
Cerutu tersebut semakin dihisap kuat setelah mendengar apa yang disampaikan oleh Gary. Bibir yang tidak pernah tersenyum lagi itu menyunggingkan senyum sinisnya. Kaki memanjang serta menyilang di atas meja. Terlihat begitu berwibawa, tetapi juga terkesan kejam.
"Teruskan," ujarnya memerintah. Suara berat serta serak mengintimidasi.
"Seperti yang Tuan perkirakan, dalang dibalik penyerangan dan kematian orang-orang terpercaya anda memang dia. Dia jugalah yang memasukkan mata-mata ke dalam mansion Anda waktu itu," terang Gary, berdiri tepat di hadapan Zeha.
"Dia ingin menghabiskan semua orang terkuatku." Bibir itu kembali menyungging miring. Sungguh meremehkan. "Dia bermimpi terlalu tinggi, maka disaat jatuh dia akan merasakan sakit yang mati pun tidak ingin, hidup pun tidak sanggup." Sungguh mengerikan melihat wajah itu. Dalam bayang mata penuh dengan pembalasan.
Lelaki itu menuang arak ke dalam gelas berisi es dadu yang telah kosong beberapa detik lalu olehnya. Memutar-mutar, lalu lansung diteguk dalam beberapa teguk. Ia tersenyum tampan.
"Ingin memanfaatkan wanita itu untuk membuat muslihat? Jangan harap! Bahkan aku sendiri yang akan membunuh ****** kecil itu!" Wajah lembut Aeri membayang di mata tajam itu. Ia mengepal penuh amarah.
Salah besar jika John berpikir bahwa seorang Zeha tidak mengetahui apa yang tersimpan dalam otak liciknya itu. Zeha tidak mengenal nya setahun dua tahun, tapi sejak zaman kuliah lagi. Bahkan sudah berapa kali rencana John gagal, baik untuk membunuh atapun menjatuhkan bisnis gelap Zeha.
Zeha kembali menegak minumannya setelah ia isi semula. Dalam hati ia terus mengumpat kesal. Zeha tidak pernah mengira bahwa Aeri pada akhirnya pergi meninggalkan dirinya sekalipun ia telah meminta gadis kecil itu untuk tetap di sisinya.
𝘒𝘶𝘴𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘦𝘥𝘢, 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯....
"Minta Sehun untuk menemui ku sekarang!"
"Baik Tn. Zeha," sahut Gary menunduk hormat tepat saat Zeha berlalu meninggalkannya.
....
"Em... Sehun-eeh...."
"Hmm..."
"Aku sedang be-kerjahh."
Yuri menggeliat kecil, tidak tahan saat bibir sexy Sehun mengecup dalam kulit lehernya. Pegangan pada kedua bahu lelaki itu mengencang merasakan isapan pada kukitnya.
"Jadi, maksudmu kalau kau tidak sedang bekerja, aku bisa melakukannya?"
"Uhk...."
Sehun membawa kepalanya berpindah ke sisi lain dari leher jenjang cantik Yuri, membuat sang empu kontan melenguh kecil kala bibir lembab Sehun menyapu dalam gerakan seksual.
Bahkan dua butang teratas dari seragam Yuri telah dibuka sedari tadi oleh tangan nakal Sehun, menurunkannya dikedua sisi bahu Yuri sehingga memperlihatkan bahu putih serta dada atas Yuri.
"Sehunn!" Yuri menggeram tertahan. Debaran pada jantungnya telah melesat cepat, dan Sehun malah bercanda.
Sehun mengangkat wajah dalam jarak yang mendebarkan. "Aku merindukan mu," lirih Sehun manja, melirik pada bibir Yuri yang terbuka.
"Jangan berlebihan Sehun," sahut Yuri dengan nafas tersengal akibat serangan Sehun barusan.
"Kau bilang aku berlebihan?" Bibir itu tertarik miring.
Dalam sekali gerak, bibir Yuri sudah bersatu dengan bibir Sehun. Lelaki itu bergerak liar, lidahnya langsung melesat masuk, memaksa Yuri membuka lebar bibir, lantas saling membelit. Yuri tidak mampu mengimbangi permainan lelaki yang kini membelit lidah, hingga ia hanya bisa melenguh. Serangan liar serta tiba-tiba Sehun membuatnya kelabakan dan kewalan sehingga tidak dapat mengimbangi.
"Ah!"
Satu desa**n berhasil lolos begitu saja saat kedua tangan besar Sehun langsung masuk, mempermainkan kedua buah kenyal milik Yuri sembari bibir Sehun terus mengeksekusi setiap inci dari bibir itu.
Yuri bergerak gelisah, perutnya terasa sangat geli. Mulutnya serasa ingin terus mengeluarkan suara-suara aneh yang mungkin dapat membangkitkan sesuatu dalam diri Sehun. Tetapi, setiap Yuri ingin mengeluarkan suara laknat tersebut, Sehun lebih dulu menekan lebih dalam ciumannya hingga suara itu hanya bisa tertahan dengan geraman kecil yang keluar.
Bahkan saliva Yuri telah mengalir keluar karena ulah Sehun. Setelah Yuri memukul Sehun, barulah lelaki itu melepaskan bibir candu itu. Namun, tangannya masih terus berada di atas dada itu, bergarak dalam gerakan pelan.
Sehun tersenyum puas melihat wajah memerah yang seakan bisa meletup itu. Wajah itu terlihat sangat menggoda dengan bibir bawah digigit. Napasnya tersengal tapi Yuri tidak tahan dengan apa yang Sehun lakukan pada dadanya.
"Sehunhh!"
"Bagaimana? Bukankan nikmat dan mendebarkan?" Sehun tersenyum tampan menikmati pemandangan di hadapannya itu.
"Berhenti emm... please," mohon Yuri. Ia tidak kuat kala Sehun terus mempermainkan miliknya yang telah menegang pada puncak dada.
Refleks kepala itu tumbang pada pundak lebar Sehun. Betapa leganya perasaannya saat tangan itu lepas, terasa ringan, namun juga kehilangan. Jantungnya terasa ingin meletup dengan wajah memanas.
"Inilah yang namanya berlebihan, sayang," bisik Sehun tepat di telinga merah Yuri. "Tapi, ini tidak seberapa. Suatu saat aku akan melakukan sesuatu yang lebih berlebihan. Saat itu kau akan menjadi milikku yang seutuhnya." Kecupan kecil Sehun berikan ditelinga itu.
"Bagaimana jika ada yang melihat?"
"Tidak akan ada yang melihat karena tidak ada yang bisa masuk ke dalam lift khusus president ini, kecuali sang president dan aku. Lagian aku telah menguncinya, lift ini tidak akan bisa dibuka dari luar jika kau masih tetap takut."
Bunyi ponsel mengalihkan atensi mereka berdua. Menggeser tombol hijau, lantas segera diletakkan di telinga. "Aeri...," seru Yuri tepat saat panggilan itu tersambung.
"Di mana saja kau? Kau baik-baik saja, kan? Apa yang sebenarnya terjadi malam itu? Aku dengar Tn. Zeha sangat marah karena kau pergi bersama Tn. John dan kau sudah dua hari tidak masuk kerja." Yuri menahan tubuh Sehun yang bergerak mendekat, lalu memutar tubuh, membelakangi Sehun yang detik itu langsung memeluknya erat dari belakang.
"Jawap saja Aeri. Sejak malam itu, Tn. Zeha berubah. Saat dia melangkah, disekitarnya seolah membeku oleh aura dingin dan gelapnya," ujar Yuri tanpa menjawap ucapan Aeri.
Disamping itu, Yuri terus menoleh wajah Sehun yang terus menempel pada ceruk lehernya, mengendus-endus membuat sang empu merasa sedikit geli.
"Aku tidak punya pilihan, Yuri." Suara Aeri begitu putus asa.
"Apa maksud mu?"
"Tn. John memiliki poto ayahku. Saat itu aku langsung merasa takut."
"Apa?! Bagaimana bisa?"
Yuri kaget, berbeda dengan Sehun yang langsung tidak merasa kaget oleh suara Yuri yang tiba-tiba membesar, ia hanya terus menggoda Yuri dengan tindakan nakalnya.
"Katanya foto itu hanya diambil dari jauh. Karena aku tidak ingin ayahku diapa-apakan, aku terpaksa ikut," lirih Aeri lemas.
"Kau tidak memberitahu Tn. Zeha?"
Hening sejenak. Yuri hanya bisa menunggu dengan sabar. Helaan napas yang terus terdengar membuatnya mengerti situasi temannya itu.
"Apa yang harus aku beritahu? Sekarang Tn. Zeha bahkan sangat membenci ku."
"Jadi sekarang kau di mana? Kau tidak apa-apa, kan?"
"Aku baik-baik saja, tapi aku ingin meminta tolong padamu...."
Yuri melotot ke arah Sehun seraya mendorong tubuh itu menjauh. "Soal ayahmu, kau jangan cemas, aku pasti akan tolong tengok-tengokkan." Sehun tersenyum dengan pelototan mata indah Yuri. Bukannya takut, namun lelaki itu malah semakin terpesona. Aneh.
"Terima kasih Yuri, tapi apa kau bersama seseorang?"
Yuri bungkam. Telunjuknya refleks ia letakkan di atas bibir, memperingati Sehun agar tidak bersuara. Namun, seperti Sehun memiliki muslihat. Terlihat dari senyum licik yang terbit di bibir nya.
"Eem t-tidak... Aku --ph!"
Aeri mengernyit kaget dengan suara tersebut. Ia melihat layar tersebut sejenak sebelum kembali ia tempelkan di telinga "Yuri, kau baik-baik saja?"
𝘉𝘳𝘦𝘯𝘨𝘴𝘦𝘬 𝘬𝘢𝘶 𝘚𝘦𝘩𝘶𝘯!
Sebisa mungkin Yuri melepaskan tautan tersebut, apalagi menduga Aeri pasti mendengar suara aneh tadi.
"Ah!" Tanpa bisa ditahan lagi, Yuri menjerit tepat saat Sehun tiba-tiba memijat buah kenyal milik nya.
"Yuri?" Aeri berseru cemas.
𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘈𝘦𝘳𝘪. Setelah itu Yuri langsung mematikan panggilan tersebut. Ia tidak ingin Aeri jadi salah faham padanya pula nanti.
"Apa yang kau lakukan?! Tuan Sehun!"
"Kau begitu menggoda...."
"Kau sungguh lelaki penggoda!"
"Sepertinya kau suka bermain lidah denganku." Sehun kembali mendekat, tetapi sebelum itu, Yuri lebih dulu menahannya.
"Tidak! Sekarang lebih baik kau pergi. Kau menggangu ku saja!"
Kali ini ponsel Sehun pula yang berbunyi. Bukan bunyi panggilan masuk, tapi melainkan bunyi pesan.
Sedetik setelah membaca pesan tersebut, ***** wajah Sehun berubah drastis membuat Yuri mengernyit aneh. Entah pesan apa yang telah ia terima.
"Aku harus pergi sekarang," tukas Sehun kemudian. Lelaki itu tampak menekankan suatu tombol yang membuat pintu lift terbuka serta merta dalam beberapa detik.
"Ada apa?" Yuri mengikuti langkah Sehun dari belakang.
Tiada sahutan hingga mereka tiba diluar lobi dari perusahaan J'Foodies. Sehun berbalik. "Bukan apa-apa. Aku pergi dulu." Satu kecupan singkat Sehun berikan di atas bibir Yuri sebelum ia masuk ke dalam mobil.
Yuri dengan perasaan penasarannya hanya mampu melihat kepergian Sehun yang terkesan tergesa-gesa. Biarlah, Yuri tidak ingin memaksakan kehendaknya untuk mengetahui apapun itu.
Namun, ada suatu yang aneh terlihat di bawah mobil Sehun setelah mobil tersebut melaju. Yuri mendekat dengan perasaan bingung, tertanya-tanya apa itu. Terlihat seperti minyak.
Tidak tahu bagaimana, sesuatu kontan terlintas dibenak nya begitu saja. Yuri mendadak cemas.
Dengan gerakan cepat, ia mengambil ponsel miliknya yang tersimpan di saku seragamnya.
"Tolong angkat...."