The President'S Crazy

The President'S Crazy
part. 56



Setelah dua hari berturut-turut tidak datang, akhirnya Aeri kembali menginjakkan kaki di Black Club. Ia baru saja menemani seorang lelaki sebelum sahabatnya menelpon. Sungguh ia merasa bersalah karena sekali lagi telah berbohong pada Yuri, tapi mau bagaimana mana lagi, Aeri tidak ingin temannya itu mengetahui pekerjaannya.


Aeri baru saja ingin menjatuhkan bokongnya pada kursi berkaki panjang tepat di samping Yeoryun, adik Yohun yang tampak menikmati vodka di bartender, sebelum seketika manager Lee datang dan kembali memerintahkannya menuju ruangan yang katanya ada orang besar di dalam.


"Pergilah. Dia sudah menunggu," perintah manager Lee.


"Baiklah."


Setelah kepergian Aeri, manager Lee beralih pada Yeoryun yang mengacuhkannya. Lelaki yang berumur 35 tahun itu tersenyum miring sambil mendudukkan tubuhnya menghadap Yeoryun yang duduk menghadap bartender.


"Sendiri saja?" Basa-basi manager Lee. Sebenarnya ia sudah lama mengenal dan tertarik pada Yeoryun, tapi wanita itu selalu menolaknya.


"Bukan urusanmu!" Ketus Yeoryun semakin membuat senyum di wajah manajer Lee melebar. Ini yang dia suka pada Yeoryun.


"Ternyata kau benar-benar wanitaku."


Yeoryun menoleh tajam. "Jangan bicara sembarangan! Aku bukan milikmu dan tidak akan menjadi milikmu!"


"Aku akan membuatmu menjadi milikku," tukas manager Lee membuat Yeoryum tersenyum sinis. Tangan lelaki itu memberi kode pada bartender untuk memberinya segelas vodka.


"Jangan mimpi!" Yeoryun kembali menikmati minumannya.


"Kau selalu menolakku ... kenapa?"


"Karena lelaki sepertimu pasti suka bermain dan telah tidur dengan banyak wanita. Sedangkan aku tidak ingin diduakan. Aku tidak suka lelaki sepertimu."


"Jika aku katakan, aku tidak akan menduakanmu, apa kau mau tidur denganku?"


"Tidak," sahut Yeoryun cepat.


Lagi lagi manager Lee hanya tersenyum dengan tanggapan cepat wanita di hadapannya itu. Ia memajukan wajah tepat pada telingan sang wanita.


"Tapi ... aku ingin," bisiknya seksual, membuat kedua pipi Yeoryun merona.


Secara perlahan manager Lee menarik wajah itu, menemui manik indah Yeoryun yang begitu mempesona. Perlahan namun pasti, ia mempersatukan bibir mereka. Sialnya, Yeoryun malah merespon dengan memejam mata serta membalas ******* lembut lelaki tersebut. Padahal tadi ia begitu jual mahal.


Saat itulah manager Lee menukarkan gelas vodka Yeoryun dengan miliknya sebelum seketika wanita itu tiba-tiba tersadar. Manager Lee tersenyum penuh kemenangan saat melihat Yeoryun menghabis vodka miliknya.


....


Aeri membeku dengan tubuh mematung setelah memasuki ruangan yang disebutkan oleh manager Lee. Entah bagaiaman, lelaki yang berada di dalam adalah Park John yang pernah Aeri temui dulu sewaktu mendatangi acara pelelangan bersama Zeha. Aeri tidak begitu kenal dengan lelaki itu, tetapi melihat dari interaksinya dan Zeha, sepertinya mereka bukan teman yang baik.


Mungkin lebih tepatnya musuh.


"Wah, apa aku tidak salah lihat? Kau Aeri, kan? Kekasih Jeon Zeha?" Tanya John dengan bibir tertarik miring.


"Dia siapa? Apa kau mengenalnya?" Tatapan liar dari seorang teman John terarah pada tubuh Aeri yang sedikit terbuka.


"Jangan melihatnya! Dia milikku!" Desis John seperti ular. Ia memerintahkan pada Aeri untuk mendekat, lalu meraih tangan lembut Aeri untuk duduk tepat di sampingnya.


"Kekasih dari Jeon Zeha bekerja seperti ini. Wow ... sangat sulit untuk dipercayai," tukas John terus menatap wajah lembut Aeri yang menarik. "Hari itu kita sempat gagal berkenalan secara resmi. Jadi perkenalkan, aku John Park teman kuliah Zeha waktu di Rusia," imbuh John menghulurkan tangan.


"Aeri," sahut Aeri sembari menyambut huluran tangan John sedikit ragu. Namun, siapa sangkah John malah mencium sebelah pipi lembut itu. Aeri bergeming dengan tubuh membeku.


Perlahan John bergerak mengendus aroma tubuh Aeri sebelum berhenti tepat ditelinga kecil itu. "Aku penasaran, apakah Zeha tahu bahwa kekasihnya saat ini sedang bekerja seperti ini?" Bisiknya dengan senyum licik tercetak jelas.


Aeri termangu. Tangannya reflek mendorong tubuh John menjauh. "Tolong ... jangan beritahu dia."


John menyungging senyum. "Jadi terkaanku benar," kata John, membuat Aeri memalingkan wajah. "Jika kau melakukan tugasmu dengan baik malam ini, maka aku tidak akan memberitahunya," imbuhnya kemudian terkesan mengancam.


"Kalau itu anda jangan cemas. Aku tahu bagaimana aku harus melakukan kerjaku," sahut Aeri.


"Bagus. Kalau begitu aku ingin kau minum bersamaku." John menyerahkan segelas arak pada Aeri.


....


"Eh ... Tuan Sehun." Nada Yuri terdengar seolah mengejek Sehun. "Apa yang anda lakukan?" Yuri mencuba untuk menarik tangannya, namun Sehun tidak ingin melepaskan.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Bukannya menjawap Sehun malah balik bertanya.


"Maaf Tuan Sehun ... aku berada di mana, itu tidak ada kaitannya dengan Anda!" Yuri mulai berujar dingin.


"Kau melihatku?"


"Apa? Bersama dengan seorang wanita? Tidak!"


"Oh, sungguh?" Sehun mendekatkan wajah hingga secara reflek Yuri menarik kepalanya. "Lalu, bagaimana kau tahu jika aku bersama seorang wanita?" Bisiknya di depan wajah yang tatapannya tidak ingin menemui Sehun.


"Kenapa? Kau tidak ingin aku tahu kalau kau itu lelaki brengsek yang suka menggoda wanita?"


Sehun termangu kaget mendengar kata-kata Yuri, sebelum seketika ia menarik senyum tipis yang terkesan manis. Sepertinya Sehun mencium bau cemburu disekitar Yuri. Tapi, tidak apa, Sehun menyukainya.


"Lepas!" Yuri memberontak saat Sehun tiba-tiba menariknya menuju tempat parkiran mobil lelaki tersebut.


"Aku suka menggoda, hmm?" Sehun mengunci tubuh Yuri diantara kedua lengannya setelah ia sandarkan pada pintu mobil.


"Iya!" Yuri balas menatap Sehun dengan bersilang tangan.


"Seperti ini ... cup!" Tanpa aba-aba Sehun menjatuhkan kecupan singkat di pipi Yuri. Karena tindakan itu manik Yuri kontan membulat.


"Apa yang kau lakukan?!"


"Atau seperti ini ...." kali ini ciuman Sehun jatuh pada sudut bibir Yuri yang lagi-lagi membuat sang empu kaget.


"Minggir! Aku mau lewat."


"Atau yang lebih deep?" Detik itu pula Sehun menjatuh kecupan lembut dengan sedikit ******* pada bibir bawa Yuri yang terbuka kesal.


Kedua tangan Yuri menolak tubuh Sehun sekuat mungkin agar melepaskan kungkungan itu. Berada di dekat Sehun malah semakin membuatnya kesal dan jengkel. "Kau sudah tidak waras! Minggir, biarkan aku pergi. Kembali pada pacarmu!"


Sehun tersenyum melihat wajah emosi Yuri. Niatnya ia ingin ngisengin Yuri selama yang ia inginkan, tetapi sepertinya tidak akan baik jika sampai Yuri benar-benar marah. Sehun tidak ingin melihatnya seperti itu.


"Kau salah faham. Wanita itu bukan kekasihku dan aku tidak menggodanya ...."


"Aku tidak meminta penjelasanmu! Sekarang biarkan aku pergi," desak Yuri masih terus memberontak dalam kunkungan itu.


"Itu hanya kencan buta yang diatur ibuku. Aku baru mengenalnya tadi dan tidak tertarik."


"Ouh ... karena tidak tertarik, kau mengejarku? Begitu?" Tanya Yuri dengan tatapan tajam.


"Bukan begitu--"


"Apapun itu, aku tidak peduli! Aku mau pergi dan jangan pernah mencariku lagi, mengerti?!"


"Aku bilang aku tidak menggodanya!" Sentak Sehun sedikit menghempas tubuh Yuri pada mobil. "Tidak pernah ada wanita yang berjaya membuatku tertarik padanya hanya dalam sekali bertemu." Yuri hanya berdecih seraya membuang muka.


"Tapi entah bagaimana ... kau berjaya melakukannya padaku," aku Sehun.


Namun, bibir Yuri hanya menggerucut seolah mengabaikan ucapan Sehun. Sehun tidak marah, tapi malah tersenyum dan gemas dengan tingkah wanita itu. Saking gemasnya, Sehun akhirnya mempersatukan bibirnya dengan bibir mayun Yuri membuat sang empu kaget dengan manik hampir melompat keluar.


Yang sialnya, Yuri malah menikmati ******* lembut yang Sehun lakukan di atas bibir berisinya, ya walaupun diawal Yuri tidak merepon, namun karena kelihaian lelaki itu akhirnya Yuri terlena dalam sapuan dalam bibir hangat Sehun.


Tangan Sehun bergerak secara perlahan dari rahang Yuri menuju belakang leher dengan menyelit diantara rambut Yuri yang tergerai. Menarik tengkuk itu, memperdalam ciuman mereka. Gigitan kecil yang Sehun lakukan berhasil membuat Yuri berteriak hingga ia mengambil kesempatan itu untuk melesatkan lidah masuk ke dalam rongga mulut Yuri.


Remasan Yuri berikan di dada Sehun saat ia merasakan lidah Sehun membelit lidahnya dengan lihai. Mereka bergumul dengan saling memainkan lidah dalam ******* yang memabukkan.


"Inilah kenapa aku memanggilmu penggoda," cicit Yuri dengan napas tidak beratur setelah Sehun melepaskan ciumannya.


"Aku hanya menggodamu, tidak pada wanita lain," bisik Sehun tepat di depan bibir merekah Yuri.


"Aku tidak percaya karena kau begitu ahli dalam berciuman." Yuri bergerak tidak nyaman, ia terus membuang wajah setiap kali Sehun menemui wajahnya dalam jarak yang begitu dekat, sedang tangannya menahan bobot tubuh Sehun yang tidak ingin mencipta jarak.


"Ya, tapi itu dulu dengan kekasihku." Sehun mengusap bibir yang terdapat bekas ciumannya di sana.


"Kau lelaki brengsek seperti Tuan Zeha, jadi aku yakin kau banyak menghabiskan waktu dengan wanita yang berbeda-beda."


"Kau cemburu?" Tanya Sehun menahan wajah itu agar tidak terus mengelak dari tatapannya.


"Tidak!" Sahut Yuri cepat. "Buat apa aku cemburu? Kita bukan sepasang kekasih hingga aku harus merasakan hal itu," dalih Yuri. Sebenarnya, dia juga bingung apakah itu perasaan cemburu atau hanya kesal karena Sehun permainkan.


"Benarkah?" Goda Sehun membuat wajah Yuri bersemu.


"Su-sudah tentu," gagap Yuri.


"Baiklah. Tapi ...." Sehun mendekat. Tepat di telinga wanita itu. "Bagiku kau sudah menjadi kekasihku sejak aku menciummu."


Lagi lagi ucapan Sehun selalu saja berhasil membuat Yuri bersemu. Kepalanya refleks tertunduk sesaat setelah mendengar perkataan frotal Sehun.


"Jadi, jika pun kau cemburu aku tidak masalah, aku malah senang," tambah Sehun semakin menggoda Yuri dengan kecupan singkat di telinga.


Kontan dorongan kuat Yuri berikan hingga pandangan menggoda Sehun bertemu dengan manik Yuri yang terkesan malu.


"Kau memang penggoda!" Setelah itu Yuri beranjak pergi dengan langkah lebar membuat Sehun tersenyum senang karena berhasil membuat perasaan Yuri berdebar.