The President'S Crazy

The President'S Crazy
part.28



Mengetahui siapa yang menelpon, tanpa membuang waktu lagi Aeri segera mengangkat panggilan itu.


"Ya, tuan Zeha ...."


"Ke ruanganku sekarang! " Suara tegas Zeha memerintah tegas.


Setelahnya panggilan itu diputuskan secara sepihak oleh Zeha. Dengan tidak semangat, Aeri kembali memasukkan ponsel tersebut ke dalam kantong. Lalu menatap Yohun dan Yuri silih berganti.


"Aku harus pergi sekarang," tukasnya memberitahu.


Yohun memerhatikan punggung rapuh yang kian menjauh itu. Sorot matanya sulit untuk di baca. Jika ia bisa merengkuh tubuh itu seperti dahulu? Maka ia akan memberikan ketenangan dan keselamatan. Namun, sialnya. Kesengsaraan yang sebenarnya adalah karena ia.


"Aku minta maaf," lirihnya bergumam. Disaat Aeri sudah tak terlihat barulah ia berlalu.


Aeri menekan tombol buka untuk lif. Ia melirik lif khusu untuk presdir, ingin rasanya ia menaiki lif itu saja. Ia tidak sanggup berhadapan dengan orang-orang dari perusahaan Zeha tersebut. Sayang, Zeha belum memberikan hak untuknya menggunakan lif tersebut.


Ting!


Lif berdenting menandakan benda bergerak itu akan segera terbuka. Aeri menarik nafas dalam bersamaan dengan terbukanya lif. Seperti yang ia duga, lif itu dipenuhi oleh staf-staf perusahaan.


Dengan menguatkan hati, ia mengabaikan tatapan hina juga jijik yang dilayangkan padanya. Setelah lif kembali tertutup, ia menekan tombol yang akan menghantarnya pada lantai tertinggi gedung itu.


"Bau apa ini?"


Tiba-tiba suara seorang lelaki mengagetkan Aeri yang berharap lif itu bergerak cepat. Hidungnya kontan ia bawa untuk mengendus-ngendu tubuhnya. Untung saja bau yang lelaki itu maksud tidak berasal dari tubuhnya.


"Tentu saja karena di sini ada sampah!"


Aeri tercekat mendengar sahutan dari seorang wanita. Sekarang ia mengerti maksud dari ucapan mereka, itu semua demi menyindirnya. Ia membenarkan letak berdirinya, walaupun sekedar untuk menoleh, ia tidak ingin. Takut tidak sanggup menghadapi orang yang seolah siap menerkamnya.


"Pantesan saja dari cleaning service tiba-tiba menjadi sekretaris ternyata memilik taktik busuk."


"Tidak tahu malu!"


"Tidak sadar bahwa dia hanya sampah yang dipungut oleh tuan Zeha."


"Hei!" Tiba-tiba saja bahunya ditolak kasar oleh seorang wanita yang berdiri tepat di sampingnya. "Kau harusnya bunuh diri saja. Orang sepertimu hanya mengotori dunia ini!"


"Tampangmu ini hanya topeng. Sangat menjijikkan!" Desis seorang lelaki yang berdiri di samping wanita tadi. Lelaki itu bahkan berdecih.


Kontan Aeri menggigit bibir bawah menahan sakit hati. Kepalanya semakin menunduk dalam. Entah mengapa gerakan lif itu terasa begitu lamban?


"Berapa yang harus aku keluarkan untuk mengahiskan satu malam denganmu?" Dengan lancangnya, lelaki yang berdiri di belakang Aeri meremas bokong Aeri. Hingga tak ayal langsung mendapat dorongan kasar dari sang empu.


"Jangan menyentuhku!"


"Cih! Tidak usah sok suci! Semua orang tahu tubuhmu itu sudah disentuh banyak lelaki!"


Aeri mengabaikan, walau setengan mati ia menguatkan hati yang ingin berteriak. Bibirnya bergetar menahan semua cacian dan hinaan itu. Maniknya terus ia kerjap-kerjapkan agar lihuid bening itu tidak tumpah. Ia tidak ingin semakin terlihat menyedihkan di hadapan mereka semua.


"Bagaimana kabar ibumu setelah mengetahui ini? .. ouh, atau ibumu juga seorang pelac*r."


Plak!


Wanita yang berdiri di samping Aeri terperangan mendapat tamparan itu. Bukan dia saja, bahkan semua orang yang menghina Aeri tadi terdiam. Tatapan tajam yang wanita itu layangkan diabaikan oleh Aeri.


"Kalian bisa menghinaku, tapi aku tidak akan terima jika kalian menyebut-nyebut ibuku!" Teriak Aeri emosi. Urat berwarna kebiruan pada lehernya terlihat jelas.


Plak!


Saat itu juga, Aeri kembali mendapat tamparan yang lebih keras dari sang wanita. Bibir wanita itu berkedut kesal.


"Berani sekali sampah sepertimu menamparku, hah?!" Emosi wanita itu membuncah. Kembali, satu tamparan lagi jatuh pada sebelah pipi Aeri sebelum ponsel milik Aeri berdering.


"I-iya ... tuan." Sebisa mungkin ia menormalkan suaranya yang bergetar.


Mendengar sebutan tuan otomatis membuat mereka yang menghina Aeri terdiam tanpa ada yang berani bersuara.


"Kenapa lama sekali?! Kau di mana?"


"D-di lif ...." suara itu terdengar begitu lemah dipendengaran Zeha.


"Cepatlah!"


Setelah panggilan ia putuskan, ia menatap lamat layar ponsel mewah miliknya. Lalu maniknya beralih menatap koran yang terletak pada muka meja kerja miliknya. Hatinya merasa cemas melihat berita pagi itu.


Tidak lama kemudian, Aeri pun datang. Wajah itu tidak bercahaya seperti biasanya. Mata setajam helang itu memindai secara saksama wajah yang terkesan sendu itu. Jejak air mata masih jelas dikedua manik indah itu.


"Ada apa tuan memanggilku?"


"Aku sudah lupa. Kau terlalu lama." Iris Zeha melihat koran pada tangan kecil Aeri. Kemudian bola matanya bergulir secara perlahan menujuh wajah yang menunduk itu.


"Kalau begitu, saya keluar dulu." Aeri yang biasanya pasti akan bertanya lagi. Namun, ini...?


"Tunggu! Aku belum mengatakan kau bisa pergi."


Lelaki itu bangkit dari kursi kebesaran miliknya. Ia membawa langkah mengitari meja, mendekat pada Aeri tanpa melarikan pandangan sedikit pun dari wajah yang terus menunduk itu. Selama ini, tiada satu pun yang pernah terlewatkan dari mata tajamnya.


"Kenapa wajahmu terlihat pucat?" Ia mengangkat wajah itu menggunakan jari telunjuk panjangnya. Bibir yang ia cumbu beberapa jam lalu terlihat seperti orang sakit. Dan, jejak merah dikedua pipi itu sangat menyita atensinya. "Siapa yang menamparmu?"


Sangat jelas tapak tangan itu tercetak di wajah putih Aeri. Bentuk kelima jari dengan warna merah yang sangat jelas. Sebenarnya apa yang telah terjadi sehingga bahkan tubuhnya bergetar.


"Anda harus menjelaskan situasi yang sebenarnya tuan ...," lirih Aeri.


Zeha diam, namun bukan berarti ia tidak mengerti maksud dari ucapan gadis di hadapannya itu. "Aku bertanya padamu?!"


Tangan Aeri mengalihkan tangan besar Zeha dari dagu, lalu berkata. "Saya tidak sengaja menampak diri saya sendiri." Suara dingin Zeha sudah tidak lagi membuatnya gentar. Semua tergantikan dengan perihal berita utama hari ini.


"Kau ingin membodohiku?!" Secepat kilat Zeha menarik wajah itu saat ingin berpaling. "Aku bukan anak kecil yang bisa kau bohongi."


Sungguh diperlakukan seperti ini membuat Aeri ingin menangis. Suaranya seolah tidak sanggup lagi untuk ia keluarkan, sedang ia sangat ingin meminta Zeha menjelaskan semua ini pada mereka yang salah memahami. Pandanganya terkunci dengan Zeha. Bisakah ia bersandar pada atasannya saat itu?


Zeha bergerak membelai kepala itu. Manik berair itu kembali membuat dadaknya terasa sesak. Ia tidak mengerti alasan dari sakit hatinya. Membenci wanita sudah begitu mendarah daging hingga ia mengunci hati agar tidak jatuh cinta lagi. Ini pasti hanya rasa iba yang ia punya sebagai seorang manusia.


Tapi tetap saja ini aneh. Dirinya bukanlah seseorang yang mudah merasa kasihan pada seseorang, apalagi ini seorang wanita. Pasti ia sudah gila.


"Aku memang sampah bahkan sampah saja diketahui asal usulnya, aku? Siapa kedua orangku saja aku tidak tahu ...."


Sapuan lembut pada puncak kepala semakin mendorong air mata itu untuk tumpah. Secara perlahan bibir pucat itu terbuka dengan lengkungan seperti anak-anak yang ingin menangis. Matanya tidak ia larikan, tetap menemui mata tajam Zeha yang entah mengapa terkesan lembut.


"Aku tidak yang seperti mereka katakan tuan ...." akhirnya pertahanan Aeri pun luntur. Air mata itu tumpah tanpa bisa dibendung lagi.


"Padahal aku menjadi sekretari anda karena aku meminjam uang bukan karena ... aku menjual tubuhku pada...."


Zeha tidak tahan lagi. Ia membawa Aeri masuk ke dalam dekapan hangat miliknya. Walau ia tidak itu akan berguna atau tidak, yang pasti ia ingin mencuba. Tanganya memeluk tubuh bergetar Aeri dengan erat. Mengusap punggung itu secara teratur dan penuh dengan kelembutan.


Ia tidak pandai berkata-kata. Ia juga bukan puitis yang bisa menghibur orang yang tengah bersedih. Dirinya hanya seorang lelaki bresengsek setelah sebuah penghianatan.


Dalam sekejap pandangan lelaki itu menggelap dengan tatapan lurus ke depan. Tangannya terus bergerak mengusap punggung serta puncak kepala Aeri, namun siapa yang tahu apa yang sedang otaknya pikirkan.


"Sepertinya kejadian waktu itu belum cukup membuat mereka takut...."


Aeri tersadar dengan mata terbuka kaget. Berada di pelukan tubuh kekar sang atasan memberinya ketenangaan. Refleks ia menjauhkan tubuhnya.


"M--maaf tuan ...."