses pemindahan Aeri tanpa ada niat untuk mendekat. Zeha takut tangan besar dan kasarnya nanti menyakiti tubuh rapuh Aeri. Ia hanya melihat dari luar ruangan. Bahkan Gary ia perintahkan untuk sentiasa disamping wanita itu.


𝘒𝘢𝘶  𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘩. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦-𝘥𝘶𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘯𝘺𝘢.


Tap tap tap..


"Brengsek!"